Alexio "Diary Merah Muda"

Alexio "Diary Merah Muda"
Bab 42


__ADS_3

“Sorry.” Ucap Dira pelan, padahal dalam hatinya ia berteriak kesal luar biasa.


Lagi-lagi kata PLEASE itu keluar dari bibir Alexio.


‘Awas saja kalo ketemu sama Xia-lun itu’,bencinya menggerutu dalam benaknya.


“Yok turun lagi.” Menguatkan diri agar tak kelepasan sebalnya, Dira menarik tangan Alexio untuk turun kembali.


“Kamu gak marah kan.” Alexio menahan gerakan Dira dan membuat gadis itu menoleh padanya.


“Gak.” Jawabnya singkat.


“Maaf.” Merengkuh tubuh Dira, memeluk lembut untuk mengutarakan kata maafnya.


Dira tak membalas. Ia kesal bukan kepalang kali ini, dasar saja ia cinta luar biasa, jika tidak, Alexio akan terkena imbas karena Xia-lun itu.


“Yok turun.” Dira mendorong dada Alexio hingga pelukan itu terlepas.


Bergegas turun, dengan tetap menarik tangan Alexio mengikutinya.


“Kita ke rumah sakit ayahmu, Dira.” Ucap Alexio di saat mereka menuruni anak tangga.


“Buat?” tanya Dira


“Menjenguk adik Zapi.” Jawab Alexio.


“Yang dibahas waktu itu? Belum kelar?” tanya Dira menghentikan langkahnya.


“Iya, mereka belum mendatangi keluarga Zapi.” Ujar Alexio menjawab,


“Ya Tuhan, ihh awas aja ketemu aku, tak palu satu-satu jidat mereka.” Seloroh Dira sebal.


“Hehe, kamu ini.” Alexio gemas akan reaksi Dira.


“Semua anggota sudah berkumpul di halaman depan. Yok kita kesana.” Ucap Alexio memberi tahu saat ruangan sudah sepi.


“Pantes pada ngilang.” Sahut Dira


Dengan mobil, dan motor, anggota geng Xia.. ahhhh kenapa namanya Xia sih!!!! Pokoknya sudah Xia berhasil di basmi, bakalan Dira ganti nama geng ini.


Catat itu, catat!!!!


“Makasih.” Ucap Dira ketika Alexio memasangkan helm padanya.


“Sama-sama.” Jawab Alexio mengusap pipi Dira lembut.


“Ayo buruan, gak usah sok romantis deh.” Ketus Barry dari belakang mereka.


“Dihh syirik aja lo.” Cibir Dira sembari menjulurkan lidahnya kearah Barry yang satu mobil dengan Andi.


“Pegangan ya.” titah Alexio saat keduanya sudah berada di atas motor.


“Siap bos.!!!” Jawab Dira. Kepalanya masih menoleh ke samping, tempat dinding rahasia tadi berada.


‘Kenapa banyak banget sih tugas gue, belum rumah, rumput itu, danau, dan kamar pula.’ Batinnya menggerutu.


‘Lihat dan perhatian baek-baek ya Xia-lun. Gue basmi lo sampe gak bersisa lagi.’ Kecamnya dalam hati lagi.


Tak sadar bahwa rasa gemasnya mengingat Xia, membuatnya meremas kuat jaket Alexio di depan.

__ADS_1


“Dira, kenapa?” Alexio heran saat bagian depan jaketnya seolah ditarik kuat oleh jemari Dira.


“Eh, apa?” tanya Dira


“Kamu, marah?” tanya Alexio


“Gak.” Duh, Dira kebablasan kan. Kebawa gemasnya.


“Jangan marah, jangan kesel, jangan sebel ya.” pinta Alexio mengelus punggung tangan Dira yang bertumpuk memeluk tubuh Alexio.


“Hmm, sorry.” Teriak Dira.


Posisi motor yang berjalan, membuat keduanya memang tidak bisa berbicara dengan suara pelan, ada angin yang menjadi pihak ketiga diantara mereka.


Beberapa puluh menit kemudian mereka telah sampai di rumah sakit Ladh. Milik ayah Dira.


Memastikan bahwa tujuh pemuda curut itu datang dengan janji bertanggung jawab, karena jika melanggar lagi, maka Alexio dengan senang hati membalasnya.


Persetan dengan yang lain. Ada nyawa bocah tak berdaya yang sedang bertaruh untuk helaan nafas di dalam sana. Dan mereka bertujuh itu tak berhak menampiknya.


“Alexio?” satu suara menyambut kedatangan mereka,...


Dokter Doni, ya, psikiater yang bertanggung jawab atas terapi Alexio muncul dari arah lobby rumah sakit.


“Dokter Doni.” Sahut Alexio dan juga setelahnya Dira.


“Eh ada Dira juga.” Ujar Dokter Doni tak melepas senyumnya apalagi saat melihat kaitan tangan dua insan itu begitu erat di bawah sana.


“Siapa?” tanya Andi saat mereka sudah tiba di depan pintu lobby


“Dokter Doni, kenalan papa.” Sahut Dira menjawab, ia enggan memberi tahu kepentingan dokter Doni pada mereka.


