
Tubuh Alexio ambruk dalam pelukan Dira.
“Alexio!!!” pekik Dira saat tubuh pemuda itu lagi-lagi pingsan.
Tahu pemuda itu pingsan, Dira sigap merebahkan tubuh Alexio di sofa tempat mereka duduk, membuka kancing kemeja hingga meyisakan kaos hitam Alexio saja.
Masa bodo ia akan dicerca karena lancang dan tidak tahu malu membuka baju seorang pria. Ia saat ini membantu Alexio agar tidak kepanasan, ia sedikit tahu teknik dasar penyelamatan terhadap orang.
Di samping ayahnya seorang dokter dan pemilik rumah sakit, ia juga dididik keras belajar soal itu, minimal untuk menyelamatkan keluarga, begitu ucapan Kairan Ladh kala itu.
Soal CPR, atau menjahit luka saja Dira bisa, bahkan menyuntikkan obat serta memasang infus pun ia mampu.
Bagaimana ia tidak mahir soal hal tersebut, Kairan Ladh memfasilitasi ruang khusus bagi putra dan puterinya untuk belajar teknik tersebut. Maka, baik Paul dan Dira bisa memimalisir kejadian tidak terduga apabila orang sekitarnya butuh pertolongan pertama.
Dan kini, kemampuan itu kembali digunakan.
Dira memutarkan kepalanya, matanya menyalang liar mencari kotak obat.
Ya, ia butuh minyak angin untuk merilekskan Alexio. Ia sengaja tidak membawa Alexio ke rumah sakit.
Karena tentu akan membosankan, Alexio hanya pingsan, tidak ada luka di tubuhnya yang membutuhkan perawatan cepat, memang ia terluka tapi sudah diatasi oleh rumah sakit sebelumnya.
Ia tak mau membuat Alexio seolah seorang pesakitan.
Ponsel Dira berdering, ia segera membuka tas kecilnya untuk melihat siapa pemanggil.
Linda
“Halo tante.” Sapa Dira saat menjawab panggilan Linda.
“Bagaimana Dira, kamu masih bersama Alexio?” tanya Linda diujung sana.
Sepertinya Linda sudah mendapat kabar keberadaan Alexio dua sahabat puteranya, Andi dan Barry.
“Masih tante, Dira ada di apartemen Alexio.” Jawab Dira sungkan, malu sekali rasanya.
“Apa Alexio ada di dekat kamu, Dira?” tanya Linda
“Alexio sedang memesan makan, Tante.” Jawab Dira berbohong. Ia tak mungkin memberi tahu keadaan Alexio, bisa dipastikan orang tua cowok ini akan segera melesak kemari, berikut perintah membawa puteranya ke rumah sakit.
“Ohh begitu, nanti kabarin tante ya soal Alexio, kalau bisa tolong kamu bujuk dia untuk tinggal di rumah sini saja, ya nak.” Ada nada penuh harap di dalam ucapan Linda.
“Baik tante.” Dira menyetujui, ada rasa haru di sini, ia tak bisa menahan saat panggilan di matikan. Tangisnya mulai terdengar, pilu, ia menggigit bibirnya agar suara isaknya tak keluar.
Tapi percuma.
Semakin matanya menatap Alexio, sesaknya semakin menyentak.
__ADS_1
.
.
.
Entah memang Dira yang sensitif atau memang Alexio seakan menghindarinya. Setelah kejadian malam itu, Alexio seakan sering tak bisa ditemui Dira. Ada saja cara pemuda itu lari darinya.
Ini adalah hari terakhir mereka melaksanakan ujian dan merupakan penentuan kelulusan semua siswa kelas 12 Golden School dan siap menempuh pendidikan di kampus impian mereka, melanjutkan cita dan asa di dunia yang lebih luas.
“Kalian tahu kemana Alexio?” Dira menghampiri Andi dan Barry yang duduk di jok motor, bersiap untuk pulang setelah ujian selesai mereka hadapi.
Andi menggeleng, “Gak tahu, Alexio susah sekali untuk dihubungi akhir-akhir ini.” jawab Andi
“Kabarin aku ya kalo ketemu cowok tengil itu, awas aja kalo dapet.” Ucap Dira berang.
Ia berlari menghampiri mobil Paul yang sudah terparkir di depan sekolahnya. Namun sedikit lagi sampai, ia dihadang motor., dari warna itu ia sudah bisa menebak
Alexio pelakunya.
