
"Hei, kamu merasa dirimu cantik karena kak Jester menyukaimu?" tanyaku menekan Camilla, saat itu sorot mata tajam Camilla beralih padaku.
"Apa karena itu kamu berhak untuk mengatakan jika Selena tidak cantik?" tanyaku lagi karena Camilla hanya diam menatapku
"Luna! sudah, ayo kita pergi!" ajak Selena sembari menarik lengan kiriku, namun aku tidak mau ini selesai sampai disini.
Didepan mataku, aku melihat langsung sahabatku dihina begitu saja. Aku tidak terima mendengar apa yang dia katakan tentang Selena, entah apa yang terjadi diantara mereka tapi aku tidak peduli karena aku marah saat itu. Aku begitu marah sampai rasanya ingin menamparnya, tapi itu bukanlah kebiasaanku untuk membalas perlakuan jahat dengan kekerasan.
"Heee~ akhirnya kamu bersuara juga, kamu siapa sih? aku gak pernah melihatmu disini" ucap Camilla masih terdengar begitu centil, aku menjulurkan tanganku untuk berjabat tangan dengannya.
"Luna Lincoln, orang pertama yang dicintai kak Jester" ucapku dengan tegas, Camilla terkejut mendengar ucapanku sampai dia seakan membatu menatapku.
"Kenapa? ngerasa kalah atau kamu melihat persamaanku dengan Selena?" tanyaku lagi, perlahan wajah kagetnya menghilang berganti dengan senyuman tidak percaya dengan perkataanku.
"Serius? Jester suka padamu sebelumku? sepertinya dia mempunyai selera yang buruk dulu ya" ejeknya padaku, aku tertawa kecil lalu aku katakan...
"Kak Jester membutuhkan waktu lama untuk melupakanku dan mencari penggantiku, bagaimana denganmu? kenapa kak Jester bisa bersama Naomi? apa kamu tahu kak Jester berpacaran dengan orang lain? atau jangan - jangan... kamu cuma dijadikan pelarian ketika dia masih sakit hati denganku?" tanyaku balik padanya, aku berusaha mengucapkannya dengan nada yang sinis agar dia mendapatkan ganjarannya.
Aku tahu dia kesal padaku, dia begitu menunjukkan kekesalannya lewat gerak tubuh dan ekspresi wajah. Camilla berbalik lalu meninggalkan kami begitu saja tanpa membalas perkataanku, aku tertawa kecil lalu berbalik untuk kembali menatap Selena. Saat itu Selena menoleh menatapku dengan wajah terkejut, aku tidak tahu kenapa dia melihatku seperti itu sampai dia bertanya...
"Kamu.... sejak kapan bisa berbicara pedas seperti itu?" tanya Selena padaku, aku tertawa cukup keras mendengar pertanyaan itu.
"Itu kemampuan khususku ketika teman cantikku ini dihina, aku tidak bisa mengeluarkan kemampuan itu kalau tidak terdesak~" godaku padanya, Selena tertawa kecil mendengar jawabanku.
"Hei... Luna..." celetuk Selena ketika suara tawanya menghilang, aku menatapnya namun tiba - tiba kepalanya tertunduk menatap lantai.
"Kenapa, Selena?" tanyaku
"Apa... yang dikatakan Camilla benar? apa aku sejelek itu sampai kak Jester tidak mau menerima cintaku? padahal... aku sudah susah payah menjadi dirimu dan merubah diriku sesuai yang kamu tulis, tapi..." belum selesai Selena berkata, aku memeluknya dengan erat.
__ADS_1
"Selena... kamu gagal mendapatkan kak Jester bukan karena kamu jelek, kamu gagal mendapatkannya karena kamu tidak mencintainya. Meski kamu meniruku, tapi hati yang tulus karena mencintai tidak bisa dibohongi. Itulah kesalahanku yang memaksamu untuk menjadi pacar kak Jester meski kamu tidak cinta padanya, suatu saat... kamu pasti mendapatkan orang yang kamu cintai dan dia pun mencintaimu karena kecantikanmu" timpalku dengan lembut, Selena hanya terdiam saat itu tanpa mengatakan apapun.
