Alexio "Diary Merah Muda"

Alexio "Diary Merah Muda"
Bab 96


__ADS_3

Jauh di tempat lain....


“Nyonya, pria yang bernama Alexio sudah bersiap akan ke Bali.” Seorang pria berpakaian hitam-hitam melaporkan informasi pada sosok misterius yang duduk di sebuah sofa. Hanya menampakkan kaki mulus, sepatu heels berwarna biru gelap...


“Biarkan, dan diikuti terus bocah itu.” Ia memberikan perintah konsisten untuk mengawasi semua aktifitas Alexio.


“Siap nyonya.” Pria itu melangkah dan menutup pintu segera, meninggalkan sosok wanita misterius tadi yang kini mengetukkan jemari lentik penuh kuteks sewarna sepatunya.


“Sudah sejauh apa yang kau ketahui, Alexio sayang.” Ucapnya, tampak sunggingan sudut bibirnya yang menyeringai sinis.


Tangannya menggenggam selembar poto, tampak Alexio yang berwajah dingin menggendong tubuh Dira saat gadis itu terjebak di toilet.


“Tidakkah ini akan bertambah semakin menarik, Al.” Lanjut wanita itu yang tertawa lepas setelahnya, sungguh aura akibat tawa itu justru menciptakan suasana mencekam.


Sementara yang sedang dibicarakan sudah tiba di bandara Ngurah Rai bersama Roy dan beberapa pengawal lainnya. Alexio yang mengenakan kaus putih ditutupi jaket coklat bersama celana cargo lalu dilengkapi kacamata hitam berikut topi hitam melenggang keluar.


“Alex!!!” Jeritan di antara kerumunan para penjemput masuk ke telinga Alexio yang menemukan siapa pelakunya.


“Hai Zero.” Alexio tersenyum mendapati pria matang yang mengklaim ia menjadi adik angkatnya itu sudah menanti kedatangannya.


“Ayo, menginap di sebelah kamarku saya, ya?” Tawar pria bernama Zero.


“Apa tidak akan mengganggu aktifitas liarmu nanti?” Alexio balik bertanya, namun semua ucapannya mengandung maksud mencibir.


Cassanova yang masih menikmati menjelajah tubuh wanita dari muda sampai tua itu terkekeh mendengar ucapan Alexio.


“Tidak, tenang saja, aku tengah berpuasa saat ini.” Sahutnya tenang tapi wajahnya mengerut setelah itu.


“Hei kenapa broda?” ujar Alexio menangkap gurat wajah Zero lesu.


“Wanita incaranku kali ini susah sekali ditangkap, sudah dijebak beberapa kali selalu berhasil lolos.” Ceritanya frustasi, Alexio tertawa mendengarnya. Mereka sedari tadi berbincang sampai kaki itu tiba di sebuah lamborgini hitam.


“Kau cari kendaraan lain, aku hanya mengajak Alexio saja untuk menumpang.” Zero melirik Roy dan memberikan perintah demikian.


“Ayo Alex.” Ajak Zero yang sudah berdiri di samping pintu kemudi dan diikuti Alexio dari sisi lainnya.


Ban mobil sport yang dikendalikan Zero sudah mulai berputar meninggalkan area parkir berikut sekumpulan pengawal Alexio yang menunduk hormat di belakang sana.


“Apa aku perlu menemanimu selama di Bali, Alex?” tanya Zero melirik sekilas pada Alexio yang fokus dengan ponselnya.

__ADS_1


“Menemani? Tidak salah dengar? Tidak perlu, kau lakukan saja kesenanganmu selama di Bali. Bukannya kau sudah jadi pengangguran sekarang? Melawan orang tua dan di keluarkan dari kartu keluarga.” Cibir Alexio


“Sialan kau!” dengus Zero mendengar ucapan Alexio yang mengejeknya.


“Aku bisa sendiri. Hanya ingin melihat jejak pria brengsek yang ada di pulau ini.” ucap Alexio yang menolak kebaikan playboy asal Latvia itu.


