
Bukankah seharusnya pasangan yang melakukan pendekatan, tetapi sudah saling mengetahui jika saling mencintai itu adalah hal yang wajar jika mulai berpacaran? Aku tidak sabar untuk menjadi kekasih kak Jester, tetapi sepertinya dia terlalu malu untuk mengajak berpacaran. Tidak apa - apa lah, mungkin sedikit agresif bisa membuat kak Jester peka..xixixi..
Setelah mengikat janji pagi itu, aku kembali kedalam kelasku dengan tujuan baru. Yaa... menjadi penyanyi solo untuk sekolah ini, jika aku terpilih besar kemungkinan aku akan semakin disibukkan dengan kegiatan paduan suara yang sering tampil diacara - acara sekolah. Aku kurang paham apa kerennya, tapi semua siswa mengatakan jika itu adalah posisi keren yang sebanding dengan menjadi ketua osis.
Entah kenapa semangatku berkobar, aku mulai menguatkan ancang - ancangku untuk merebut posisi itu dari seorang siswi kelas dua. Dengan bantuan kak Jester, aku merasa akan baik - baik saja jika bersaing dengannya. Selena juga Alvin memberikan dukungan dan begitu juga beberapa teman sekelasku, aku jadi tambah bersemangat.
Hari - hari aku lalui dengan baik, minum obat, bersekolah, latihan vokal, minum obat, berkumpul bersama kak Jester, kak Justin, kak Harry dan kak Luke. Semua berjalan sangat baik meski sesekali aku mimisan, namun itu tidak sampai membuatku pingsan.
Hari minggu pun tiba, pagi - pagi sekali kak Justin menjemputku dirumah untuk menuju tempat yang kak Justin ingin tunjukkan kepadaku. Dengan segera aku bersiap, mengenakan celana legging berwarna hitam, hoodie oversize putih, dan sepatu kets putih. Tidak lupa aku mengikat rambut panjangku ekor kuda dan... mungkin aku menariknya terlalu keras...
Aku tidak sengaja mencabut beberapa helai rambutku begitu saja, "rontok? tumben..." ucapku dalam hati, namun aku biarkan saja dan kembali bersiap dengan mengenakan lipbalm agar bibirku tidak terlihat kering. "Oke aku siap!" gumamku sembari menatap diriku dari pantulan cermin.
Seperti dalam kisah setiap drama televisi kan? penderita leukimia sepertiku harusnya mulai terbiasa dengan mimisan,pingsan bahkan rambut yang mulai rontok. Jadiiii... bukan hal yang mengerikan lagi bagiku.
Aku berpamitan kepada ayah dan ibu, lalu segera berlari kecil menaiki sepeda motor milik kak Justin. Kami pun menuju stasiun terdekat, lalu seperti biasa ketika itu kak Justin memintaku untuk menunggunya karena dia yang akan membelikan tiket kami.
Setelah mendapat tiket itu, kami berjalan sampai keruang tunggu. Tidak butuh waktu lama kereta pun tiba, kami menaiki kereta itu dengan perasaan antusias dan penuh semangat. Didalam kereta handphone ku berdering tanda ada chating masuk, aku chatingan bersama dengan Selena dan kak Jester.
Menanyakan kabar mereka, menanyakan aktifitas mereka dan cerita basa - basi sehingga waktu tidak terasa berjalan cukup cepat. Kami sampai di kota yang dituju dalam hitungan waktu dua jam empat belas menit, aku turun dari kereta dan segera mengatakan kepada kak Justin jika aku sudah tidak sabar kemana kami akan berjalan setelahnya.
Kak Justin hanya tertawa lalu mengajakku untuk mencari sarapan, di sebuah kantin dekat stasiun aku dan kak Justin pun sarapan bersama. Setelah sarapan, tidak lupa kak Justin memintaku segera meminum obat. Kali ini tanpa drama apapun aku meminumnya dengan senang hati, setelah lewat lima belas menit kami pun melanjutkan perjalanan.
Kami berjalan menyusuri jalan perkotaan, lalu lintas yang cukup padat menjadi pemandangan kami. Semua itu membuat hatiku tidak nyaman, aku merasakan stres dengan suara - suara knalpot dan deru mesin yang silih berganti. Aku pun bertanya pada kak Justin kemana kami akan berjalan dan sampai kapan? karena aku merasa jika jauh maka akan lebih nyaman jika kita menggunakan taksi online.
