
Setelah menarik pembungkus plastik yang menyelimuti seluruh kotak, Alexio membawa kotak tadi ke atas, kepalanya mengedar ke penjuru sekitar dan dipastikan tidak ada yang melihat ia segera menutup kembali kotak tadi lalu membawanya pergi dari sana. Tidak ada yang boleh tahu, karena setelah ia membaca awal diary ini mengisyaratkan jika Alexia menyimpan kunci besar di tulisan kali ini.
“Mau kemana, Al?” Linda yang melihat pergerakan buru-buru dari Alexio mneghentikannya.
“Hmm, ak-aku ada urusan sebentar ma. Nanti aku ke rumah kalau sudah selesai.” Jawab Alexio tanpa menunggu respon ibunya dan terus berjalan keluar dari bangunan kediaman lama mereka.
“Kenapa sayang?” Bisma dari arah tangga penasaran dengan perbincangan keluarganya.
“Alexio ada urusan, jadi kita pulang sekarang?” jawab Linda dan diakhiri dengan kalimat tanya juga.
“Ayo, kita akan mengadakan peringatan kematian Alexia nanti malam.” Bisma segera menggandeng Linda yang sudah menantinya di bawah tangga. Rumah pun kembali sunyi, sejak kejadian Alexio teridentifikasi skizofrenia, mereka tersentil kembali ke rumah ini, takut melupakan kemalangan puteri mereka dengan memori indah setelah itu.
Sementara Alexio, ia memburu sepeda motornya menjauh hingga ke tempat di mana ia bisa menyepikan dirinya.
Danau.
Langkah tergesa-gesa menunjukkan jika ia sudah tidak sabaran dengan benda yang membuat degub jantungnya tidak sedikitpun berdetak pelan sampai tiba di danau.
“Alexia, apa maksudmu dengan ini..” mata Alexio memanas saat tangannya menggenggam diary merah muda yang ia temukan di halaman belakang rumah lama mereka. Atas dasar apa Alexia menulis di diary yang sama namun pengantar pertamanya adalah tertuju atas nama Alexio semua.
Slasshh
Lembaran kertas yang masih terjaga bentuknya itu memang belum termakan usia walau terkubur lama di dalam tanah, Alexia membungkus kotak kayu dengan plastik tebal, seolah sudah mengantisipasi dampak kelembaban tanah akibat hujan yang merembes dan merusak kotak berikut isi di dalamnya.
7 Agustus 2014
Al, kata kakek, kalo aku gak mau kasih jantung aku ke kamu
Nanti kamu bisa mati
Dan kakek akan ambil jantung mama untuk gantinya
Alexio membaca random, baru satu tanggal saja sudah menguras emosinya
14 September 2011
Pak Roni tidak pernah pegang-pegang aku
Tapi kata kakek, aku harus ngomong kalau Pak Roni jahat
Kalau aku tidak tulis begitu, kakek akan misahin kita, Al
Aku takut
Cepat pulang
Deg!!!!
21 Oktober 2013
Kakek kurung aku di kamar mandi
__ADS_1
Kemarin aku disuruh buka baju sama kakak-kakak nakal
Aku takut Al
28 Mei 2012
Aku sembunyi di dalam lemari
Tapi ketahuan sama om-om jahat yang waktu itu mau cium aku
Tapi aku ditolong pak Roni
Al pulanglah
Alexio dengan mata menyala membolak-balikkan lembaran diary itu tak sabar, banyak tulisan yang berbeda di sini, kenapa Alexia menulis dua hal bertentangan.
2 November 2011
Kata kakek, wajah aku mirip sama orang yang dibenci kakek
Makanya aku dibenci juga
Setiap hari kakek akan menyuruh bibi yang jaga aku untuk mengurungku
Memberi nasi dan lauk dingin
Kalo aku lapor, kamu tidak akan pulang kata kakek
Kata Pak Roni aku jangan takut, ada dia yang temani aku
Tapi Pak Roni kan tidak selalu di sini, Al
Dan yang jahat sama aku banyak
Aku takut, Al
Kemarin aku disiram air kotor sama bibi rumah ini
28 November 2014
Al, Pak Roni bilang, dia akan laporin kejahatan kakek ke polisi
Dia ada bukti, dan aku juga di kasih dalam bentuk pena
Aku gak tahu apa itu
Aku takut Al, setiap hari kakek selalu marahin aku di telpon
Bilang aku harus nurut, kalau gak mau kalian pergi ninggalin aku.
Terputus di sana....
__ADS_1
Dan Alexio teringat akan sesuatu yang dikatakan Alexia, pena katanya tadi?
Di tengah kemarahan Alexio akan curahan hati Alexia dalam diary itu. Ia mencari benda yang dimaksud. Pena!
