
Jawaban kak Justin atas pertanyaan ku kemarin mengganggu pikiranku, aku bertanya - tanya tentang arti dibalik jawaban kak Justin sore itu. Apa itu artinya memang ada pria seperti itu di sekolahnya atau dia hanya ingin membuat aku penasaran lalu aku semakin giat belajar agar lulus dengan nilai yang baik dan bisa bersekolah di SMA swasta itu?
Tidak ingin pusing sendirian, aku pun mengajak Selena untuk membicarakan hal itu ketika dia berkunjung menjengukku di rumah sakit Scott. Tapi Selena hanya tertawa dan mengatakan jika pria yang aku inginkan hanya ada dalam imajinasiku saja, jujur aku kesal dengan jawaban Selena tapi aku juga berpikir realistis jika memang yang dikatakan Selena ada benarnya.
Tapi entah mengapa aku yakin jika pria imajinasiku itu benar - benar nyata dan kelak aku pasti akan menemukannya, Tahukah apa yang akan ku katakan jika aku bertemu dengannya? "hai pangeran berkuda ku, akhirnya aku menemukanmu" Ahaha... ah sudahlah, aku terlalu banyak berkhayal belakangan ini.
Hingga tibalah disaat penentuan, hari ujian akhir sekolah pun dimulai keesokan harinya. Namun.... terjadi lagi...
Aku jatuh pingsan dan harus dibawa kembali ke rumah sakit Scott meski aku baru saja keluar dari sana...
Ketika aku tersadar.... dari balik kaca jendela kamar rumah sakit Scott, aku melihat matahari begitu terik bersinar....
"Berapa hari aku pingsan? apa ujian sudah selesai dilangsungkan? aku gagal..." dalam benakku aku berkata seperti itu, tidak terasa air mataku pun menetes...
Mungkin aku memang terlalu berharap berlebih, aku tidak tahu diri dengan keadaanku... aku menghentak - hentak kan kakiku di kasur karena aku begitu marah dan kecewa, tidak lama aku mendengar suara ibuku yang terkejut karena bunyi dari hentak kan kakiku. Ibu berlari mendekatiku dan mengelus kepalaku dengan lembut, ibu sangat memahami seberapa kecewanya aku.
"Sabar sayang, fokus penyembuhan dulu ya... ayo kontrol kesehatan rutin lagi seperti dulu, agar kamu sehat" ucap ibuku sambil terus mengelus rambutku, aku menggelengkan kepala dengan air mata yang begitu deras menetes.
Tahukah apa yang begitu menyakitkan bagiku saat itu? yaitu sebuah senyum yang dipaksakan untuk dihadirkan oleh orangtuaku walau aku tahu hati mereka menangis. Aku tahu hati ibu terluka karena aku tidak memiliki semangat untuk sembuh sesuai dengan keinginannya, namun keadaanku yang tak pernah terasa membaik membuatku merasa bahwa sebuah semangat pun akan sia - sia.
"Buat apa...? buat apa lagi?!! kapan aku benar - benar akan mati?!! aku capek seperti ini terus bu!!! sakit ini sudah sangat menyiksaku, nyeri di setiap sendi, memar yang timbul tiba - tiba, pusing yang teramat sangat... aku menderita..." ucapku pada ibuku
Ibu hanya bisa menangis di sebelahku setelah mendengar perkataanku, jujur saja hatiku terasa sakit ketika ucapanku membuat ibu menjadi menangis seperti itu. Tapi aku sudah capek... aku lelah dengan semuanya... aku mulai berfikir yang tidak - tidak... mungkin mati lebih cepat maka akan membuatku terbebas dari penderitaan ini....
Kenyataan bahwa aku hanyalah gadis penderita leukimia dengan vonis usia yang tidak lama akan bertahan membuatku kesulitan untuk memiliki semangat hidup. Namun orangtuaku pasti akan menderita jika aku menyerah begitu saja dengan penyakitku ini.
