Alexio "Diary Merah Muda"

Alexio "Diary Merah Muda"
Bab 146


__ADS_3

Sejak pertemuan terakhir antara Alexio dan Dira di pelataran parkir Ladh Hospital waktu itu, keduanya tidak lagi berjumpa sama sekali. Alexio disibukkan dengan proyek besarnya dan juga ia yang membantu ayahnya mengurus perusahaan Suprapto yang diambil alih Bisma.


Karena rupanya perusahaan itu adalah milik orang tua Bisma yang diambil Suprapto. Meskipun disatu sisi Bisma marah atas sikap serakah pria yang tubuhnya sudah dihibahkan pada warga lautan, tapi Bisma tidak bisa menutup mata bahwa Suprapto juga mengembangkan perusahaan itu menjadi skala internasional dan disegani banyak pihak.


Dan bersama keluarga yang terbentuk harmonis lagi, Bisma, Linda dan Alexio saling bersinergi mengurus perusahaan dengan bantuan asisten mereka tentu saja, karena mereka tetap memiliki waktu berkualitas untuk keluarga mereka.


“Akhirnya aku memiliki waktu lapang setelah ini, tubuhku rasanya mau remuk.” Alexio merenggangkan kedua tangan dan memijit tengkuknya yang terasa pegal.


“Jika bukan karena sahabat saja, aku enggan membantu pekerjaannya.” Gerutu Alexio mengingat permintaan Andy yang hari ini akan mengucapkan janji suci bersama wanita pilihannya.


“Sabar bro, nanti kami akan membantumu juga di saat kau akan menikah nanti.” Ujar Barry yang berdiri di sebelahnya.


Barry dan Alexio menatap Andy yang selesai mengenakan jas hitamnya, terlihat gagah terbalut kain yang begitu pas dengan tubuh proporsionalnya.


“Ternyata kau sudah dewasa sayang.” Barry mengelus punggung Andy


“Najis, jangan sentuh begitu, kau membuatku jijik.” Andy menggerakkan tubuhnya, merasa geli dengan sentuhan Barry.


“Ayolah Andy, aku hidup bersamamu lebih lama daripada Larissa, dan kau sekarang mencampakkanku.” Dengan wajah sok teraniayanya, Barry mendramatisir keadaan.


“Aku normal, Barry, aku lempar ke luar gedung kau nanti.” Omel Andy dengan raut kesalnya dengan sikap Barry yang menggodanya sejak tadi.


“Sudahlah, Barry. Tidak lihatkah kau betapa pucatnya wajah kesayangan kita itu.” Alexio tak tinggal diam, ia bukannya menghentikan tapi ikut menggoda.


“Kalian akan merasakan apa yang aku rasakan saat ini, lihatlah, aku akan mengganggu hari-hari kalian saat itu nanti.” Sembur Andy dengan kalimat ancaman di akhirnya.


“Kalau begitu kau tidak akan masuk dalam undanganku saja nanti.” Sahut Barry menanggapinya enteng.


“Setan kalian berdua.” Sergah Andy kesal, dan tawa keras Alexio dan Barry memenuhi ruang ganti pria itu.


Di gedung yang sama, Andy melaksanakan ikrar sucinya berikut menggelar resepsi di hari yang sama malamnya.


Dan kini saatnya resepsi itu di mulai...


Ballroom mewah yang mampu menampung banyak orang itu, sudah dihias dengan indah, berbagai tamu undangan datang dari berbagai kalangan, termasuk alumni sekolah mereka dulu, juga turut diundang.


Di saat acara resepsi sudah berjalan santai, seorang wanita bergaun biru laut semata kaki dengan punggung sedikit terbuka, heels biru tua menutupi kaki indahnya, tas kecil berwarna sama menggantung di sela tangan kirinya, rambut di kuncir dan anak rambut dibiarkan tergerai di sisi masing-masing, aksesoris sederhana berupa anting dan kalung kecil berada di tempatnya menambah keindahan si pemiliknya.


Dira Kairan Ladh.


Tampilannya sederhana, tapi tidak menutupi decak kagum kaum adam yang menatap dirinya.


Langkahnya yakin bersama pria tampan di sebelahnya, mantan kekasihnya yang sengaja dibawanya agar tidak terkesan miris jika ia datang sendirian.

__ADS_1


Apalagi ini adalah pernikahan Andy, sahabat dari.....


“Aku ke belakang dulu ya, perutku tidak enak.” Dome melepas gandengan tangan Dira, dan pergi ke toilet.


Dira hendak melangkah kearah lain, tapi satu suara menahan kakinya...


“Dira!!!” dira menoleh saat namany dipanggil


Deg!


Jantungnya seketika berhenti melihat sekumpulan orang yang satu diantaranya memanggilnya tadi.


Kakinya berat untuk mendekat, tapi Andy tak berhenti mengibaskan tangan memanggil Dira kearah mereka. Dan mau tak mau Dira harus mendekat.


“Hai Dira.” Terasa lemas lutut Dira mendapat sapaan itu, bahkan suara itu terlalu lembut baginya.


