Alexio "Diary Merah Muda"

Alexio "Diary Merah Muda"
Bab 1 (Revisi)


__ADS_3

Cletek.


Aroma kertas lama menguar masuk ke rongga penciuman seorang remaja. Sudah 4 tahun benda usang itu tersimpan dalam kotak berwarna hijau tua yang ia letakkan di sudut lemari atas.


Alexio namanya.


Pelan ia membuka lembaran yang tertera nama Alexia Bisma, kembarannya yang meninggal 4 tahun yang lalu dan baru kini ia berani membuka benda berharga milik Alexia yaitu Diary cantik dengan warna merah muda.


10 Agustus 2011...


Hari ini aku ditinggal lagi di rumah, mama dan papa serta Alexio akan berangkat ke Singapura, kata kakek di sana Alexio akan diobati lagi.


Huhhh sedih, semoga Alexio bisa cepet sembuh ya.


Aku kangen banget sama Alexio.


Itu lembaran pertama, saat usia Alexia bersama Alexio sama-sama 8 tahun. Hangat, itu yang dirasakan Alexio ketika lembaran kisah itu dibacanya.


Kembali ia membuka lembaran berikutnya...


17 Agustus 2011


Hari ini aku dapet guru matematika baru loh Alexio


Cepetan pulang, biar kita belajar bareng.


Okeh. I love u kakak-ku


24 Agustus 2011


Pak Roni sayang banget sama aku, loh Al.


Tadi aku di kasih permen sama pak Roni


Cuma kok sudahnya agak pusing ya?


Tapi entahlah, enak aja.


Alexio tersenyum ketika membaca tulisan Alexia yang menyiratkan ia bahagia dengan guru privatnya yang baru.


Alexio melompat ke lembaran berikutnya, satu bulan kemudian.


14 September 2011


Al, aku sakit.


Kok kalian belum pulang sih


Kalian gak kangen sama aku?


Aku takut Al...


Takut? Alexio membaca tulisan Alexia berikutnya, tulisan Alexia semakin tidak baik, sinyal ketakutan bersamaan dengan bahaya jelas tertuang di sana.


Mata Alexio bergerak liar, terus membaca meskipun tangannya sudah gemetar menyaksikan setiap kisah memilukan di sana.


10 Agustus 2012

__ADS_1


Aku gak berani tidur di ranjang


Aku bawa selimut ke dalam lemari, biar aku bisa tidur nyenyak


Kamu baliklah Alexio, temenin aku lagi.


13 Desember 2012


Hari ini aku tidur sama Alexio di depan


Kata Alexio, dia bakalan lindungin aku


Semoga Alexio gak pergi lagi.


Aku takut


Alexia bukan hanya takut akan kesendirian, akan tetapi ada bahaya lain yang sudah mengintainya tanpa siapapun tahu kejadian itu kecuali diary ini.


Hingga titik di mana Alexio berhenti membaca.


04 Oktober 2013


Alexio masuk rumah sakit lagi


Kakek bilang kalo aku sayang sama Al, aku harus menolongnya


Tentu aku mau, karena aku sayang sama Alexio


Kata kakek, aku harus ngasih hati aku ke Alexio.


04 Oktober 2013


Mama dan papa juga minta yang sama,


Kata mereka, boleh tidak aku ngasih sedikit hati aku buat Alexio


Tentu, aku bakalan kasih.


Yang penting Alexio sehat.


Alexio menyentuh bagian tubuhnya yang bersarang hati di dalamnya. “Hati Alexia? Apakah karena itu, Alexia meninggal?” gumam Alexio. ia ingat betul, kembarannya sempat masuk rumah sakit, dan sejak saat itu kondisi Alexia tidak karuan. Bocah itu sering tertangkap menangis di sudut kamar, terkadang ia sembunyi di dalam lemarinya dengan wajah kacau.


Mengingat bagian itu, Alexio tiba-tiba merasakan pening luar biasa. Matanya nyalang ke mana-mana.


“Tidak, tidak, bukan itu, bukan itu yang membuat Alexia meninggal.” Lanjutnya meremas diary merah muda.


Otaknya bekerja keras, hingga tak lama dari itu......


“Arghhhhhhhhh.!!!!!!!!!” Teriaknya, saat ingatan kematian Alexia bersileweran di otaknya.


.


.


.


Juli 2018

__ADS_1


Cottage Halls – The Gap, Australia.



“Kamu sudah siap Alexio?” tanya Linda, ibunya Alexio. sedari pagi mereka mengemas barang-barang yang dimasukkan ke dalam koper besar, termasuk Alexio.


