
“Jangan ada yang sikut-sikutan, pukul-pukulan atau kekerasan apapun di sini, ini apartemen aku, bukan ring tinju atau area baku hantam. Aku bisa laporin kalian berdua atas dasar perlakuan tidak menyenangkan.” Cerocos Dira, menceramahi dua pria yang kini duduk bersimpuh di hadapannya, sementara ia tak henti menarik nafas meski pada posisi di kursi.
Gemas dengan tingkah dua kepala geng ababil di depannya ini, selalu melakukan kekerasan dengan alasan sepele sekalipun. Bahkan dulu ada schedule khusus macam emak-emak arisan yang melakukan tawuran setiap bulan.
Konyol!
Ya itulah geng ababil dua orang ini
Untuk ganteng
Wangi
Dan kaya pula
Coba
Bulukan
Bau
Dekil.
“Paham gak!” Dira menaikan intonasi suaranya saat tak ada satupun yang merespon ucapan panjang lebarnya tadi.
“Hmm,.” Sahut keduanya kompak, bahkan meskipun menunduk tapi tidak menghalangi keduanya melempar tatapan tajam satu sama lain.
“Kalian pada ngapain?” Dira memperhatikan keduanya yang masih bersitatap.
Brak!!!
Tangan Dira menghantam meja hingga Alexio dan Jonathan refleks terjengkit saking terkejutnya.
“Dira!”
“Baby!”
Dira menggelengkan kepala ketika respon tersebut keluar juga dari keduanya, “Kalian bisa ngomong rupanya, gak cuma ham hem aja.” Sarkasnya
“Sanalah balik ke alam masing-masing.” Dira mengibaskan telapak tangannya, mengusir secara langsung.
Alexio dan Jonathan menatap tak percaya diusir oleh gadis idaman mereka, “Kamu ngusir?” kompak keduanya bertanya, “Hmm.” Sahut Dira membalas.
Bahkan dengan yakinnya, Dira melangkah menuju daun pintu keluar, menarik handel dan membuka selebar-lebarnya, agar dua pimpinan geng ababil itu melesak segera dari apartemen kecilnya ini.
“Buruan. Gih. Balik sana.” Titahnya tak mau dibantah.
Hffffftt. “Gara-gara lo.” Timpal Alexio dan Jonathan menyalahkan satu sama lain.
Alexio meraih kaus yang ia lepas tadi dan menyusul Jonathan untuk hengkang diusir oleh tuan rumah.
Dasar tamu rese’
__ADS_1
“Nanti aku dateng lagi baby.” Ucap Alexio di depan pintu
“Aku jemput besok buat ke kampus.” Jonathan ikut ambil suara.
“Gak usah, kamu gak usah dateng, dan kamu gak usah jemput besok aku bisa ke kampus sendiri.” Dira menunjuk bergantian dari Alexio lalu Jonathan.
“Gak ada tapi-tapian, segera sana. Syuhhh.” Mendorong dua pria itu agar bergeser dari muka pintunya.
Ceklek.
“Hfffft. Gak di mana-mana pasti berantem.” Sungut Dira setelah berhasil menutup pintu.
“Ya ampunn, ini apartemen dah jadi babak belur juga.” Ia menggelengkan kepala melihat ruangannya sudah kacau balau.
Memijit pelipisnya yang mendadak diserang pusing, “Gak berubah dua bocah itu.” Ucapnya, beranjak merapikan ruangannya yang hancur oleh perkelahian Alexio dan Jonathan.
Di luar sana...
“Sana geseran, gerah gue.” Alexio mendorong kasar bahu Jonathan yang berada tepat di sampingnya.
“Lo pikir gue suka deket-deket lo!” kecam Jonathan mengibaskan bekas pegangan Alexio, seolah baru saja terkena kuman.
Ting
Pintu lift terbuka, dan tentu saja mereka saling menyerobot masuk ke dalam. Dasar bocah!
“Maaf, kalian bisa tenang?” seorang wanita usia paruh baya yang membawa anjing peliharaannya menegur keduanya yang masih sikut-sikutan di dalam.
“Dia yang salah nyonya.” Balas Jonathan menunjuk Alexio
Gukk!!!
Harder warna hitam yang mungkin merasa risih pun menggongong keras menyela perdebatan keduanya.
“Kalian lihat, bahkan anjing saya saja terganggu.” Seloroh si ibu itu.
“Jika kalian masih tidak mau diam, jangan menyalahkan saya melepas tali ini.” tunjuknya pada tali kekang anjing besar miliknya
Glek
Alexio dan Jonathan sontak meneguk saliva kasar, membayangkan anjing setinggi nyaris pinggang keduanya membuat mereka kicep seketika. Ruang sempit seperti ini, akan memupus asa untuk selamat jika bergelut dengan hewan itu.
