
“Bagus anak pinter.” Saat Dome sadar, Dira mengelus puncak kepala pemuda itu dengan lembut, namun ditepis Dome berikut melempar wajah sebal.
“Kenapa, heum?” tanya Dira melihat ekspresi tidak suka dari bocah itu.
“Kau menatapku seperti seorang kakak pada adik, padahal aku kekasihmu.” Sungut Dome memberi alasan sikapnya seperti itu.
“Kau ada-ada saja.” Kekeh Dira mencibir, memang benar kan? Hanya kebutuhan medis saja Dira menerima syarat konyol itu, kalau bukan status pasien yang mesti ditangani tindakan lanjutan, sudah dipastikan Dome akan disleding Dira ketika memaksa untuk menjadi kekasihnya.
Di tengah obrolan itu, suara ketukan menghentikan keduanya, seorang pria berpakaian kasual berhenti di ambang pintu. Meminta izin untuk masuk, pengawal Dome yang bertugas menjalankan misi darinya.
“Heum, apakah kau bisa pergi dulu, dokter.” Saking urusannya lebih penting, Dome merutuki dirinya yang mengusir Dira dari sisinya.
“Oke, jangan banyak pikiran. Bye.” Dira mengundurkan diri lalu menutup pintu.
Pria tadi berjalan menghampiri Dome, mengulurkan amplop dan ipad lagi pada atasannya.
“Apakah penting seperti waktu itu?” tanya Dome menyelidik
“Iya bos.” Sahutnya
“Kau tahu aku habis melakukan terapi, jadi kalau tidak menarik maka kau akan aku suntik sampai hilang ingatan.” Ancam Dome
“I-iya, sangat menarik isinya bos, saya yakin.” Dengan setengah gugup pria kekar itu memberikan jaminan laporannya akan membuat rasa letih terapi atasannya akan terbayar dengan isi laporan ini.
“Baiklah, sini.” Tarik Dome pada benda yang sejak tadi menggantung di hadapannya.
Dengan kesan sombongnya, Dome membuka berkas dan juga menyalakan ipad itu. Satu persatu ia baca dengan teliti hingga matanya membulat saat menangkap bagian yang cukup menarik perhatiannya.
__ADS_1
“Wah bagus, aku suka kerjamu.” Dome merentangkan tangannya ingin memeluk, tapi segera sadar... “Sialan, kau awas saja memeluk-ku.” Kecamnya pada sikap pengawalnya yang hampir saja menyambut rentangan tangannya.
Dia yang mau meluk, dia pula yang suuzon, pengen di geplak nih bocah.
“Baiklah, aku akan mulai memberikan pesta kejutan pada mereka. Drama keluarga yang sangat menarik rupanya.” Senyum mengejek terkembang lebar dari wajah Dome, sepertinya berkas yang ia baca mampu menguasai alam bawah sadarnya untuk tertawa puas.
“Tidakkah ini lucu semua informasi yang kau dapatkan ini? aku pikir drama keluargaku saja yang lucu, rupanya ada yang lebih melawak lagi.” Tawa Dome menghentak-hentakkan ipad di pahanya, tidak mempermasalahkan jika benda mahal itu akan terbelah dua jika beradu dengan tubuh kerasnya.
Pengawalnya hanya bisa tersenyum sekilas, informasi mengenai keluarga Suprapto memang sangat menggelikan. Ternyata bukan hanya pria renta itu yang memiliki peran lucu, rupanya menantu berikut puteranya sendiri alias Bisma juga ikut dalam dagelan lucu itu. Sangat membagongkan menurut Dome.
Dan ia tidak sabar memberikan berkas itu pada wanita yang ia yakini akan sangat terpukau dengan kabar ini. memang ia tahu, menantu Suprapto mengintai mertuanya, dan ia penasaran kenapa sampai begitu, sampai ia tahu alasan besarnya, dan ia tertarik memberikan file rahasia ini pada wanita malang itu. Bukan tanpa alasan, Suprapto salah satu pria yang seharusnya menikmati masa tua dengan harta melimpah malah berani bermain dengan mencuri klien keluarga Dome melalui cara curang. Jadi ini kesempatan memukul pria uzur itu dari banyak sisi bukan? Setidaknya keluarga Taoka tidak akan kentara mengotori tangannya.
“Rupanya suami sendiri tahu jika ayahnya sebajingan itu, cih berlagak sok suci sekali ayah Alexio itu.” Cibir Dome, kepalang seperti dirinya, terlahir sebagai anak 2 mafia besar yang sering bersinggungan dengan dunia kriminal, tapi ia tidak pernah sok suci di hadapan semua orang. Dan ini pasti jadi tontonan bagus jika benar adanya.
