Alexio "Diary Merah Muda"

Alexio "Diary Merah Muda"
Bab 127


__ADS_3

Atas saran dari Ladh, mereka pergi terpisah untuk menghindari kecurigaan dari Suprapto apabila mereka pergi bersamaan. Karena meski sudah tua renta, Suprapto bukan lawan yang bisa diremehkan.


Jika Bisma mengambil jalur ke Eropa dengan alasan perjalanan bisnisnya bersama Linda, Hiro kembali ke Jepang sebagai alasan ke negaranya, maka Alexio mengambil jalur ke Singapura langsung dengan dalih bertemu sahabatnya yang melakukan kerjasama bisnis mengatas-namakan dirinya.


Dan benar apa yang diduga oleh Kairan Ladh, Suprapto memang mengawasi semua yang menjadi musuhnya.


“Ini tuan laporan yang anda minta.” Anak buah Suprapto menyerahkan ipad berwarna hijau pada bosnya. Suprapto menelisik file sesuai nama yang bersangkutan, antara lain Ladh, Linda, Hiro.


“Jadi perempuan jalaang itu tengah bersama puteraku di Prancis? Dasar tidak tahu malu.” Maki Suprapto melihat kebersamaan sepasang suami isteri itu di beberapa momen pertemuan Bisma dengan kliennya.


“Dan Ladh berada di rumah sakitnya? Lalu bajingann Hiro kembali ke negaranya?” Tanya Suprapto.


“Iya tuan, saya sedikit memberi gangguan pada bisnisnya sehingga bos Yakuza itu kembali ke negaranya.” Sahut anak buah Suprapto.


“Tumben sekali dia mau turun tangan untuk urusan sekecil itu. Seperti tidak ada pekerjaan lain saja.” Cibir Suprapto merasa ada yang aneh di sini.


“Tidakkah ada yang aneh menurutmu?” tanya Suprapto, instingnya memang sekuat itu. Tidak heran pekerjaannya mampu bertahan sampai beberapa dekade.


“Menurut anda aneh seperti apa tuan?” tanya balik anak buahnya tak paham.


“Aku merasa ada yang aneh di sini, tapi dari sisi mana aku tidak tahu.” Jawab Suprapto, ia tetap merasa ada yang tidak beres, seakan ada bahaya tengah mengancamnya.


“Kenapa tidak kita eksekusi saja sandera kita tuan? Tidakkah ini sudah cukup lama.” Ujar anak buahnya memberi solusi.


“Jalanng itu belum memberi tahu keberadaan di mana ia menyimpan file itu. Jika sampai ada yang menemukan, maka semua bisnis dan diriku akan tenggelam bersamaan.” Sembur Suprapto.


“Lalu, tidakkah bagus jika wanita itu mati saja agar semua terkubur dan tidak ada yang tahu akan file itu tuan?” ujar anak buahnya kembali menyarankan agar melenyapkan nyawa Andriana.


Suprapto mencerna saran itu, memang benar, tapi.. “Kau tahu, file yang mengungkap bisnis hitamku adalah salah satu bagian yang dirancang oleh wanita itu.” Tutur Suprapto


“Maka, apabila aku lenyapkan nyawanya, maka tidak mungkin jika setelah itu file lanjutan akan meluncur juga ke publik. Bodoh!” Sergah Suprapto pada anak buahnya.


“Aku curiga itu dilakukan kembarannya, Linda. Karena hanya dia yang mendendam parah padaku.” Lanjut Suprapto menduga yakin pelakunya adalah menantunya sendiri, istri dari putera tunggalnya.

__ADS_1


“Tapi, tenang saja, aku akan memberikan sedikit kejutan pada menantu kesayanganku itu. Mungkin hadiah kecil akibat perbuatannya menghancurkan usahaku.” Seringai iblis terbit di kedua sisi wajah Suprapto. Menjijikkan dan menyeramkan.


Sementara di Jakarta....


Motor besar berwarna merah maroon baru saja tiba di parkiran kampus. Seorang gadis yang mengenakan celana pendek di bawah lutut dengan kaus pendek berwarna sama yakni hitam dan dibalut jaket kulit berwarna coklat turun bersama pria yang tak kalah keren penampilannya.


“Inget, pergi ke kampus sama abang, pulang pun harus sama abang. Denger gak!?” Paul sudah memberi ceramah singkat pada adiknya yang baru menjejakkan kaki di parkiran.


