
Dome melangkah lesu menaiki tangga pesawat jet pribadi milik keluarganya, “Baiklah, aku akan memuaskan kemalanganku hari ini saja.” Ucapnya lalu masuk setelah seorang pramugari menyambutnya penuh senyum.
“Hai my boy.” Hiro memanggil Dome agar mendekat padanya.
“Mana mama?” Tanya Dome tak melihat keberadaan ibunya di sebelah sang ayah.
“Sudah tidur duluan, nyonya besar lelah seharian berjalan-jalan keliling kota ini.” sahut Hiro menuangkan segelas wine untuk puteranya.
Beberapa teguk Dome alirkan ke tenggorokannya, perasaan mencekat tadi perlahan ikut turun bersama cairan berwarna merah yang diberikan ayahnya.
“Bagaimana tadi?” Hiro bertanya sesaat puteranya menaruh gelas piala yang tadi digenggam.
“Bagaimana apanya?” Dome menoleh pada Hiro, bingung maksud pertanyaan ayahnya.
“Pesta pernikahan yang kau hadiri bersama mantan kekasihmu itu.” Jelas Hiro pada maksud pertanyaannya.
“Maksud papa pesta lamaran mantan kekasihku, kan.” Dome memberengut sebal dan Hiro terkekeh melihatnya.
“Ayolah boy, masih banyak gadis-gadis yang menarik di luaran sana dan lebih baik dari mantanmu.” Hiro mengajak Dome keluar dari kegalauannya. Tapi salah, puteranya justru menembak laser tajam melalui matanya.
“Dira tidak sama dengan perempuan di luar sana pa. Dia punya pesona sendiri.” Semakin maju saja bibir Dome saat menjawab ucapan ayahnya.
Bukannya membujuk sang putera, Hiro malah semakin tergelak melihat reaksi Dome yang tidak suka mantannya dibandingkan dengan wanita lainnya.
“Pa.” Tegur Dome, gemas dengan ayahnya
“Baiklah, baiklah, papa minta maaf karena menyamakan mantanmu itu dengan wanita di luar sana. Tapi Dome, tidak selamanya kau terkurung dalam kegalauanmu. Cari perempuan lain yang kau sukai.” Hiro memberikan saran baik pada Dome.
“Papa akan ajak kau merasakan bagaimana menjadi pria yang membuat wanita akan tunduk padamu. Kita akan berkeliling ke banyak club malam, akan papa ajari kau nanti cara menjadi seorang cassanova.” Dengan bangganya, Hiro akan menyalurkan pengalaman dan ilmu menjadi pria sejati, atau.... brengsek harusnya?
“Kau harus ingat Dome, jangan menjadi seperti papamu, dia terlalu brengsek saat itu.” Latina, sang ibu tetiba muncul dari balik bilik yang tadi tertutup.
“Hei, itu dulu sayang.” Hiro mengerang mendapati dirinya malah diserang istrinya meskipun Latina mengatakan hal itu sembari tertawa kecil.
“Dome, ingat peraturan keluarga kita, ya.” Latina menatap puteranya dalam, dan Dome membalas.
__ADS_1
“Mafia yang ada di bawah papamu sudah dikenal orang di penjuru dunia. Membawahi 2 mafia besar dan ditakuti orang, tapi memiliki identitas jelas.” Latina melanjutkan.
“Kau bebas melakukan semua hal kecuali mendekati obat terlarang, dan kau bebas menjadi pria brengsek dengan mengoleksi banyak wanita, tapi jangan pernah kau sakiti wanita yang baik” Latina menasihati Dome lagi.
“Betul, meski kita melakukan kejahatan, tapi kita tidak melakukan bisnis obat terlarang dan human trafficking, kita hanya melakukan tindak kriminal atas dasar hubungan dengan musuh saja.” Hiro menambahkan.
“Maka dari itu, lakukan kesenangan sepuasnya di saat usiamu masih muda, kau suatu saat nanti akan menjadi pimpinan 2 mafia besar, Dome. Maka singkirkan sikap yang seperti ini, menjadi galau berlebihan hanya karena wanita.” Ujar Hiro lagi
“Ada banyak nyawa yang harus kau lindungi nanti, semua bawahanmu sudah seperti keluargamu, pahami itu.” Lanjut Hiro dan diangguki Dome.
“Maaf ma, pa. Aku hanya akan menghabiskan waktu cukup hari ini untuk membiarkan diriku bersedih atas patah hatiku ini.” ucap Dome pelan.
