
Sumpah serapahku saat itu membuat dokter Ellie dan Selena terkejut menatapku, kami pun terdiam dan saling menatap untuk beberapa saat. Semua keheningan itu pecah seketika saat suara tawa dokter Ellie terdengar, bersamaan dengan suara tawa itu Selena terlihat memasang ekspresi kasihan sembari menggelengkan kepalanya beberapa kali.
"Aku kasihan dengan calon pacarmu, semoga pria itu tidak pernah dilahirkan di dunia" celetuk Selena seakan mengejekku
"Tidak apa kan? Tidak ada yang salah dari permintaan Luna" timpal dokter Ellie yang terlihat begitu kuat menahan tawanya.
"Tapi dokter.... Tidak apakah aku berharap... Suatu saat aku kan jatuh cinta pada seseorang? Apa aku tidak akan menyakiti hatinya dengan kematianku?" tanyaku dan ketika itu aku kembali ingin menangis, entah kenapa dadaku terasa begitu sesak membayangkan kematianku dengan meninggalkan orang yang mencintaiku
Mencintai seseorang dalam keadaan kita tahu bahwa hidup kita tidak akan lama itu menjadi hal yang memilukan bukan?... Aku takut, sangat takut untuk jatuh cinta. Aku memang belum pernah merasakan sakitnya kehilangan orang terkasih, namun membayangkan dari cerita di televisi maupun orang - orang disekitar sepertinya hal itu sangat menyakitkan. Dan dengan kondisiku, akulah yang akan memberikan rasa sakit itu pada orang yang mencintaiku dengan tulus. Aaaah... membayangkan saja membuatku semakin sedih dan takut.
"Luna sayang... Semua akan baik - baik saja, hati yang bahagia akan memperkuat kondisi tubuh dan itu artinya... Persentase kesembuhanmu akan meningkat drastis" jawab dokter Ellie
Perkataan singkat yang sangat berarti bagiku, merubah sebagian dari hidupku. Dokter Ellie adalah awal mula aku berani untuk kembali semangat menyambut kesembuhanku. Walau aku tidak tahu apakah itu akan berhasil atau tidak.
Tidak lama dokter Ellie pun berpamitan untuk pulang. Tidak lupa dia berpesan padaku agar aku segera kembai kontrol kesehatan, karena dokter Richard sangat mengkhawatirkan ku
Aku hanya menganggukkan kepalaku tanda setuju meski aku tidak pernah berjanji jika aku akan menuruti pesannya, namun sepertinya memang hanya itu yang dokter Ellie inginkan dariku. Dia pulang begitu saja dan tidak terkesan memaksaku untuk berjanji, tidak lama Selena juga ikut berpamitan untuk pulang.
Malam hari dihari yang sama setelah aku makan malam bersama ayah dan ibu, kami menjalani makan malam bersama dengan kebisuan diantara kami. Perubahan sikapku sejak pemeriksaan kesehatan terakhirku membuat aku menjadi lebih pendiam, perubahan sikapku itu yang membuat ayah dan ibu bingung untuk menghadapi ku.
Setelah makan malam yang penuh keheningan itu aku pun beranjak dari meja makan untuk kembali menuju kamarku, di meja belajar dalam kamar aku mulai kembali memikirkan tentang kehidupanku yang mungkin akan sangat singkat ini.
Tentang cita - citaku....
Tentang pria yang mungkin akan merebut hatiku dan menjadikannya candu untuk terus bersama....
Pantaskah aku memiliki impian itu?
Apakah aku terlalu tamak jika aku meminta itu semua dengan keadaanku?
Aku memikirkannya semalaman dan tidak terasa aku pun tertidur dalam keadaan duduk dan kepalaku bersandar pada meja dengan kedua tangan sebagai bantal, di dalam tidurku hari itu aku bermimpi tentang seorang pria yang tidak pernah aku kenal. Entah bagaimana isi dari mimpiku itu, yang aku paling ingat hanya wajahnya yang seperti pemeran utama dalam film Harry Potter.