Khawatir orang-orang akan memberikan penilaian dan penghakiman pada Alexio.


Ia butuh berbincang dengan Dira yang harusnya sudah dari tadi ke rumah sakit.


“Ada apa memangnya?” tanya Alexio menatap penuh selidik pada dokter Doni.


“Ada urusan sebentar. Sebentar saja.” Jawab dokter Doni berjanji.


Dira mengangguk pada Alexio saat ia ditatap pemuda itu. Dan dengan rela genggaman tangan mereka terlepas.


Dira mengikuti langkah dokter Doni ke sisi kanan, sedangkan rombongan Alexio ke arah kiri.


“Nanti kabarin di kamar mana ya.” kata Dira sebelum mereka berpisah.


“ya.” sahut Alexio.


“Sama kasih tahu juga kalo 7 curut itu datang.” Lanjut Dira yang membuat dokter Doni tercengang akan kosakata anak dokter Ladh itu.


“Buat apa?” tanya Alexio heran.


“Mau tak geplak kepalanya satu-satu.” Jawab Dira mengepalkan tangannya, membuat semua pasang mata menatap penuh takjub pada gadis itu.


“Ya sudah sana. Hati-hati ya.” Dira melambaikan tangannya dan tersenyum pada Alexio lalu menghilang bersamaan dengan dokter Doni.


Tiba di ruang kerja dokter Doni....


“Ada apa yang dok?” tanya Dira saat sudah berhasil duduk di kursi pengunjung depan kursi kebesaran milik dokter Doni, terpisah meja berwarna putih.

__ADS_1


“Bukannya hari ini kamu sudah dapat jadwal untuk terapi Alexio?” tanya dokter Doni balik.


“Loh, kata dokter, Dira perlu pendekatan dulu sama Alexio.” Jawab Dira


Arahan pertama kali untuknya adalah memastikan Alexio nyaman dan percaya akan kehadiran Dira di sisi pemuda itu. Karena bukan hal mudah untuk ikut campur dalam dunia fiksi karangan Alexio.


Oke kalo fiksi di jadiin novel, lah ini fiksi dikonsumsi sendiri.


“Iya, tapi terapi yang kita lakukan bukan langsung ke intinya, Dira. Kamu lupa sepertinya.” Seloroh dokter Doni menggelengkan kepalanya dan terkekeh.


“Ooh Dira salah pahamkah, hehehe.” Balas Dira terkekeh juga.


“Sepertinya.” Sahut dokter Doni.


“Jadi gimana maksudnya dokter.” Ucap Dira bertanya.


“Sudah seberapa dalam kamu masuk ke dunia Alexio, Dira.?” Tanya dokter Doni mulai bernada serius.


Glek!!


Dira menelan ludah kasar.


“Gak tahu ya dok apa ini sudah dalam atau belum. Tapi Dira tadi mengikuti ke beberapa tempat yang sering dikunjungi Alexio.” Jelas Dira menahan nafas, entah kenapa ia mendadak gugup.


“Apa yang kamu lakukan sudah termasuk dalam terapi, membuat pasien membuka dunianya kepadamu.” Ucap dokter Doni.


Oooh ini termasuk rangkaian terapi.


Dikiranya terapi itu ya di rumah sakit.


“Danau? Rumah? Tempat itukah yang dikunjungi Alexio dan membawa kamu?” rentetan tanya dokter Doni.


Dira menggeleng, “Bukan hanya kesana, dokter.” Jawab Dira.


“Lalu.”


“Alexio sepertinya ada tempat lain yang menjadi rahasianya bersama Xia.” Lanjut Dira.


“Di markasnya ada dinding rumput tinggi dengan pintu, dan di markas itu ada ruang terkunci pula. Lalu tadi ada panggilan telepon dan saat Dira cek ponsel Alexio ternyata tidak ada panggilan tersebut.” Jelas Dira mengingat kejadian hari ini.


“Markas?” ulang dokter Doni yang diangguki Dira.


“Dan satu lagi dokter ada hal yang selalu diucapkan Alexio saat ia enggan menjawab soal rahasianya.” Lanjut Dira.


“Apa itu?”


“Please, dia akan mengucapkan itu ketika batasannya diganggu.” Pungkas Dira.


“Dira, bersiaplah menghadapi sosok hayalan itu mulai sekarang. Jangan ragu untuk memaksa Alexio jika ia sudah nyaman denganmu.” Jelas dokter Doni yang dijawab Dira dengan ekspresi ragu.


“Buat Alexio membuka trauma yang membuatnya bertemu Xia. Mungkin saat itu adalah puncaknya menciptakan sosok Xia itu.” Sambung dokter Doni.


“Tapi dok.....” belum selesai Dira berucap, pintu terbuka.


“Dira, kenapa lama sekali?” Alexio merangsek masuk, menatap dokter Doni lekat.


“Saya hanya berkonsultasi sebentar dengan Dira, Alexio.” Jelas dokter Doni paham akan tatapan Alexio.


“Tentang saya kan dok maksudnya.” Balas Alexio dingin.

__ADS_1


Tatapan itu menyentak Dira tentunya. Apakah Alexio mendengar pembicaraan mereka tadi?


Jangan sampai!!!!


__ADS_2