Alexio "Diary Merah Muda"

Alexio "Diary Merah Muda"
Bab 147


__ADS_3

Dira yang sudah tidak nyaman sejak awal datang ke hotel ini semakin ingin melenyapkan dirinya ketika bergabung dalam lingkaran Alexio dan sahabatnya.


Ia merutuki dirinya, menyesali datang ke resepsi pernikahan Andy. Harusnya dengan alasan pekerjaan, ia dengan mudahnya mengatakan ketidakhadirannya, tapi entahlah, dorongan hatinya yang kini menyalahkannya pula kenapa datang.


Ia tidak kuat lagi menghadapi kenyataan di depannya, melihat pria yang masih kuat bertahta dalam hatinya harus berdiri bersebelahan dengan wanita yang katanya rela ia lepas asal Dira kembali padanya.


Omong kosong!


Buktinya Alexio tak merasa bersalah atau canggung sekali bertemu Dira dengan Larissa di sisi pria itu.


“Perhatian... perhatian..!”


Lampu padam berikut suara yang menahan langkah agar bisa kabur dari pesta ini membuatnya membalikan tubuh.


Tapi akal sehatnya kembali bekerja, ia harus bergegas, kenapa harus menahan diri lagi.


Debp!


Lampu menyala, tapi hanya mengenai satu sisi, suara riuh karena mempertanyakan lampu mati seketika diam, karena sosok tampan yang berdiri di atas panggung membungkam suara mereka.


“Hei kamu.” Suara itu menggema lagi, tapi Dira yang mengenalinya tak menyurutkan langkah, tetap berayun meninggalkan pesta sialan menurutnya itu.


“Hei, kamu, yang bernama Dira Kairan Ladh.” Suara yang menjadi alasan Dira kabur itu memanggil namanya.


Alexio sadar jika Dira semakin jauh melangkah meninggalkan posisi tadi. Ia ingin mengumpati Barry yang tidak bisa menahan Dira sebentar saja. Sehingga bagian lightning kesulitan menggapai Dira agar bisa tersorot lampu.


Dira seketika berhenti ketika namanya disebut, dan tiba-tiba dari arah belakangnya ada sebuah flash lampu mengenainya hingga tak lama dari itu.


Debp!


Berganti sorot lampu single mengarah padanya, persis seperti Alexio, sehingga kini pusat perhatian orang-orang silih berganti antara Alexio dan Dira.


Dira menoleh kesekitar, kenapa mengarah padanya, bukankah harusnya.


“Dira, kemari!” satu suara memanggil namanya, dan saat ia menoleh, Larissa sudah menggandeng tangannya menuju ke tempat ia berdiri tadi bersama mereka.


Setelah Larisaa, dua orang perempuan muda gantian membawa Dira menaiki undakan tangga, dekat pelaminan. Dira yang belum bisa mencerna keadaan hanya mengikuti saja dengan patuh.


Lampu masih menyorot Alexio dan Dira.


“Ke-kenapa.. dan a-ada apa ini?” ia gugup dan bergumam sendiri.


“Hai kamu,.. ya kamu, Dira Kairan Ladh.” Ulang Alexio memanggil Dira agar perhatian wanita itu berpusat padanya.


Dira menoleh sekitar, sepertinya ada yang salah di sini. Harusnya kan....


Matanya menangkap Larissa yang berdiri di bawah...


Ya, harusnya wanita itu yang berdiri di sini kan?


“Hah?!” mulutnya terbuka sedikit ketika melihat Andy memasukkan tangannya di sela pinggang Larissa.


“Ada apa ini?” ia bertanya sendiri


“Dira, tatap aku, kenapa malah menatap milik Andy?” Alexio sadar akan tatapan Dira pada Larissa. Maka dari itu ia berjalan, mengikis jarak sembari mengucapkan kalimat tanyanya.


“Milik Andy?” beo Dira

__ADS_1


“Hmm, itu istrinya Andy.” Alexio menangkap tanya Dira dan ia menjelaskan lagi singkat.


“Hai.” Alexio menyapa Dira begitu manis. Dan suasana tetap temaram dengan lampu fokus pada keduanya.


“Maaf untuk beberapa minggu ini, sengaja membuat kesalahpahaman.” Alexio mengawali dengan permohonan maaf.


“Aku ingin meluruskan semua kesalahpahaman diantara kita.” Lanjut Alexio.


“Kesalahpahaman?” ulang Dira.


“Hmm, kesalahpahaman yang sebenarnya sudah terbentuk sejak awal kita bertemu.” Jawab Alexio, dan Dira bingung mendengarnya. Kesalahpahaman apa yang terbentuk sejak awal diantara mereka berdua.


Sadar akan mimik wajah Dira, Alexio tersenyum.


“Kesalahpahaman pertama, bahwa sejak awal bertemu, saat masa orientasi SMA, aku sudah tertarik padamu.”


Dira diam, tapi ekspresi wajahnya menjawab keterkejutan itu.


“Kesalahpahaman kedua, kau mengejarku? Percayalah, betapa aku lebih ingin berlari menggapaimu saat itu.”


“Kesalahpahaman ketiga, masalah yang membuatku menjauh darimu, menolak pernyataan cintamu, gigih mengejarku tak henti meski kadang aku kasar menolak. Tapi percayalah, satu jengkalpun aku tak pernah akan melepasmu.”


“Kesalahpaham keempat, kamu ingat saat menyumpahiku? Mengatakan bahwa aku akan jatuh dalam pesonamu? Percayalah, sejak awal aku sudah terjatuh begitu dalam padamu.”