Perlahan aku melepaskan pelukanku, meletakkan kedua tanganku di bahunya dan aku tatap wajahnya, dia terlihat datar menatapku tanpa ekspresi apapun. Aku heran kenapa tiba - tiba dia seperti itu, aku memberi gestur wajah kenapa tiba - tiba dia hanya diam. Selena melepaskan tanganku dari kedua bahunya lalu berbalik tanpa mengatakan apapun, "Apa aku salah bicara? tapi bukankah memang seperti itu? cinta harus di tunjukkan lewat hati, bukan penampilan dan sikap kan?" tanyaku dalam hati
"Mungkin kamu benar... aku tidak menunjukkan cintaku pada kak Jester dan lebih fokus untuk menjadi sepertimu agar kak Jester merasa nyaman denganku" celetuk Selena ketika itu, aku masih diam dan menatap punggungnya yang perlahan berbalik kembali menatapku.
"Mungkin kamu benar, aku tidak bertingkah seperti orang yang jatuh cinta dihadapannya. Karena itu aku kalah dari Naomi, aku memang payah ya" ucap Selena dengan senyuman kepadaku, aku balas senyumnya lalu kembali memeluknya dengan erat.
"Lupakan janji diantara kita, kamu sudah cukup berusaha untuk memenuhi janjimu padaku. Aku menganggap janji diantara kita sudah lunas, terima kasih... Selena" ucapku, kali ini Selena membalas pelukanku sembari mengangguk.
"Tidak masalah, aku melakukannya dengan senang hati untuk sahabatku" timpal Selena dengan sedikit suara tawa kecil yang terdengar
Setelah percakapan itu, aku dan Selena kembali berjalan menuju kelas kami berikutnya. Sayangnya aku dan Selena terlambat untuk masuk kelas, jadi kami diusir dari kelas sama dosen. Sisa waktu yang ada aku pakai untuk berkeliling kampus, Selena menjadi pemandung yang sangat baik untukku sampai aku bisa begitu hapal dengan kampus yang baru kali ini aku datangi.
Menjelang sore aku dan Selena pulang dari kampus, kami makan bersama di kafetaria dekat universitas swasta itu. Makan bersama di kafetaria bersama para mahasiswa dan mahasiswi membuatku merasakan menjadi seorang mahasiswi, aku begitu menikmati suasana kafetaria yang diisi dengan obrolan - obrolan seputar pelajaran dan kegiatan mahasiswa. Yaah... meski aku tidak kenal mereka dan juga tidak terlibat langsung, tapi mendengar mereka saling berbicara satu sama lain itu sudah cukup untukku merasakan menjadi seorang mahasiswi.
Hingga malam menjelang, aku dan Selena hendak tidur dikamarku. Kami berbagi kasur meski itu terasa sempit karena sebenarnya kasur milikku itu adalah kasur yang hanya muat untuk satu orang, entah kenapa Selena seakan tidak bermasalah dengan hal itu. Memang anak orang kaya yang aneh, tapi aku senang menghabiskan hari - hariku bersamanya. :)
"Luna..." celetuk Selena ditengah keheningan malam, aku menoleh menatapnya tanpa mengatakan apapun.
"Sudah mau tidur?" tanya Selena, aku menghela nafasku lalu duduk dikasur.
"Belum, bagaimana denganmu?" tanyaku padanya
"Aku.... takut untuk tidur..." jawab Selena terbata, aku menoleh menatap wajah Selena yang masih terbaring sambil menatap atap kamarku.
