Aku Pinjam Dia : Diary Luna

Aku Pinjam Dia : Diary Luna
Season 2 : Episode 13


__ADS_3

Pagi pun tiba, ini hari dimana aku harus memutuskan antara menerima kontrak dari Tamamo Grup dan meninggalkan kompetisi atau meneruskan kompetisi dan membuang kesempatan emas menjadi bintang sesungguhnya dibawah perusahaan terbaik di negeri ini. Aku membuka mataku dan aku melihat langit - langit yang mulai terbiasa aku lihat selama dua tahun ini, otakku langsung kepikiran tentang dua pilihan sulit yang harus aku putuskan saat ini juga.


Aku beranjak dari kasurku lalu berjalan keluar kamar, didepan kamarku aku bisa langsung melihat ruang tamu dimana saat itu aku melihat ayah, ibu dan tuan Paul duduk diruang tamu. Tentu saja aku terkejut melihat tuan Paul sudah bertamu sepagi itu, apa lagi dengan penampilanku yang masih berantakan karena aku baru saja bangun dari tidurku.


"Maaf! tu.. tunggu sebentar!!" seruku sembari berlari menuju kamar mandi untuk membasuh wajah, aku mendengar suara tawa ayah, ibu dan tuan Paul bersamaan.


Aku mencuci muka, menggosok gigiku, dan merapihkan rambutku yang kering seperti sabut sapu. karena tidak juga kunjung rapih, aku pun segera kembali ke kamarku untuk memberikan rambut ini dengan vitamin agar kembali lembut seperti sedia kala meski tentu saja tidak akan pernah bisa menyamai kelembutan rambutku sebelum aku harus menjalani kemoterapi.


Aku kembali keluar kamar untuk menemui tuan Paul ketika penampilanku sudah rapih, aku tersenyum padanya lalu duduk tepat diantara ayah dan ibu. Kertas kontrak sudah tepat berada di atas meja tepat di hadapanku dengan sebuah ballpoint yang ada disebelahnya, aku menatap kertas sejenak lalu aku kembali menatap tuan Paul dan berkata...


"Maaf tuan Paul... aku masih tidak bisa menandatangani kontrak itu" celetukku, aku pun melihat tuan Paul kaget mendengar apa yang baru saja aku katakan namun dia masih terdiam.


"Sayang, kamu yakin?" tanya ibu padaku, aku menunduk dan kembali menatap kertas itu.


"Sangat sulit untuk memutuskan ini, tapi aku tidak bisa meninggalkan kompetisi karena aku sudah berjanji pada Grece untuk membantunya menaikkan pamor acara ini. Selain itu... tentang kenyataan jika desa ini membutuhkan promosi agar desa ini terkenal, aku ingin membantu penduduk desa untuk mendapatkan apa yang mereka impikan" jawabku


"Apa yang kamu dapatkan dari keputusanmu itu? apakah sebanding dengan kontrak ini?" tanya tuan Paul menekan ku, aku kembali menatapnya lalu menggelengkan kepalaku.


"Tidak, kontrak ini jauh diluar apa yang aku bayangkan. Tapi kalau boleh jujur... orang pertama yang menemukan bakatku adalah Werner Grup lewat acara yang diselenggarakan oleh Grece Werner. Aku tidak ingin membuat orang lain sedih dan merasa dikhianati, aku tidak ingin itu kembali terjadi yang disebabkan olehku..." jawabku


"Kembali... terjadi? apa kamu bicara tentang masa lalu mu dan itu menjadi bahan pertimbanganmu juga? kalau iya, itu konyol dan tidak profesional, Lunar" timpal tuan Paul, aku tersenyum sesaat setelah tuan Paul berhenti bicara untuk menunggu responku.

__ADS_1


"Anda tidak akan mengerti tentang apa yang sedang aku pertimbangkan dan anda tidak akan menyangka siapa yang telah aku khianati sampai itu menjadi pertimbanganku yang paling utama" timpal ku dan seketika kami semua terdiam sejenak, ibu menepuk punggungku beberapa kali seakan tahu jika aku sedang gundah setelah menimpali perkataan tuan Paul.


