
Aku menunggu disebuah ruangan yang dibuat secara khusus agar menjadi ruangan untuk peserta mempersiapkan diri sebelum tampil audisi didepan para juri, terdapat sofa panjang dan sebuah meja dengan beberapa botol air mineral yang tersedia diatasnya. Ruangan itu terasa nyaman karena ada AC portable yang mendinginkan suhu ruangan, ditambah aku bersama ayah, ibu, dan dokter Alora yang setia menemaniku.
Tidak lama terlihat seseorang membuka pintu yang menjadi penghubung antara ruang tunggu dengan ruang audisi, dia mempersilahkan aku untuk masuk kedalam ruang audisi dengan gestur tangannya. Aku pun berdiri dari dudukku diikuti oleh ayah, ibu dan dokter Alora yang ikut berdiri hampir bersamaan, aku menoleh menatap mereka lalu tersenyum manis. Mereka mendekatiku lalu memelukku dengan erat secara bergantian sembari memberi semangat padaku.
Setelah pelukan terakhirku dengan dokter Alora, aku berbalik dan berjalan dengan sedikit menahan rasa sakit yang aku derita di setiap sendi kakiku. Aku percaya jika rasa sakit yang aku derita ini hanya karena aku tidak pernah menggerakkannya selama hampir dua tahun penuh seperti kata dokter Alora, "Tubuhku... Bertahan ya, maaf aku kembali memaksamu untuk menuruti keinginanku" ucapku dalam hati untuk menyemangati tubuhku sendiri.
"Aaaa~ sudah empat kota dan aku tidak menemukan satupun mutiara dalam lumpur!!" terdengar bentakan seorang wanita ketika aku masih dalam perjalanan menuju ruang audisi
"Sabar nona Werner, memang ide ini tidak mungkin berjalan mudah" seorang wanita lain terdengar mencoba menenangkan wanita yang terdengar membentak tadi
"Kamu mau bilang ideku ini ide buruk?! Aku laporkan ke papa kamu ya!!" bentak lagi wanita yang tadi terdengar membentak
Aku pun sampai diujung lorong yang menjadi penghubung antara ruang tunggu dan ruang audisi, disana aku melihat satu orang wanita yang terlihat muda dan mungkin memiliki umur sama denganku duduk diantara dua orang lainnya. Disebelah kanan ada seorang wanita yang punya umur mungkin lebih tua lima tingkat dariku, dan disebelah kiri ada seorang pria yang hanya menunduk seakan dia sedang menyesali sesuatu.
"Maaf nona~ bukan begitu maksudnya~" terdengar menyesal wanita disebelah kanan saat mengucapkannya, seketika itu wanita ditengah langsung menoleh menatapku dengan tatapan tajam.
"Kamu gak diterima!! Selanjutnya!!" bentak wanita yang terlihat seumuran denganku itu, aku pun terkejut dengan perkataannya dan hanya bisa bengong menatap tiga juri di depanku.
"Nona Werner, dia belum melakukan apapun loh. Siapa tahu suaranya bagus" timpal pria disebelah kiri
"Aaarrghh!! Yang penampilannya cantik aja gak bagus, apa lagi dia?! Hei... Kamu pemakai ya? Pucat banget wajahmu, jenis apa yang kamu pakai?" tanya wanita yang dipanggil nona Werner itu padaku, aku pun tertawa kecil mendengar pertanyaannya.
"Maaf jika aku terlihat pucat, aku hanya sedang tidak enak badan saja" jawabku dengan senyum, lalu nona Werner langsung membuang muka tanpa mengatakan apapun.
"Eeeh baik... aku Aiko, di sebelahku nona Grece, dan disana itu Yohan. Kami adalah ju..." belum selesai Aiko berkata, Grece pun memotongnya.
