Alexio "Diary Merah Muda"

Alexio "Diary Merah Muda"
Bab 92


__ADS_3

Ladh memikirkan alasan Alexio melakukan pengintaian untuk semua aktifitas keluarganya. Jika ini perkara dendam lama untuk kesalahpahaman kematian kembarannya, Ladh tentu tidak terima, ia tidak melakukan kesalahan besar yang mengakibatkan Alexia menderita diakhir hidupnya. Ia perlu alasan besar jika Alexio ingin menyakiti keluarganya, karena jika bocah tanggung itu salah melempar dendam, maka ia tidak akan tinggal diam.


Apalagi tadi Hiro Taoka, si pimpinan mafia besar asal Jepang akan membantunya mengatasi hal itu, dibantu dengan mafia keluarga istrinya yang tentu namanya sebesar geng yang dipimpinnya. Jadi menghadapi kemarahan Alexio tidak akan kesulitan jika Ladh didukung mafia besar itu.


“Alexio! awas saja jika anak Bisma itu menyentuh untuk menyakiti puteriku, aku tidak akan tinggal diam.” Gumam Ladh serius.


Tiga hari kemudian, kejadian heboh terjadi di kampus tempat Dira mengenyam pendidikan S2nya.


“Gue suka banget kalo banyak cowok ganteng di kampus ini, tiap hari bisa lihat yang seger-seger.” Bisik-bisik para mahasiswi sudah menyambut kedatangan Dira di kampus.


“Iya. Gue juga suka.”


“Erghhhh gak kuat.”


“Ditolak satu, ada satunya lagi.”


“Betul.”


Dira yang pikirannya hanya lurus untuk belajar, tidak pernah sekalipun hanyut untuk tahu perihal semua gosip yang bertebaran di kampus dari ujung ke ujung. Bahkan sampai ia tiba di kursinya saja, gosip itu seolah terhubung bak estafet saja, tak terputus, bertambah bisa jadi.


“Hai Dira.” Alan, sudah mencuri kursi milik seorang mahasiswa yang duduk di depan Dira. Dengan santainya ia meletakkan 1 papebag yang sudah jelas itu berasal dari outlet penjual makanan.


“Sarapan gih.” Ucapnya lembut, karena tidak ada respon dari Dira, ia berinisiatif menata isi paperbag. Dan tampaklah 1 burger, kentang goreng, dan milktea, tingkah Alan memang sudah menjadi sorotan dari awal ia memasuki kelas Dira. Pekik heboh menyambutnya, tatapan kagum juga menyertai. Hanya saja, desah kecewa para mahasiswi langsung dibayar kontan saat melihat pria idaman mereka malah meladeni satu mahasiswi baru yang justru tidak antusias menanggapi seorang Alan.


“Aku sudah sarapan. Bawa balik sana.” Dira melirik sekilas pada Alan lalu matanya kembali lagi menatap buku tebal berbahasa Inggris mengenai skizofrenia yang baru ia beli kemarin.


“Ayolah Dira, cicipi sedikit saja, aku akan tetap di sini sampai kau menyentuh pemberianku.” Alan bertahan, tidak menerima penolakan sama sekali.


Dasar pria arogan.


“Kau beri saja pada mereka, jangan menyia-nyiakan makanan yang tidak dibutuhkan aku, Alan.” Jawab Dira datar.


“No, aku tidak mau memberi mereka, tujuanku itu kamu, bukan mereka.” Lagi-lagi Alan betah mempertahankan niatnya, tapi tidak ada sedikitpun rasa peduli Dira meski paksaan Alan membuatnya risih.


“Terserah. Aku tidak akan menyentuhnya, aku sudah kenyang.” Pungkas Dira lalu tidak menanggapi lagi Alan mau seperti apa.


Srettttt suara kursi berderit berasal dari samping Dira, ia menoleh karena merasa terganggu. Lalu matanya mendelik melihat tersangka yang sama, Alan.... lagi.


“Kelas kamu bukan di sini, balik sana. Sebentar lagi dosen bakal masuk.” Usir Dira, ia sungguh-sungguh merasa jengah dengan tingkah Alan.


“No, aku mau di sini, toh tidak masalah juga aku menumpang belajar.” Tolak Alan, aksinya sungguh membuat konsentrasi para gadis cukup terganggu, mereka berulang kali mencuri pandang pada idola kampus mereka. Meski berbeda jurusan, anak bisnis nyasar ke kedokteran, tapi tidak masalah asalkan mereka bisa menikmati lebih lama bersama idolanya.


