Alexio "Diary Merah Muda"

Alexio "Diary Merah Muda"
Bab 84


__ADS_3

Dira?


Alan mengerenyitkan dahi ketika mendengar nama yang tidak asing menurutnya. Apakah gadis yang....


“Iya, gadis yang lo kejer di kampus.” Sergah Alexio yang bisa membaca pikiran Alan.


Alan menggaruk bagian telinganya yang tiba-tiba terasa gatal lalu meniupkannya ke arah Alexio yang segera mendelik tajam karena merasa jijik akan hal itu.


“Ohh gadis itu.” Alan menganggukan kepalanya pelan namun berulang kali.


“Menarik.” Lanjutnya mengulas smirk di wajah menatap Alexio penuh arti.


Ia sontak meraih ponselnya dan mengarahkan pada wajah Alexio.


“Apa yang lo lakukan!!” sentak Alexio marah ketika wajahnya disorot kamera setelah mendengar bunyi jepretan dari ponsel Alan.


“Ssstt sebentar.” Alan menyuruh Alexio diam sembari jemarinya bergerak di atas layar ponsel.


Gotcha!!!


Alexio Bisma, anak dari seorang konglomerat Bisma Suprapto, tidak hanya disitu, ia juga merupakan cucu Suprapto pemilik perusahaan raksasa di Indonesia dan Singapura.


Alan menoleh dari layar ponsel ke wajah Alexio, begitu sebaliknya. Memastikan jika yang berdiri dihadapannya adalah orang yang sama.


“Ck. Kau anak manja yang doyan ngabisin harta orang tua.” Cibir Alan.


“Apa kau bilang.” Sentak Alexio tak suka.


“Hei yang bernama Alan, Lo pikir tidak lebih baik dari gue hah!!!” Alexio geram mendapat perlakuan dari orang yang tidak satu levelnya.


“Tentu, gue lebih baik dari lo. Gue masih kerja bro, meski itu perusahaan bokap. Sementara lo....” Alan memberikan penilaian pada Alexio dengan menatap penuh ejekan.


“Lo cuma anak manja yang kerjaannya foya-foya, balap ginian, ck....” sambungnya menyindir tajam.


“Bacot. Kalahin gue, baru bisa ngomong gitu.” Sambar Alexio yang hampir tersulut. Jika saja balapan sudah selesai dari tadi, tentu bogem mentahnya sudah melayang manis di wajah Alan saat ini.


“Oke, gue terima. Sesuai perjanjian lo, ada Dira di sini.” Alan mengulurkan telapak tangannya sebagai pertanda menerima tantangan Alexio. Tapi rivalnya itu melengos dengan hentakan gas motor mengaung sebagai balasannya.


“Sialan.” Dengus Alan melihat Alexio melewatinya begitu saja.


10 menit kemudian, balapan pu berlangsung, dengan Alan yang kini memimpin. Seringainya sudah melebar melewati batas. Betapa sumringahnya ia kini membayangkan jika kesempatan mendekati gadis bernama Dira tidak akan terhalang oleh orang yang kini menantangnya duel dengan balap liar.


Ia tidak tahu ada hubungan apa antara Alexio dan Dira, karena selama ia mengintai gerak gadis itu di kampus, belum pernah terlihat olehnya Dira maupun Alexio terlibat satu sama lain. Bahkan Alexio cenderung sering bersama gadis yang bernama Sintia.

__ADS_1


Sementara Dira yang baru saja hendak memejamkan matanya. Dikejutkan oleh dering telpon yang nyaring. Meraih ponselnya yang tersimpan di atas nakas dan melirik nama pemanggil.


“Malem om, iya. Ini Dira.” Sapanya saat melihat nama Bisma tertera di layar ponselnya. Ayah Alexio Bisma.


“........”


“Hah? Balapan om?” Dira terkejut mendengar sahutan Bisma di ujung sana. Terlebih dengan fakta Alexio melakukan balap liar kembali.


“Ba-baik om, Dira ke sana sekarang.” Dira menutup panggilan dan bergegas menuju lemari pakaian untuk mengganti piyamanya dengan kaos berikut celana panjang dan ditutup jaket kulit untuk menghalau angin malam.


Berlari menuju penyimpanan kunci mobil, bergegas agar tidak tertangkap ayahnya yang pasti panjang melakukan introgasi padanya, meskipun kini setelah ia dewasa diberikan kebebasan waktu, namun Ladh tetap mengontrol pergerakan puterinya itu.