Tapi kak Justin hanya berkata "Nikmati saja prosesnya, aku memang membutuhkan stresnya pikiran dan hatimu", aku semakin dibuat bingung tapi aku tetap penasaran dengan tujuan kita pagi ini. Mungkin dua puluh menit aku berjalan kaki menyusuri jalan perkotaan itu, dihadapanku kini ada sebuah cafe yang cukup ramai dengan pengunjung.
Cafe itu terlihat begitu sederhana, dengan kursi dan meja yang terbuat dari kayu. Menu yang ditawarkan mereka juga hanya minuman sederhana seperti teh dan kopi serta makanan kecil, tapi pengunjung terlihat sangat antusias berada ditempat itu. Aku tidak mengerti dan ketika aku bertanya pada kak Justin, dia hanya menjawab "Kamu akan segera tahu kenapa tempat ini begitu ramai oleh pengunjung".
Setelah memesan beberapa jenis minuman dan makanan ringan, tidak lama disebuah panggung kecil yang terdapat diarea itu aku melihat empat orang bersiap untuk bermain musik. "Sebuah penampilan live? kenapa harus sampai kesini?" tanyaku dalam hati, tapi aku simpan saja pertanyaan itu dalam hati.
__ADS_1
Mereka mulai memainkan beberapa lagu - lagu yang sempat populer di jamannya namun dengan arasement yang diperbarui, penyanyi juga menyanyikan lagu dengan sangat baik. Semua berjalan normal, kecuali satu hal yang saat itu sedikit membuatku bertanya - tanya. "Kenapa suara penyanyi itu begitu sampai dihatiku?" dia terdengar sangat menjiwai lagu itu sampai - sampai mata dan telingaku sulit untuk berpaling dari penampilan mereka, aku kira hanya aku yang merasakan itu tapi ternyata tidak.
Ketika mereka menampilkan lagu semangat, beberapa diantara mereka juga ikut bersemangat dengan menari didepan panggung. Ketika mereka menampilkan lagu sedih, aku melihat beberapa orang terlihat menangis entah kenapa. "Bagaimana cara mereka melakukan itu? mereka bisa dengan mudah memainkan pikiran kami semua dengan musik mereka, wow" seruku dalam hati
Tiga puluh menit berlalu dan penampilan band diatas panggung kecil itu mengatakan jika mereka akan beristirahat sejenak, kak Justin menarikku dan mengajakku ke belakang panggung dimana personil band beristirahat. Disana aku bertemu dengan penyanyi dan juga personil lainnya, namun sepertinya kak Justin sangat akrab dengan vokalisnya.
"Yoo!! Justin, gimana penampilan kami hari ini?!" seru vokalis itu pada kak Justin
"Seperti biasa, kalian luar biasa. Aku ingin segera sampai pada titik ini" jawab kak Justin terdengar begitu senang
"Kamu akan segera bisa pada titik ini, kamu punya bakat untuk itu" timpal vokalis
"Bicara tentang bakat, kenalkan temanku. Luna, dia punya bakat sepertimu" ucap kak Justin memperkenalkan aku pada vokalis, aku segera menjulurkan tanganku untuk berjabat tangan dengannya.
"Luna Lincoln, penampilan yang luar biasa" seruku penuh semangat, vokalis itu tersenyum padaku lalu membalas jabat tanganku.
"Tidak.. tidak, dia kekasih anak keluarga Gates" jawab kak Justin
"Kak Justin!!" bentakku malu, mereka pun menertawaiku.
"Baik, ada apa nih kamu membawa menantu keluarga Gates kemari?" tanya kak Anthony menggoda kami
Memang sangat berpengaruh nama keluarga Gates, tapi aku tidak ingin hal itu seperti aji mumpung untukku. Jujur aku malu, bagaimanapun dari penampilanku saja pasti terlihat sejauh apa perbedaan status sosialku dengan kak Jester. Walaupun kak Jester memang menunjukkan cintanya untukku.
"Aku bukan menantu keluarga Gates!" bantahaku dengan bentakan, aku cukup salah tingkah saat itu.
"Dia ingin menjadi penyanyi solo untuk sekolah kita, sebagai mantan penyanyi solo di jamanmu aku rasa kamu bisa memberinya tips yang bagus" timpal kak Justin kepada kak Anthony
"Hah?! dia mantan penyanyi solo sekolah?!" aku pun terkejut dengan perkataan kak Justin
__ADS_1
"Ahaha... penampilanku tidak meyakinkan ya bisa sekolah ditempat seperti itu" ucap kak Anthony menanggapi kagetku
"Eeh tidak.. tidak begitu, aku cuma tidak menyangka posisi itu pernah di isi oleh seorang pria" timpalku
"Yah memang cukup mengherankan, aku juga tidak menyangka aku bisa mengalahkan sainganku saat itu" ucap kak Anthony terdengar sedih ketika mengatakannya, aku sedikit memiringkan kepalaku menandakan aku bingung dengan nada bicaranya.
