Alexio "Diary Merah Muda"

Alexio "Diary Merah Muda"
Bab 106


__ADS_3

“Al, mau main petak umpet?” Alexia yang girang mendapat Alexio 3 hari ini akan berdiam di rumah, tentu tak mau menyia-nyiakan waktu dengan mengajak kakaknya bermain. Dan disetujui oleh Alexio tentu saja, mumpung sang kakek tak berkunjung, ia akan memiliki Alexio seharian.


“Oke, Alexia. aku yang jaga, ya.” sambut Alexio segera menuju salah satu pohon yang ada di pekarangan belakang rumah itu. Bisma dan Linda menata area khusus bagi anak-anak mereka agar bisa bermain bebas di luar rumah, terserah mau di rumput atau di tanah kuning serta pasir pun disediakan orang tua si kembar.


Tepat hitungan ke 7, Alexio membalikkan tubuhnya. Hening, wujud Alexia sudah lenyap. Memang cukup mahir adiknya itu jika bermain game ini. ia akui itu, tapi trik Alexia selalu sama. Sesuai angka kesukaan bocah perempuan, Alexia selalu memperhitungkan tidak jauh dari nominal itu.


Mata Alexio menatap sekitar, batu, rerumputan, gundukkan pasir, bahkan di balik pohon dan banyak benda tempat bersembunyi pun tak luput dari penglihatan Alexio.


“Wah, di mana kali ini kamu bersembunyi Alexia?” gumam Alexio melangkahkan kakinya.


“Kalau aku berdiri di pohon itu, maka harusnya.” Alexio menghitung langkahnya dari posisi ia memejamkan mata, mulai mengukur sampai tempatnya berdiri sekarang, namun ia menggeleng.


“Bukan gitu.” Ucapnya.


“Apa gini.” Ia balik lagi ke pohon tadi dan mencoba menarik sudut 60o yang bisa berhubungan jumlah 7.


“Apa aku kalikan? Kuadratkan? Akar, sum, max...” beragam bentuk penjabaran aritmatika dicobanya namun tidak menemukan jawaban.


Otak Alexia memang melebihi kemampuan Alexio, maka tak aneh jika Alexio selalu kalah jika diadu mata pelajaran berhitung itu. Makanya trik angka 7 adalah modal Alexia selalu menang jika bermain game untuk yang berbau sembunyi.


“Ah Alexia, aku pusing.” Alexio memilih merebahkan tubuhnya di reremputan hijau yang lembut dan bersih. Matanya memejam, bingung tidak menemukan keberadaan Alexia di manapun juga.


Cletuk!


Kepalanya terasa kejatuhan sesuatu hingga memaksanya memberengut sembari membuka mata kecil miliknya.


“Wuhh aku menang lagi, bosan!” celetuk Alexia yang terlihat asyik bertengger di salah satu dahan pohon.


“Heum?” Alexio tertegun melihat keberadaan kembarannya yang berada di sana.


“Kau?” sambungnya

__ADS_1


“Iya, kau lupa? Perhatikan, aku baru saja menanam satu pohon mangga di sana.” Alexia meluncurkan tubuhnya dari atas pohon dengan santainya, sejenak lupa jika ia bocah perempuan yang harusnya lembut dan tak bar-bar.


“Oh!” lagi-lagi Alexio hanya tertegun dengan pilihan kembarannya, hingga ia menggelengkan kepalanya.


“Aku lupa soal itu, makanya aku tidak berpikir kau bersembunyi di pohon.” Ucap Alexio


“Kau kan tahu aku suka 7, apapun itu harus selalu tidak jauh dari itu. Aih payah kau, padahal kuncinya saja kau sudah aku kasih tahu, Al.” Ketus Alexia, menuju keberadaan pohon mangga yang tadi pagi sudah ia pindahkan dari polybag ke salah satu sudut halaman, langsung di tanam ke tanah.


“Aku tidak menghitung yang masih kecil, Alexia, makanya aku lupa.” Sungut Alexio yang kalah lagi.


“Ingat, kau harus mahir mencari apapun yang aku sembunyikan, Al. Tidak jauh dari 7.” Ujar Alexia


“Iya, termasuk tempatmu menaruh benda-benda rahasiamu, itu.” Celetuk Alexio yang baru tahu jika Alexia kerap menaruh mainan di dalam tanah setelah menonton salah satu kartun yang mengatakan bisa berpindah ke orang yang ingin ia beri asal terucap mantra sesuai anjuran tokoh kartun tontonan Alexia.


