
Sore hari yang cerah disebuah cluster perumahan mewah, terlihat salah satu rumah yang begitu menarik perhatian karena terdapat beberapa aksen khas budaya jepang sebagai hiasan rumah tersebut. Didalam rumah itu terlihat Naomi dan Jester sedang duduk bersantai disebuah sofa diruang keluarga sembari membaca buku diary berwarna merah muda dengan garis - garis berwarna emas yang menghiasinya, Naomi yang mendengarkan Jester membacakan lembar demi lembar diary milik Luna tidak kuasa menahan tangisnya, derai air mata membasahi pipi bahkan sesekali Naomi sesenggukan mengingat betapa kerasnya perjuangan Luna selama ini untuk mewujudkan impiannya.
"Kenapa dia berhenti menulis lagi? bukan kah ini saat kamu dan dia ke Paris dulu? lalu coretan apa itu?" tanya Naomi seraya menyeka air matanya
"Aku tidak tahu... tapi jika aku ingat kembali ketika itu, aku rasa ini adalah bagian dimana aku menemukannya tergeletak dikamar bersimbah darah" jawab Jester mencoba mengingat kembali kejadian tiga minggu yang lalu ketika Jester dan Luna berada di paris.
"Apa yang sebenarnya terjadi? aku hanya tahu ketika kamu meneleponku ditengah malam dan terdengar panik" tanya Naomi lagi, tatapan matanya kini beralih menatap Jester yang masih terpaku pada diary itu.
"Seperti yang Luna tulis, aku memintanya kembali berkumpul di lobby tapi setelah lewat satu jam lebih Luna tidak juga hadir saat itu yang ada di pikiranku cuma Luna tertidur atau terburuk dia terpeleset dikamar mandi. Jadi aku berinisiatif buat meminta resepsionis untuk mengantarkan aku ke kamarnya" jawab Jester
"Ketika kamar dibuka.... kamu melihat Luna tergeletak dan bersimbah darah... kini aku paham kenapa kamu begitu panik malam itu, maaf waktu itu aku memaksamu untuk tenang tanpa tahu apa yang sebenarnya kamu lihat..." timpal Naomi terdengar menyesal, Jester mengalihkan pandangannya menatap Naomi untuk membelai rambut Naomi seraya menghela nafasnya.
"Boleh aku tahu apa yang terjadi selama aku dan Luna berada didalam pesawat?" tanya Jester
"Selena memberikan obat pencahar sama Luke dan Harry di makanan mereka, itu yang membuat keduanya tiba - tiba membutuhkan toilet. Selain itu juga Selena membuang tiketku dan Grece, disaat kami bingung aku berinisiatif buat membeli tiket baru di penerbangan berikutnya tapi.... Selena dan Justin mengunci kami disebuah ruangan yang Selena sewa sampai penerbangan terakhir menuju Paris" jawab Naomi menjelaskan apa yang terjadi ketika mereka ketinggalan pesawat
"Lalu? bagaimana akhirnya kalian bisa keluar?" tanya Jester penasaran
"Aaa~ itu mengerikan, Justin dihantam sama Luke sampai dia berdarah di hidung dan bibirnya. Grece juga menangis histeris melihat pacarnya dihajar seperti itu, tapi Justin akhirnya menjadikan Grece sebagai tamengnya agar Luke tidak bisa terus memukulinya. Selain itu Selena mau duel sama Luke, aku tahu Selena punya dasar bela diri tapi... Luke kan seperti gorila, aku yakin Selena kalah walau Luke saat itu mules" jawab Naomi sembari menghela nafasnya, Jester pun tertawa mendengar cerita itu.
"Setelahnya... aku berteriak kepada semuanya agar mereka berhenti bertengkar, aku katakan pada Selena jika aku mau mempercayainya dengan syarat dia mau menceritakan semua yang sebenarnya terjadi antara dia, kamu dan Luna... sampai pada titik itu, aku sama sekali tidak paham kenapa Luna sekeras itu berjuang untuk bisa berdua denganmu di Paris..." ucap Naomi lagi, kali ini nadanya terdengar begitu sedih.
"Selena pun setuju dengan syarat yang aku berikan lalu dia menceritakan semuanya, tentang janji dia dan Luna, tentang kenapa Luna meninggalkanmu dulu, dan tentang... impian terakhirnya sebelum pada akhirnya... dia meninggal..." Naomi meneruskan ceritanya, kedua tangannya terlihat mengepal kuat ketika mencoba mengingat semuanya.