“Jika kamu berpikir hanya kamu yang menyukaiku? Tidak sama sekali, justru aku membalas apapun yang kau rasakan padaku.”


“Kenapa tidak ada satu siswapun yang mendekatimu semasa SMA, karena aku sudah mengancam mereka agar tidak mendekatimu sejengkal pun, karena kamu adalah milikku.”


Dira semakin bergetar mendengarnya, antara percaya dan tidak tentunya.


Alexio menyentuh tangan Dira, dengan lembut menggenggam telapak tangan wanita itu.


“Dan sekarang, aku menginginkanmu, Dira.” Ucap Alexio lembut, semua pasang mata masih betah menonton keduanya.


Dira yang belum selesai dengan ekspresi tertegunnya, kini berganti dengan mata membola dan mulut ternganganya saat melihat Alexio bersimpuh dengan salah satu lutut dijadikan penopang.


“Dira Kairan Ladh, aku tidak ingin menjadikanmu kekasihku lagi.” ucap Alexio menatap Dira dari posisi rendah


“Karena.... aku ingin kita mengawali kisah baru kita dalam jalinan ikatan pernikahan.” Sambung Alexio. dan seketika suara menjadi kasak-kusuk.


Mereka semakin yakin jika yang tengah mereka tonton adalah....


“Dira Kairan Ladh.... will you marry me?”


Alexio melamar Dira.


Kasak-kusuk pun berganti dengan suara riuh memenuhi ruangan tempat berlangsungnya acara resepsi Andy dan Larissa.


“Bukankah ini pesta kita sayang, kenapa malah mereka jadi raja ratunya.” Andy memajukan bibirnya, mengadu pada Larissa.


“Tak apa, toh dia kan sahabatmu juga.” Larissa mengelus kepala Andy yang bersander di pundak terbukanya.


Dira masih diam, belum menjawab pernyataan Alexio. Otaknya belum terkoneksi dengan sempurna.


“Dira.” Alexio memanggil Dira yang diam menatapnya.


“Mau kah kamu menikah denganku?” ulang Alexio, siapa tahu Dira shock dan merasa salah mendengar ucapannya tadi.

__ADS_1


Tapi respon wanita itu tetap nihil, asa Alexio surut, ia berpikir mungkin saja Dira belum siap untuk melangkah ke jenjang pernikahan. Dan tangannya yang tadi menggenggam telapak Dira sudah melemah, siap di lepas.


“Tidak..” Dira menggeleng sebelum Alexio berhasil melepas tangannya.


“Hah?!” Suara Dira yang juga terdengar oleh undangan membingungkan Alexio.


Apa Dira menolaknya?


Benar, ia harus menarik tangannya segera.


“Eh, maksudku, iya..” Alexio yang sudah berdiri pun tambah bingung akan ucapan Dira yang berbeda lagi.


“Maksudku adalah, iya, aku mau, aku mau menikah denganmu, Al.” Kalimat Dira sudah semakin jelas arahnya kemana.


“Maksudmu, kamu mau menjadi istriku?” Alexio mengkonfirmasi jawaban Dira dan wanita itu mengangguk


“Hmm, iya, aku,, aku mau menikah denganmu!!” Semakin kencang, Dira meneriakkan suaranya menjawab ucapan Alexio.


Sorak sorai para penonton ikut bahagia atas jawaban Dira yang menerima lamaran Alexio.


Tak lama Dira mengucapkan kalimatnya, hentak musik terdengar di telinga semua orang.


I'm so in love, I'm so in love


I don't ever wanna stop this ride that we're on


I don't ever wanna say goodbye


Then all of those nights, they would just be all for nothing


Lagu All For Nothing- I Am So In Love yang dinyanyikan langsung oleh penyanyinya yakni LAUV membuat Dira menoleh



“Lauv?” ujarnya melihat pria yang sedang bernyanyi itu.


“Kau suka?” tanya Alexio dan diangguki Dira


“Kau lebih suka aku atau dia?” Alexio bermaksud mengetes walau sudah jelas ia percaya diri sekali dipilih.


“Tentu kamu, Al.” Kan benar, Alexio tahu jawaban Dira.


“Tapi...” belum juga lewat 3 detik, sudah Dira hentikan gelegak bahagia Alexio.


“Tapi..?” Alexio ikut membeo


“Untuk saat ini aku pilih dia, karena bersamamu bisa selamanya, tapi menemui idolaku itu, tak bisa selamanya, Al. Jadi, aku mau ketemu idolaku.” Dira memeluk Alexio berikut memberi kecupan di pipi pria itu lalu menolak langkahnya menuju idolanya.


Mic yang di pegang tadi sudah diarahkannya ke bibirnya lalu mengikuti alunan lagu yang dinyanyikan Lauv.


Para kalangan muda yang mengenal penyanyi ternama itu tak ingin menyia-nyiakan kesempatan, mereka membaur ke depan panggung agar bisa melihat lebih dekat pada idola mereka.


“Rasakan, Al. Lawanmu ternyata kuat sekali pesonanya.” Andy tampak puas menikmati kenelangsaaan sahabatnya yang ditinggal wanita yang baru saja menerima lamarannya itu.


Sementara di sudut ruangan....


“Jika saja tahu kau akan segila ini dengan pria itu, sudah aku culik saja ia dan ku jadikan tetanggamu, setidaknya aku bisa mendapat pelukan atau kecupan seperti anak Bisma itu.” Dome dengan bibir mengerucut, mengomel sendiri melihat Dira bergoyang bersama idolanya di atas panggung.

__ADS_1


__ADS_2