Ketemu! Memang pena, bentuknya pun tidak ada yang beda, ada 5 warna yang mengitari sebagai pilihan tinta yang akan digunakan, satu persatu ia tekan hingga ketika stop di warna merah, bukan ujung mata tinta yang keluar melainkan...
“Kau tahu, gudang senjata yang ada di daerah X itu akan dijadikan markas kita, sementara yang lain sebagai kamuflase saja. Lalu tempat perdagangan orang tempatkan di sana juga, buat bunker agar tidak terendus siapapun. Lalu dengan perdagangan organ letakkan di bunker, para anak-anak miskin itu yang akan jadi ladang pendonornya. Sayang sekali tidak ada yang cocok dengan jantung cucuku.”
“Lalu bagaimana dengan nyonya Linda, tuan? Anda sudah tahu bukan jika ia adalah kembaran Andriana.”
“Jika aku tahu dari awal dia adalah saudara jalaang itu, tidak akan aku izinkan sama sekali. Mana anaknya mirip sekali dengan wajah ketika ia belum oplas. Membuatku semakin jijik memandang cucuku itu.”
“Lalu apa yang harus kita lakukan? Sepertinya Nyonya Linda memang sengaja masuk ke keluarga anda, tuan.”
“Heh, dia tidak akan bisa menyentuhku, beri dia pelajaran, aku sebenarnya sulit menerima Alexio, tapi wajah anak itu mirip sekali dengan mendiang istri serta Bisma, jadi bisa aku pertahankan sebagai pewarisku. Tapi tidak bagi cucu satunya, dan ibunya juga. Jadi buat seolah mereka berdua mati karena kejahatan pria yang menjadi guru cucuku itu.”
“Maksud anda? Kita akan membunuh mereka?”
“Iya, dengan begitu aku tidak perlu melihat bayang wanita itu dalam wajah Alexia, berikut Linda juga yang hartanya bisa aku kuasai juga sekaligus. Maka dari itu, susun rencana dan buat seolah guru itu yang menjadi dalang di sini.”
“Ketika mereka diambang mati, bawa jantung Alexia untuk dimasukkan dalam tubuh Alexio, aku akan meminta dokter Ladh melakukannya.”
Di dalam rekaman itu sepertinya Suprapto tengah melakukan perbincangan dengan salah satu anak buah kepercayaannya. Entah bagaimana Roni bisa mendapatkan rekaman ini, sepertinya pria yang menjadi guru les Alexia itu tahu sepak terjang kakek Alexio.
“Sialan! Kau merencanakan kejahatan pada cucumu sendiri, hanya karena benci dengan wanita yang tidak ada hubungan kesalahan dengan kami.” Geram Alexio menggenggam erat pena itu, nyaris menghancurkan bukti pentingnya.
“Hai Al.” Satu suara menyapa telinga Alexio, ia menoleh, mendapati Xia duduk di sisi kirinya.
“Xia? Kau... kau nyata?” tanya Alexio bingung, sudah lama ia tidak melihat wujud gadis kecil ini.
“Hmm, tentu, kau tahu bukan jika aku nyata.” Jawab Xia tersenyum, bahkan ia menyentuh lembut punggung tangan Alexio
“Kau bisa merasakan, bukan?” tanya Xia dan diangguki Alexio yakin, “Iya, kau memang nyata, Xia. Mereka saja yang salah.” Ujar Alexio
“Hmm.” Deham Xia
“Dan.... satu lagi Xia....” Alexio menatap Xia intens dan dibalas tatapan lembut
“Berapa usiamu? Kenapa kau tidak bersekolah?” tanya Alexio
“Aku berusia 11 tahun, Al. Dan aku homeschooling, bukannya kau tahu itu, bukan?” jawab Xia yang mampu menyurutkan wajah Alexio menjadi dingin, ia melepas tangan Xia dari punggung tangannya. Menggelengkan kepala, kemudian menarik nafas pelan dan dihembuskan sembari mata dipejamkan rapat.
“Kau tidak nyata, ini pasti ada hubungannya dengan traumaku.” Lirih Alexio
“Al.” Suara lembut menyapa telinga Alexio, namun bukan Xia pelakunya.
“Alexia?” gumam Alexio membuka mata, dan benar, itu bayang Alexia, kembarannya mengganti bayang Xia sebelumnya yang hilang entah kemana.
“Tolong, pecahkan alasan kematianku, Al. Kau pasti bisa menemukan jawaban kenapa aku bisa meninggal dengan tragis dan tidak adil.” Lamat-lamat, suara itu hilang bersamaan bayang Alexia meredup di telan udara dingin pagi itu.
“Alexia....” panggil Alexio
__ADS_1
“Alexia!!!!!!!”