
“Tidak sia-sia aku menghadiahi mobil itu untukmu kalau begitu.” Sambung Alexio membuat Dira sontak memutar kepalanya menatap Alexio penuh tanya.
“Mobil itu dari papaku.” Tolak Dira
“Tanya saja padanya, mobil Mobil Porsche 718 berwarna miami blue adalah hadiah dariku tepat ulang tahunmu yang ke 19 tahun, dan tepat pula kau kabur ke Jepang saat itu.” Jelas Alexio meragukan Dira akan keyakinannya.
“Iyakah? Masa sih?” gumamnya masih ragu
Ia menoleh pada Alexio, perawakan sudah dewasa, dan semakin bertambah tampan saja pemuda, eh pria, pria kini Dira lebih cocok menyebutnya.
Ada pesona baru yang muncul dari Alexio, terlebih kini ia dengan penuh percaya diri membawa Dira menggunakan helikopter mengitari langit kota Tokyo.
“Kau, mau belagak jadi tuan Grey, kah? Sok bawa heli pula.” Ujar Dira menilai, menambah nilai keangkuhan Alexio, yang justru itu menjadi daya tarik di sana.
“Tuan Grey? Siapa itu?” tanya Alexio menangkap nama asing di telinganya.
“Itu, pria idamanan para gadis, yang buat melting dan iri pengen jadi Anastasia Steel.” Sahut Dira
“Anastasia Steel? Siapa pula itu?” lanjut Alexio semakin mengerutkan dahi, namun fokusnya tetap mengendalikan tuas kemudi.
“Kau tak tahu? Aishh tak asyik.” Cibir Dira.
“Terus kenapa membahas dua nama yang aku saja tak kenal siapa mereka, segitu pentingnya.” Balas Alexio
“Ya kau tak asyik intinya. Tidak paham selera para gadis.” Balas Dira tak kalah sengit
“Baiklah terus kenapa, apakah aku bertambah keren di matamu kali ini?” ujar Alexio melirik sekilas Dira.
“Gak tahu. Sana buruan, aku capek. Ngeladenin bocah edan modelan Dome saja aku sudah berasa ngelayanin 10 pasien. Aku capek.” Ucap Dira menutup matanya, mengistirahatkan sejenak.
“Bangunkan aku kalo sudah sampe Chiba.” Lanjut Dira dan tak lama terdengar dengkuran halus dari gadis di sebelah Alexio.
“Dasar.” Sahut Alexio melirik sekilas dan melajukan heli kembali.
Butuh dua jam perjalanan mereka hingga pendaratan pun sudah dilakukan, dengan Dira kini sudah nangkring manis di atas tempat tidurnya.
“Minimalis untuk anak gadis Kairan Ladh yang kaya raya.” Ucap Alexio yang menilai apartemen Dira, ada dapur, ruang makan kecil, tempat mencuci dekat balkon, kamar mandi dan bathup, ruang tamu kecil, tempat tidur yang disekat dengan kaca dan dilapisi gorden bunga-bunga yang manis.
__ADS_1
“Apa katanya tadi, Tuan Grey? Anastasia Steel?” Alexio mulai mengotak atik ponselnya. Tak perlu merasa kesulitan, cukup menekan layar dan mencari simbol microphone lalu menyebutkan pencariannya.
Hingga tak butuh waktu lama yang ia cari pun keluar dengan cepat, sederet informasi yang sama, aktor dan aktris pemain film yang cukup fenomenal di zamannya.
“Ini maksudnya?” Alexio mengerenyitkan dahinya lalu menatap Dira yang masih terbaring.
“Dia menyukai hal ini?” Seringai pun terlukis segera di wajah rupawan Alexio ketika mendapati arti dari film yang dimaksud.
2 jam kemudian, geliat tubuh Dira menandakan jika ia tak lama lagi akan membuka matanya.
“Eungggghh.” Menarik tangannya untuk merenggangkan otot yang terasa kaku, bahkan pinggangnya pun ikut tertarik saking sensasi yang melegakan.
“Hoaaaammmmm.” Bahkan ia membuka mulutnya lebar-lebar untuk menguap, aishhh jauh sekali kesan sok anggun yang biasa di tampakkan ke luar sana.
Dan mungkin setelah ini, Dira harus waspada untuk menjaga agar tidak sembarangan lagi, ketika matanya menangkap kehadiran orang di kediamannya saat kebiasaan itu keluar alami.
