Alexio "Diary Merah Muda"

Alexio "Diary Merah Muda"
Bab 56


__ADS_3

Kini Dira sudah keluar dari toilet dapur.


Menjinjing jaket kulit warna hitam, ia berjalan menuju ruang tengah.


“Mana?” Alexio menengadahkan telapak tangannya meminta benda yang ada di belakang punggung Dira untuk diserahkan padanya


“Isssh, nah.” Bersungut, Dira menyerahkan jaket yang tadi dipakainya.


Kini tubuh Dira sudah terbungkus kaos milik Alexio, sementara pemuda itu hanya mengenakan seragam saja tanpa kaos dalamnya.


“Aku gak suka kamu menggunakan pakaian pria lain.” Cetus Alexio.


“Dasar cowok gila.” Gerutu Dira pelan


“Aku dengar itu Dira.” Ujar Alexio menekan suaranya.


“Andi pinjem jaket.” Dira mendekati Andi yang mengenakan jaket, baru saja hendak berpindah. Sudah direbut oleh Alexio.


“Aku bilang apa tadi Dira.” Tekan Alexio


“Kan Cuma Andi doang. Ihh” gerutu Dira sebal


“Andi juga cowok.” Jawab Alexio


“Arghhhh, Alexio!!!” pekik Dira saat cowok itu seenaknya membuka seragam sekolah hingga memperlihatkan tubuh setengah atletisnya pada Dira.


Bisa dipastikan beberapa tahun lagi, roti sobek itu akan tercetak di semua sisi perutnya. Sekarang saja sudah atletis dan menawan serta menarik untuk disentuh.


Aishhh mikir apa sih!!!


“Nah pakai ini.” ujarnya memberi seragam tadi.


Dira masih memejamkan matanya, ia memastikan jika kaos dalam itu saja sudah melekat di tubuhnya, dan apabila seragam juga dilepas, maka pakai apa cowok itu?? Shirtless???


Ohh no!!!


“Aku paka jaket Andi, lihat sini.” Alexio menarik lengan Dira dan mengarahkan tubuh itu menghadapnya.


Pelan Dira membuka matanya, menyipit dan menghela nafas, Alexio membungkus tubuhnya dengan jaket Andi.


Dengan cepat ia meraih seragam Alexio lalu mengenakannya di tubuh Dira. Baju itu tidak sebasah milik Dira tadi, karena air yang disiram Jonathan tidak menjangkau tubuh Alexio.


“Ayo pulang.” Ajaknya.


“Gue balik dulu.” Ucapnya pada gerombolan anak gengnya.


“Oke bos!!” balas mereka serentak


Tiba di rumah milik keluarga Ladh.


“Besok aku kembaliin baju kamu.” Ucap Dira saat sudah turun dari jok motor Alexio. karena ********** ikut basah, maka Dira terpaksa menaruh tasnya di depan. Menutupi area pribadinya yang dikhawatirkan tercetak.


“Hmm. Ya sudah masuk sana. Mandi, minum air hangat biar gak masuk angin abis basah-basahan tadi.” Alexio mengelus puncak kepala Dira lalu tersenyum teduh pada gadis itu.


“Alexio.” panggil Dira sebelum pemuda itu menghidupkan mesin motornya.

__ADS_1


“Hmm.” Sahut Alexio


“Sebenci apa kamu sama papaku.” Dira akhirnya berani mempertanyakan itu.


“Cukup kau tahu bahwa saat itu bagaimana aku memperlihatkannya padamu.” Jawab Alexio pelan.


“Maaf.” Ucap Dira menundukan wajahnya.


“Heii, kau tidak salah.” Alexio mengangkat wajah Dira agar kembali mendongak menghadapnya.


“Mereka orang dewasa akan mendapatkan hukuman atas kesalahan mereka itu,. Dan aku harap, kamu tidak menghalangi itu Dira.” Pinta Alexio tegas


Dira tidak menjawab atau memberikan ekspresi apapun. Heii, itu ayahnya, apa mungkin ia akan mengangguk setuju, bagaimana pun darah lebih kental daripada air.


Dan kalian tentu tahu bagaimana posisi Dira ketika diberikan pernyataan demikian dari Alexio.


“Aku pergi dulu ya.” Alexio pamit dan melesak meninggalkan rumah keluarga Ladh.


Dira yang kini terpaku hanya bisa memandang kepergian Alexio sampai pintu gerbang itu tertutup kembali.


