Alexio "Diary Merah Muda"

Alexio "Diary Merah Muda"
Bab 145


__ADS_3

“Lama-lama kita disingkirin dari posisi kita, Bar, kalo ini orang udah sering dateng ke perusahaan.” Andy kaget dengan kemunculan Alexio yang sudah duduk di kursi kebesaran bertulis CEO- Andy Lau dengan kakinya yang diangkat ke atas meja.


“Betul itu, jadi gembel lah kita.” Tambah Barry memberi tampang sedih.


“Heleh jadi gembel, aset kalian sudah banyak selama kalian menjalankan perusahaanku.” Alexio mencibir kedua sahabatnya yang duduk di sofa dengan kaki diangkat ke atas meja juga.


“”Lagian ngapain sih kemari, baguslah kau berkelana ke mana-mana, cukup terima uang transferan saja di rekeningmu.” Andy menggerutu dengan bibir bersungut


“Iya, betul itu.” Barry selalu membenarkan apa yang keluar dari mulut Andy.


“Ya Tuhan! Jika orang melihatnya, aku pasti dikira kolonial yang menyerap darah sahabatnya sendiri.” Erang Alexio menggelengkan kepalanya akan tingkah berlebihan sahabatnya itu.


“Jadi kau bakalan mulai kerja di perusahaan ini? dan kami berdua akan di depak gitu?” benar-benar jago mendramatisir jadi peran teraniaya ini sih Andy. Meski mereka tidak ada yang menanggpinya serius.


“Gila kau, Andy.” Alexio melempar pena ke arah Andy hingga mengenai kaki sahabatnya itu.


“Sakit setan!” maki Andy


“Wah, kau berani mengatai bosmu, Andy.” Barry mengangakan mulutnya


“Al, pecat saja dia, dan biarkan aku menggantikannya.,” Barry bangkit dan berjalan mendekati meja untuk mengambil nama bertuliskan Andy tadi.


“Asik, ini bakalan di ganti dengan namaku.” Selorohnya dengan sumringah


“Wahhhh kau pintar berkhianat rupanya.” Andy ikut berdiri dan memiting kepala Barry lalu mereka pun tertawa bersama.


“Iya kan saja, Al. Ku rasa Barry mau mencoba jadi CEO sepertinya.” Andy menaik turunkan kedua alisnya di hadapan Barry.


“Eh, eh, tunggu, tunggu. Enak aja, gak ah, becanda tadi.” Barry segera meletakkan kembali nama Andy seperti semula. Dan menepuk pelan kedua pundak Andy bak sedang membersihkan kotoran yang hinggap di sana.


“Eh jangan begitu, merendah sekali sih. ACC kan Al, aku akan menjadi asistennya saja.” Andy lagi-lagi meminta Alexio menuruti kehendak Barry tadi.


“Awas kalo di ACC, aku pecat kalian jadi sahabatku.” Ancam Barry pada Alexio dan Andy


Sontak mereka berdua tertawa mendengar ucapan Barry yang menolak posisi CEO di perusahaan milik Alexio.


“Kau itu ngapain ke perusahaan, tumbenan dateng.” Andy menanyakan maksud kedatangan Alexio.

__ADS_1


“Kangen aja sama kalian berdua.” Kekeh Alexio membuat Andy dan Barry geli sendiri mendengarnya.


“Untung aku dan Barry akan menikah dalam waktu dekat ini. Jika tidak, pasti semua orang akan bilang kita memiliki hubungan sesama jenis.” Ujar Andy bergidik membayangkannya.


“Betul. Makanya buruan cari pasangan, Al.” Sindir Barry dengan tawa membusungnya. Merasa senang menggoda Alexio.


“Setan kalian berdua ya.” maki Alexio yang memang kalah dari keduanya.


“Mantan udah sendiri ya embat lagi lah.” Balas Barry yang tahu perihal Dira sudah putus dari Dome.


“Jangan sampe ditikung orang lagi.” Timpal Andy memanasi


“Ck, kalian ini, lagi usaha tahu!!!” Ujar Alexio kesal


“Usaha? Gimana, coba kami mau tahu.” Serempak, Andy dan Barry sama-sama mengucapkan kalimat serupa.


“Ya pokoknya aku usaha.” Alexio sulit mengatakan bentuk usahanya, karena memang belum dimulai sejak ia tahu Dira salah paham akan dirinya. Ia hanya sibuk mengejar saja.


“Dasar si polos berandalan ini.” Cibir Andy


“Kau tahu bro.” Alexio menegakkan tubuhnya, kaki sudah ia turunkan.