"Tuan Paul... aku berterima kasih atas tawaran ini, maaf aku tidak bisa menerimanya dan mungkin terkesan tidak tahu diri... tapi aku sudah pikirkan matang - matang dan aku harap anda mengerti" celetukku setelah beberapa saat kami terdiam, lalu tuan Paul pun menghela nafasnya cukup keras saat itu.


"Aku memang tidak mengerti tentang apa yang baru saja kamu katakan, tapi aku mengerti jika kamu ingin membantu penduduk desa ini agar produk coklat mereka bisa terkenal ke seluruh penjuru negeri" timpalnya, sesaat dia mengeluarkan sebuah map dari dalam tas genggamnya lalu menyodorkannya kepadaku.


Map itu menutupi kontrak sebelumnya, lalu tuan Paul membuka map itu dan berisi tentang kontrak lainnya meski aku tidak tahu apa bedanya hanya dari cover depannya saja. Ayah menerima map berisi kontrak itu lalu membacanya dengan seksama, aku dan ibu yang penasaran lalu bersama - sama menatap wajah ayah yang begitu serius membaca isi dari kontrak itu.


"Tuan Paul, apa maksud dari ini?" tanya ayahku ketika sudah membaca seluruh isi kontrak, aku dan ibu semakin penasaran apa yang tertulis dikontrak itu.


"Kontrak pertama itu adalah kontrak yang selalu aku pakai untuk mengambil talent - talent berbakat dari media - media saingan, aku selalu berhasil mengambil talent - talent itu sehingga aku tidak pernah menyodorkan kontrak yang anda pegang itu, tuan Lincoln" jawab tuan Paul


"Tuan Paul.. tapi ini..." belum selesai ayah berkata, tuan Paul menimpalinya.


"Lunar, aku adalah orang yang tumbuh besar di desa ini. Aku senang kamu memikirkan warga desa dan berusaha untuk membatu mereka karena aku sangat mengenal penduduk desa ini dengan baik, mereka semua ramah dan hangat kan?" timpal tuan Paul, aku menatap tuan Paul lalu mengangguk


"Tuan West dan tuan Jhonson adalah kawan lamaku, kami bersahabat sangat erat dan mereka mengatakan padaku jika mereka memiliki talent muda berbakat yang akan sangat cocok jika Tamamo Grup merekrutnya" ucap tuan Paul, seketika itu aku, ayah dan ibu terkejut mendengar apa yang baru saja dikatakan oleh tuan Paul.


Bagaimana mungkin tuan West dan tuan Jhonson melakukan itu? sedangkan mereka membutuhkanku untuk mensukseskan acara yang mereka dan Grece rancang agar mengangkat nama desa? Apa yang sebenarnya terjadi diantara mereka semua? aku benar - benar tidak bisa memahami apapun...


"Mereka sangat memahami jika bakatmu terlalu tinggi kalau kamu hanya terkurung di desa ini, jadi mereka meneleponku lalu memintaku datang kesini dan menyaksikan sendiri bakat yang mereka katakan itu. Aku terkesan dengan bakatmu, Lunar. Jadi sekarang aku mengajukan kontrak kedua dan mungkin kamu akan lebih mudah untuk mempertimbangkannya" dengan sedikit suara tawa tuan Paul mengatakannya, aku kembali menatap ayah yang masih memegang kontrak keduaku.

__ADS_1


"Ayah, apa isi kontrak itu?" tanyaku penasaran


"Kontrak ini akan memberi kamu waktu sampai kompetisi ini selesai dan setelah itu kamu baru secara resmi menjadi talent dari Tamamo Grup, selama itu kamu juga akan mendapatkan setengah dari nilai kontrak" jawab ayah, aku dan ibu terkejut mendengar apa yang ayah katakan.


"Tuan Paul, aku tidak bisa menerima ini! itu sama saja aku mengkhianati Tamamo Grup!" dengan nada panik aku mengatakannya sembari kembali menatap wajah tuan Paul, namun tuan Paul tertawa terbahak - bahak mendengar apa yang baru saja aku katakan.