“Hmm.” Sahut Alexio datar.


“Sudah siap semua? Ayo kita berangkat, nanti keburu peringatan larangan terbang karena cuaca buruk, kabar hari ini akan hujan.” Bisma, ayah Alexio ikut nimbrung memanggil keluarganya yang berkumpul di kamar Alexio.


“Padahal cerah gini. Ayo pa, udah siap kita.” Sahut Linda merangkul lengan Alexio lembut untuk bergegas keluar, tapi segera Alexio lepas rangkulan itu.


“Aku bisa sendiri.” Ucapnya dingin. Melangkah duluan meninggalkan orang tuanya begitu saja.


“Sabar sayang. Kita akan berusaha mengembalikan putera kita seperti dulu lagi.” Bisma menenangkan istrinya yang pasti sedih dengan perlakuan puteranya tadi.


“Iya pa.” Jawab Linda dengan bulir air mata yang sudah menggenang.


“Ssttt. Jangan mewek ah, malu sama Alexio nanti.” Goda Bisma agar istrinya tak sedih lagi. Mereka turun dari lantai dua diiringi oleh pelayan yang membawakan barang-barang mereka ke dalam bagasi mobil.


Ada 3 mobil yang mengantarkan mereka menuju bandara Mount Gambier.


“Alexio, ayo pindah ke mobil kami.” Alexio sudah duduk manis di mobil nomor tiga, padahal mobil khusus untuk mereka ada di nomor dua atau diposisi tengah. Malah remaja itu memilih duduk bersama beberapa pengawal di mobil alphard itu.


“Al.” Karena tak digubris, Bisma menyentuh lengan puteranya.


“Pa, Alexio lagi dengerin musik kayaknya.” Ucap Linda melihat laku puteranya yang menggerakkan kepala dengan mata terpejam.


Beberapa pengawal terlihat canggung dengan drama keluarga majikannya.


“Apakah perlu saya bangunkan, tuan?” tanya pengawal yang duduk tepat di sebelah Alexio.


“Tidak perlu, tolong jaga Alexio saja.” Sahut Bisma lalu beranjak menuju mobil kedua bersama Linda.


Ketiga mobil pun berangkat, jadwal penerbangan mereka masih 4 jam lagi. Sementara jarak tempuh menuju bandara Mount Gambier dari Halls Gap Victoria butuh 2 jam setengah. Mereka harus berangkat sesuai jadwal jika tidak nanti dikhawatirkan terbentur cuaca buruk yang sering terjadi akhir-akhir ini di australia.


Alexio membuka kelopak matanya. Headset yang menyumpal kedua telinganya tidak ada yang mengeluarkan suara alias, ia mendengar siapapun yang berbicara saat itu.


Pesawat jet pribadi milik Bisma sudah siap mengantarkan mereka kembali menapaki bumi pertiwi. Setelah 4 tahun meninggalkan Indonesia, Alexio kembali di jemput untuk kembali berkumpul bersama keluarganya.


Setelah kematian Alexia, remaja itu menutup diri dari semua akses, ia mematikan panggilan orang tuanya, teman sekolahnya, bahkan memilih tempat tinggal yang jauh dari kerumunan orang-orang. Ia betah tinggal di Cottage Halls, bukan tanpa alasan, tempat yang menjadi pilihannya karena konon di sana adalah tempat favorit siapapun yang ingin mengakhiri hidupnya.


Namun, meski berulang kali Alexio berencana lompat dari ketinggian tebing The Gap. Pengawal Bisma selalu berhasil memaksa remaja itu kembali ke penginapan.



Rencana Alexio tak pernah berhasil, pun percobaan bunuh dirinya dengan berbagai benda pun selalu berhasil dicegah, hingga, jangan pernah harap menemukan benda berbahaya disekitar Alexio, bahkan CCTV memantau tiap pergerakan Alexio selama 24 jam sekalipun.


Sikapnya berubah seiring dengan kepergian Alexia, dan menemukan fakta dari tulisan mendiang kembarannya semakin memupuk kebencian dalam diri Alexio terhadap orang-orang yang tertulis di sana.


Ayahnya, ibunya, kakeknya, pun dengan nama baru yang ia ketahui terlibat di sana.


Dan kembalinya ia ke Indonesia, sebagai wujud balas dendamnya atas kematian Alexia Bisma, 4 tahun yang lalu.


“Alexia, tunggu aku. Mereka yang membuatmu menderita, akan aku balas semua.” Gumam Alexio menatap jendela yang menampilkan siluet gambar kecil dari ketinggian langit Australia.


__ADS_1


__ADS_2