
Rasa cinta... dan rasa sayang... sebuah rasa yang kini aku rasakan begitu berbeda, mungkin aku bisa menguatkan hati untuk kehilangan cinta pertamaku demi kebaikannya namun untuk kehilangan orang yang aku sayang... aku begitu sulit untuk melakukannya.
Rasa yang aku miliki untuk kak Justin berbeda dengan apa yang aku rasakan untuk kak Jester, semuanya berbeda... sama seperti halnya aku harus merelakan kehilangan ayah, ibu, dan Selena... aku tidak akan sekuat itu menahan rasa kehilangan namun mungkin aku masih kuat jika harus berpisah dengan kak Jester...
Semua demi kebaikan kak Jester... semua untuk pangeranku...
Dua hari berlalu sejak kak Justin menyatakan cintanya padaku, pembicaraan kami terputus seketika saat ayah dan ibu masuk kedalam kamar. Sejak hari itu aku selalu menghindari untuk bertemu dengan kak Justin, setiap dia datang maka aku selalu berpura - pura tertidur.
Siang hari aku kedatangan dokter Ellie dan dokter Richard, mereka memberikan vonis baru padaku yaitu sesuatu yang sudah aku tahu sejak awal... semua tentang kelumpuhan ku, sejak hari itu aku mulai melakukan terapi baru agar aku kembali bisa berjalan. Namun aku tidak pernah melakukannya dengan sungguh - sungguh... aku seperti robot yang bergerak ketika ada perintah dari orang lain.
Aaah... iya, hampir saja aku melupakan sesuatu yang sudah menjadi keahlian baruku. Entah sejak kapan aku memiliki kemampuan ini, tapi itu sangat membantuku akhir - akhir ini. Kemampuan itu adalah... senyum palsu...
Senyum yang selalu aku tampakkan dihadapan ayah, ibu, dan kak Jester... senyum yang selalu mengatakan kepada mereka jika aku baik - baik saja, sebuah senyum yang selalu membuat mereka berhenti untuk mengkhawatirkan ku.
Kak Jester yang paling sulit untuk aku kelabui, dia terlalu perasa dengan semua perubahanku. Setiap kami bertemu... wajah kak Jester selalu saja menaruh rasa khawatir kepadaku, tentu saja aku membalas ekspresinya itu dengan senyumku agar dia berhenti untuk terus - menerus mengkhawatirkan ku.
Kali ini sudah berjalan satu minggu sejak kak Justin menyatakan cintanya padaku, aku tetap tidak mampu untuk berjalan dan bahkan hanya sekedar berdiri... hatiku sudah terasa mati, aku tidak mempedulikan apapun lagi kecuali tentang kematian ku. Jadi di suatu sore ketika Selena berkunjung... aku mencoba untuk memulai rencana ku... aku membutuhkan dia untuk menjadi penggantiku...
Sore itu Selena duduk di sebelahku, bercerita panjang lebar tentang hari - harinya disekolah sembari mengupas buah apel untukku. Aku tahu dia sedang berusaha untuk menghiburku karena dihadapannya... senyum palsu yang sudah menjadi keahlianku akan aku lepas dari wajahku, bagiku... Selena adalah satu - satunya orang yang bisa memahami ku tanpa memberikan beban baru untukku... tidak seperti Alvin dan kak Justin, mereka menambah beban pikiranku...
"Selena..." celetukku memotong ceritanya, aku memberikannya sebuah note kecil yang berisi tentang apa - apa saja yang harus dia lakukan untuk menjadi diriku.
"Apa ini?" tanya Selena sembari menerima note kecil itu, matanya kini beralih untuk membaca isi dalam note yang telah aku tulis beberapa hari belakangan ini.
__ADS_1
"Cara untuk menjadi diriku..." jawabku, sejenak kami terdiam karena Selena begitu serius membaca semua daftar tentang cara menjadi Luna.
"Buat apa ini?" tanya Selena ketika dia selesai membaca semua isi dalam note itu, aku tersenyum padanya.
"Selena... apa kamu bisa membantuku untuk terakhir kalinya?" pintaku padanya, mungkin perkataanku membuatnya marah... dia langsung berdiri dari duduknya dan memberikan ekspresi wajah yang menunjukkan seberapa emosinya dia.
"Jangan katakan ini yang terakhir!!" bentaknya padaku, aku tertawa kecil sembari mengalihkan pandanganku menatap cerahnya langit sore dari balik kaca jendela kamarku.
"Tolong... dengarkan saja permintaanku jika kamu bersedia... aku lelah, Selena... sangat lelah..." timpal ku terbata
"A.. apa?" tanyanya
"Tolong gantikan aku untuk menjadi.... pacar kak Jester..." jawabku
Aku menoleh untuk menatap wajah Selena karena dia diam terlalu lama, tidak seperti biasanya jika Selena memiliki sesuatu yang dipikirkan maka dia akan segera mengungkapkannya secara langsung tanpa pikir panjang. Ketika mata kami bertemu, aku melihatnya begitu kaget, mungkin permintaanku itu membuat dia syok berat... tapi itu adalah ekspresi yang sama dengan ketika aku memintanya berteman dengan Naomi ketika kami masih anak - anak.
"Selena~ ekspresimu membuatku mengingat kenangan masa kecil kita" celetukku dengan sedikit suara tawa
"Gak... lucu... gak lucu, Luna!! aku tidak akan menerima permintaanmu!! itu egois kamu tahu!!!" bentaknya begitu marah padaku, namun kemarahannya hanya aku balas dengan senyuman palsuku.