“Hihihi, rahasia, Al. Jangan kau sebut.” Kikik Alexia.


“Kau menyukai tetangga kita?” goda Alexio, ia tahu ketika kembarannya tak kunjung menurunkan pandangan jika bertatapan dengan anak tetangga depan rumahnya.


“Stt kita masih kecil, Al. Tidak boleh kayak orang dewasa.” Geleng Alexia.


“Kau banyak mainan, Al. Dia itu anak pembantu depan, jadi kasian.” Alexia menundukkan kepalanya membahas bocah laki-laki yang ia sukai


“Tenang, semua permohonanmu akan sampai padanya, Alexia.” alexio merangkul kembarannya, memberikan semangat jika semua mainan yang akan diberi Alexia pasti sampai pada bocah yang sudah pindah mengikuti orang tuanya.


“Lalu, kalau kau mau memberiku hadiah, apakah juga kau simpan di tanah, Alexia?” tanya Alexio


“Kenapa begitu? Memang kau mau pergi lama?” tanya Alexia balik


“Bukan begitu, aku kan seering berobat dan meninggalkanmu, jadi aku juga butuh diberikan harapan seperti itu darimu.” Jawab Alexio memanyunkan bibirnya


“Ahh, baiklah, aku akan mengirimkan banyak surat untukmu, isinya doa agar kau lekas pulih, Al. Dan di sana...” Alexia segera menunjuk salah satu sudut di mana ia akan meletakkan permintaan Alexio.

__ADS_1


“Aku akan menaruh harapanku untukmu di sini, semoga kau sembuh dengan mantra khususku.” Alexia menancapkan tanda di tempat yang akan ia taruh berbagai doa untuk aLexio.


Konyol memang, tapi begitulah dunia anak-anak yang masih percaya akan dunia fantasi hanya dari acara televisi favoritnya. Bahkan ia pernah menirukan salah satu adegan mencemplungkan koin di salah satu lubang dengan harapan akan menjadi uang berlimpah untuk memberikan kado bagi Alexio. tentu harapannya terkabul, bahkan koin itu berubah menjadi lembaran uang.


Jika ia menceritakan harapannya pada Bisma.


Pasti harapan itu lekas terkabul keeesokan harinya.


Dan, di sanalah diary merah muda milik Alexia terkubur, rahasia terbesar yang tersimpan dalam keluarga ini, di mana karena ambisi orang dewasa, seorang bocah mesti direnggut semuanya, hanya karena kebenaran yang tak sengaja di ketahui itu, mesti mengikis harapan masa depan dari calon gadis cerdas nan cantik itu.


Namun sayang,,,,, alexio lupa


Kenapa bisa....


“Buat cucuku melupakan semua kejadian itu, apakah kau bisa?” Suprapto, yang menghandle Alexio di kamar rawat meminta pada Ladh agar memberikan alternatif medis yang bisa membuat lupa seseorang


“Untuk apa?” Ladh bertanya heran


“Ia terlalu banyak menyaksikan kejadian buruk, maka ada baiknya ia harus melupakan kejadian itu, Ladh. Kasian.” Ucap Suprapto memasang wajah sedih


Memahami, Ladh menganggukkan kepalanya, “Bisa, nanti aku akan beri terapi hipnotis dari salah satu dokter terbaik soal itu. Percaya saja.” Jawab Ladh menyanggupi.


“Terima kasih, Ladh, tapi, biarkan aku ikut dalam terapi itu.” Pinta Suprapto


“Untuk apa?” tanya Ladh


“Hanya untuk memberikan sugesti baik pada Alexio.” sahut Suprapto meyakinkan


“Tak perlu, para hipnoterapy akan memberikan sugesti positif pada cucu anda nanti” Cegah Ladh, tak mau mengganggu area ahli itu.


“Tolonglah, aku tidak mau Alexio tersisa trauma nanti.” Ucap Suprapto

__ADS_1


“Anda bisa meminta langsung pada ahlinya langsung saja, tuan.” Ladh habis kata-kata, biarlah itu jadi urusan Suprapto yang ingin memantau serta memberikan sugesti pada cucunya agar melupakan kejadian buruk itu.


Dan benar, semua sugesti itu memang membuat Alexio lupa.... tapi untuk yang berkaitan dengan fakta sebenarnya, namun membuat sugesti baru dengan menciptakan ingatan yang salah.... karena ikut campur Suprapto di sana.


__ADS_2