
Dira melangkah pelan saat bayang pemuda itu tertangkap netranya...
“Alexio!!!” jerit Dira tertahan namun kakinya cepat berjalan.
Refleks ia mundur dan menutup mulutnya dengan telapak tangannya. Melihat keadaan Alexio meringkuk dalam bathup, tampak menangis dan tubuh luka di beberapa bagian.
Dira maju dan duduk menopang kaki dengan dua lututnya, menempelkan tubuhnya pada dinding bathup.
Menyedihkan, ada apa dengan Alexio? Seragamnya bahkan terlihat lusuh seperti dihantam debu kotor.
Perlahan jemari Dira mengulur mengarah pada dahi Alexio..
“Al-alexio.” Panggilnya gemetar, bahkan tremor jemarinya tampak jelas.
“Hah!!!” Alexio membuka matanya saat merasakan ada yang menyentuhnya.
“Dira?”
.
.
.
“Alexio!!!” Barry dan Andi yang melihat kedatangan sahabatnya bersama Dira dari anak tangga atas sontak berdiri berbarengan.
Tak sabar mendekat sampai menaiki undakan tangga itu.
Dira yang memapah Alexio memberi isyarat gelengan kepala untuk Barry dan Andi agar jangan berucap apapun saat ini.
“Ayo, gue bantu.” Barry mengambil alih pegangan Dira karena tak memungkinkan memapah tubuh kokoh Alexio dengan Dira yang ramping itu.
Andi pun beringsut membantu bagian pundak Alexio sebelah kiri.
“Di mana kotak obat?” tanya Dira sebelum turun sempurna.
“Di dekat pantry.” Jawab Barry yang segera diangguki Dira hingga gadis itu melesak menuju tempat yang dimaksud.
Beberapa saat kemudian....
“Arghhh, pelan-pelan Dira.” Alexio meringis saat alkohol yang di kemas tube kecil itu sudah mengaliri luka Alexio melalui cotton bud.
“Tahan.” Titah Dira datar.
“Bentar.” Alexio mengambil ponsel di saku celananya lalu menyampirinya ke telinga kirinya.
Telepon??
Tanpa dering.
“Iya, iya, nanti aku ke sana. Tunggu.” Ucap Alexio menjawab panggilan.
Semua gerak-gerik itu diperhatikan oleh tiga orang di dekat Alexio. Mereka sudah menduga, Alexio kembali bertingkah.
“Sudah? Dari siapa?” tanya Dira pura-pura tidak tahu.
“Teman.” Jawab Alexio.
Pembicaraan tak dilanjutkan, mereka tak mau melanggar terlalu jauh batasan itu.
“Andi dan Barry mau pulang kan? Sana pulanglah.” Dira tiba-tiba mengusir Andi dan Barry tanpa aba-aba. Hinggadua pemuda itu jelas bingung.
__ADS_1
“Mak---“ Barry hendak protes, tapi Andi segera paham, ia menarik lengan Barry untuk pergi dari markas.
Setelah memastikan Alexio sudah selesai diobati, keduanya berpamitan dan meninggalkan Dira serta Alexio.
“Alexio.” Panggil Dira pada Alexio yang sudah merebahkan tubuhnya di sofa.
“Hmm.” Sahut Alexio berdeham.
Dira menggigit bibir bawahnya pertanda gugup, memilin jemarinya mengatasi rasa cemas.
“Kamu.... ehmmm, maksudnya teman kamu itu yang biasa nelpon itu, kan?” tanya Dira yang dijawab Alexio dengan dehaman lagi.
“Boleh aku bertemu dengannya kapan-kapan.?” Pinta Dira berharap.
Alexio yang tadinya menutup kepalanya dengan satu lengan, kini memberi perhatian penuh menatap Dira dengan mata penuh selidik.
“Buat apa?” tanya Alexio
“Aku mau tahu aja.” Jawab Dira menahan gugup.
Alexio tidak merespon. Ia hanya diam.
Merasa diacuhkan, Dira sadar diri.
“Oh. Ya, kamu kemana gak masuk sekolah? Berantem?” Dir amengalihkan pembicaraan. Ia lupa jika konteks pembahasannya yang ini sudah mengganggu ranah pribadi Alexio.
“Ada urusan penting.” Sahut Alexio dingin.
Dira menatap Alexio saat jawaban pemuda itu seperti tersirat terganggu.
“Maaf.” Ucap Dira menyadari .
Hening.....
Terasa dingin situasi diantara mereka.
“Dira.” Panggil Alexio memecah kecanggungan mereka.