“Ba-ba-baik nyonya. Maaf.” Ujar keduanya diam.
Hingga lift berhasil membawa mereka sampai di basement, kelegaan itu rupanya belum berpihak, karena si pemilik anjing masih berjalan di belakang keduanya.
“Sial, ini anjing kenapa arahnya sama sih.” Umpat Alexio cemas
“Buruan makanya.” Sahut Jonathan yang berusaha berjalan cepat tapi langkahnya tetap saja terseok-seok.
Akhirnya, ketika sudah sampai di barisan parkiran mobil mereka, akhirnya perpisahan itu terjadi, Jonathan mengambil langkah ke kiri, wanita tadi ke tengah dan Alexio ke kanan.
__ADS_1
Hfttttt, akhirnya
“Bos.” Pengawal Alexio menghampiri melihat bosnya terlihat berjalan cepat.
“Buruan, ada harder di sana tadi.” Tunjuk Alexio diarah belakangnya.
“Tinggal tembak saja bos kalau diserang.” Timpal pengawalnya dengan enteng.
“Tembak-tembak, gundulmu. Senjataku tinggal Roy.” Sergah Alexio, menarik handel pintu mobil dan menutupnya kuat.
“Ayo buruan!” panggilnya melihat Roy masih menatap ke belakang, memastikan hewan yang mengancam bosnya tadi.
“Woy!!! Anak mama!!!” Jonathan melewati parkiran mobil Alexio seraya mengacungkan jari tengahnya.
“Brengsek kau Jo!!!” teriak Alexio yang masih membuka kaca mobil.
“Ayo Roy!!! Kejar itu jin iprit!!” titah Alexio menyuruh pengawalnya untuk menyusul Jonathan.
“Ckckck, masih pada labil.” Gumam Roy mencibir tingkah dua pria dewasa tanggung ini.
“Siap bos.” Sahut Roy, menekan starter lalu melajukan mobil lamborgini kuning itu untuk mengejar Jonathan.
.
.
.
Keesokan harinya....
Dira menyibukkan diri dengan berbagai catatan dan buku-buku kedokteran di hadapannya, ia tengah berada di perpustakaan Tokyo University. Ia tak menyangka mendapatkan otak yang mumpuni selepas masa SMA, padahal dulu ia berkali-kali turun level di Golden School sampai di level E. Sedangkan saat ini ia sudah berada di tahap koas yang beruntungnya hanya ditempung setengah tahun di sini dan setahun akan dilempar ke rumah sakit ayahnya.
Apakah kekuatan nama ayahnya? Mungkin ia berterima kasih di sana. Secara Ladh Hospital menjalin kerjasama dengan Tokyo University yang memiliki rumah sakit terbaik tingkah 8 sedunia yakni The University of Tokyo University. Sehingga dengan mudah Dira bisa diberikan golden tiket untuk magang di sana dan bisa pindah ke rumah sakit ayahnya. Meskipun ujian kompetensi akan dilakukan oleh tim Tokyo University nantinya.
“Hai.” Jonathan, membawakan macha boba di hadapan Dira berikut roti isi coklat sebagai sarapan gadis itu yang bisa dipastikan dilewatkan lagi.
“Sarapan.” Sambung Jonathan, mengambil duduk di seberang Dira.
“Makasih.” Balas Dira.
“Jadi kamu bakalan lanjut di Indonesia untuk ambil pendidikan lanjutan?” tanya Jonathan
“Hmm, setelah selesai koas di sini, aku akan lanjutin ke rumah sakit papa. Ujian dari kampus sini, terus lanjut internship di rumah sakit papa dibantu dokter Doni.” Jelas Dira
“Kalo kamu balik ke sana. Kamu bakalan ketemu Alexio lagi?” lanjut Jonathan bertanya.
“Bagaimana lagi Jo, aku belum balik aja dia udah kemari, gimana aku balik, pasti ketemu terus.” Jawab Dira lesu
“Kamu siap kalo Alexio tahu rahasia dari buku mendiang kembarannya yang disobek papa kamu?” Jonathan tahu rahasia lainnya yang baru diketahui Dira diakhir keberangkatannya ke Jepang.
“Aku bingung Jo. Karena kali ini kesalahan itu, justru dari papa datengnya.” Lirih Dira meremas kertas kosong yang ada didepannya.
__ADS_1
“Kesalahan?” gumam Alexio yang mendengar di balik rak buku dekat posisi duduk Dira.