Brummm


Gas mobil sportnya sudah membelah malam, siap menuju jalan Angsana, tempat berlangsungnya balap liar yang dilakukan Alexio bersama geng barunya.


Butuh 45 menit baginya mencapai tempat itu. Namun dengung suara knalpot motor sudah menyapa telinganya. Yang artinya balapan liar itu sudah berlangsung.


Tap


Tap


Tap


Andy dan Barry tengah berdiri di pinggiran pembatas area balapan. “Woy.” Dira menepuk keras bahu Andy hingga pria itu terjengkit saking kagetnya.


“Setan!” Makinya namun setelah melihat Dira yang melakukan hal itu sontak Andy menutup bibirnya menyesal.


“Heheh, kelepasan Dira.” Cengirnya merasa tidak enak mengumpati gadis itu.


“Halah biasa aja.” Ujar Dira tidak mempermasalahkan.


“Kenapa kemari, tumben?” Barry ikut menyela.


“Om Bisma tadi ngabarin aku buat kemari, Alexio lagi balapan?” jawab Dira sekaligus bertanya.


“Noh..!!” tunjuk Barry dan Andy bersamaan saat sekelebat bayang Alexio melewati mereka dengan motor besarnya.


“Cuma berdua?” Dira heran karena yang tampak di sana adalah satu orang saja yang menjadi lawan Alexio. biasanya jika begini....


“Dia taruhan?” lanjut Dira yang diangguki Andy dan Barry bersamaan.


“What!!! Sama siapa?” Dira masih melanjutkan tanyanya.

__ADS_1


“Mana gue tahu. Orang baru dateng.” Sahut Andy sebal. Sudah capek mengurus pekerjaan Alexio yang dilimpahkan padanya, sekarang harus ikut mengurusi orangnya juga.


Begitu pula dengan Barry. Ia diberikan pekerjaan oleh Alexio mengurus cabang usaha keluarganya, dan juga mengurusnya. Ribet banget jadi sahabat Alexio.


Dira yang hanya mendapat jawaban seperti itu sontak menatap lawan Alexio lamat-lamat, meskipun ia tak akan bisa melihat secara jelas, wajah lawan Alexio tertutup sempurna dengan helm fullface-nya.


“Siapa ya.?” gumamnya bermonolog sendiri.


Tepat 5 menit kemudian, motor Alexio berhenti di dekat Dira, dengan angkuhnya pria itu membuka helmnya dan menatap Dira sekilas. Dan tak lama berselang, motor lawan Alexio juga menyusul sebagai juara kedua alias kalah.


Dira menatap penuh tanya pada sosok yang berdiri tepat di sebelah Alexio.


“Hai.” Lambaian tangan menyertai sosok itu yang kini membuka helmnya sempurna, menunjukkan wajahnya yang ia yakini membuat gadis itu penasaran dengannya.


“Nungguin ya?” lanjutnya menatap Dira tengil.


“Lo lupa sama perjanjian kita.” Alexio langsung menekan ucapannya dengan menatap Alan tajam.


“Hei, gue cuma menyapa, dan itu bukan termasuk bagian itu.” Tolak Alan yang tak setuju untuk sekedar menyapa gadis itu.


“Ngapain di sini.” Alan mendekati Dira dan mengabaikan ucapan Alexio tadi. Masa’ bodo, dia tetap akan mengejar Dira dengan atau tanpa persetujuan Alexio.


“Lo!!!” Alexio menarik kerah jaket Alan yang tak mengindahkan ucapannya.


Merasa diperlakukan demikian, Alan memberi senyum dulu pada Dira lalu membalikkan tubuhnya dan mendaratkan pukulan di wajah tampan Alexio.


Bugh


Bugh


Bugh


“Sialan!” maki Alexio yang tidak menduga serangan Alan padanya


“Lo yang sialan!” balas Alan tidak gentar. Ia tidak takut dengan latar belakang lawannya itu.


Dan perkelahian itu pun akhirnya terjadi, dan Dira hanya mampu menutup mulutnya tak percaya dengan dua pria yang saling memukul itu tampak menikmatinya.


Ia tidak berniat memisahkan keduanya, terserah mau ngapain mereka, mati pun Dira tak akan menolong. Kekanakan sekali keduanya.


“Aku balik ya.” Dira berpamitan pada Andy dan juga Barry yang melongo melihat sikap Dira.


“Lo gak mau bantuin misahin mereka?” tanya Andy

__ADS_1


“Terserah, mereka bukan bocah lagi.” Dira melambaikan tangannya lalu pergi dari sana.


__ADS_2