Benar saja, keesokan harinya, tepat pukul 4 pagi, Linda mendapat notifikasi dari ponselnya yang berdenting pelan namun bisa membangunkan tidurnya. Ia masih terbungkus selimut dengan tubuh polos setelah melakukan malam panjang bersama Bisma segera meraih benda pipih itu.
Nona, ada file dari pengirim yang sama lagi. Apakah bisa saya kirim sekarang?
Lemari besar yang menjadi saksi banyak hal buruk menimpa puterinya, sebagai tempat bersembunyi bagi bocah perempuan itu setiap ia mendapat rongrongan dari suruhan Suprapto. Meskipun upaya itu tidak membuahkan hasil, karena mereka tetap akan melakukan hal buruk meski bocah itu menangis keras menolak.
Alexia, mama akan berusaha menghukum orang yang telah memberi kehidupan buruk padamu, mama janji sayang. Bersabarlah.
Begitu ucapan Linda yang ditutupnya dengan mata terpejam, berharap dalam gelapnya cahaya itu, ia akan dipertemukan dengan puterinya di alam mimpi.
Linda menunggu membalas asistennya ketika dipastikan Bisma sudah hengkang menuju kantor dulu, ia berusaha menjadi pribadi yang gila karena kematian puterinya. Memang ia terpuruk, ibu mana yang siap dan rela menerima puterinya meninggal dengan cara mengenaskan. apalagi pelakunya adalah orang terdekat.
Klik
__ADS_1
File sudah selesai terdownload. Giliran matanya yang siap membaca file tersebut.
“Hah!!” Ucapnya, matanya membulat sempurna membaca isi file yang memampangkan foto di sana.
“Apa-apaan ini!” Linda tak percaya akan fakta yan ada di depan matanya.
“Bisma, bagaimana bisa, kau...” Bibirnya tak sanggup lagi berucap, membeku hanya membaca informasi itu.
“Kau tahu tentang kelakuan ayahmu?” Duga Linda melihat banyak foto Bisma melalui pengawalnya yang mengintai aktifitas ayah brengseknya itu.
Bahkan di salah satu laporan pernah menyatakan jika, Bisma sempat melakukan peretasan pada sistem ayahnya melalui salah satu hacker terbaik, tapi ibarat kata, Suprapto sudah mendesain perusahaannya memiliki dinding tebal yang sulit dirobohkan, bahkan tergores saja tidak bisa, maka bagaimana mungkin Bisma menghancurkan perusahaan Suprapto sementara pagarnya saja sulit ditembus.
“Dan kau,,, kenapa harus terlibat dalam permainan ayahmu, Bisma.” Ucap Linda meringis saat membaca banyak suruhan Bisma mati di tangan anak buah Suprapto, namun pria itu tidak tahu puteranya yang mengirim.
“Lalu...” mata Linda dibuat membeku lagi melihat beragam upaya Bisma mengacaukan bisnis ilegal Suprapto, memanggil kepolisian setempat pun sudah pernah, tapi upaya itu menguap di udara, karena sebegitu hebatnya pengaruh Suprapto membungkam petugas kepolisian. Linda saja yang sudah bertahun-tahun sulit menyentuh Suprapto, apalagi Bisma, yang hatinya lembut begitu.
Lalu, Linda beralih pada file berikutnya....
“Bisma.... kau...” mulutnya kembali tergugu membaca informasi yang tengah ia baca..
Menyesal? Mungkin, baginya, Bisma, pria yang dianggapnya memberikan cinta sepenuhnya untuknya dan dengan mudahnya melupakan kembarannya, ternyata tidak seperti itu nyatanya.
Beberapa foto memperlihatkan aktifitas rahasia Bisma, pria itu....
Pria yang mampu mengacaukan hati Linda, kini meremukkan juga hati wanita yang menjadi istrinya itu.
Rasa bersalah menyeruak semakin banyak dalam diri Linda.
__ADS_1
“Bisma, kau.... kau belum melupakan kembaranku rupanya.” Lirih bibir Linda saat tangkapan layar memperlihatkan Bisma yang sering mendatangi kediaman di mana Andriana di rawat. Bahkan tidak sekali, tapi sehari sebelum ini, pria itu baru saja dari sana setelah beralasan melakukan perjalanan bisnis ke London.
“Apa kau, masih mencintai Andriana, Bisma?”