“Terserah, asal jangan duduk di dekatku.” Tekan Dira, ia menyisir ruangan kelas ini, masih ada beberapa kursi yang bisa diduduki Alan.


“Itu, sana.. masih ada yang kosong, sana.” Dira menggunakan bukunya sebagai alat untuk mendorong bahu Alan agar menyingkir dari sisinya. Tapi yang diusir bertahan, bak batu besar ia memposisikan tubuhnya tidak bergeser sama sekali.


“Kau!!!” Dira geram tidak direspon oleh Alan. Hingga dosen masuk pun, Alan masih betah duduk di sebelah Dira.

__ADS_1


“Terserah, asal jangan mengganggu konsentrasi belajarku.” Sembur Dira mendelik tajam


“Siap sayang.” Sahut Alan terkekeh, dan Dira hanya berdecak mendengar ucapan barusan lalu tenggelam dengan aktifitas belajarnya.


Selama dua jam, Dira benar-benar terkungkung oleh Alan yang selalu menatapnya, dengan posisi kepala di rebahkan di atas meja, lalu dimiringkan tepat mengarah penuh pada wajah Dira. Jika saja bukan karena ia seorang akademisi dan memperhitungkan nilai diri sebagai calon dokter yang baik, sudah pasti akan ia tendang pria ini keluar sana.


Rumah sakit, kampus tidak bisa dipungkiri past Dira diumbar oleh pria yang mengganggu harinya. Mungkin hanya rumah yang menjadi tempat ternyaman seorang Dira, walau Paul juga kerap menjahilinya, setidaknya ia bisa mengunci diri dalam kamar agar lolos dari kejahilan abangnya.


“Minggir.” Dira sudah berdiri untuk keluar mencari makan, karena sudah 5 menit yang lalu jam kuliah berakhir, dan Alan masih duduk membatu di sebelah Dira.


Brak., berhubung sepi, Dira menendang kursi Alan agar pria itu sadar diusir. Tapi bergeming, tidak ada sahutan. Apakah tidur? Atau pingsan?


Masa’ bodoh. Dira mengelilingi matanya menatap ruangan kelas yang sepi. Lalu mengambil ancang-ancang, ia menaikan kaki jenjangnya ke atas meja lalu...


Hap!


Tanpa menjaga image saat ramai, Dira memanfaatkan waktu sepi dengan bersikap bar-bar. Menaiki meja dan berjalan di atasnya lalu melompati setelahnya.


“Dia pikir, aku itu cewek sok anggun gitu? Belum tahu aja gimana aku yang sebenernya.” Dira meninggalkan kelas berikut Alan yang menegakan kepalanya saat tahu Dira sudah berlalu dari duduknya.


“Gadis itu, kenapa semakin menarik sih.” Alan melihat punggung Dira yang sudah melalui pintu keluar.


Di kantin...


“Huffft. Akhirnya bisa tenang juga.” Dira menghela nafasnya lega, ia sudah duduk manis menatap satu mangkok bakso berikut es jeruk di hadapannya. Senyumnya merekah setiap ia berhadapan dengan hidangan ini. Pecinta jajanan berkuah orang Indonesia sekali.


Tiga suapan sudah berhasil melalui mulut Dira hingga ketika suapan keempat, gebrakan mejanya menumpahkan isi sendoknya saking gegar yang dihasilkan oleh tangan putih yang kini ditelusuri Dira siapa pemiliknya.


“Jadi cewek jangan kecentilan ya.” Sentaknya tertuju pada Dira seorang.


Tapi Dira tak menanggapi, ia kembali menarik sendok berisi pentol bakso berniat menyambangi mulutnya lagi.


Prang!!!! Bukan lagi gebrakan, tapi mangkok makanan Dira sudah melayang menyentuh lantai setelah dengan kurang ajarnya perempuan itu menggeser pecah belah itu begitu saja.


Dira sudah jengah, muak!


“Kau, mau apa, huh!” Dira menarik lengan pengganggu acara makannya dengan keras hingga ringisan tercetak jelas di wajah perempuan itu.