Menyodorkan helm kepada Dira, “Naik.” Perintahnya pada Dira
Gadis itu menoleh pada mobil yang tengah menunggunya, pasti Paul tak memperhatikannya saat ini.
“Buruan.” Tegas Alexio yang segera dipatuhi Dira. Mengenakan helm lalu pergi dari sana.
Dira yang sudah terbiasa merangkul pinggang Alexio melakukan hal itu tanpa peduli pemuda itu setuju atau tidak.
Nyawanya jadi taruhan, namun rindunya juga jadi prioritas. Kaburnya pemuda ini membuat emosi jiwa Dira seakan memberontak, mau marah rencananya tadi, tapi itu hanya ucapan PHP saja. Mana mau dia melepas emosinya demi sebuah waktu kebersamaan seperti ini.
Dira hanya memperhatikan jalan yang mereka lalui, masih belum tahu kemana tujuan yang dibawa Alexio ini.
45 menit kemudian, motor berhenti dipinggiran jalan. Ada tulisan di sana.... Jalan Lingga.
Dira kembali membaca dan menatap tajam pada nama jalan itu, Jalan Lingga ulangnya pada plang nama itu.
Alexio mematikan mesin motornya, mendekati Dira dan melepas helm yang melekat di kepala gadis itu.
“Kenapa kemari?” tanya Dira heran, tidak ada tempat berteduh selain pohon beringin di pinggir, Alexio membawanya ke sana, duduk asal di salah satu bangku besi panjang yang di naungi pohon besar itu.
Angin sepoi-sepoi meringankan hawa panas siang itu. Setidaknya itu yang dirasakan Dira.
“Ini adalah tempat di mana awal mula aku bertemu dengan Xia, Dira.” Jawab Alexio menatap lurus pada hamparan jalan aspal yang diselimuti cahaya mentari yang panas menyengat.
Dira ikut menatap ke depan.
“Dan di sini juga aku membantunya malam itu.” Lanjut Alexio
__ADS_1
“Malam itu? Kapan?” tanya Dira
“Sepulang aku mengantarmu malam itu.” Ujar Alexio menjawab
Dira berpikir, apa itu artinya di tempat inilah Alexio mendapat luka di tubuhnya.
“Jadi karena itu kamu terluka lagi?” Diramenuangkan tanyanya
Alexio menoleh, “Luka? Gak, aku hanya menolong Xia malam itu lalu membawanya ke klinik.” Bantah Alexio.
Ia memang merasa tak melakukan apapun karena hanya membawa Xia saja. Memang ia heran ketika berada di rumah sakit paginya.
“Tapi..” Dira tertegun jawaban Alexio.
“Malam itu, Xia bertemu dengan guru privatnya. Dan di sini pula Xia berkelahi dengan gurunya.” Jelas Alexio.
“Lalu, luka yang kamu dapat 2 hari sebelum kejadian itu darimana?” Dira mengingat bahwa Alexio terluka saat ia temukan di markas pemuda itu.
“Aku berkelahi saat itu.” Jawabnya enteng
“Dengan siapa?” tanya Dira menatap Alexio lekat
“Gurunya Xia.” Jawab Alexio singkat.
“DI mana?” tuntut Dira
“Rumah Xia.” Ujar Alexio
Mata Dira mengedar, ia memperhatikan jalanan in sepi. Meski jalan raya tapi termasuk jalan yang hanya dilalui sebagai pintas saja, bukan jalan utama. Dan menilik jawaban Alexio, Dira butuh sesuatu saat ini.
Matanya cepat menatap sekitar. Dan akhirnya bernafas lega ketika yang dicari ketemu.
CCTV
Ya. ada satu CCTV di salah satu lampu jalan. Ia berdiri dan menelpon Bisma, menjauh dari Alexio.
“Bentar ya, aku mau nelpon abang. Takut dia nunggu lama di sekolah.” Bohong Dira mencari alasan, Alexio mengangguk setuju.
Dira menekan panggilan pada Bisma.
“Halo om Bisma.” Panggil Dira saat telponnya dijawab.
“Iya Dira.” Sahut Bisma.
“Om bisa mengecek CCTV di jalan Lingga ada pohon beringin di dekat sana.” Pinta Dira
“Jalan Lingga?!!” Bisma terbelalak mendengar nama itu....
__ADS_1