"Aku satu - satunya yang tidak tahu apa yang terjadi disaat itu... kenapa aku bisa sebodoh itu..." celetuk Jester penuh penyesalan
"Aah.. Eeh.. tidak, bukan seperti itu. Luna memang berhasil menipu kita semua kan? itu bukan kesalahanmu, Jess!" timpal Naomi
"Terima kasih, lalu apa yang terjadi?" tanya Jester
"Selena mengantar kami untuk bertemu sama kedua orang tua Luna, dari sanalah kami diberikan fakta tentang Luna... Setelah itu, kamu tahu kan apa yang aku minta darimu? aku tahu kamu saat itu bingung dan bahkan ketika itu aku sudah bersiap untuk menerima semua amarahmu ketika nanti kamu dan Luna sudah pulang, semua aku lakukan demi... Luna..." jawab Naomi
"Benar... aku marah ketika itu, pikiranku tentang kamu yang akan meninggalkanku juga kembali teringat... semua terasa kacau untukku dan hatiku..." timpal Jester
"Maaf... aku bukan tidak ingin langsung memberitahumu, tapi Selena bilang Luna ingin bersamamu tanpa kamu tahu jika dia menderita penyakit, supaya kamu bisa bersikap normal dan tidak berlebihan" ucap Naomi
"Bersikap berlebihan ya... mungkin benar, aku melakukannya setelah melihat Luna di rumah sakit. Aku murung sepanjang hari... sampai kalian datang menemui ku" timpal Jester
"Kita selalu akan bersama kan? tentu saja aku pasti akan datang ketika kamu membutuhkanku" Naomi mengatakannya sembari tersenyum dan menyentuh pipi Jester dengan lembut, Jester tersenyum ketika itu.
__ADS_1
"Terima kasih" timpalnya
"Hei, lalu apa ada yang lain dibuku itu? coba kamu cari" pinta Naomi, perlahan Jester pun membalik lembar demi lembar dan terlihatlah kembali tulisan Luna yang semakin tidak terbaca ketika itu.
"Disini ada semacam... coretan... apa itu? tidak terbaca" celetuk Naomi sembari terus menatap lembaran itu dengan begitu fokus, tapi tulisan itu benar - benar terlihat seperti hanya goresan - goresan tangan.
"Entah kenapa... aku bisa membacanya..." terbata Jester mengatakannya, Naomi pun mengalihkan pandangannya menatap Jester dengan raut wajah terkejut.
"Benarkah?" tanya Naomi
"Ini.... hari - hari terakhir sebelum Luna meninggal... artinya ketika kami akan berangkat untuk menuju ke bioskop terbuka di paris..." jawab Jester terbata
"Bisakah kamu bacakan, Jess?" pinta Naomi
"Entahlah... apa hatiku kuat, tapi aku akan mencobanya.." jawab Jester, dengan tarikan nafas panjang Jester pun bersiap untuk membaca isi tulisan itu.
***EPISODE KE DEPAN AKAN MENGGUNAKAN SUDUT PANDANG ORANG PERTAMA SEBAGAI LUNA LINCOLN***
Hai...
Aku lagi...
Hari Pertama...
Kak Jester akhirnya tahu tentang penyakitku, semua karena aku tiba - tiba pusing dan memuntahkan banyak darah ketika itu. Aku sempat ingin meminta pertolongan namun tubuh dan kesadaranku sudah tidak dapat aku pertahankan, aku sempat berlari mendekati telepon dan ingin meminta bantuan pada resepsionis. Sayangnya aku malah pingsan lebih dulu ketika itu, dan ketika aku pikir itu adalah akhir hidupku... aku malah terbangun di sebuah kamar rumah sakit.
Pemandangan yang sama dengan tempat yang berbeda, aroma khas rumah sakit yang tak pernah aku lupakan. Tidak pernah terbayangkan aku akan mengalami hal ini semua, usahaku yang sangat keras akhirnya mengantarkan ku pada titik yang aku takutkan. Pangeran yang selalu di hatiku :(:(... kak Jester akhirnya tahu aku menderita penyakit itu.
