Alexio "Diary Merah Muda"

Alexio "Diary Merah Muda"
Bab 9


__ADS_3

Alexio dengan langkah malas keluar dari dalam lift, menuju kediamannya.


Orang tuanya pasti sudah ada di dalam sana. Karena password kunci apartemennya juga mereka ketahui.


Ia menarik handel pintu setelah memasukkan kode password.


“Alexio.” Sang ibu bergegas bangun dari duduknya. Meraih tubuh sang putera dan merengkuhnya sayang.


Alexio tak membalas sama sekali.


“Ada apa pa. Aku ada janji setelah ini.” Alexio duduk dengan dirangkul sang ibu.


“Kamu tahu apa kesalahan kamu akhir-akhir ini, Alexio?” tanpa basa-basi, ayahnya mulai melancarkan pertanyaan.


Alexio hanya diam, sikapnya datar.


“Kamu dengar apa yang papa tanya tadi, huh??!” nada bicara ayahnya mulai meninggi.


“Pa, tenang.” Sang istri mencoba mengingatkan agar tak menggunakan emosi dalam pembicaraan ini.


Bisma menarik nafas, menahan gejolak amarahnya ketika mendapati sikap anaknya sama sekali tidak antusias akan ucapannya.


“Kamu sadar, sikap kamu ini sudah keterlaluan, Alexio.” Pelan, ayahnya memulai lagi obrolan dengan menekan ucapannya.


“Papa pikir kamu hanya mengusik para nerd di sekolah, tawuran, balap liar... tapi sekarang bertambah tidak benar saja kamu, Alexio.” Kecam Bisma mengingatkan kesalahan Alexio.


“Walau kamu adalah anak pemilik sekolah itu, bukan berarti kami tidak tahu semua aktifitas kamu di sana.” Tambah Bisma


“Telat sekolah, lompat pagar, berkelahi di kelas, dan kedapatan bolos pelajaran.”


“Dan apa tujuanmu ke danau itu, mengingat kembaranmu lagi, hah!!!! Dia sudah tiada Alexio!!!!” teriak Bisma


Mendengar sang ayah menyebut kembarannya.


Alexio bangkit dengan mata menyalang marah.


“Papa dan mama tidak berhak mengatur aku mau kemana!!! Dan jangan pernah menyinggung Al lagi... kalian gak berhak, kalian gak berhak!!!!” balas Alexio memekik


Baik Bisma dan sang istri tertegun dengan tanggapan puteranya.


Alexio menguarkan amarah tak terkira, ia tak pernah seperti ini kepada mereka


“Alexio.” Ibunya perlahan berdiri dan mengusap lengan Alexio namun segera ditepis sang putera.


“Apa maksudmu, kami orang tuamu dan kami juga orang tua Al, kembaranmu yang sudah tiada itu.” Balas Bisma tak kalah emosi.


Sementara istrinya hanya menatap dengan mata sendu, menahan tangis yang sebentar lagi pasti akan meledak.


Melihat kedua orang lelakinya saling menatap penuh marah, ia tak tahan.


“Kalian masih menganggap kalian orang tua kami?” Alexio menyeringai sinis menanggapi ucapan ayahnya.


“Setelah.....” Alexio menahan gejolak dan gemuruh hebat dalam dadanya. Betapa berat beban yang selama ini selalu mengiringi hidupnya, ia tak sanggup sebenarnya.


Kedua orang tuanya menunggu dengan raut tak sabar.


Alexio menunduk, pelan air mata itu turun tanpa tahu diri, tak lupa kedua tangannya mengepal sebagai bukti betapa dirinya dikendalikan emosi.

__ADS_1


Mengabaikan status dua orang dewasa yang menjadi orang tuanya.


“Setelah kalian dengan teganya merenggut nyawa puteri kalian sendiri!!!! Kembaranku, adikku, Alexia!!!!!!!” teriak Alexio akhirnya.


Baik ayahnya dan ibunya sama-sama membelalak sempurna, ternganga penuh rasa tidak percaya. Apa yang mereka dengar barusan.


“Apa maksud kamu sayang.” Ibunya bertanya, ia bingung mengartikannya, takut jika benar.


“Apa maksud ucapan konyolmu itu, Alexio.!!!” Giliran ayahnya yang bertanya, gurat marah masih terpancar di sana.


Bruk!!1


Alexio membanting benda yang selalu di bawanya kemanapun, kemana langkahnya pergi, benda itu tak pernah tertinggal barang sedikitpun.


Mengenali benda itu, mata orang tuanya lagi-lagi seakan keluar dari tempatnya.


Mereka kenal benda itu. Mereka kenal.


Benda yang setahu mereka sudah dimusnahkan.


“Kenapa, terkejut aku memiliki benda ini?” sinis Alexio melihat reaksi kedua orang tuanya.


“Benda yang sudah siap kalian musnahkan?” lanjut Alexio meledek.


“Cih, benar-benar berniat melenyapkan perbuatan buruk yang kalian lakukan.” Decih Alexio dengan nada cukup tinggi.


Orang tuanya menatap Alexio kaku.


“Aku sudah tahu peristiwa itu, AKU TAHUUUUUUUU!!!!!!!!” teriak Alexio di luar kendalinya, emosi itu sudah memenuhi dirinya, bahkan air matanya ikut membasahi wajah rupawannya yang selalu datar dan minim ekspresi itu.


Isaknya mulai mengencang.... bahkan ia meraih benda apapun di dekatnya dan melemparnya ke sembarang tempat.


Dan Orang tua Alexio shock saat puteranya tahu akan alasan kematian kembarannya.


.


.


.