“Iya bawel.” Sungut Dira pada abangnya yang sangat posesif.


“Jangan iya aja, denger dan patuhi.” Titah Paul tak mau dibantah.


“Iya, ihhh.” Merasa abangnya terlalu perhatian dan seposesif itu, Dira menghentak flatshoes-nya meninggalkan Paul yang menyusul di belakang.


“Jangan cepet-cepet adek abang yang manis. Tunggu abang yang tampan ini.” Dari belakang Paul masih saja sempat menggoda adiknya yang sudah malu karena banyak yang melihat mereka.


“Bawel. Sana pergi ke tempat sendiri.” Dira menoleh lalu mencibirkan lidahnya dan berjalan semakin cepat.


“Eihh, adekku tersayangg!!!” semakin lantang sudah suara Paul mengudara sampai ke telinga Dira. Dan kasak kusuk suara sumbang menyertai langkahnya.


Ya Tuhaaan mau banget punya abang kayak gitu


Paul itu cetakkannya di mana sih, mau pesen nanti


Dira yakin mereka iri atas sikap Paul yang demikian, tapi sumpah, Dira memang bersyukur juga sih tapi tidak juga sampai di depan khalayak ramai begini juga.


Malu!!!!


Kelasnya sudah di depan mata, artinya Dira bisa terbebas dari abang gilanya itu.


Greb!


“Eihh, cepet banget, kayak di kejer zombie aja.” Kekeh Paul menangkap pundak Dira lalu merangkulnya sayang.

__ADS_1


“Bang, aku ini udah gede, ihh. Sana sama pacar abang.” Usir Dira yang gemas akan sikap tengil abangnya ini.


“Ogah, mereka itu cuma maenan abang doang. Kalo kamu kan adek abang yang mesti abang jaga dan abang sayangi.” Balas Paul.


Plak!


“Sana kuliah, aku juga mau kuliah, bentar lagi dosenku dateng.” Dira mendorong tubuh atletis Paul agar menyingkir dari hadapannya.


Dira segera masuk tanpa memperdulikan Paul yang masih berdiri di ambang pintu. Tapi, langkahnya terhenti seketika saat matanya menangkap raut wajah semua mahasiswa yang satu kelas dengannya tampak pucat melihat kehadirannya.


“Mereka kenapa sih, kayak lihat hantu aja.” Gumam Dira melanjutkan langkahnya.


Brak!


Dira terjengkit kaget oleh suara di belakangnya.


“Paul!!!” Geram Dira melihat abangnya menggebrak meja yang ada mahasiswa duduk di baliknya.


“Kalian, inget apa kata gue! Berani menyentuh adek gue lagi, gak akan gue lepas kalian satu persatu, denger gak!!” Seru Paul menunjuk satu persatu mahasiswa yang mengangguk dengan wajah gemetar.


“Bang, jangan nakutin anak orang, buruan pergi sana.” Usir Dira gemas akan sikap arogansi Paul.


“Kasih tahu abang kalo mereka ngelakuin pembullyan lagi, dek.” Ucap Paul lembut. Lalu berubah sangar lagi ketika berhadapan dengan orang lain.


Dira cukup kaget dengan perangai kasar Paul yang baru ia lihat kali ini, karena sepanjang menjadi adiknya, belum pernah ia dimarahi, yang ada selalu melihat sikap tengil dan kasih sayang Paul padanya.


Jika ia dimarahi ayahnya, maka Paul yang akan menjadi benteng pertama yang akan melindungi dirinya.


“Sana bang, dosen bentar lagi masuk!” sentak Dira sebal karena Paul masih mematung di tempat dengan wajah mengancamnya.


Memberikan lambaikan tangan dan senyum lembut, Paul segera menghilang di balik pintu. Dan tak lama, benar saja, dosen yang akan mengajar tiba dan mereka memulai mata kuliah de dengan khidmat.


“Ada yang aneh deh kayaknya di sini. Kenapa suasananya kayak dingin gini ya.” Lirih Dira memperhatikan sekitarnya yang tampak menunduk atau membuang muka dengan gugup saat bertubrukan pandang dengannya.

__ADS_1


“Kenapa mereka kayak takut gitu sih tiap liat aku?” ucap Dira bingung


__ADS_2