"Dia penasaran dengan ceritamu" celetuk kak Justin, aku pun terkejut karena lagi - lagi kak Justin berhasil menembus isi kepalaku.
Berada disisi kak Justin itu menyeramkan sekaligus menyenangkan bukan?! Menyeramkan karena dia selalu menjadi cenayang yang mampu membaca pikiranku dan menyenangkan karena terasa semua mudah saat bersamanya, dia juga sangat mengenalku dengan baik. Kak Justin.... mungkinkah dia akan menangisi kepergianku kelak jika aku gagal untuk bertahan?
"Hah?!! gak! gak gitu, aku cuma..." belum selesai aku berkata, kak Anthony memotongnya.
"Aku mengikuti audisi itu hanya untuk mengejar wanita yang sangat aku sadari tidak akan pernah aku dapatkan" timpal kak Anthony dan aku pun terdiam termenung menatap wajahnya yang terlihat begitu sedih, tidak lama kak Anthony menghela nafasnya.
"Semua itu bermula ketika aku ingin menarik perhatiannya, ketika gagal menjadi ketua osis saat itu aku mengalihkan tujuanku menjadi penyanyi solo sekolah karena posisi itu adalah posisi dimana semua murid sekolah akan tertuju. Aku berlatih keras untuk merebut posisi itu meski banyak halangan merintangi, beberapa murid mulai sering menggangguku karena aku bukan dari kalangan orang kaya" ucap kak Anthony, sejenak dia terdiam dan menatap langit - langit kafe.
"Tapi pada akhirnya yang menjadi penghalangku adalah wanita yang aku sukai itu sendiri, dia menghinaku, menginjakku dan merendahkanku. Penghinaan itu memupuskan semangatku, namun jika aku ingat kembali esensi dari bernyanyi... aku pun kembali meneruskan audisiku sampai akhirnya aku mendapatkan posisi itu" ucap kak Anthony meneruskan ceritanya
Dunia ini tidak hanya jahat padaku saja, masih banyak yang terluka dan tersakiti. Tetapi mereka bisa merubah hidup mereka dengan baik bahkan jadi sumber yang membahagiakan untuk orang disekitarnya, lalu bagaimana dengan aku? bodoh sekali aku ketika menyerah begitu saja. Ok.. ini saatnya.. Aku akan menemukan hal itu, aku akan memberikan arti kepada orang terdekatku.
"Esensi bernyanyi?" tanyaku heran
"Luna... hidup tidak hanya tentang dirimu, jika kamu hidup hanya untuk dirimu maka kamu tidak memahami arti kehidupan sebenarnya. Kita hidup untuk membekas pada hati setiap orang yang kita pernah temui, entah itu baik, buruk, sedih, senang, atau apapun itu... seperti itulah ketika kita bernyanyi, kita mengeluarkan suara kita untuk membekas di hati pendengar sehingga mereka bisa merasakan apa yang ingin kita sampaikan dengan musik" jawab kak Anthony
"Membekas... di hati..." timpalku terbata, aku pun mulai merenungi apa arti dari bernyanyi...
"Bernyanyilah seakan kamu ingin seseorang merasakan apa yang sebenarnya kamu ingin sampaikan pada mereka, bernyanyilah dan katakan dalam hatimu jika orang itu harus tahu apa yang kamu rasakan dan kamu ingin dia mengerti, dan bernyanyilah dengan libatkan seluruh hatimu pada setiap not yang teralun indah sampai suaramu tersampaikan pada orang yang kamu tuju" ucap kak Anthony lagi
Perkataan kak Anthony kepadaku terasa begitu membekas, aku mengerti tentang esensi kehidupanku yang sempat aku lupakan. Ketika aku mengetahui penyakitku... aku ingin hidup sendiri dengan menjalaninya tanpa memiliki ikatan dengan siapa pun, namun kini aku ingin membekas pada hati setiap orang yang pernah mengenalku. Aku ingin hidup dengan penuh kenangan bersama mereka semua, seperti itulah aku ingin hidup di sisa waktuku...
__ADS_1