“Hoaa...... Al-Alexio?” ucapnya menahan mulut yang sudah terbuka tadi. Dah mirip singai masai kau Dira, sudah rambut melebar ke mana-mana, mulut kau dongak sesempurna itu yang jika bisa memiliki daya hisap bak vacum, mungkin semua benda di sekitarmu akan masuk ke mulutmu itu.
“Ka-kau, sejak kapan di sana, dan aku kenapa bisa di sini?” tanyanya heran sendiri melihat keberadaannya yang jelas ada di dalam kamarnya.
Alexio hanya menjawab dengan tatapan netra tajamnya, seolah semua tanya itu dijawab di sana.
“Balik sana gih, di gerebek pak RT baru tau rasa.” Celetuk Dira bertahan mengajak duel lomba menatap dengan dinding.
“Pak RT gundulmu, kau lupa ini negeri apa?” Alexio berdiri, menapaki lantai kamar Dira yang dialasi karpet berwarna biru muda.
Nyesssss.
Kasur empuk itu terasa bergerak, Dira merasakan kalau Alexio sudah menekan kasurnya. “Sanalah, syuhhh syuhhh.” Tangannya mengibaskan entah mengarah ke mana sementara matanya betah bersitatap dengan dinding.
Hap
Tubuhnya membeku seketika, saat tangan yang dikibas liar itu ditangkap Alexio.
‘Ya Tuhan, AC mati napa? Gerahhhhh.’ Batinnya yang mendadak merasa kepanasan di dalam ruangan dingin itu.
“Lihat aku.” Titah Alexio yang memiringkan kepalanya untuk menangkap raut wajah gadis itu yang lebih tertarik memandangi dinding berwarna putih.
__ADS_1
“Baliklah sana, kau itu pengangguran apa, huh!” sungut Dira yang tidak mampu lagi mengatur kinerja otak dan jantungnya yang berkhianat saat itu juga. Entah squat jump, lari jarak jauh atau lagi lempar lembing.
“Dira, ngadep sini.” Lagi-lagi ucapan bernada perintah itu enggan dibantah, tapi bukan Dira namanya jika patuh. Jiwa bar-bar yang tak tahu malunya dulu masih tersisa di dalam sana.
“Dira.” Memanggil lagi karena tak ada sahutan dari Dira.
Nyesss
Alexio memilih berpindah posisi, yang kini menaiki ranjang untuk menjangkau wajah gadisnya. Menggunakan telunjuk dan jempolnya, ia menjepit dagu Dira agar menoleh padanya.
Blushhhh
‘Sialan, pesona pria ini gak ada matinya.’ Geram Dira yang tak bisa mengendalikan dirinya hingga rona merah malu-malu macan itu menghiasi wajahnya.
“Pulanglah, lagian kenapa kau bisa berada di kamar cewek, gak malu apa.” Masih bertahan sok judesnya.
“Kenapa memangnya? Kau itu tidur seperti sapi betina, bahkan tak sadar sampai aku bawa masuk kemari...” balas Alexio
“Harusnya kau aku bawa ke hotelku di Okinawa sana saja, biar bebas mau aku apa kan di sana.” Sambungnya menatap Dira yang sedikit-sedikit menunduk, sedikit-sedikit menoleh.
Alexio mengikis jarak, hingga wajah Dira maupun dirinya sama-sama saling merasakan hembusan hawa naga masing-masing.
Menatap lekat, sementara Dira membeku sendiri. Jantungnya sudah lari menaiki pesawat sana saking sudah tak jelas lagi degupan liar itu.
“Ka-kau ma-mau nga-ngapain?” Dira mendadak berubah menjadi Aziz gagap, gegep seketika.
“Menurutmu apa?” balas Alexio menyunggingkan senyumnya yang semakin memacu jantung Dira melompat semakin liar.
“Gak tau.” Jawab Dira asal, padahal ia bukannya berharap, tapi momen deketan kayak gitu kan pasti ujungnya gitu keun?
“Bukankah kau mengidamkan tuan Grey dan Anastasia Steel?” Alexio mengerling nakal pada Dira yang tertegun seketika
“Part berapa yang kau inginkan Dira Kairan Ladh? Aku bisa menjadi tuan Grey mu dari session 1 sampai 3.”
...What!!!!!!
...
__ADS_1
...MAAKKKKKKKKK BUKAN INI MAKSUD GUEEEEEE!!!!!!!!!!!!! 🙈🙈🙈🏃♀️🏃♀️🏃♀️🏃♀️🏃♀️🏃♀️
...