Bagaimana aku harus menghadapi kak Jester setelah ini? masihkah dia menemaniku atau malah meninggalkanku karena kebohonganku akhirnya terungkap?! Aku tidak sanggup membayangkan saat itu tiba. Satu lagi yang menggangu pikiranku hingga membuatku menangis, aku takut sudah di pulangkan ke negaraku tanpa sedikitpun menyelesaikan impian terakhirku itu, padahal aku sangat berharap setidaknya satu impianku di Paris sempat untuk aku kerjakan...
Tapi semua kesedihanku terbantahkan, ketika mata ini terbuka aku melihat dua perawat yang berbicara padaku dengan bahasa asing dan tidak aku mengerti. "Ini masih di Paris" ucapku dalam hati, beruntung salah satu dari mereka ada yang mengerti bahasaku dan aku katakan padanya jika aku ingin bertemu dengan kak Jester.
Entah berapa hari sudah aku jatuh koma, padahal aku hanya memiliki waktu tiga hari berada disini....
Tepat sehari setelah aku sadar dari koma, pagi - pagi sekali kak Jester mendatangi kamarku untuk menjenguk. Dengan penampilanku seperti ini... membuat kak Jester terkejut sampai dia sempat membatu diam didepan pintu masuk kamar, raut wajahnya juga terlihat kaget seakan tidak percaya yang ada dihadapannya adalah Luna Lincoln yang pernah mencuri hatinya dulu ketika masih SMA.
Aku tidak akan melupakan raut wajah itu, wajah yang sejak dulu sampai saat ini selalu memberikan keteduhan untuk hatiku kini terlihat lusuh dan tidak bersemangat, seperti terlalu banyak pertanyaan didalam pikirannya. Bolehkah aku membenci raut wajah itu? aku hanya tidak sanggup jika harus kembali melukai hatinya dan aku akan menyesal jika akulah alasan dibalik raut wajah itu, sudah sejauh ini usaha yang aku lakukan... obat - obatan dengan dosis tinggi selalu aku konsumsi agar mampu menutupi semua dari kak Jester seakan sia - sia.
Penampilanku? yaah... aku sudah tidak menggunakan wig ku yang entah dimana, tidak hanya itu... make up tebal yang menutupi wajah pucat ku juga sudah bersih sampai aku pun terkejut ketika pertama kali terbangun melihat pantulan bayanganku di cermin, beberapa memar di tubuhku sudah terlihat dengan jelas. Tubuh kurus ini juga sudah tidak tertutup oleh pakaian tebal dan hanya ada pakaian rumah sakit yang nyaman namun tipis.
__ADS_1
Hari pertama terbangun... hari pertama dikunjungi oleh kak Jester... dan semua kebohonganku dihari pertama ini terbongkar tepat didepan matanya sendiri...
Semua kejadian dimulai ketika pagi itu kak Jester membuka pintu kamarku, saat itu aku sedang menikmati siaran televisi yang menampilkan acara humor. Aku duduk bersandar pada kasur yang aku sedikit tegakkan agar aku dapat melihat televisi di depanku, ketika itu aku tertawa karena adegan lucu yang ditampilkan dibalik layar sampai tidak menyadari kak Jester sudah ada didepan pintu masuk.
Raut wajahnya... dia termenung menatapku, tidak mengatakan apapun dan hanya membatu didepan pintu masuk. Aku tahu apa yang dia pikirkan, dia masih tidak percaya orang yang dihadapannya adalah orang yang sama setelah sekian lama kami saling berdekatan. Kebohonganku terasa begitu sempurna...
"Hai kak Jester... aneh yang melihatku tanpa rambut? sampai menatapku seperti itu!" celetukku memecahkan keheningan, namun usahaku untuk mencairkan suasana gagal karena raut wajah kak Jester terus terlihat sedih menatapku.
"Masuklah kak... mau sampai kapan kamu berdiam diri disana?" tanyaku sembari mengalihkan pandanganku menatap layar televisi
Katakan cara terampuh untuk menahan air mata dalam keadaan seperti ini!! Sangat sulit bukan? aku sampai tidak berani menatapnya terlalu lama, acara humor itu seharusnya sangat membantu tapi..... tidak semudah itu :(:( Sekuat hati menahan air mata dan menggantinya dengan senyum agar kak Jester tahu aku adalah Luna yang kuat dan baik - baik saja. Aku berhasil pada titik ini dan aku bangga pada diriku. Setidaknya aku berharap kebohonganku kali ini akan berhasil dengan sempurna dan tidak akan membuat kak Jester khawatir.
