
BAB 14
Deru suara mobil merangsek ke dalam telinga Kairan Ladh. Ia yang urung untuk mengikuti seminar di London karena ketidak percayaannya pada Paul untuk mengawasi puterinya, bangkit dan berjalan menuju pintu luar.
Sudah siap memberi ultimatum keras pada Dira. Yang sudah dua kali ini tertangkap basah pulang dini hari.
Berdiri tepat di beranda teras. Bersidekap, mata menajam, deru nafas berat.
“Balapan lagi, huh!!???” ucapan pertama yang menyambut kedatangan Dira yang baru saja menutup pintu mobilnya.
“Sama siapa kamu? Kenapa ada mobil satu la....” ucapannya mengudara
“Malam om, eh pagi salah.” Jonathan bergegas berlari menghampiri ayah Dira yang sudah bak satpam saja.
“Jo? Kamu ngapain bareng Dira?” selidik Kairan Ladh pada pemuda yang merupakan rekan kerjanya.
Jonathan terkekeh sembari menggaruk tengkuknya yang tiba-tiba menggatal.
“Kalian sama-sama ikut balap liar???” Kairan Ladh Junior membelalakan matanya lebar-lebar. Ia memang tahu jika anak temannya ini badung, tapi... fakta puterinya terjerumus hal yang sama, apakah membuktikan jika Dira sudah salah pergaulan??
“Om jangan pikir yang buruk-buruk. Dira Cuma ikut balapan aja kok, gak nakal yang laen.” Jonathan seolah bisa membaca pikiran Ladh Junior dan perlahan mendekat kearahnya.
Sementara Dira hanya termangu, ekspresi datar menatap sang ayah yang memberi tatapan menuntut padanya.
“Aku capek, mau istirahat, bye Jo.” Ucap Dira nyelonong masuk ke dalam. Mengabaikan sang ayah yang harusnya di sapa.
“Kau lihat Jo? Om tidak tahu kenapa Dira akhir-akhir ini berubah seperti itu.” Ladh mengambil kursi dan duduk di sana. Mereka masih berada di teras.
Jonathan menyusul, duduk di kursi sebelah Ladh Junior.
“Jo juga kaget loh om. Mungkin aja Dira lagi masa mengenal dunianya.” Dari cara bicara Jonathan, jelas pemuda itu pro atau membela Dira.
Ladh Junior menatap Jonathan lekat-lekat
“Kenapa om?” Jonathan mendadak kikuk ditatap seperti itu.
“Kamu masih menyukai anak om?” tem bak Ladh. Ia sudah tahu perihal perasaan Jonathan meski tak gencar memperlihatkannya.
“Hehehe, om ini. masih inget aja.” Kekeh Jonathan, wajahnya jelas memerah. Padahal kelas playboy sepertinya tentu tak akan lengah seperti ini.
“Om ingetlah, kamu itu sahabat Dira dari kecil, dan kamu sudah berapa kali nyatain cinta sama dia waktu masih ingusan. Tapi sekarang, om gak tahu.” Ladh kembali bernostalgia pada masa kecil puterinya yang selalu ditembak oleh Jonathan hingga menangis.
“Jadi malu Jo, om.” Jawab Jonathan.
“Kamu masih suka sama anak om?” kembali pertanyaan itu memicu detak jantung Jonathan menggila.
Hayolah, kenapa mendadak jadi cemen gini sih.
Berasa anak cupu yang ketahuan suka sama pujaannya.
Hei... semua korban PHP mu akan berteriak mengatai dan mentertawakanmu, Jo.
“Hah, apa om?” nah kan, mendadak pilon tu bocah.
“Kamu, masih suka sama anak om, si Dira?” ulang Ladh pada Jonathan yang salah tingkah.
“Mmm---- i-iya om.” Jawabnya gugup.
“Baiklah kalau begitu.” Sahut Ladh pelan.
Jonathan cengo, maksudnya apa?
“Maksudnya apa om.?” Kan, mendadak pasokan oksigen di otaknya menguap begitu saja, tak bisamencerna dengan baik.
“Pulanglah, sudah larut.” Ujar Ladh berdiri, disusul oleh Jonathan yang masih kebingungan.
Saat langkahnya sudah menuruni undakan tangga teras terakhir...
__ADS_1
“Jo...!!!” panggil Ladh tiba-tiba. Menahan langkah pemuda itu berhenti.
“Ya, om.” Sahutnya berbalik menatap Ladh kembali.
“3 hari lagi, bilang orang tuamu untuk makan malam di rumah om, ya.” Cetus Ladh pelan.
“Hah? Makan malam? Orang tua Jo,?” tanya Jonathan
“Mmm, kau juga ikut. Penting ya.” Tutur Ladh
“I-iya om, nanti Jo sampein.” Sahut Jonathan.
Ladh melepas Jonathan yang sudah menghilang di balik gerbang besar itu. Dan ia berniat menemui Dira kembali. Perlu mengkonfirmasi sesuatu.
Langkahnya perlahan naik ke lantai tempat keberadaan kamar Dira.
Paul tidak pulang. Anak itu bilang menginap di rumah temannya untuk mengerjakan tugas, begitu katanya.
Tok tok tok..
Ladh mengetuk pintu kamar itu. Tak ada sahutan.
“Dira... nak,, buka dulu pintunya.” Ucap Ladh...
Hening... tak ada sahutan...
“Mungkin Dira sudah tidur. Besok saja kalo begitu.” Ladh berbalik, menuju kamarnya yang ada di lantai bawah. Membiarkan malam ini puterinya pergi ke alam mimpi, berharap gadis manis itu kembali seperti sedia kala. Itu harapnya,.