“Hai juga... emmm.” Balas Dira.


“Larissa, namaku Larrisa.” Sahut Larissa dan diangguki Dira


“Hai.” Yang menyapa adalah orang yang menjadi alasan Dira malas datang kemari.


Alexio.


Apa? Mendengar banyak tentangnya?


Dira meremas gaunnya tanpa sadar saat Larissa mengucapkan kalimat itu.


‘Apa mereka sering membicarakanku di belakang?’ batinnya terasa sesak, matanya bersirobok dengan Alexio yang tampan malam itu.


Tuksedo yang melekat di tubuhnya sangat pas sekali, terlebih pas lagi dengan wanita yang berdiri di sampingnya.


Larissa, ya namanya Larissa. Dira merasa wanita itu memang serasi berdiri bersama Alexio. lihatlah penampilan keduanya.


Alexio dengan tuksedonya, sementara Larissa mengenakan gaun yang tak kalah indah serta mewah. Belum lagi aksesoris yang mengitari tubuhnya tampak membuatnya semakin bersinar.


Dira rasanya ingin tenggelam saja ke dasar bumi dengan fakta betapa percaya dirinya ia akan perasaan pria itu untuknya. Bahkan ia masih ingat pertemuan mereka terakhir kali.


‘Ini yang katanya mau bersamaku, dan meninggalkan wanita sesempurna ini? munafik sekali. Dasar brengsek.’ Umpat Dira dalam hati.


‘Lihatlah, jika memang menginginkanku, kenapa masih bersama wanita ini. dasar gila, Alexio brengsek.’ Lanjutnya membatin.


Dira sudah tak kuat berada di sana, matanya bahkan liar mencari keberadaan Dome yang belum juga menghubunginya.

__ADS_1


“Kau kenapa Dira?” Barry yang bertanya, ia datang bersama calon istrinya. Dan itulah yang membuat Dira begitu merasa menyedihkan berada di sana. Karena hanya ia yang sendirian tanpa pasangan. Apalagi mantannya tepat berdiri di seberangnya, yang sejak tadi memandangnya diam-diam.


“Aku ke toilet dulu ya. maaf semuanya.” Larissa tiba-tiba meminta izin pada mereka semua.


“Dan, dan mungkin aku,, aku juga akan langsung pulang.” Menatap Andy, Dira meminta maaf melalui sorot matanya.


“Kok pulang sih.” Andy terlihat kecewa mendengarnya.


“Aku tadi lupa ada,, ada keperluan.” Ucap Dira gugup.


“Selamat ya untuk pernikahanmu, Andy. Juga Barry yang akan segera menikah.” Dira melihat Andy dan Barry bergantian.


“Dan untukmu Al, selamat juga atas hubunganmu. Semoga kau dan Larissa menjadi pasangan yang berakhir dengan pernikahan juga seperti dua sahabatmu ini.” Dira beralih pada Alexio, menatap pria itu dengan tangan yang gemetar, bahkan Dira menggigit bibirnya saking kesulitan dan sesak mengatakannya.


Alexio diam mendengar ucapan Dira, tak ada gambaran ekspresi apapun atau tanggapan sama sekali.


“Al.” Andy menatap lama Alexio, jelas Andy menjadi gerah, karena yang didoakan Dira agar bersanding dengan Alexio adalah istrinya yang masih di toilet.


“Aku mau ke belakang.” Tanpa membalas ucapan Dira dan Andy, Alexio menolak langkahnya meninggalkan tempat itu, semakin dirasa sesak oleh Dira.


Ya Tuhan, air matanya sudah bersiap turun atas sikap Alexio tadi.


“Aku pulang ya, salamkan pada istrimu, maaf tidak bisa lama.” Dira berusaha menahan agar isaknya tak terjun bebas. Ia harus segera pergi dari sini jika tidak mau mempermalukan dirinya.


“Eh Dira, tunggu bentar, kita foto aja dulu ya, aku tidak mau ditolak.” Andy tegas meminta hal itu.


“Eh, tap—tapi..” Dira menolak tapi Andy menggeleng sebagai gantinya.


“Naiklah dulu, aku akan menjemput istriku.” Andy pun tak butuh persetujuan Dira segera pergi dari sana, meninggalkan ia dengan Barry dan calon istrinya yang canggung seketika.


“Aku, aku,.. pamitkan pada Andy ya Barry.” Dira sudah tak nyaman di sana.


“Duh, janganlah, nanti aku pula yang kena semprot.” Barry enggan membantu Dira.


“Please.” Dira memohon dan Barry hanya diam.


“Ya sudah, hati-hati ya.” ucap Barry dan segera dibalas Dira dengan anggukan setelah tersenyum pada calon istri Barry.


Dira tak sabar keluar dari ruangan yang tampak menyesakkan baginya, tapi baru saja beberapa langkah kakinya menjejak lantai dengan karpet motif turkey itu, lampu padam


Debbb!!!


“Perhatian.. perhatian...” sebuah suara menggeret tubuh Dira untuk berbalik.

__ADS_1


__ADS_2