“Hmm. Iya.” Sahut Dira.
“Kamar itu....” Alexio terasa berat meneruskannya,
“Gak usah dijelasin kalo berat, aku gak maksa kok.” Dira memberi pilihan untuk Alexio tak perlu memberikan penjelasan.
“Gak. Gak, kamu udah lihat kan.” Tolak Alexio.
“Kamar itu, bukankah aneh?” tanya Alexio tertawa miris.
“Siapa bilang? Gak aneh.” Bantah Dira
Alexio sigap duduk. Menatap Dira lekat.
“Jangan memaksakan memahamiku, Dira. Kamu melihat sisi lain dari aku hari ini.” jelas Alexio penuh pilu dari maksudnya.
“Aku suka apapun yang ada di kamu, jadi kenapa kalo aku mau memahami dunia kamu. Salah?” Dira balas menantang.
Alexio terkekeh... “Aku tidak mau dikasihani.” Ucapnya
“Apa semua karena kembaran kamu, Alexio? Kamu jadi gini?” tanya Dira menduga.
“Satu sisi mungkin, aku benci saat tahu orang tuaku memilih menyelamatkanku ketimbang Alexia saat itu. Dan lucunya ayahmu menyetujui hal itu, padahal sudah jadi tugasnya menyelamatkan pasien.” Jelas Alexio mengepalkan tangan.
__ADS_1
Ok, Dira paham dari arah ini.
Katanya tadi satu sisi?
“Lalu sisi yang lain?” tanya Dira penasaran
“Aku gak tahu.” Jawab Alexio
“Alexio.” Dira memindahkan duduknya di sebelah Alexio, menggenggam tangan pemuda itu lembut.
“Kamu bisa berbagi apapun itu sama aku.” Jawab Dira penuh perhatian.
Alexio menggeleng, “Kamu gak akan paham masalah aku Dira, gak akan pernah.” Tolak Alexio.
“Kalo begitu, ajak aku bertemu dengan teman kamu yang bernama Xia itu.” Pinta Dira menuntut.
Alexio lagi-lagi menggeleng, “Please.” Ia mengeluarkan kata itu lagi.
“Tapi aku maksa, Alexio, sekali aja.” Dira memohon kali ini.
Dan bersyukurnya Dira, pemuda itu mengangguk meski tebersit keraguan.
“Ya udah, kamu makan dulu, terus nanti ajak aku ketemu sama temen kamu, oke?” Dira membuka kotak makan yang tadi sebelumnya dipesan Andi melalui layanan antar.
Tak lama setelah itu, mereka pergi menuju di mana tempat Alexio dan Xia bertemu.
Gerbang di buka...
Dira masuk beserta Alexio menuju pintu besar sebagai jalan ke dalam rumah.
Rumah ini lengang, bahkan perabotannya ada yang ditutupi. Tak ada satupun figura atau poto yang tergantung di dinding. Rumah sebesar ini tampak kosong padahal keangkuhannya sudah menyapa di awal masuk.
Dira menoleh ke penjuru rumah. Tak ada yang aneh.
“Bentar ya, aku panggil Xia dulu,” Alexio meminta Dira menunggu di ruang tamu sementara dirinya masuk lebih dalam lagi.
5 menit Dira menunggu hingga Alexio muncul.
“Kenapa?” Tanya Dira mendapati Alexio sudah mendekatinya dengan wajah lesu.
“Xia gak ada.” Sahutnya memijat pelipisnya.
“Kemana? Bukannya tadi telpon dan ngajak ketemuan?” tanya Dira lagi.
Alexio menggeleng, “Gak tahu juga, tadi memang ngajak ketemu,” sahut Alexio.
“Coba telpon lagi.” Kata Dira memberikan saran yang disetujui Alexio.
Sontak Alexio meraih ponsel dan mengarahkan pada telinganya. Dira pelan mendekati sisi benda itu untuk tahu lebih jauh.
Tapi, caranya justru membuat semakin miris pada Alexio
“Iya. Hmmm, ya udah kalo gitu, nanti hubungin aku ya.” percakapan Alexio tampak berjalan lancar.
Tapi tidak dengan ekspresi Dira saat ini...
Karena apa yang ia dengar berbeda dengan apa yang disahuti oleh Alexio,.
Ya!!! Alexio yang terdengar berbicara layaknya dengan lawan bicara pada umumnya, namun pada pendengaran Dira, suara sahutan itu tak lain hanya ocehan operator yang menyatakan...
“Maaf nomor yang anda hubungi salah, silahkan ulangi lagi.”
__ADS_1