
Sayup-sayup indera pendengaran Alexio menangkap percakapan di sekitarnya...
“Baiklah dok, terima kasih atas bantuannya.” Itu suara ayahnya.
“Sama-sama Bisma. Jangan terlalu formal kalau hanya berdua.” Sahut suara lain yang Alexio tidak kenal.
Pintu tertutup, bersamaan dengan mata Alexio terbuka beserta lenguhan suaranya.
“Eunghhh”
Mendengar suara puteranya, Bisma segera mendekati brangkar tempat Alexio berbaring.
“Al...” panggil Bisma mendekat.
“Papa?” sahut Alexio yang diangguki Bisma segera.
“Aku di mana pa?” penciuman Alexio merasa jika ia berada di tempat yang banyak bau medis.
“Aku di rumah sakit?” sambungnya bertanya,.
“Iya, kamu pingsan di sekolah.” Jawab Bisma prihatin.
“Pingsan?” lagi-lagi Alexio bertanya.
“Oh, Xia, mana Xia, tadi dia ke sekolah aku.” Alexio teringat sesuatu.
Ya, saat ia hendak menciumm Dira, ia melihat Xia menangis di belakang tubuh Dira, dan setelah itu ia tak sadarkan diri lagi.
“Xia? Alexia?” tanya Bisma memastikan tapi dijawab Alexio dengan gelengan kepala.
“Siapa dia? Siswa sana?” ulang Bisma bertanya yang digelengi lagi oleh Alexio.
“Baiklah, kamu istirahat dulu.” Pinta Bisma.
“Mama mana pa?” tanya Alexio tak menemukan jejak ibunya di ruangan ini.
“Ibumu sedang ada urusan sebentar, nanti kemari.” Sahut Bisma.
Bisma membiarkan Alexio kembali beristirahat.
Karena setelah ini, ia akan membuat puteranya menguras banyak energi.
Ya,,, ia berencana membawa Alexio ke psikiater.
Dirinya semakin mantap ketika kejadian malam itu.
FLASHBACK On
“ALEXIO!!!!” Bisma yang terkejut sontak memanggil Alexio dengan suara meninggi.
Hingga menggema di seantero bangunan itu.
Barry dan Andi pun begitu, mereka terkejut dengan Alexio yang saat ini duduk di hamparan karpet bulu, memegang sebuah buku, di tengah gelap, dan dengan tubuh terbungkus gaun anak perempuan. Yang melekat ketat di tubuhnya.
“Kamu ngapain, huh!!!?” Bisma segera berlari meraih sang putera yang melongo menatap kehadiran ketiga orang itu.
“Aku lagi sama Xia.” Jawabnya, menunjuk dirinya sendiri tanpa sadar. Padahal dalam Alexio, ia menunjuk sudut lain.
Mata ketiga tamu tak diundang itu sama-sama membulat sempurna.
Alexio yang berpenampilan konyol itu, menunjuk dirinya sendiri sebagai Xia.
__ADS_1
Gadis 11 tahun yang lebih pantas dipanggil bocah oleh mereka.
“Al...” Bisma merengkuh tubuh puteranya yang bingung dengan suasana aneh menurutnya.
“Kalian kenapa sih? Pada aneh.” Cetus Alexio menatap Barry dan Andi yang menatapnya iba.
“Xia.???” Alexio menggumamkan nama Xia dengan isakan pelan, lalu pingsan..
FLASHBACK OFF
saat itu, mereka tak membawa Alexio ke rumah sakit, mereka mengganti pakaian Alexio seperti semula dan menunggunya sampai sadar.
Tidak ada keanehan setelah itu, Alexio bersikap biasa saja.
Makanya, saat mendapat kabar puteranya kembali pingsan tapi di atap sekolah, membuat Bisma segera membawa puteranya ke rumah sakit.
Mungkin saatnya ia mengembalikan puteranya seperti dulu.
Ia takut akan semakin jauh.
Terlebih setelah berkonsultasi dengan dokter, memang keputusanya sudah benar. Alexio butuh tindakan saat ini.
Mengabaikan sayup-sayup nanti yang akan mencibir puteranya jika sampai orang-orang tahu.
“Pa,” Linda sudah masuk ke kamar puteranya.
“Kamu kenapa ke sini, bukannya...” ucapannya terputus begitu saja begitu Linda langsung menyela.
“Sttt, aku udah tenang pa. Udah baik-baik aja.” Jawab Linda cepat.
Bisma memeluk tubuh Linda, tadi saat mereka mendengar kabar Alexio yang kembali pingsan, Linda langsung pingsan karena pasti kali ini sesuai janji suaminya akan membawa Alexio ke rumah sakit dan menjalani terapi,.
“Pa, apa mungkin anak kita.” Linda mulai terisak, walau pelan tapi suara itu cukup terdengar.
