Alexio "Diary Merah Muda"

Alexio "Diary Merah Muda"
Bab 20


__ADS_3

“Hai ngelamunin apa sih?” Jonathan yang datang tiba-tiba, memutus pandangan Dirayang fokus memperhatikan Alexio sedari tadi.


“Ah, gak ada. Gimana, aku bisa balapan?” Dira mengalihkan pembicaraan.


Jonathan tersenyum lembut lalu menggeleng.


“Balapan mobil dibatalin, jadi Cuma motor aja hari ini, ada 3 sesi.” Jawab Jonathan bersandar di pintu mobil Dira.


“Ooo.” Dira hanya ber’o’ ria.


“Jadi kamu ikut balapan?” tanya Dira yang diangguki Jonathan, pemuda itu membawa motor sebelumnya meski pas izin pergi bersama Dira, ia tak membonceng karena Kairan Ladh tak memperbolehkan Dira menaiki motor malam-malam.


Alhasil Jonathan menggiring mobil Dira yang rencana bohongnya adalah pergi ke rumah temannya.


“ya udah sana, aku nonton aja kalo gitu.” Dengan lesu, Dira keluar dari mobil dan mengiringi langkah Jonathan yang menuju parkiran motornya.


Dira kembali melirik kearah Alexio, nihil. Pemuda itu sudah tak ada di sana.


“Lo, gak ikut balap? Tumben?.” Tanya Andi saat tahu Alexio tak mengikuti ajang balap kali ini.


“Gue males.” Sahutnya.


“Ya sudah, duduk santai aja kita.” Tawar Barry yang sudah men gunyah cimol bumbu balado.


Bukan, bukan itu alasan Alexio.


Ia datang kemari karena....


Langkahnya cepat menuju gadis yang menonton di sudut lain, mengenakan outfit hijau muda, Dira tampak menggemaskan di mata Alexio.


“Ekhem.” Alexio sudah berdiri di sebelah Dira.


Ekspresi terkejut Dira nyaris terlihat Alexio. Cepat-cepat ia mengalihkan tatapannya.


Hayolah, bagaimanapun juga, Alexio masih menempati posisi pertama di hati gadis itu. Jadi, sudah pasti berdiri berdekatan dengannya cukup memicu jantungnya salto di dalam sana.


‘Cih memalukan banget sih Dira.’ Batin Dira dalam hati. Merutuki sikapnya sendiri.


“Gue denger, lo pacaran sama Jonathan?” tanpa aba-aba, Alexio bertanya.


“Hmm.” Sahut Dira dengan dehaman.


“Putus.” Titahnya.


Dira sontak menoleh, tatapannya membelalak.


“Jangan kepedean, lo pikir gue suka sama lo?” seolah membaca pikiran Dira, Alexio menyambung ucapannya cepat.


Kecewa? Nyaris, Dira berpikir demikian, perasaannya hampir baper akan perintah Alexio tadi.


Tapi diruntuhkan seketika oleh pemuda itu tanpa ampun.


“Kenapa kamu nyuruh aku putus?” tanya Dira berusaha tetap tenang.


Alexio terkekeh... “Kalo lo lupa... lo gak pantes sama Jonathan.” Jelas Alexio beralasan.


“Gak pantes?” beo Dira.


“Iya, walau cowok brengsek itu di bawah gue, tetap aja, catatan ayah lo yang membunuh saudara gue, itu akan merusak nama baik keluarga mereka bukan?” jelas Alexio menatap Dira tajam.


Oooo jadi itu alasan Alexio.


Kejam


Kejam sekali pemuda yang berdiri di sampingnya itu


Yang sialnya, kenapa masih bertahta di hatinya

__ADS_1


Dira merasa sial.


“Ohh, jadi itu,,,,” Lirih Dira merasa terbebani dengan pernyataan Alexio tadi.


Menarik nafas berat.


“Gue tahu soal itu, dan gue bakalan kasih tahu Jonathan betapa brengseknya keluarga gue.” Jawab Dira dengan suara yang mulai memberat.


Berusaha menahan air matanya agar jangan ikut menambah drama


“Berikut semua orang di sekolah, akan gue kasih tahu. Tenang aja, lo pengen gak ada satupun yang deketin gue kan? Ok fine, akan gue lakuin.” Jawab Dira.


Tunggu!!!


Dira barusan menggunakan kata GUE kepada Alexio? Selama ini gadis itu selalu menggunakan kata AKU. Tapi...


“Bye, gue gak akan pernah muncul di hadapan lo lagi.” Menolak langkahnya, Dira pergi dari sana.


Meninggalkan Alexio yang membeku menatap kepergian gadis itu.


Ia menaruh telapak tangannya di dada bidangnya


Sakit?


Kenapa sakit?


Apa yang salah dengan organ dalamnya?


.


.


.


Apa yang diucapkan Dira malam itu, kontan di bayarnya. Ia tak pernah terlihat dalam jangkauan Alexio.


Entah bagaimana cara gadis itu teleportasi dari hadapannya.