“Arrghhh sakit, kau menyakitiku.” Pekiknya manja, jelas itu ekspresi berlebihan menurut Dira. Dan akhirnya ia tahu kemana arah tingkah lebay itu ditujukan, saat netra Dira menangkap kehadiran pria yang tadi mengganggunya di kelas.


“Alan tolong aku!” teriak perempuan itu memanggil Alan untuk membantunya.


“Ada apa?” Alan bergegas mendekat, tapi arah bicaranya tertuju pada Dira.


“Perempuan sialan ini menyakitiku, lihat saja.” Bukti jelas menyalahkan Dira yang masih bertahan mencengkram pergelangan tangan lawannya.


“Kau yang sudah menggangguku.” Sembur Dira, lalu matanya melihat kesekeliling, berharap ada yang membantunya.

__ADS_1


“Dia yang mencari masalah duluan.” Celetuk satu mahasiswi yang duduk tak jauh dari Dira.


“Iya, betul.” Sahut yang lain, dan begitu seterusnya, ada 10 orang yang memojokkan Dira di sini. Padahal jelas siapa pelaku yang memulai pertikaian ini.


Dira mendengus, “Kau siapa sampai semua rela menjadi babu-mu, huh!” delik Dira namun wajahnya terkesan sarkasme keras.


Ia menghentak kasar pegangannya lalu membayar makan dan kerugian penjualnya lalu berlalu dari kantin yang berisi kumpulan mahasiswi sialan tadi.


“Dira! Tunggu!” alan hendak mencegah, tapi matanya membelalak sempurna saat melihat sosok yang tiba-tiba merangkul pinggang Dira.


“Baby.” Sapa si perangkul yang lagi-lagi membuat Dira membuang nafas kasar.


“Kau, kenapa di sini, huh! Balik sana ke rumah sakit!” Dira menggeram lalu berniat melepas rangkulan Dome di pinggangnya


“Lepas Dome, aku tidak suka menjadi bahan gosip di kampus.” Dira gusar dengan aktifitas mulut mahasiswa yang nanti mengganggu harinya.


“Biarkan saja, aku suka menjadi gosip setelah ini.” seloroh Dome, membawa Dira keluar dari kantin ini.


.


.


.


Alexio sudah kembali ke Indonesia, matanya menatap layar gadget yang diserahkan Roy padanya.


“Jadi, ini wanita yang terlibat dalam kematian Alexia?” tanya Alexio melihat satu foto lama dengan serius


“Iya bos, tapi jejaknya menghilang ketika ayah anda menikah, tuan.” Sahut Roy mengabarkan.


“Sudah matikah?” Alexio bertanya keberadaan perempuan ini, tapi ia menggeleng setelahnya, “Tapi kalau dia mati, tidak mungkin ada balas dendam pada Alexia.” Selorohnya lagi


“Sudah sejauh mana keterlibatan Roni dengan wanita ini. karena pasti mereka bukan sekedar suruhan dan majikan saja.” Duga Alexio yang diangguki oleh Roy.


“Saya berusaha mencari jejak komunikasi mereka bos, tapi begitu licin hingga 10 tahun lebih susah mencari rekam jejaknya.” Jelas Roy.


“Coba kau cari informasi aktifitas kakekku, dan aku akan mencari informasi tambahan melalui papaku, sebagai bagian kenangan hidupnya, tidak mungkin beliau menghilangkan begitu saja wanita itu dari hidupnya.” Alexio akan mencari data wanita sialan itu melalui sudut ayahnya sendiri.


Andriana, mantan kekasih ayahnya yang mendendam pada keluarganya lalu membalas pada kembarannya, Alexia. Dan kakeknya menutup mata saat tahu pelaku tersebut adalah mantan kekasih puteranya. Alexio jelas menduga ada keterkaitan dua generasi berbeda itu, tidak mungkin Andriana sekonyong-konyong mengganggu keluarga Bisma jika tidak ada kebencian mendasarinya.


“Akan aku gali kuburan kalian dan ku patahkan kerangka itu jika kalian sudah mati. Tidak akan aku biarkan meski kalian tidak ada di dunia sekalipun.” Ucapnya meremas gadget di tangannya.


*****


Eling Al, Eling, gak boleh gitu,....


ya ampun anak Bisma dah lepas baut pengencang remnya.

__ADS_1


Abang Al tahan emosi dah, nanti othor bantu pakek jasa kurir azab.


perhatian yang kena azab tolong bayar ya, karena othor pakek sistem COD 🤣


__ADS_2