Aku tahu... aku tahu itu egois, siapa aku yang menentukan seorang pacar untuk kak Jester? tapi... aku tidak akan rela jika kak Jester bersama dengan wanita yang aku tidak kenal dan tidak aku tahu bagaimana sifatnya, bagiku kak Jester terlalu polos untuk menjadi seorang pria. Dia begitu mudahnya tertipu dengan semua kebohonganku, walau beberapa kali aku hampir saja ketahuan... namun berkali - kali pula kebohongan kecilku kembali mengelabuinya.
"Kamu egois!! apa kamu pernah memikirkan perasaan kak Jester?!! kebohonganmu yang mengacaukan hubungan kalian, dan kali ini kamu kembali mengorbankan perasaannya?!! kemana hatimu?!" bentak Selena padaku, aku menghela nafasku sebelum merespon perkataannya.
__ADS_1
"Selena... kamu peduli kan sama kak Jester?" tanyaku padanya, Selena tersentak dengan pertanyaanku dan dia pun terdiam menatapku tajam.
"Aku tahu itu... kamu begitu mempedulikan bagaimana hati kak Jester ketika dia terpaksa menerima keputusanku yang egois ini, aku dengar... kamu pernah berkata pada kak Jester jika kamu ingin pria sepertinya yang menjadi pasanganmu..." ucapku
"Luna! aku tidak pernah mengatakan itu!!" Selena membatah perkataanku, aku tertawa kecil mendengar bantahannya lalu mencubit pipi kirinya dengan lembut.
"Pria impianku yang aneh itu.... orang yang baik kan?" tanyaku padanya, Selena kembali tersentak mendengar pertanyaanku itu.
"Kamu pasti akan mencintainya ketika kalian saling dekat... mungkin kamu akan kesulitan untuk dekat dengannya karena ada bayang - bayangku di hati pangeranku itu, namun aku sudah memberikan semua yang aku tahu tentang kak Jester dan berharap kamu bisa menjadi Selena Luna" ucapku lagi dengan senyumku yang begitu tulus padanya, kini cubitan di pipinya aku ganti menjadi belaian lembut.
"Lu...na... kamu... tidak stabil... kamu jangan bicara hal aneh disaat seperti ini, setelah kamu keluar dari rumah sakit dan pikiranmu sudah normal kembali... kita akan bicarakan ini lagi, tidak sekarang ketika kamu antara sadar dan tidak" timpal Selena yang masih terlihat syok dengan pembicaraan kami
Aku tahu.. stabil atau tidak aku hanya tinggal menunggu waktuku selesai di dunia ini, itulah mengapa mencarikan penggantiku untuk kak Jester harus segera ku lakukan. Aku memang egois, tapi hanya sebuah keegoisan yang mampu membuatku tenang meninggalkan semua orang yang aku cintai, karena semua akan sesuai dengan harapanku.
Aku hanya mengangguk dan menerima keputusannya untuk menunda apa yang kami bahas sore ini dikemudian hari ketika aku sudah keluar dari rumah sakit, setelah itu aku mencoba menjadi Luna yang Selena sudah kenal seperti biasanya... aku memancingnya untuk membicarakan hal lain agar rasa syok yang Selena rasakan berkurang. Tapi suasana menjadi canggung, Selena lebih banyak diam dan tidak menanggapi percakapan kami seperti biasanya.
Waktu silih berganti, semua kehidupan berjalan termasuk kehidupanku yang masih berada dirumah sakit. Menjalani berbagai jenis pengobatan dan terapi, namun tidak ada satupun yang menunjukkan perkembangan positif. Pada akhirnya aku meminta pada ayah dan ibu untuk pulang dari rumah sakit dan selanjutnya menjalani rawat jalan, disaat itu keputusanku ditentang oleh ayah, ibu, dokter Richard dan dokter Ellie.
Tidak ada satupun yang mampu mengubah keputusanku, bahkan bujukan Selena pun aku abaikan. Hingga pada akhirnya aku pun kini berada dirumah tepat satu minggu sebelum acara dies natalis sekolah berlangsung, aku meminta ayah untuk mengatakan pada sekolah jika aku masih sakit dan aku memutuskan untuk mundur menjadi vokalis utama sekolah.
Sore harinya pak Mike mendatangiku dirumah untuk memastikan keadaanku, setelah melihat aku yang masih tidak bisa lepas dari kursi roda.. pak Mike hanya mengatakan jika posisi itu tetap milikku ketika aku sudah kembali bersekolah. Aku hanya tersenyum ketika pak Mike mengatakannya karena aku tahu aku tidak akan pernah kembali lagi ke sekolah, semua mimpi ku telah berakhir seperti yang Alvin katakan padaku.
Kini semua bertanya - tanya tentang penyakitku, sekolah menjadi lebih heboh tentang apa yang terjadi padaku meski acara dies natalis sudah ada dihadapan mereka semua. Beberapa diantara mereka menduga jika sakit yang aku derita karena ulah kak Natalie dulu dan informasi itu berkembang secara liar, aku bersyukur rumor itu yang beredar karena dengan adanya rumor itu... aku lebih mudah membohongi kak Jester yang selalu bertanya tentang penyakit apa yang aku derita sepanjang dia menjengukku di rumah.
__ADS_1
Dan akhirnya... acara yang seharusnya menjadi kan aku bintang utama sekolah pun dimulai... tapi aku masih tidak bisa melakukan apapun selain duduk di kursi rodaku sepanjang hari didalam rumah...