__ADS_1
Aku mulai murung kembali, tidak ingin lagi berbicara, makan, minum, bahkan obat apa pun aku buang begitu saja dilantai. Hanya tersisa infus ditangan yang menjadi sumber nutrisi dan obatku hari itu, bujukan ayah, ibu, Selena, kak Justin, Dokter Richard dan Dokter Ellie tidak berpengaruh apa pun untukku.
Hingga suatu pagi aku kedatangan para guruku di sekolah, mungkin ada enam orang guru yang menjengukku saat itu. Di sana mereka berkata jika aku berhak untuk mengikuti ujian susulan karena kondisi kesehatanku, namun di saat bersamaan aku melihat tuan Parker dan Selena berada di belakang para guru itu. Selena pun terlihat begitu bersemangat saat para guru mengatakan jika aku boleh ikut ujian susulan, kini aku tahu siapa dalang dibalik ujian susulanku itu.
Kehadiran Selena dan orangtuanya saat itu membuatku sadar, bahwa masih banyak orang yang begitu peduli terhadapku. Terlihat mereka memberikan semangat penuh agar aku kembali bersemangat untuk menggapai cita - citaku. Seketika aku memiliki kembali semangat untuk sembuh, yaah selain gadis dengan leukimia aku juga seorang gadis yang labil akan semangat hidup.
Tapi percayalah tak hanya orangtuaku, Selena beserta orangtuanya, kak Justin, danĀ Dokter Ellie yang membuatku kembali bersemangat untuk berjuang agar sembuh. Harry Potter, pria imajinasiku itu.... yaaah pria yang berhasil memenuhi pikiranku akhir - akhir ini, pria yang berhasil membuat gadis labil ini kembali bersemangat untuk sembuh. Kita pasti bertemu dan aku yakin itu. Akan segera ku temukan pria pemberi harapan baru itu dalam hidupku.
Di atas kasur rumah sakit, aku mulai mengerjakan semua ujian itu, meski aku tidak yakin akan lulus dengan baik namun setidaknya aku berjuang agar aku tidak memiliki penyesalan. Empat hari aku selalu didatangi tim guru yang membawa kertas ujian dan menjadi pengawasku, aku mengerjakannya dengan penuh semangat agar tidak mengecewakan tuan Parker dan Selena.
Dan.... sebulan berlalu sejak ujian terakhirku, hari ini pengumuman hasil ujian akan dibagikan...
Aku yang sudah keluar dari rumah sakit sejak dua minggu yang lalu pun bersama Selena datang ke sekolah untuk mengambil hasil ujian kami, setelah menerima surat hasil ujian saat itu aku dan Selena duduk di taman sekolah untuk membuka surat. Dengan tiga hitungan yang kami ucapkan bersama, aku dan Selena serentak membuka surat itu dan membaca hasilnya.
Aku dinyatakan "Lulus Dengan Nilai Memuaskan"
"Tuh kan gak ada yang namanya perjuangan sia - sia!! kembalilah berobat Luna!!" bentak Selena kepadaku, aku hanya tertawa menanggapi perkataan Selena.
Selena berdiri lalu berjalan mendekatiku dengan hentakan kaki yang begitu terdengar, dia langsung memelukku dan menangis dalam pelukanku. Aku tidak tahu kenapa dia menangis saat itu, mungkin karena terharu atau... dia begitu kesal padaku yang sudah kehilangan semangat untuk hidup...
Kami pun pulang setelahnya, seperti biasa aku pulang bersama dengan Selena menuju kerumah keluarga Parker menunggu ayah selesai bekerja. Baru sampai dikamar Selena, ketika itu ibu Selena memanggil Selena untuk turun karena ada Naomi yang mencarinya. Selena sempat memintaku untuk menemaninya menemui Naomi, namun aku menolaknya karena aku malu untuk berhadapan dengan anak dari keluarga yang begitu terpandang di negara ini.
