Alexio "Diary Merah Muda"

Alexio "Diary Merah Muda"
Bab 134


__ADS_3

Yang sibuk bersinetron tentu kaget bukan kepalang melihat Andriana berada dalam kuasa Suprapto, tapi tidak untuk Alexio, Dome serta Hiro yang sudah menjalankan pikiran mereka agar bisa mengupayakan solusi masalah itu.


“Ck, sudah ku bilang tadi, jadi bagaimana Alexio, terima tawaranku?” Dome mengungkit kembali tawaran sebelumnya.


“Bawa aku juga dalam hal itu sebagai persetujuannya.” Sambut Alexio yang diangguki Dome kuat.


“Ohh tentu, sebuah party besar itu akan menarik jika mengajak banyak orang.” Sahut Dome.


Beralih pada drama Suprapto yang masih menahan lengan Andriana.


“Lepaskan dia, pa.” Pinta Bisma memohon agar pria yang selama ini berpura-pura sebagai ayahnya.


“Lepaskan katamu? Lihat semua perbuatan wanita gila ini padaku!!!!” Sentak Suprapto, seringainya terbit pertanda ia akan melakukan tindakan kejam lainnya.


“Aku mohon, aku akan memberikan apapun sebagai gantinya.” Giliran Linda yang sudah bersimpuh agar Suprapto mengabulkan permintaannya.


“Minggir kalian semua dan pastikan jika bisnisku tidak kalian ganggu!!” itu kalimat negosiasi yang dilontarkan oleh Suprapto agar dituruti oleh pasangan suami istri itu jika mau sanderanya dilepaskan.


“Ya Tuhan, aku gemas sekali melihatnya!” Hiro mengomentari tontonan di hadapannya.


Jarak mereka memang cukup dirasa sulit untuk mendengar celotehannya, maka dari itu sedari tadi baik Suprapto, Linda, Bisma dan Andriana tidak mendengar kalimat bernada sarkas dari Alexio, Dome dan Hiro.


“Aku juga, aku duduk saja dululah kalau begitu.” Ujar Dome turut berkomentar


Sementara Alexio tetap bersikap waspada, tubuhnya tegap dan matanya nyalang memantau situasi agar bisa mengambil tindakan di waktu yang tepat.


“Duduklah dulu, Alexio. Nanti kakek itu akan dilumpuhkan sebentar lagi.” Sambung Dome lagi, ia sudah menyelonjorkan kedua kakinya lurus di lantai.


“Dilumpuhkan? Sebentar lagi?” beo Alexio mendengar kalimat Dome.


“Hmm, lihat dan tunggulah dulu drama menggelikan ini yang sebentar lagi berakhir.” Jawab Dome bergidik memberikan pernyataan atas aksi di hadapannya yang masih berlanjut.


“Kalian, lindungi aku!” Suprapto yang melihat masih ada anak buahnya di sana segera memberikan perintah.


“Siap bos.” Sahut anak buahnya yang segera menuruti setelah dirasa cukup kondusif menjalankan perintah majikannya.


“Jangan sampai aku terluka lagi, jika terjadi, maka aku pastikan kalian akan mati ketika keluar nanti.” Belumlah keluar, sudah minta dilindungi pula, mengancam pun masih berani dilontarkan Suprapto.

__ADS_1


Sungguh tak tahu terima kasih memang!


“Arghhh, sakit.” Rintihan yang keluar dari bibir Andriana akibat luka dipunggungnya cukup menyita perhatian Bisma dan Linda.


“Ku mohon pa, lepaskan saudariku.” Ujar Linda tak tahan melihat kondisi Andriana.


“Tidak akan! Sampai aku keluar dari sini.” Tolak Suprapto keras. Ia bahkan semakin mengencangkan pegangannya, memastikan sanderanya tidak akan terlepas begitu saja dengan mudah.


“Apakah masih lama pa?” tanya Dome pada Hiro yang bersander di dinding di belakangnya


“Ck. Kemana mereka, awas saja jika pria itu lolos. Aku penggal semua kepala mereka.” Tidak menyahuti pertanyaan puteranya, Hiro malah menggerutu sendiri.


Karena bosan dan enggan menonton drama tangis tarik ulur membujuk penyandera, Dome sibuk melukis lantai yang berdebu dengan gambar tak jelas. Mulutnya sudah mengerucut berkomat-kamit entah memantrai atau justru menyumpahi.


“Cepatlah, kepalaku sudah gatal sekali rasanya.” Bak kena kutu, gantian kepalanya yang kena sasaran oleh Dome.


“Diam kau, atau kepalamu aku benturkan dengan balok kayu ini.” Geram Suprapto pada rontaan Andriana yang sedari tadi enggan berhenti.


“Dasar manusia iblis, tidak puaskah kau menyakitiku dari dulu.” Desis Andriana membalas ucapan Suprapto.


