Alexio "Diary Merah Muda"

Alexio "Diary Merah Muda"
Bab 68


__ADS_3

“Dira, rupanya masalahnya bukan hanya Alexio.” ucap dokter Doni.


Saat ini Dira berada di ruangan kerja dokter Doni, dirinya diminta untuk melihat perkembangan Alexio pasca mengikuti Narcoanalysis.


“Maksudnya dokter? “


“Ini adalah luka yang cukup berdampak pada keluarga Bisma Suprapto yakni ibu dan anaknya.”


Dira mengerutkan alisnya ketika mendengar konflik barusan., “Dira tidak paham dokter.” Sahut Dira


“Alexio menyaksikan peristiwa di mana pelaku pelecehan terhadap kembarannya dibunuh oleh Alexia sendiri dan setelah itu bunuh diri.” Jelas dokter Doni serius


“Lalu apa hubungannya dengan ibunya?” tanya Dira


“Yang terlibat saat itu ibu dan kembarannya.”


“Saat itu, penikaman pertama dilakukan ibunya lalu yang membunuh itu Alexia, sedangkan Alexio ia menabrak tubuh pria itu hanya saja karena ia masih bocah hingga pengendalian mobil tentu tidak baik dan justru menabrak pembatas jalan.” Lanjut dokter Doni


“Ibunya Alexio menderita Dissociation setelah kejadian itu.”


“Diss-dis apa tadi dokter?” ujar Dira mendengar istilah medis barusan


“Dissociation atau disositif dimana seseorang menderita trauma akibat suatu hal, dan untuk melindungi dirinya, tubuhnya menghilangkan ingatan yang berhubungan dengan kejadian itu. Tapi efeknya adalah kebiasaan baru, yang kata Dira, ibunya Alexio kerap membersihkan lemari peninggalan putrinya.” Ucap dokter Doni yang didengarkan Dira sungguh-sungguh.


“Ibunya Alexio tidak mengingat kejadian itu sedikitpun, ia hanya tergerak melakukan kebiasaan baru karena ada dorongan lain sebagai pengaruh awal mula insiden traumanya.”


“Ia tahu jika puterinya sering bersembunyi di lemari itu, karena rasa takutnya dari tersangka yang sering melecehkannya. Maka dari itu, nalurinya membersihkan lemari adalah sebagai perlindungan untuk seseorang yang ia yakini akan menempati lemari itu.”


Dira seksama tanpa mau memotong pembicaraan ini.


“Alexio membentuk Xia atas dasar rasa bersalahnya tidak mampu melindungi kembarannya. Dan juga melindungi ibunya yang saat itu juga terlibat dalam penyerangan itu.” Jelas dokter Doni


“Lalu dengan semua interior kamar Alexio, dan kejadian melukai diri itu dokter?” tanya Dira


“Mengenai perubahan itu, Alexio menciptakan dunianya sendiri dengan membentuk benda di sekelilingnya sebagai wujud rasa kecemasannya itu, contoh mengapa ia menyukai benda berbentuk bulat di kamarnya, 3 warna konsisten, kamar mandi tanpa pintu, lalu tidur di sofa, itu atas dasar kecemasan karena kejadian itu, lalu mengenai dirinya yang melukai itu diakibatkan tekanan alam bawah sadarnya yang tidak rela ia bahagia karena rasa bersalah lebih mendominasi semuanya.” Jelas dokter Doni lagi.


“Apa kamu pernah menanyakan peristiwa itu pada ayahmu, Dira?” Sambungnya


Dira mengangguk, “Apa jawaban ayahmu?”


“Papa bilang Alexia dan Alexio terlibat kecelakaan namun nyawa kembarannya tidak terselamatkan.” Jawab Dira

__ADS_1


Dokter Doni tersenyum miring, benar dugaannya jika dokter Ladh menutupi sesuatu.


.


.


.


Karena kondisi Alexio, pemuda itu menunda melanjutkan studinya, begitu pula dengan Dira, namun gadis itu di sela-sela kekosongannya mengikuti berbagai les untuk memudahkannya masuk ke perguruan tinggi tujuannya, University of Tokyo.


“Bagaimana kondisi pasien Alexio, dokter Jo.?” Tanya dokter Doni di sela kegiatannya pasca visitasi pasien-pasiennya.


Dokter Jo, salah satu juniornya membuka map berisi data perkembangan Alexio yang memang sempat diminta dokter Doni sebelumnya, “ Pasien atas nama Alexio sudah menunjukkan perkembangan, satu bulan ini sudah tidak menunjukkan gejala aktif dokter.” Jawab dokter Jo.


“Baiklah, kalau begitu kurangi dosis obatnya. Dan bebaskan ia untuk keluar kamar tapi tetap diawasi jangan sampai keluar dari area gedung poli ini.” ucap dokter Doni yang diangguki dokter Jo.


Perubahan Alexio cukup meningkat, ia sudah beberapa kali bercerita mengenai masa lalu pahitnya dihadapan dokter Doni, aktifitas positifnya sudah diberikan berupa media canvas yang kali ini sudah bisa melukis hal lain ketimbang bentuk lingkaran.