Beberapa hari setelah itu, sikap Alexio mendadak lebih dingin. Ia selalu mencari masalah apapun itu.


Agar bisa menguapkan emosi jiwanya.


Prangg!!!!


Mangkok berisi bakso itu terlempar begitu saja ketika seorang siswa hendak menyendoknya..


Semua penghuni kantin sontak terkejut..


Alexio pelakunya.


“Lo udah gue bilang, jangan pernah sampe ketemu sama gue di manapun kan!!!!” teriak Alexio dengan tangannya menempeleng kepala siswa itu. Salah satu nerd yang entah bermasalah apa dengan Alexio.


Andi dan Barry tak bisa mencegahnya walau itu di luar kebiasaan Alexio yang tak pernah melakukan kekerasan kepada para nerd meski membully namun tak bertindak keras seperti ini.


“Ma-maaf Alexio.” Ucap siswa itu ketakutan

__ADS_1


“Temui gue di gudang belakang, kalo gak mau gue hancurin masa depan Lo.” Bisik Alexio tepat di telinga si nerd.


Mendengar kata itu, sontak meremang dan bertambah mencekam tubuh siswa itu, gudang adalah tempat Alexio mengeksekusi para pembuat masalah. Dulu cowok itu hanya membully di depan orang saja, berniat mempermalukan, tapi tidak menyakiti fisik.


“Ingat itu!!!” Alexio melenggang pergi dengan wajah dinginnya.


Dan benar saja, selepas pertemuan itu. Selama 1 minggu siswa itu tak masuk sekolah... ia dikabarkan pindah sekolah tanpa mau memberi tahu keluarganya apa alasan kepindahannya itu. Karena siswa itu berasal dari desa dan hanya kost di kota, maka luka yang diakibatkan pukulan Alexio belum sempat di lihat keluarganya keburu sudah hilang.


Kabar pembullyan yang semakin gencar dilakukan Alexio seolah tidak terkendali. Pemuda itu juga sering mengadakan tawuran karena hal sepele. Dan Dira adalah sasaran empuk yang menyerahkan dirinya untuk mendapat luapan emosi seorang Alexio.


“Alexio.” Panggilnya ketika menemui cowok itu tengah sendirian di atap sekolah.


Tak digubris. Alexio tetap diam dalam posisi baringnya.


“Alexio, aku mau ngomong!!!!” Dira menarik lengan yang menutup wajah Alexio.


Merasa sangat terganggu, Alexio menatap marah pada Dira yang membuat gadis itu merinding.


“Apa!!!” tanya Alexio kesal.


“Kamu ada masalah apa? Kamu diputusin pacar kamu? Kamu ada masalah keluarga? Cerita sama aku, aku bakalan ngedengerin semua masalah kamu, Alexio.” Dira tanpa malu mengambil duduk di sebelah Alexio, menatap cowok itu yang melengos kearah lain.


“Pergilah, gue gak mau bahas apapun ke lo.” Tolak Alexio tegas.


“Alexio. Aku memang bukan temen deket kamu, tapi aku siap mendengar masalah mu,” lanjut Dira, kini menyentuh lengan Alexio lembut.


Dan itu memicu gelegak dalam dada Alexio. Ia membalik tubuhnya, menepis perhatian Dira.


“Gak perlu, gue GAK PERLU BANTUAN LO APAPUN ITU!!!!” sergah Alexio marah.


“Alexio!!!” Dira terkejut akan reaksi Alexio.


“Kok kamu malah marah, aku kan hanya mau menjadi teman berbagi aja. Rahasia terjaga kok.” Jawab Dira bertahan.


“LO ITU MASALAH GUE, LO ITU BAGIAN DARI MASALAH GUE!!!!” teriak Alexio membuat Dira memundurkan tubuhnyacondong ke belakang saking kagetnya.


“Maksud kamu apa??” Dira tak paham.


“LO ITU, KELUARGA LO, ALIAS BOKAP LO ITU, DOKTER LADH.....” Alexio berusaha menahan ucapannya.


“Kenapa papa aku, Alexio, kenapa dengannya, apa yang sudah dilakuin keluarga aku ke kamu?? Kasih tahu aku???” Dira menuntut kalimat Alexio yang terputus tadi.


“Baca, baca ini!!!!!” Alexio membanting diary merah muda yang menjadi awal mula pertemuannya dengan Dira.


Dira mengambil benda itu, ia pernah membukanya, tapi hanya sebatas cover untuk mengetahui pemilik diary itu.


Perlahan mata indahnya membaca kata demi kata, hingga.............. mata itu membelalak sempurna, membuat kepalanya menggeleng berulang kali.


“Gak, papa gak kayak gitu, papa aku gak gitu.” Menutup diary merah muda itu, lalu bangkit berdiri.


“Itulah kenyataan yang terjadi, papa lo ikut terlibat dalam pembunuhan saudara kembaran gue, papa lo ikut terlibat!!!!” teriak Alexio marah.


“Dan gue benci sama lo, benci sampe bayangan lo aja gue benci.!!!!” Tambah Alexio, menyentak tubuh Dira yang tak tahan berada di sana. Ia berlari meninggalkan atap sekolah.....berlari kemana saja.,.. mengelak tuduhan Alexio akan ayahnya.


“Gak, papa bukan orang seperti itu, sudah banyak yang diselamatkan papa.” Dira menggeleng berulang kali, sulit menerima apa yang diucapkan Alexio berikut kalimat dalam diary merah muda sialan itu........


Dan saat itulah puncaknya. Dira tahu, alasan Alexio...... membenci dirinya.

__ADS_1


__ADS_2