__ADS_1
Ketika aku terbangun pun aku masih mengingat wajah pria itu, tiba - tiba aku tertawa sendiri mengingat wajah itu yang terbayang dalam pikiranku. Senyumnya, wajah masamnya, perubahan ekspresinya yang begitu tiba - tiba itu, semuanya aku dapat mengingatnya dengan jelas. Seakan aku dan dia sudah pernah bertemu sebelumnya, tapi aku sangat yakin tidak ada satupun yang aku kenal berpenampilan mencolok seperti itu.
Lama aku tersenyum sendiri membayangkan wajah pria itu dalam lamunanku, sampai suara ketukan pintu kamar membuyarkan lamunanku. Aku segera menatap jam meja yang tepat berada didepan ku, aku baru menyadari jika aku terlambat untuk berangkat sekolah.
Pagi itu aku begitu bersemangat untuk bersekolah sampai - sampai ayah dan ibu heran dengan perubahan sikapku, meski begitu aku merasakan jika mereka berdua senang dengan perubahan yang aku alami pagi itu.
Mungkin bagi mereka pertemuanku dengan dokter Ellie adalah penyebab senyumku di pagi itu, namun jika benar itu yang ayah dan ibu pikirkan maka dengan berat hati aku katakan salah.
Pria itu....
Wajah pria dalam mimpiku yang membuat senyumku merekah di pagi itu dan membakar semangatku kembali untuk menikmati sisa - sisa umurku....
Di rumah keluarga Parker aku bertemu dengan Selena, aku pun menceritakan mimpiku ketika kami sudah berada didalam sekolah ketika jam istirahat. Selena terlihat antusias mendengarkan ceritaku, namun aku yakin dalam pikirannya bertolak belakang dengan apa yang dia tunjukkan di hadapanku.
Seakan wajahnya ingin mengatakan "Apa - apaan pria idamanmu itu?", sungguh.... Selena bukanlah pembohong yang ulung, sekali dia berbohong maka senyumnya terasa berat dan hidungnya pun mendadak terlihat kembang - kempis.
Tapi dia mengatakan jika apapun yang membuat aku bahagia, maka dia akan mendukungnya. Sejak saat itu aku dan Selena sering berkeliling area sekolah untuk mencari pria ini, namun memang benar dugaan kami berdua jika pria ini bukanlah orang yang pernah kita temui di sekolah.
Di hari minggu pagi aku kedatangan tamu yang tidak aku duga - duga datang berkunjung kerumah kami, keluarga Parker datang mengunjungi keluarga kami tanpa pemberitahuan apapun. Ayah ku sedang mengambil hari liburnya saat itu, jadi kedatangan keluarga Parker benar - benar memberikan kejutan. Yang lebih membuat kami heran saat itu adalah tawaran dari keluarga Parker untukku, sulit untuk diterima namun itu benar - benar mereka katakan.
"Aku akan menyekolahkan Selena di SMA swasta terkenal di pusat kota, disana aku berharap Selena semakin berkembang namun dia tidak mau karena ingin terus satu SMA dengan Luna. Jadi bagaimana jika aku akan menanggung semua biaya sekolah Luna di SMA swasta itu?" ucap ayah Selena
"Aah tapi tuan Parker, kami tidak pantas menerima itu. Sekolah itu sangat mahal dan Luna tidak pantas berada disana" jawab ayahku, aku pun menganggukkan kepalaku menyetujui penolakan ayah.
"Sudahlah tuan Lincoln, jangan terlalu dipikirkan" ucap ayah Selena
"Tuan Parker, kami sudah sangat merepotkan anda karena terus membiayai pengobatan Luna. Jika ditambah lagi dengan..." belum selesai ayahku berkata, ayah Selena memotong.
"Sudah tidak usah dipikirkan, aku melakukannya karena aku ingin" timpal ayah Selena kepadaku, kami pun terdiam.