“Tentu tidak sayang, kau tahu, tubuhmu itu tak lebih dari lampiasan hasratku saja. Jika kau tidak mendekati Bisma, tentu nasibmu tidak akan seperti ini.” Ujar Suprapto terdengar menjijikan di telinga Andriana.


“Heh, tak semudah itu, Tuhan tidak akan berani menyentuhku.” Balas Suprapto sombong.


Pagar hidup yang diciptakan beberapa anak buah Suprapto meyakinkan tua renta itu jika dirinya bisa lolos keluar hidup-hidup dari bangunan tua miliknya.


Tapi baru saja kaki kanannya menjejak lantai luar pintu, ia kembali membeku seketika...


Deg


‘Apa ini?’ batinnya merasakan ada benda dingin menyentuh tengkuk serta pelipis kanannya.


“Bergerak sedikit saja, maka leher serta kepalamu akan hancur saat ini juga.” Begitu suara yang menggema di telinga Suprapto.


“Gocha!! Bagus. Akhirnya!” seru Dome melihat langkah Suprapto berhenti karena anak buah ayahnya


“Ini yang aku tunggu dari tadi.” Lanjutnya sigap berdiri dan melirik Alexio dengan wajah sumringahnya.

__ADS_1


“Bala bantuan sudah datang, dude!.” Ujarnya pada Alexio yang tetap tak bereaksi apapun.


Sementara Linda dan Bisma juga tercenung melihat adegan di hadapan mereka, “Andriana!” teriak Linda saat kembarannya terlepas dari cengkraman Suprapto di mana sebelumnya pria jahat itu diperintahkan melepas sanderanya.


“Sialan!” maki Suprapto tak bisa berkutik lagi pun dengan anak buahnya yang kembali membatu alias tak berani melawan.


Kini Suprapto and the genk lucnut-nya sudah berada dalam kepungan mafia Yakuza atas perintah dari Hiro Hitoka.


“Makanya jika sudah berumur itu, tahu diri!” dengan kurang ajarnya, Dome menoyor kepala Suprapto seolah pria tua itu usianya di bawah dirinya saja.


“Enyahkan tanganmu, dasar bocah sialan!” maki Suprapto tak terima diperlakukan demikian oleh Dome.


Memang sih kurang ajar anaknya si Hiro, kudu di rendemin aer garem otaknya.


“Kenapa memangnya hah! Hah! Kau mau mengajakku berkelahi kalau aku menolak perintahmu.” Balas Dome songong. Tingkahnya sama sekali tidak sesuai dengan pola mafia yang harusnya arogan, dingin dan image terjaga.


“Bocah gila!” kata berikutnya meluncur lagi dari mulut Suprapto saat Dome lagi-lagi mengusik tubuhnya sekehendak bocah itu.


Benar-benar menguji kesabaran usia yang harusnya tingkat kebijaksanaannya setinggi gunung.


“Dome jangan begitu. Nanti pria itu malah terkena serangan jantung, dan kau tidak jadi menyiksanya.” Seloroh Hiro menambah kengerian di benak Suprapto yang mendengarnya.


“Lepaskan aku!!!” teriak Suprapto, meronta-ronta dalam ikatan tali kekang yang sudah dipasang oleh Yakuza di tubuhnya.


“Tidak akan, kau sudah diserahkan oleh keluarga Bisma pada kami. Jadi sekarang kau makanan kami, Suprapto.” Jawab Hiro dengan wajah seramnya.


Bagi yang mengenal sosok pimpinan Yakuza, tentu tidak perlu diragukan lagi tingkat arogansi dan kekejaman mereka, dengan anggota saja mereka memiliki prinsip dan ketegasan atas kesalahan apalagi terhadap musuh mereka.


Maka, selamat menempuh hidup baru bagi Suprapto setelah ini dari semua tamu yang berkenan.


“Lepas!!!!” teriak Suprapto lagi, tapi tidak ada satupun yang bersimpati pada dirinya, justru mereka berharap pria itu lekas menerima siksaannya.


“Kami berharap, dia mendapatkan yang layak dan setimpal dengan perbuatannya.” Begitu harapan Linda sebagai kembaran Andriana yang banyak menerima luka atas ulah Suprapto.


“Tenang saja, aku hanya melakukan sebagian dari kerjasama kita, karena sisanya kalian yang akan mengurusnya.” Sahut Hiro atas harapan Linda.


“Membusuklah kau selamanya.” Kecam Andriana menatap puas pada Suprapto setelah mendengar jika pria tua itu akan mendapat balasan melebihi perbuatannya di masa lalu.

__ADS_1


“Ayo Alexio, kau mau ikut berpesta bersama kami, kan?” Dome menepuk pundak Alexio sebelum mereka masuk ke dalam mobil milik mafia Yakuza.


“Tentu, akan ku pastikan, dia mendapatkan yang diharapkan semua orang.” Dengan dinginnya Alexio membalas ucapan Dome.


__ADS_2