“Tentu, seorang pria boleh menangis, sayang, kau tetap putera kecil dan manis menurut mama.” Latina memeluk Dome dan mencium pelipis sang putera penuh sayang.
Hening, keluarga kecil ini menikmati rasa haru bertiga. Menyalurkan kekuatan pada putera semata wayang mereka agar segera kembali bersemangat.
“Papa yakin, kau akan menjadi pria yang dikerumuni banyak wanita, lihatlah betapa tampannya puteraku.” Hiro menepuk punggung Dome penuh rasa bangga, membesarkan hati puteranya.
“Kau harus memiliki pengalaman menjadi pria yang dimaki wanita dengan kata brengsek, Dome.” Hiro memberi pemahaman sesat kembali.
“Hah? Bagaimana bisa? Dan kapan?” Hiro terkejut mendengarnya.
“Saat usiaku masih 15 tahun pa. Mereka yang ingin menjadi pacarku pasti mengumpatiku jika aku hanya diam tidak menikmati permainan mereka.” Jawab Dome ambigu di ujung kalimatnya.
“Menikmati permainan?” baik Latina dan Hiro sama-sama mengucapkan kata itu.
Dome mengangguk. “Maksudnya?” kembali kompak, Hiro dan istrinya
“Para gadis gila itu selalu menyentuhku sembarangan, padahal sudah aku tolak tetap bersikeras.” Jelas Dome.
“Lalu?” Hiro tampak antusias sekali
“Beberapa dari mereka bahkan saking ingin mendapat perhatianku, membuka pakaian mereka dihadapanku, tapi tidak pernah membuatku tertarik sama sekali.” Ujar Dome santai
“Lalu?” Latina menggelengkan kepalanya melihat sang suami kembali melempar tanya dengan tak sabarnya.
__ADS_1
“Aku biarkann saja mereka mau apa. Malas sekali aku mau menikmati. Jadi terserah mereka mau melakukan apapun pada tubuhku.” Jelas Dome tak malu sama sekali di hadapan orang tuanya yang sudah nyaris menjatuhkan rahang mereka mendengar penjelasan itu.
Hening kembali, Hiro dan Latina melirik satu sama lain. Dan mengangguk bersama.
“Tak apa, bagus, bagus sekali, papa bangga padamu Dome!!!” Hiro bertepuk tangan sebagai reaksi bangganya atas pencapaian sang putera.
Latina dibuat tak percaya, bukan ini yang disampaikannya secara telepati pada sang suami.
Sungguh si Hiro ini, sang guru sesat.
“Kau akan menjadi pria dengan sejuta pesona luar biasa setelah ini, eh, salah, kau sudah menjadi seperti itu, my boy.” Ujar Hiro
“Lalu, sudah sejauh apa kau bersama Dira, apakah kalian pernah....” Hiro memperagakan gerakan dengan memonyongkan bibirnya.
“Pernah itu?” tanya Hiro dan Dome menggeleng pelan
“Hug?” pertanyaan Hiro membuat Dome lagi-lagi menggerakan kepalanya ke kiri dan ke kanan.
What???
“Kecupan ringan?” semakin masuk pada taraf sederhana sentuhan
“Belum pernah.” Jawaban Dome membuat Hiro membeliakan matanya.
“Jika kau belum pernah melakukan hal romantis berupa sentuhan pada Dira. Lalu apa yang sudah kalian lakukan, boy??” kalimat panjang yang diakhiri dengan pertanyaan ditambah lebih dramatis oleh Hiro denga menyertakan nada frustasi di dalamnya.
Dome menjelaskan apa saja yang sudah mereka lakukan sepanjang menjadi sepasang kekasih, tidak, Dome dalam hatinya sadar mereka tidak memiliki ikatan yang normal sebagai pasangan.
Setelah mendengar penjelasan Dome, Latina dan Hiro sama-sama menghela nafas pasrah.
Sungguh miris putera mereka, ketika jatuh cinta malah dengan wanita lebih tua dan tidak dibalas pula, dan belum lama harus menyaksikan mantannya dilamar di depan matanya setelah dengan percaya dirinya ia ikut mendampingi ke pesta sialan itu.
“Ya Tuhan, Dome. Malang sekali nasibmu.” Hiro menepuk pundak puteranya, dan gerakan itu malah membuat Dome seketika.....
“HUAAAAAAAA,......” Menjerit bak anak kecil yang kehilangan mainannya.
__ADS_1