"Luna~ mau ya... Ayo donk. Pliss Pliss~" celetuk Selena ditengah rasa tidak enak kami atas tawaran ayah Selena, aku pun melirik ayah dan ibu yang saat itu seolah memberikan keleluasaan kepadaku untuk menerima ataupun menolak.
__ADS_1
"Bolehkah...?" tanyaku lalu menatap ayah dan ibu Selena
Serentak senyum keluarga Parker merekah hampir bersamaan, ibu Selena pun berdiri lalu mendekatiku dan mendekap kepalaku dengan lembut. Aku bagai memiliki dua keluarga, begitu hangat keluarga Parker kepadaku. Aku tidak akan melupakan kebaikan mereka kepadaku, kini aku memiliki harapan lain yaitu aku ingin memiliki waktu untuk membalas kebaikan keluarga Parker kepadaku.
Sejak hari itu aku dan Selena sering belajar bersama dirumah keluarga Parker setiap pulang sekolah, namun itu tidak berlangsung lama karena aku harus kembali masuk rumah sakit setelah aku kembali mimisan dan pingsan. Begitu aku sadar, aku tidak ingin menyerah karena besar harapan keluarga Parker agar aku masuk di SMA yang sama dengan Selena.
Aku pun mengejar ketertinggalan ku dengan belajar sendiri di rumah sakit, tidak lupa aku juga meminta kak Justin yang sekolah ditempat yang sama dengan SMA tujuanku untuk mengajariku. Hingga di suatu siang ketika kak Justin memiliki jadwal untuk mengajariku di dalam kamar tempat aku dirawat inap di rumah sakit Scott, aku tiba - tiba teringat tentang pria misterius yang hadir dalam mimpiku.
Ketika itu aku belajar matematika darinya, ditengah - tengah belajar aku menatap kak Justin dengan tajam sampai membuatnya merasa tidak nyaman mungkin.
"Ada apa? Apa di wajahku ada yang aneh?" tanya kak Justin ketika dia terlihat risih karena aku menatapnya begitu tajam.
"Tidak... Hanya ada yang ingin aku tanyakan, tapi mungkin itu akan membuatmu tertawa kak" jawabku namun masih tetap menatapnya dengan tajam, kak Justin hanya tertawa mendengar jawabanku itu.
"Aku belum bilang apa yang menjadi pikiranku saja kamu sudah tertawa, kesel deh~" celetukku kesal padanya, kak Justin pun berdiri dari duduknya di sofa dan berjalan mendekatiku.
"Maaf deh, sini cerita apa yang membuatmu menatapku seperti itu" ucap kak Justin sembari mengelus kepalaku dengan lembut, perlahan aku menatap wajahnya yang kini tepat berada di sampingku.
"Apa disana ada anak cowok yang berpenampilan seperti Harry Potter?" tanyaku padanya
Bisa aku lihat betapa terkejutnya kak Justin ketika mendengar pertanyaanku, senyumnya pun mendadak menghilang dan menatapku dengan penuh keheranan.
"Kenapa?" tanya kak Justin heran, aku mengalihkan pandanganku menatap jendela yang langsung menunjukkan seberapa cerahnya siang itu karena malu untuk menjawab pertanyaannya.
"Karena.... Hum... Karena.... Aku bermimpi tentang pria itu..." jawabku terbata, namun kak Justin tidak merespon ku sama sama sekali.
Aku kembali mengalihkan pandanganku untuk menatap wajahnya karena kak Justin tidak merespon jawabanku untuk waktu yang cukup lama, namun ku dapati kak Justin tersenyum ketika aku menatapnya.
"Kamu jatuh cinta pada pria itu?" tanya kak Justin kepadaku
"Ti... Tidak! Aku tidak katakan seperti itu!! Aku hanya...." belum selesai aku menjawab, kak Justin kembali mengelus kepalaku dengan lembut dan masih tersenyum kepadaku.
__ADS_1
"Temukan jawabannya sendiri, lulus lah dengan nilai yang memuaskan lalu masuk ke SMA yang sama denganku maka kamu akan segera tahu tentang jawaban atas pertanyaanmu" timpal kak Justin