Ketika itu kak Jester pun masuk lalu menutup pintu kamar secara perlahan, dia menarik kursi agar dekat denganku yang masih berada diatas kasur. Ketika duduk, kak Jester hanya diam dan menundukkan kepalanya tanpa mengucapkan sepatah katapun kepadaku. Inilah yang aku takutkan ketika keadaanku diketahui olehnya, kak Jester akan bersedih secara berlebihan kepadaku bahkan ketika hubungan kami tidak baik seperti sekarang. Aku tidak bisa membayangkan ini terjadi disaat kami sedang baik - baik saja, pasti terasa... lebih hancur.
"Kamu jenguk aku cuma buat diam - diaman seperti ini?" tanyaku dengan sindiran
"Kenapa kamu tidak katakan lebih awal?" tanya balik kak Jester menekan ku, aku menghela nafasku sejenak sebelum menjawab pertanyaannya.
Bagaimana aku bisa menjawabnya, aku bahkan tidak menyiapkan untuk mendapatkan pertanyaan itu. Helaan nafas itu seperti kekuatan untukku akhirnya memutuskan untuk jujur pada kak Jester.
"Karena dulu kamu mencintaiku..." jawabku
"Apa... maksudnya...?" tanya kak Jester lagi terkejut dengan jawabanku, aku merasa kak Jester pada akhirnya berani untuk menatapku tapi aku tetap menghindari tatapan matanya.
"Rasa cintamu yang membuatku tidak berani untuk berkata jujur padamu... aku pun telah jatuh cinta sangat dalam padamu dan ketika aku memikirkan umurku yang tidak panjang... hatiku terasa sesak..." belum juga aku menyelesaikan kalimatku, kak Jester memotongnya.
"Lalu kamu berpikir aku tidak akan sakit hati dengan caramu meninggalkanku dulu?!! kenapa kamu kembali padaku jika memang kamu berpikiran seperti itu?!! kenapa tidak kamu katakan saja sejak awal, ini akan terjadi?!! kenapa?!!" dengan bentakan kak Jester memotong perkataanku, perlahan aku mengalihkan pandangan mataku untuk menatapnya.
"Maafkan aku" ucapku dengan senyuman
Bisakah senyumku ini merubah segalanya kak?
Aku tahu itu sangat menyakitkan bagimu kak, tapi memang itulah tujuanku dulu. Membuatmu membenciku, membuatmu yang dulu begitu mencintaiku dengan tulus akhirnya tidak menyisakan sedikitpun hatinya untuk aku tempati. Apa lagi yang bisa diharapkan dari gadis sepertiku, yang hanya memiliki sedikit harapan hidup, setidaknya itulah yang aku pikirkan dulu sebelum akhirnya aku menyesal dan ingin memperbaiki semuanya dengan baik walau pada akhirnya aku kembali gagal.
Aku gagal karena pangeranku akhirnya harus melihatku dalam kondisi yang memperihatinkan saat ini. Mencintaimu adalah hal yang terindah yang pernah aku miliki, pangeran dalam mimpi indahku yang ternyata adalah sosok nyata. Jatuh cinta pada pandangan pertama yang membuat hidupku penuh arti dan semangat sampai vonis dokter menghancurkan semuanya.:(:(
Maafkan aku pangeranku... maafkan aku kak !!
Maaf karena aku menyisakan kembali luka yang dalam untukmu, maaf karena pandora mu terbuka dengan tambahan kisah yang kembali menyakitkan mu, maaf karena telah membuatmu kecewa padaku bahkan aku juga telah menyia - nyiakan cintamu, tapi aku tidak ingin membawamu terpuruk bersamaku. Walau hatiku terus menangis dengan semua akibat dari perbuatanku, tapi semua aku lakukan karena aku... mencintaimu...
__ADS_1
Kisah kita tidak akan selesai dengan kebersamaan karena aku pasti akan meninggalkanmu segera untuk selamanya, tapi percayalah ini yang terbaik untuk kita. Berjanjilah untuk selalu bahagia tanpaku, temukanlah bahagiamu.... namun ijinkan aku memiliki sedikit tempat terindah di hatimu untuk kisah cinta kita. SELAMANYA !!!