Bisma mengangguk.
“Hanya ini yang bisa kita usahakan untuk kebaikan putera kita, ma.” Sahut Bisma berat hati.
Ia juga tak tega, tapi bagaimana lagi, Alexio perlu dibantu dan diperbaiki mentalnya.
Mereka duduk di sofa yang cukup berjarak dari brangkar Alexio. Bisa dipastikan obrolan mereka tak akan sampai ke telinga Alexio.
“Kapan semuanya dimulai, pa.” Tanya Linda mengepalkan tangannya, menahan gemetar dan keringat yang sudah membasahi telapak tangannya.
“hari ini ma. Hari ini kita mulai.” Jawab Bisma.
“Pa, mama mohon, jangan memaksa dan membuat anak kita seolah mentalnya tak sehat.” Ujar Linda memohon. Suaranya bergetar,
Bisma mengangguk. “Iya sayang. Kita akan tetap menghargai apapun itu, Alexio tak akan merasa dirinya dikekang.” Jawab Bisma memastikan.
Beberapa jam setelahnya,
Saat Alexio sudah dirasa cukup baik. Bisma memanggil dokter yang menjabat sebagai psikiater terbaik di rumah sakit Ladh ini.
“Siang Al.” Sapa dokter yang bernama Doni, bersama dua asistennya.
“Siang juga dokter.” Jawab Alexio datar.
“Panggil saya, Alexio, jangan Al. Saya tak suka.” Sambung Alexio.
Ia memang tak mau dipanggil dengan AL,
__ADS_1
“Oh maaf, baiklah Alexio.” Ralat dokter Doni dengan senyum ramahnya.
Dua asisten yang tadi berdiri di belakang dokter Doni sudah menghilang, Bisma meminta hanya dokter Doni saja yang boleh memeriksa sang anak.
Tentu untuk menjaga perasaan Alexio.
“Alexio, boleh saya tanya sesuatu.” Sembari berpura-pura memeriksa infus yang tergantung, dokter Doni siap memulai pemeriksaan pasiennya.
“Silahkan dokter.” Jawab Alexio membolehkan.
“Kata ayahmu, sudah dua kali kamu pingsan?” tanya dokter Doni, ramah sekali sikapnya.
Alexio menggaruk tengkuknya, lalu menjentikkan ujung jari satu sama lain.
“Alexio?” Panggil Dokter Doni melihat pasien mulai bertingkah.
Bisma dan Linda pun saling menggenggam tangan satu sama lain untuk menguatkan diri.
“Alexio.” Ulang dokter Doni.
“Ya, dokter, maaf.” Sahut Alexio
“Kamu sudah dua kali pingsan?” tanya Dokter untuk kali sekian.
Alexio menggeleng. “Tidak, saya tidak pernah pingsan.” Jawab Alexio membantah
“Lalu, saat itu kamu kemana?” tanya dokter Doni memperhatikan gurat ekspresi Alexio.
“Saya tetap sadar, bahkan berbincang dengan Xia.” Jawab Alexio
Jawaban Alexio memantik helaan nafas frustasi dan pejaman mata kedua orang tuanya.
Jelas-jelas Bisma melihat sendiri puteranya pingsan, dan ada gumaman nama Xia sebelum terpejam.
“Xia? Boleh saya tahu siapa Xia itu?” perlahan Dokter Doni masuk ke inti obrolan.
Alexio kembali bertingkah, menjentikan ujung kuku, jempol dan telunjuk diadu.
Matanya mendadak liar, seolah ada yang dicari, hingga sorot matanya berhenti di cermin yang menampakkan dirinay sendiri.
“Apa ada yang kamu lihat, Alexio?” tanya dokter Doni bersabar.
Alexio mengangguk.
“Siapa?” tanya dokter Doni pelan.
“Xia.” Jawab Alexio.
Semua yang mendengar sontak mengedarkan pandangan ke penjuru kamar VVIP itu. Tak ada, hanya ada 4 orang di sini.
Mata mereka mengikuti arah pandang Alexio...
“Boleh saya tahu, di mana Xia, Alexio?” dokter Doni masih setia bertanya.
Alexio menunjuk cermin. Dan bersamaan semua mengikuti bayang yang ditunjuk Alexio. Hanya ada dirinya dan dokter Doni di dalam cermin.
“Yang mana Xia, kalau boleh tahu, Alexio?” dokter Doni sudah menangkap tujuan Alexio, hanya memastikan dari jawaban pemuda itu untuk memutuskan tindakan berikutnya.
“Yang ada di samping dokter, itu Xia.” Jawab Alexio....
Bayangan yang ia tunjuk, jelas adalah dirinya sendiri, karena yang tepat berada di sisi itu hanya Alexio, tak ada yang lain.
__ADS_1