“Ah, gak ada.” Jawab Alexio, padahal matanya berusaha menangkap bayang Dira, yang biasanya selalu ke kantin.


Sebelum ini ia masih bisa melihat gadis itu ke kantin tapi tak mendekatinya, pasca fakta itu.


Tapi, setelah obrolan sialan semalam, Dira tak muncul sama sekali.


“Alexio.” Panggil Barry


“Hmm, apa.” Jawab Alexio yang masih tak fokus dengan matanya, masih liar, berharap ada Dira yang ditangkap netranya.


“Lo, masih sering dateng ke danau dan rumah temen lo itu?” Barry bertanya dengan penuh ke hati-hatian.


Matanya beralih kepada Andi meminta bantuan untuk mulai menyelidiki tingkah sahabatnya.


“Hmm, kenapa emangnya?” tanya Alexio menatap Barry.


“Lo nemuin siapa sih kalo ke danau dan rumah itu?” kini Andi yang beralih tanya.


Baik Barry dan Andi masih mengumpulkan banyak bukti untuk kemudian membahasnya kepada Bisma, ayah Alexio.


Mendapat pertanyaan tersebut, Alexio menyipitkan matanya.


“Maksud lo?” tanyanya pada Barry dan Andi bersamaan.


“Ya gue penasaran aja.” Sahut Barry tenang, tapi tangannya sudah gemetaran dan basah oleh keringat sedari tadi.


“Kalo ke danau ya sama temen gue.” Jawab Alexio santai.


“Temen lo yang tinggal di rumah itu.” Sambung Barry cepat.

__ADS_1


“Iya. Temen gue yang itu.” Jawab Alexio.


Fix, Barry dan Andi saling bertatapan.


Mereka menyimpulkan hal yang sama...


Ada yang tidak beres dengan sahabat satunya ini.


“Siapa temen lo, kalo boleh tahu, cewek apa cowok.?” Barry tak mau menyia-nyiakan kesempatan ini.


Melihat tidak ada penolakan Alexio, maka sekalian saja ia libas obrolan ini sekaligus.


“Kenapa sih, pada kepo.” Sungut Alexio mulai risih.


“Ya elah, penasaran aja kali.” Jawab Barry menepuk pundak Alexio.


“Siapa?” lanjut Barry


“Cewek.” Jawab Alexio.


“Cewek lo?” timpal Andi yang dibalas Alexio dengan tatapan membunuh.


“Ya kali gue bukan fedofil kali.” Bantah Alexio.


Jawaban Alexio lagi-lagi memicu kerutan di dahi Barry dan juga Andi.


Fedofil katanya?


A pa mungkin...


“Memang umur berapa sih temen lo itu?” tak sabar, Andi mengambil alih pertanyaan.


“11 tahun.” Sahut Alexio enteng.


“11 tahun?” beo Andi dan Barry bersamaan yang diangguki santai oleh Alexio yang meraih jus jeruk miliknya.


“Dan dia tinggal di sana sendirian?” tanya Andi yang lagi-lagi diangguki Alexio.


“Yang lo telpon waktu itu, juga dia?” Barry penasaran akan kejadian itu.


“Yang waktu kita mau ke rumah itu lo, kan lo telponan.” Tambah Barry yang melihat raut bingung Alexio sebelumnya.


“Ya, dia juga.” Jawab Alexio.


Memutus kesimpulan Barry dan Andi bahwa, Alexio tak baik-baik saja.


.


.


.


“Mari duduk, mau minum apa kalian.” Tawar Bisma saat kedua sahabat puteranya berkunjung ke perusahaannya.


“Jus alpukat saja om dan cilok kuah kacang om ya porsi gede, hehehe Barry lapar om.” Tanpa malu, Barry menjawab.


“Baiklah, om suka sama kamu, gak malu-malu kayak si Andi.” Seloroh Bisma, memanggil sekretarisnya untuk memenuhi permintaan Barry.


Sepeninggalan sekretaris Bisma. Mereka duduk santai di sofa biru laut di ruangan CEO Bisma.


“Ada apa nih, tumben kemari. Alexio mana.?” Tanya Bisma, Barry dan Andi pernah kemari waktu itu saat bersama Alexio. Setelah itu, tak pernah kemari lagi, khususnya puteranya itu.


“Maaf sebelumnya om, bukan maksud kami mau membicarakan hal buruk tentang Alexio.” Ucap Andi pelan menatap ragu pada Bisma yang menatapnya santai.


“Ya.” Sahut Bisma menerima permintaan maafnya.


“Tapi kami peduli sama Alexio, om. Jadi kami mau membahas sesuatu ke om langsung.” Lanjut Andi yang diangguki oleh Bisma sebagai jawaban memperbolehkan.

__ADS_1


“Jadi begini om........” Andi mulai bercerita, menggabungkan ceritanya, cerita Barry dan juga informasi dari Alexio.


Hingga memunculkan kerut di dahi Bisma yang seketika menarik benang merahnya dari laporan pengawalnya melalui video puteranya. 


__ADS_2