Aku menghabiskan waktu - waktuku menunggu ayah selesai bekerja dikamar Selena sendirian, hingga menjelang malam ayah pun selesai bekerja dan Selena baru pulang dari rumah Naomi. Dengan penuh penyesalan Selena meminta maaf padaku karena dia meninggalkanku sendirian, tapi aku mengatakan jika aku baik - baik saja.
Setelah berpelukan, aku pun pulang bersama ayahku. Di rumah malam itu, ibu menyambut kami di pelataran rumah dan ada yang berbeda pada hari itu... Ibu tersenyum lepas kepadaku tidak seperti biasanya. Yah jika aku katakan seperti biasanya itu karena sejak terakhir kali aku melakukan terapi penyembuhan dan dinyatakan tidak mengalami perkembangan, ibu lebih sering terlihat menangis dan berwajah sedih.
__ADS_1
Namun malam ini berbeda, ibu tersenyum melihat kepulanganku bersama ayah "Apa ibu sudah tahu jika aku lulus dengan nilai memuaskan? itu artinya aku akan bersekolah di sekolah bergengsi dan ibu senang dengan itu" pikirku sambil berjalan mendekati ibu, tapi tiba - tiba aku melihat kak Justin yang membawa sebuah kue ulang tahun dengan lilin yang menyala berjumlah lima belas.
Aku terkejut... bukan karena kehadiran kak Justin yang membawa kue ulang tahun tapi karena lilin itu!! lilinya terlalu banyak untuk kue sekecil itu!!
"Kak! kamu ingin membakar rumahku?!!" tanyaku dengan panik, kak Justin hanya tertawa lalu sedikit berlari mendekatiku
"Makanya cepat tiup" jawabnya, aku pun segera meniup lilin itu dengan sekuat tenaga hingga apinya padam semua.
"Tapi... ulang tahunku masih besok" celetuk aku sembari menatap kak Justin dan ibu bergantian, ibu memelukku erat sebelum menjawab keresahanku.
"Ayah, ibu dan Justin sepakat untuk memajukan ulang tahunmu karena nona Selena akan merayakan ulang tahun kalian secara besar - besaran besok. Rencana ini sudah nona Selena rencanakan saat kamu pingsan waktu itu, jadi kami ingin ada ulang tahun yang hanya ada kita disini" timpal ibuku sembari mengelus punggungku dengan lembut
"Hah? kenapa Selena tidak mengatakannya padaku?" tanyaku heran
"Eeh? nona Selena tidak memberitahumu?" tanya balik ibuku heran, ibu melepaskan pelukannya dan menatapku dengan penuh tanda tanya.
"Aneh, padahal baju pesta milikmu baru sore tadi sampai dirumah" timpal kak Justin yang juga heran, kami pun bersama - sama menatap ayah yang terlihat berusaha menahan air matanya.
"Apa? ayah tidak tahu" jawab ayahku karena kami menatapnya
Lalu ayah berjalan mendekati aku dan ibu, dengan tangannya yang lebar itu ayah memeluk kami berdua.
"Anak ayah sudah remaja, sebentar lagi akan merasakan cinta pertamanya. Ayah jadi sedih jika mengingat itu, selamat ulang tahun sayang" ucap ayahku ketika ayah memeluk kami
"Ayah berlebihan iiih~" aku membantah perkataan ayah
__ADS_1
Hampir bersamaan saat itu ayah dan ibu meneteskan air matanya, meski mereka tidak mengatakannya secara terus terang tapi aku sangat memahami mengapa tiba - tiba mereka menangis. Semua karena sikapku yang menolak untuk berusaha sembuh ketika kedua orangtuaku sangat menginginkan aku terus berusaha untuk sembuh, aku tahu mereka kecewa dengan keputusanku namun... aku benar - benar sudah lelah saat itu... jika ada jalan pintas untukku segera pergi... aku pasti sudah mengambil jalan itu...
Tapi saat itu aku tidak punya keberanian... dalam benakku aku berkata "mungkin suatu hari nanti..."