“Rupanya Dira mengira jika Larissa adalah kekasihku.” Jawab Alexio tertawa girang


Andy dan Barry saling bersitatap, “Maksudnya? Kenapa dia bisa bilang begitu?” hanya Andy yang bertanya. Wanita yang disebut oleh Alexio adalah miliknya, calon istrinya, jelas saja dirinya merasa tersengat.


“Kau ingat waktu bertemu denganku di restoran malam itu?” Alexio mengajak Andy mengingat petemuan mereka di restoran


“Hmm, iya, di saat Dira juga putus dengan bocah sableng itu, kan.” Angguk Andy


“Nah sepertinya Dira melihatku berbicang dengan wanitamu.” Jelas Alexio tersenyum senang


“Dira cemburu maksudmu? Dan mengira kau bersama calon istri Andy adalah sepasang kekasih.” Barry yang mencoba merangkai maksud Alexio.


“Iya, jadi aku kira dia menghindariku kenapa, rupanya ia mengungkit malam itu. Dipikirnya aku memiliki kekasih dan juga menginginkannya. Bahkan ia menyebutku brengsek.” Tawa Alexio memenuhi ruangan Andy.


“Sialan, malah ketawa, itu calon istriku, setan.” Andy melempar remasan kertas ke wajah Alexio, ia kesal karena Larissa disangkut pautkan dalam hubungan Alexio.

__ADS_1


“Ayolah, aku hanya sebentar saja meminjam nama calon istrimu itu, Andy. Karena sampai kapanmu aku tidak bisa pergi dari Dira.” Alexio mencebik pada Andy.


“Jadi, kau memiliki rencana apa setelah sengaja melakukan semua ini pada Dira, jangan lama-lama, ingat, aku akan segera menikah.” Ucap Andy serius, pun Barry menunggu tujuan Alexio melakukan permainan ini pada wanita yang disukainya sendiri.


“Kemari, aku akan mengungkapkan tujuanku melakukan hal itu pada kalian, dan aku harap kalian memaklumi, apalagi kau nyet.” Mata Alexio mengarah pada Andy pada kata terakhirnya.


Baik Andy dan Barry mengangguk setelah mendengar ucapan Alexio mengenai rencana putera Bisma itu.


.


.


.


“Hai manis.” Alexio gencar bermain dengan Dira. Bahkan ia dengan sengaja mengikuti Dira atau mendatangi ruangan wanita itu ketika dinas di Rumah sakit.


“Hei, kenapa semakin hari kau semakin menggemaskan saja, Dira. Ayolah, bukankah kita adalah sepasang kekasih yang memang cocok kala itu. Jadi, mari kita ulangi lagi momen bahagia itu.” Alexio sibuk merangkai kalimat yang membuat Dira jengah mendengarnya.


Apa katanya tadi, mengulangi momen kebersamaan mereka dulu? Sebagai sepasang kekasih?


“Dasar gila!” itu sahutan Dira atas ucapan Alexio


“Hehe, jangan berucap begitu, kau tahu kan apa yang akan dilakukan seorang pria ketika ia menggila karena wanitanya.” Kekeh Alexio


“Jangan dekati aku, kau harusnya tahu diri sudah memiliki wanita lain, aku tidak mau menjadi mainanmu atau alasan menyakiti wanita lain. Jadi jangan egois, urus dulu hubunganmu.” Desis Dira meninggalkan Alexio


“Dira, ayolah, aku bisa dengan mudah meninggalkan Larissa, bukankah kita memang saling mencintai.” Mendengar ucapan Alexio, rasanya gatal sekali Dira ingin menggampol mulut pria itu, mudah sekali ia mengakhiri hubungan setelah menemukan tujuannya.


“Kau memang brengsek, semudah itu kau menyakiti hati perempuan. Wajar jika dulu kau dengan mudah meninggalkanku, bahkan.....” Dira menggantung ucapannya


“Bahkan tanpa mengucapkan kata sama sekali. Tapi dengan santainya kau juga memberi perhatian dan bantuan setiap aku mengalami kesulitan.” Ungkit Dira


“Kau datang semaumu sendiri, tapi tetap tidak pernah mengatakan alasan meninggalkan aku waktu itu.” Terus saja, mumpung Dira difasilitasi mengomel.


“Dan sekarang dengan gampang kamu bilang, ayo kembali kayak waktu itu.” Kecam Dira


“OGAH!” dira mengakhiri pidatonya dengan satu kata itu lalu meninggalkan Alexio yang diam saja melihat kepergian puteri Kairan Ladh hingga hilang dari pandangannya.

__ADS_1


“Aku tidak sabar melihat ekspresimu nanti, sayang.” Ucap Alexio.


__ADS_2