“Aku harus bagaimana?” gumamnya sembari melangkah masuk


“Satu sisi itu papaku, dan satu sisi itu kesalahan yang harus dipertanggung jawabkan.” Lanjutnya


“Jika itu terjadi pada keluargaku, tentu aku akan menuntut hal yangsama.” Ia terus melangkah hingga sudah mencapai pintu kamarnya.


“Eh, udah pulang.” Tegur Paul yang baru membuka pintu kamarnya.


“Hm.” Sahut Dira tak semangat,.


“Kenapa?” tanyanya


“Baju Alexio.”


“Heh, baju Alexio? kok bisa”


“Tadi aku ikut tawuran di markasnya bang, basah jadi ganti pakek baju dia.” jelas Dira masih lesu.


“TAWURAN!!!” pekik Paul mendengar kata yang santai sekali diucapkan adiknya


“Hhmm.” Sahut Dira datar


Paul segera memutari tubuh adik tercintanya itu. Memastikan tidak ada lecet sedikitpun.


Dira menghela nafas, “Aku baek-baek aja bang. Gak ada yang luka.” Kata Dira sadar akan perhatian abangnya.


“Dek.” Paul segera menarik tubuh Dira dalam pelukannya.


“Kamu tahu kan, semenjak kehilangan mama. Abang protektif banget sama kamu.” Tutur Paul tulus dan lembut. Ia mengusap puncak kepala Dira sayang.


Dira paham akan perhatian abangnya, kehangatannya sungguh terasa.


“Makasih abangku sayang,” Dira balas memeluk abangnya tak kalah hangat


“Hanya abang dan papa yang berarti untuk Dira. Makasih untuk semua perhatian dan kasih sayang kalian berdua selama ini.” lanjut Dira menaruh kepalanya di dada bidang abangnya

__ADS_1


.


.


.


“Pa. Apa yang harus kita lakukan sekarang!!” Linda panik ketika melihat tayangan di laptop suaminya yang tak sengaja ia lihat ketika Bisma keluar.


“Kita hanya perlu membantu Alexio melalui terapi sayang.” Jawab Bisma menarik nafas berat.


Mereka ada di dalam apartemen Alexio, menunggu sejak tadi pagi. Bisma membatalkan semua jadwal pentingnya demi menemui puteranya itu. Ia harus memperlihatkan pada Alexio rekaman terakhir yang melibatkan pertarungan solo puteranya itu.


Ia tidak habis pikir Alexio bisa melakukan pukulan pada dirinya sendiri, berguling, melompat, menendang kosong, seolah ia tengah bertarung dengan orang padahal kenyataannya pukulan banyak disarangkan di tubuhnya sendiri.


Tit tit tit


Bunyi kode pintu terdengar.


Linda sudah gemetar menanti kedatangan puteranya.


Ceklek


“Al.” Linda berdiri dan segera menghampiri Alexio yang bingung dengan keberadaan orang tuanya.


“Ada apa kemari papa dan mama.?” Tanyanya datar.


“Nak.” Linda beringsut memeluk tubuh Alexio dan terisak di sana.


Alexio tak membalas pelukan ibunya, ia hanya mematung, masih ingat perdebatan mereka waktu itu. Matanya juga tak luput menatap Bisma yang duduk dengan laptop di atas meja.


“Linda, bawa Alexio duduk.” Perintah Bisma.


Linda membawa sang putera bersamanya untuk duduk di sofa ruang tamu apartemen Alexio. sekuat hati Linda menghipnotis dirinya bahwa puteranya akan baik-baik saja.


“Ada apa?” tanya Alexio dingin


Bisma menatap Alexio lekat, memperhatikan penampilan puteranya yang kembali terluka.


“Kali ini dengan siapa lagi kau bertarung, huh?” tanya Bisma serius.


“Pah!” panggil Linda


“Ma. Anak kita sudah terlalu sering terluka.” Ujar Bisma tegas


“Aku tadi bertarung dengan geng sekolah lain di markasku.” Jawab Alexio datar


Bisma lega, setidaknya puteranya bertarung dengan manusia yang jelas wujudnya.


Bisma membuka laptopnya, menekan tuts lalu menyodorkan benda itu di hadapan Alexio.


“Bisa jelaskan pada kami, apa ini?” Bisma sudah menekan file yang kini menampilkan video kejadian di jalan Lingga. Di mana Alexio saat itu memukul dirinya sendiri malam itu yang mengakibatkan dirinya harus dirawat di rumah sakit.


Alexio diam memperhatikan vidio itu.


“Al, jelaskan pada kami, video apa itu!!!” ucap Bisma dengan nada meninggi.

__ADS_1


Alexio memejamkan matanya.


Video itu, mematahkan asanya... kenapa saat itu ia sendirian.


__ADS_2