Namun keesokan harinya...
Mereka tidak bertemu, entah bagaimana Dira bisa melewati pintu depan tanpa disadari oleh Ladh.
Sedangkan dirinya mendadak ada urusan ke luar kota. Dan kembali saat acara makan malam bersama keluarga Jonathan nanti.
.
.
.
Pemuda itu dinyatakan mengalami pecah pembuluh otak dan jantung. Mengerikan bukan.
Alexio tak habis pikir, bagaimana mereka menghajar pemuda itu seorang diri.
Di sebuah bangunan yang hanya berbentuk persegi, terbuat dari kontainer besar, disusun di setiap sudut bak membentuk pagar, dihalangi gerbang besi. Alexio masuk begitu saja, tak ada kunci di gerbang itu.
“Hei, lihat siapa yang datang.” Dari arah bangunan utama yang berada di antara kontainer itu, muncul pemuda yang menjadi salah satu target Alexio dan geng nya. Arya.
“Jo!!!! Ada tamu istimewa nih.” Teriaknya membahana hingga memancing banyak orang dari dalam dan dari sudut kontainer muncul. Kini, mereka bak terkepung.
Tapi Alexio tak gentar sama sekali.
Jonathan muncul....
“Ada apa ini, tumben seorang Alexio mau menginjakkan kakinya ke markas gue.” Seloroh Jonathan dengan kekehan mengejeknya.
“Gue gak ada urusan sama lo. Gue ada urusan sama anak buah lo.” Sahut Alexio dingin. Menatap para targetnya yang beruntungnya lengkap. Meski tidak berada pada posisi yang sama.
“Oh ya??? Lalu sama siapa?” Jonathan bersedekap. Menatap sinis pada Alexio dan anggota gengnya.
“Eh, Jonathan, maen pergi aja sih.” Pembicaraan mereka mendadak pias, saat satu sosok muncul dari dalam bangunan utama itu.
Membuat mata Alexio membola sempurna.
Dira.... gadis itu muncul dari dalam, “Ada apa sih, rame- ra....” matanya pun kini bersirobok dengan mata Alexio. Namun ia berusaha menjaga sikapnya tetap biasa saja.
“Ohh, ada tamu.” Ucap Dira pelan.
__ADS_1
“Eh itu Dira kan?” bisik-bisik anggota geng Alexio.
“iya kenapa dia di sini?” satu suara juga ikut menimpali.
“ke dalem aja Dira, nanti aku masuk lagi.” Jonathan mengusap puncak kepala Dira, berbicara dengan nada lembut.
“Ihh, awas aja ya, inget aku tadi dah ngajuin proposal ke kamu.” Omel Dira, ia bergegas masuk lagi, dan tak menoleh pada Alexio.
Sepeninggal Dira...
“Gue ada urusan sama itu,,, itu,,, ituu.” Alexio menunjuk para pelaku pengeroyokan Zapi dan adiknya. Meminta pertanggung jawaban dari para pecundang itu.
“Heh, kenapa mereka,?? Woy Arya, lo buat masalah sama Alexio?” tanya Jonathan heran.
“Gak ada, gue ada masalah sama Alexio.” Bantah Arya yang juga diangguki oleh yang lain.
Alexio meradang. Emosinya tersulut.
Waktu yang pas...
“Lo lupa, lupa udah buat anak orang cacat dan koma, huh!!!!!!!” sentaknya menggelegar hingga Dira yang ada di dalam bisa mendengarnya.
“Zapi, lo inget? Temen gue yang kalian juga hajar karena mau ngebales perlakuan kalian ke adeknya.” Tambah Alexio, ia berusaha menahan emosinya melalui kepalan tangan yang mengencang.
Melihat ekpresi Arry hanya diam... benar, mereka pelakunya.
“Bener? Kalian gitu?” selidik Jonathan
“Iya bang.” Jawab Arya lirih hanya terdengar di Jonathan
“Kemari kalian selagi gue masih baek-baek mintanya.” Alexio melambaikan tangannya, matanya menatap tajam pada para tersangka yang masih bertahan di tempatnya,.
“Bang. Tolongin gue.” Pinta Arya.
“Woy Alexio, nanti gue yang tanggung jawab, semua biaya perawatan dan dana laennya bakal gue ganti.” Seloroh Jonathan angkuh. Memicu emosi Alexio semakin memuncak.
“Lo tahu, gue paling gak mau meminta dua kali.” Alexio melangkah tegas menuju Arya terlebih dahulu. Sementara Barry, Andi dan anggota geng Alexio yang lainmenuju tersangka lainnya.
Arya bergetar, takut.
“Bang.” Lirih Arya semakin mendekati Jonathan
Dan....
Bugh
Bugh
Bugh
“Gue udah minta baek-baek.” Ucap Alexio menyarangkan pukulannya pada Arya.
“Woy.!!!” Jonathan tanpa aba-aba memukul Alexio dari sisi kiri, tepat mengenai rahang Alexio.
“Damnnnnnn!!!! Keroyokan.?” Decih Alexio tertawa sinis.
Dan..... perkelahian pun terjadi....
“Hentikan!!!!” pekik Dira
Ia mendorong Alexio keras. Hingga melepas pukuran pada wajah Jonathan.
“Jo, ada gue.. ada gue..” ucap Dira, memegang lengan Jonathan
“Lo??” tatap Alexio tak percaya.
“Kenapa? Gue anggota gengnya, lo mau apa? Mau ngehajar gue.. ini.. ayo hajar!!!!” tantang Dira menyodorkan wajahnya ke arah Alexio.
__ADS_1
Oh God!
Apa-apaan ini!!!!!!