“Alexio.” satu suara membuat kepala Alexio menoleh ke belakang.


“Apa kabar?” tanya dokter Doni menyambangi pemuda itu yang kini berada di bangku taman rumah sakit


“Baik dokter.” Jawab Alexio tersenyum


“Dokter, apakah mama akan dihukum karena melakukan tindakan penyerangan waktu itu?” tanyanya, ketakutan yang tersimpan lama.


“Mamamu menderita Disosiatif, Alexio. bagaimana pun metode kejujuran tidak akan bisa menggali ingatan masa lalunya.” Tutur dokter Doni


“Mamamu melupakan kejadian buruk itu, ingatannya tidak akan muncul walau kita lakukan Narcoanalysis berulang kali, jadi hukum tidak akan mengenai mamamu karena diukur dari kesehatan jiwa, beliau tidak bisa disentuh.” Jelas dokter Doni membuat nafas Alexio terdengar lega.


“Tapi Alexia dokter?” tanya Alexio, meski keberadaan kembarannya sudah ada di kubur, tentu dikhawatirkan akan digali kebenaran kala itu.


“Kamu tahu Alexio, tindakan Alexia saat itu sebagai bentuk perlawanan dirinya, ia tahu jika tikaman ibumu tidak akan mampu membuat pria itu mati, maka dari itu, Alexia hanya melakukan hal itu atas dasar naluri mempertahankan diri.” Jelas dokter Doni


“Siapapun itu, tentu akan membenarkan tindakan Alexia yang melakukan demikian terhadap orang yang memang sudah jahat terhadapnya.” Lanjutnya


“Dan kamu Alexio. jangan merasa bersalah atas kejadian itu, semua sudah di atur oleh Tuhan. Tidak semestinya kamu menghukum dirimu sendiri, kamu.....” ucapan dokter Doni menggantung


“Kamu berhak bahagia, Alexio.” lanjutnya


Alexio menatap dokter Doni, ia diam meresapi tiap nasihat pria di hadapannya yang menjadi teman bicaranya.

__ADS_1


“Aku mau orang tuaku datang sekarang, dokter Doni.” Pinta Alexio yang diangguki dokter Doni sembari tersenyum


“Tentu, nanti akan saya panggil orang tuamu, Alexio.” pungkasnya


Tak butuh waktu lama, 30 menit kemudian, Bisma yang tengah melakukan rapat langsung menghentikannya ketika puteranya memintanya datang, sementara Linda yang hendak memasak pun bergegas mendatangi puteranya di sana.


Dan kini,,, mereka tengah berada di bangku taman tempat Alexio yang masih menunggu.


“Alexio.” Linda menghambur mendekap tubuh puteranya yang sudah terlihat tirus wajahnya.


“Ma, pa.” Ucap Alexio menatap orang tuanya bergantian.


“Maafin Alexio, ma-maafin Alexio.” lanjut Alexio mengutarakan kegundahan hatinya.


“Kalau Alexio tidak sakit, semua tidak akan terjadi.” Ucapnya.


“No, Alexio. tidak ada yang perlu kamu takutkan, kejadian itu juga kesalahan kami sebagai orang tua yang tidak bisa melindungi kalian anak-anak kami saat itu.” Ujar Bisma, ia merasa egois mengabaikan puterinya hingga kejadian memilukan itu harus dialami gadis berusia 11 tahun. ‘


Di saat orang tua harusnya bersikap adil, mereka justru berat memperhatikan Alexio yang sakit namun melupakan jika puterinya juga butuh obat atas rasa sakit yang tidak sanggup ditanggung perempuan manapun di dunia ini, terutama ukuran bocah seperti Alexia kala itu.


“Maafkan kami, nak, maaf.” Ujar Linda terisak, tapi ia hanya ingat sebatas pelecehan dan sikapnya bersama Bisma yang meninggalkan anak-anaknya untuk tugas Bisma.


Sampai saat ini, Linda tidak ingat kejadian buruk yang mengakibatkan puterinya tewas, cukup rapi Bisma menutup hal itu dari siapapun dengan kekuasaannya tentu saja.


.


.


.


Beberapa tahun kemudian....


“Yakin dia di sana?” Pemuda yang kini tumbuh dewasa itu memancarkan aura dingin, duduk di atas motor besarnya, memindai layar gadget miliknya lalu tersenyum miring


“Iya bos.” Sahut pria yang berdiri di sisinya.


“Hai baby, sampai bertemu nanti.” Seringainya menatap siluet gadis yang juga sudah tumbuh dewasa, mengenakan jas putih membalut tubuh rampingnya.


“Ayo Alexio!!! kami padamu!!!!” pekik para gadis mengiringi fokus Alexio yang sudah siap dengan motornya untuk memecah malam bersama para pesaingnya pada ajang balap liar kembali........


__ADS_1


Tokyo University.......... 4 tahun kemudian


__ADS_2