"Lunar... Lunar... kami tidak mungkin melepaskan bakat sehebat dirimu, bergabunglah dengan kami kapan pun kamu mau. Selesaikan janjimu dan aku meminta tolong... bantu warga desa ini untuk menggapai impiannya..." timpal tuan Paul, lalu tuan Paul kembali tertawa terbahak - bahak seakan dia sangat puas dengan apa yang dia lakukan.


Pada akhirnya... aku menandatangani kontrak kedua itu karena paksaan dari tuan Paul, ayah dan ibu, aku tidak punya alasan yang mungkin membuatku menolak kontrak itu. Setelah aku menandatangani kontrak itu, tuan Paul pun pulang dan ayah memintaku untuk segera bersiap menuju lokasi kompetisi yang diadakan oleh Grece. AKu bersiap dengan cepat, tidak lupa saran dari tuan Jhonson padaku ketika itu aku perhatikan dengan baik.


Aku sudah menetapkan lagu yang akan aku nyanyikan pada tantangan hari kedua ini yaitu lagu dari Celine Dion dengan judul Surrender, karena itu aku pun menyesuaikan pakaian yang akan aku kenakan agar tuan Jhonson tidak mengkritik ku lagi dengan kritikan aku tidak serius pada kompetisi ini. Dibantu ibu untuk memilihkan baju, sepatu dan juga aksesoris, tidak lupa aku pun belajar cara berdandan untuk menutupi wajah pucat ku.


Pada akhirnya aku kembali menghapus make up yang menghiasi wajahku karena aku merasa tidak nyaman dengan semua riasan itu, mungkin karena aku menutupinya terlalu tebal sehingga wajah asliku hampir tidak terlihat. Aku menjadi sangat cantik, kulit pucat ku hilang, dan aku merasa itu bukan diriku. Aku tidak ingin lupa jika aku masihlah gadis dengan leukimia yang bersemayam didalam tubuhku, aku tidak mau aku lupa siapa diriku sebenarnya...


Setelah semua persiapan yang melelahkan itu selesai, aku dan ayah segera berangkat menuju gedung serbaguna desa. Ibu? sayangnya ibu tidak bisa ikut karena harus mengurus kebun kami yang menjadi satu - satunya pemasukan keluarga kami, tentu saja ibu harus bekerja keras karena obat - obatan yang harus aku konsumsi rutin itu tidak murah harganya. Ayah juga seperti itu, setelah mengantarku... ayah harus segera pergi untuk membantu ibu, sedih? tentu saja... tapi aku mengerti jika itu semua demi aku.


Di dalam gedung serbaguna itu aku bertemu dengan teman - teman seperjuangan ku, mereka menyapaku dengan hangat termasuk Peter dan Manda. Mereka bertanya kenapa aku terlambat, ketika itu aku menatap jam dinding dan aku sadar aku telah terlambat sekitar dua puluh menit. "Mungkin sudah tiga peserta yang tampil, Grece pasti sangat sedih karena aku tidak juga kunjung datang" ucapku dalam hati


Peter mengatakan padaku jika namaku masih ada dan tidak dicoret dari nomor urut peserta, sebuah isu sudah beredar jika aku keluar dari kompetisi entah dari siapa itu. Tapi aku yakin jika Grece keceplosan sampai isu itu bisa tersebar begitu cepat, entah kenapa aku merasa memang Grece lah yang menyebarkan berita itu. Setelah itu mereka semua bertanya padaku kenapa aku ingin keluar dari kompetisi, namun aku hanya menjawab "Itu hanya isu, aku akan berjuang sampai akhir"


Yaah... aku akan berjuang sampai akhir, aku percaya aku bisa menjawab semua tantangan mereka. Tuan West, tuan Jhonson, Peter, Manda, dan semua penduduk desa ini... kehangatan mereka yang membuat aku ingin berjuang demi kalian, impianku... mengangkat nama desa ini sampai ke penjuru negeri! tidak... maksudku, sampai ke penjuru internasional!! Maaf tubuhku, aku kembali memaksa untuk mencapai limit mu :)

__ADS_1


__ADS_2