"Bla bla bla... Udah perkenalkan dirimu aja dan segera keluar, aku sudah katakan tidak" timpal Grece
"Nona Werner, tolong profesional sedikit. Nanti tuan Werner marah kalau nona bersikap seperti anak kecil gini~" ucap Aiko lagi
"Katamu ideku buruk, aku sakit hati dengan kata - katamu tau! Aku hanya ingin memberi kesempatan anak - anak desa bisa maju dan terkenal sampai ke kota!!" bentak Grece pada Aiko
"Bukan karena ingin mendapat pujian dari tuan Werner jika ide yang konyol ini berhasil?" tanya Yohan menimpali bentakan Grece
"Tentu saja aku ingin dapat pujian dari pa...pa..." jawaban Grece mendadak terhenti dan dia nampak malu
"Ternyata memang haus pujian..." celetuk Yohan
"Padahal sudah dikatakan sama tuan Werner jika ini ide konyol, tapi karena nona Werner memaksa sampai menangis... Akhirnya tuan Werner gak punya pilihan lain selain menerima ide konyol ini" celetuk Aiko
"AAaaa~ kurang ajar!! Kurang ajar!! Berani - beraninya kalian menghina anak bos kalian sendiri!!!" bentak Grece sembari memukul - mukul bahu Yohan
Yohan saat itu hanya bisa menghindar dan berusaha kabur dari ruang audisi, namun baju yang dia kenakan ditarik oleh Grece sembari Grece memukuli Yohan bertubi - tubi. Sedangkan Aiko berusaha keras menenangkan Grece dengan bujukannya, tidak lupa dia mengatakan jika harus menjaga wibawa anak pemilik media ternama dan terbesar di negeri ini.
Sebuah pemandangan yang tidak pernah aku bayangkan ketika berada ditengah audisi, tingkah ketiganya terlihat sangat konyol dan kekanakan. Tapi entah kenapa tingkah ketiganya berhasil membuatku tertawa, aku tertawa kecil dan suara tawaku berhasil membuat mereka bertiga terdiam. Ketiganya kini menatapku dengan wajah heran, sedangkan aku berusaha sekuat tenaga agar tidak terus - menerus menertawakan mereka.
"Kamu menertawai ku?!!" bentak Grece padaku
"Gak, enggak kok... Aku gak tahu kenapa aku tertawa seperti ini" jawabku sembari berusaha agar tidak terus tertawa
"Lalu kenapa kamu tertawa menatap kami?!" bentaknya lagi
Seketika pertanyaan yang sama terngiang di kepalaku, "Iya ya... Kenapa tiba - tiba aku tertawa seperti itu?" tanyaku dalam hati, aku pun terdiam menatap Grece, Aiko dan Yohan bergantian. Seketika itu entah mengapa aku terbayang wajah... Kak Jester, kak Luke dan kak Harry...
__ADS_1
"Tingkah kak Jester, kak Luke dan kak Harry... Mirip seperti itu kan saat berkumpul bersama?" tanyaku dalam hati, tidak terasa aku meneteskan air mataku...
Aku tidak sadar ketika aku tiba - tiba meneteskan air mata, aku baru tersadar jika aku meneteskan air mata ketika melihat wajah Grece, Aiko dan Yohan terlihat khawatir denganku.
"Kamu... Kenapa menangis?" tanya Grece, aku segera menyeka air mata dari mata dan pipiku lalu kembali tertawa kecil.
"Ahaha.. Gak tahu, mungkin karena... Aku tiba - tiba merindukan seseorang..." jawabku, seketika itu mereka terdiam seakan memberikanku waktu untuk menenangkan diri.
Setelah beberapa saat berlalu, aku pun sudah berhasil menenangkan diriku sendiri. Aku menarik nafas panjang dan menghembuskannya perlahan, lalu kembali tersenyum menatap tiga juri di hadapanku.
"Hmm.. Baik, langsung saja perkenalkan diri dan akan menyanyi lagu apa" celetuk Aiko memecah keheningan diruang audisi itu
"Namaku Lunar dan aku akan menyanyikan lagu dari Whitney Houston - I Will Always Love you" jawabku
"Kamu orang tahun kapan sih, banyak lagu populer lainnya dan kamu malah pilih lagu jadul gitu" timpal Grece, aku hanya tertawa kecil menanggapi perkataannya.