"Kenapa? apa ada yang mengganggu pikiranmu? mau berbagi denganku?" tanyaku padanya
"Aku takut.... hari berganti... Ahaha, lucu ya... kenapa aku jadi takut melihat hari terus berganti sedangkan seharusnya kamu yang lebih takut dariku, yang mendapat vonis akan mati muda kan kamu bukan aku. Tapi malah aku yang ketakutan, aku seperti orang bodoh... aku tiba - tiba takut untuk memejamkan mata... aku..." belum selesai Selena bebicara, aku memotongnya.
__ADS_1
Saat itu aku tahu kearah mana pembicaraan kami akan menuju, Selena masih ketakutan atas vonis nyawaku yang sudah tinggal satu bulan lagi. Dia masih tidak bisa menerima takdir kami yang harus kembali terpisah, tapi aku tahu Selena seperti ini karena posisi dia sedang tidak baik - baik saja di lingkaran pertemanannya. Mungkin saat ini hanya ada aku yang dapat memahaminya, atau mungkin dia merasa kesepian jika aku sudah tidak ada disampingnya lagi.
"Selena... ikut aku" ajakku
"Kemana?" tanya Selena, tapi aku meresponnya dengan gestur tangan agar dia mengikutiku.
Aku berjalan keluar kamar dan Selena mengikutiku dibelakang, aku mengajaknya untuk ketaman samping dirumahku dimana kami bisa melihat bintang - bintang yang indah malam itu. Aku berhenti ditengah taman dan menatap langit cerah malam itu, tidak lama Selena berjalan mendekatiku.
"Mau apa... disini..?" tanya Selena yang terdengar bingung kenapa aku mengajaknya ketaman samping rumah
"Lihatlah bintang - bintang itu Selena... indah bukan?" tanyaku padanya, Selena mengalihkan pandangannya menatap langit gelap malam itu.
"Bintang - bintang yang indah itu akan menghilang ketika matahari terbit... tapi itu tidak apa kan? nyatanya kita lebih bisa menghargai matahari yang telah melenyapkan sinar bintang" ucapku lagi, perlahan Selena mengalihkan pandangannya menatapku begitu pun aku yang menatapnya.
"Apa... maksudmu? aku gak ngerti..." tanya Selena
"Cahaya matahari itu abadi meski kadang akan menghilang ketika malam telah tiba, berbeda dengan cahaya bintang yang mungkin tidak akan kamu temui lagi dikemudian hari. Ini seperti keberadaanku dan teman - temanmu kan?" jawabku, Selena termenung saat itu lalu aku menghela nafas karena sepertinya dia tidak paham apa yang ingin aku katakan.
"Selena... aku lah bintang itu dan teman - temanmu yang lain adalah matahari, mungkin saat ini mataharimu sedang tertutup gelapnya malam tapi percayalah matahari itu akan terbit kembali saat waktunya tiba" ucapku melanjutkan perkataanku sebelumnya
"Maksudmu aku harus merelakan begitu saja kamu hilang dari hidupku?!! kamu gak mau tahu betapa sedihnya aku jika kamu..." belum selesai Selena membentakku, aku memotongnya.
"Aku tidak akan pernah tahu bagaimana perasaanmu sebenarnya, tapi kamu bukan satu - satunya yang akan sedih disini. Aku pun sedih kalau mengingat akan meninggalkanmu begitu saja, Selena. Aku juga seringkali merasa ketakutan setiap hari berganti...." timpalku, Selena pun terdiam terpaku menatapku.
Aku tersenyum padanya lalu aku berkata....
"Selama ini yang bisa aku pelajari dari hidupku cuma bagaimana cara menerima suatu keadaan tanpa menyalahkan kenyataan" ucapku padanya, air mata Selena pun pecah seketika itu.
Aku berjalan mendekatinya lalu memeluknya dengan erat, aku tidak bisa menemaninya menangis malam itu karena aku sudah berjanji jika aku tidak akan membiarkan air mata menetes lagi di pipiku. Hanya berusaha menenangkan tangisan Selena yang bisa aku lakukan padanya, aku ingin dia mengerti jika... semua tidak akan ada yang abadi, termasuk kebersamaan kita di dunia ini.
__ADS_1