"Meski jadul tapi lagu itu bisa menjadi ajang pamer bagi pemilik suara bagus, sekali salah mengambil nafas maka suaramu akan mendadak fals diujung nada. Kamu yakin?" tanya Yohan padaku, aku menganggukkan kepalaku beberapa kali sebagai tanda jika aku sangat yakin dengan lagu pilihanku.
***Whitney Houston - I Will Love You***
If I...
Should stay...
I would only be in your way
So I'll go...
but I know
And I.....
will always love you
I will always love you
You...
My darling, you
Mmm-mm
Bittersweet...
memories...
That is all I'm taking with me
So goodbye
Please don't cry
We both know I'm not what you, you need
__ADS_1
And I... will always love you
I... will always love you
You, ooh
***_________***
Aku berhenti menyanyi karena Grece tiba - tiba berdiri dan memberikan gestur tangan agar aku berhenti bernyanyi, meski aku heran karena aku merasa tidak melakukan kesalahan namun aku hentikan saja nyanyianku.
Tapi sepertinya tindakan Grece saat itu tidak hanya membuatku bingung, tapi Aiko dan Yohan juga terlihat bingung. Kami bertiga menatap Grece bersama namun masih terdiam beberapa saat, sampai tiba - tiba Grece meninggalkan meja juri lalu berjalan menuju belakang panggung melewati ku begitu saja.
Tidak lama muncul dua orang pria bersama Grece dari balik panggung membawa sebuah digital piano yang diletakkan tepat di sebelahku, Grece menaruh sebuah kursi dihadapan piano itu lalu duduk disana seakan bersiap untuk mengiringi aku bernyanyi.
"Kita langsung masuk reff dari lagu, aku akan mendampingi mu dengan keyboard ini" ucap Grece, aku menganggukkan kepalaku lalu menarik nafas panjang untuk bersiap menyanyi kembali.
***Whitney Houston - I Will Love You***
And I... will always love you
I will always love you
I will always love you
I will always love you
I will always love you
I, I will always love you
You
Darling, I love you
I'll always
I'll always love you
Ooh...
Ooh...
***_______________***
Aiko dan Yohan berdiri lalu bertepuk tangan ketika aku dan Grece selesai menyanyikan lagu itu dengan baik, Aku yang sedang berusaha mengatur nafas yang terengah - engah hanya bisa membalas tepuk tangan mereka dengan senyuman dan bungkukan badan untuk mengucapkan rasa terima kasih.
Lalu aku menatap Grece yang ternyata bengong menatapku seakan tidak percaya dengan apa yang sedang dia lihat dihadapannya, aku bingung harus berkata apa saat itu jadi aku hanya tersenyum padanya tanpa mengatakan apapun. Lalu dia memelukku dengan erat, tangannya menepuk - nepuk punggungku dengan lembut.
"Aaa~ maafkan aku sudah mengejek mu tadi, jangan dimasukin ke hati ya Lunar" ucap Grece terdengar menyesal, aku tertawa kecil sembari menganggukkan kepalaku di bahunya.
"Kamu... Hantunya Whitney Houston kan?" tanya Grece, tawaku semakin tidak dapat aku kendalikan mendengar pertanyaan Grece.
"Tentu saja bukan, ahahaha..." jawabku, perlahan Grece melepaskan pelukannya namun tangannya kini menggenggam kedua pundakku dengan erat.
__ADS_1
"Kamu lolos ke babak selanjutnya, aku pastikan kami akan membawamu ke ibu kota. Kamu layak menjadi the next diva selanjutnya" ucap Grece begitu yakin, aku terkejut mendengarkan perkataan Grece saat itu.
Ibu kota adalah kota yang sengaja aku tinggalkan untuk mengubur semua mimpi - mimpi indahku selama dua tahun ini, apakah ini sebuah takdir atau sebuah kutukan... Aku akan kembali kesana dan kemungkinan akan kembali bertemu dengan pangeran impianku, "Apa aku tolak saja tawaran ini?" tanyaku dalam hati, aku kembali dibingungkan dengan sebuah pilihan....