“Tapi aku mau ikut, Alex. Siapa tahu bisa membantumu mencari semua tersangka utama itu.” Kekeuh Zero ingin membantu.


“Terserah kau sajalah, asal jangan mengangguku saja selama di sini.” Alexio berdecak menjawab Zero, matanya sedari tadi tidak beralih dari layar ponselnya yang memperlihatkan deretan foto gadis yang masih menempel bak lintah di hatinya. Dira Kairan Ladh.


Jakarta..


“Baby, tunggu!!!” Dome berteriak sembari berlari mengejar Dira yang sudah keluar dari koridor kampus menuju parkiran.


“Bocah itu, padahal bisa mengubah kamarnya dengan fasilitas mewah, tapi tiap pergi dan pulang kuliah selalu menebeng.” Seloroh Dira tetap berjalan menuju keberadaan mobilnya.


Dome berhasil menyamakan posisi dengan Dira, nafasnya terengah-engah, bulir keringat tampak membasahi kausnya yang berwarna coklat.


“Tega sekali meninggalkan pasienmu, dokter.” Dome menggerutu karena dicueki oleh Dira.


“Ck, tapi sampai juga kan akhirnya.” Sahut Dira tenang


“Bagaimana jika aku pingsan karena mengejarmu daritadi?” mulai lagi drama Dome seperti biasa, ia akan mengeluh setiap kali Dira memperlakukannya seperti itu.


Bamp!


Dira menutup pintu dan duduk dibalik kemudi disusul Dome secepat kilat, takut ditinggalkan oleh dokternya.


“Dokter.” Panggilnya saat pantat sudah berhasil duduk di sebelah Dira.


“Hmm.” Dira hanya berdeham sebagai jawaban


“Banyak sekali yang membuntutimu, ya? apakah lebih dari 4 pria yang mendekatimu?” 2 kalimat tanya sekaligus itu dilempar Dome untuk Dira yang mengerenyitkan kening mendengarnya


“4 Pria? Siapa saja?” ia malah balik bertanya pada Dome


“Aku, sialan Alexio, si brengsek Alan, si bajingan Jonathan.” Jawab Dome, memaki 3 nama setelah dirinya.


“Bagus sekali julukan 3 pria itu, aku suka.” Seloroh Dira terkekeh akan penyebutan Dome pada 3 nama itu.

__ADS_1


“Tapi Dome, apa kau melupakan sesuatu?” lanjut Dira mengubah menjadi kalimat tanya


“Hm apa itu?” sahut Dome penasaran


“Kau lupa kalau kau itu belum masuk kategori pria, kau masih bocah, Dome.” Dira tertawa setelah memberikan pencerahan untuk Dome dan yang disebut bocah sontak memberengut mendengarnya.


“Aku juga pria, dokter. Dan aku juga suka denganmu.” Balas Dome merajuk


“Belum, kau masih bocah. Ibaratnya itu, kau itu masih masa bertumbuh. Hahahaha.” Puas sekali rasanya Dira membalas bocah itu.


“Kau tega sekali.” Rajuknya dan sepanjang perjalanan hingga sampai ke rumah sakit, Dome tetap mengerucutkan bibirnya.


“Dira.” Satu suara menyambut kedatangan Dira yang baru saja menjejakan kakinya di parkiran rumah sakit.


“Jo!!” Pekiknya melihat sahabatnya yang sudah lama tidak ditemuinya itu muncul di hadapannya. Ia berjalan cepat untuk mengikis jarak dengan Jonathan, meninggalkan Dome yang makin sebal dengan kedatangan Jonathan.


“Sialan, sudah semakin banyak saja sainganku di sini.” Umpat Dome pelan menatap tajam pada Jonathan yang berbinar melihat Dira dari jarak dekat.


“Ayo, kita keruangan papamu bareng.” Jonathan mengulurkan telapak tangannya yang disambut Dira tanpa perlu berpikir dulu.


“Ayo,” sahut Dira, melupakan keberadaan Dome yang kini menghentakkan kaki dan mengekor di belakang dua orang dewasa itu.


.


.


.


“Sialan! Brengsek!” di sudut pulau Bali sana... Alexio memaki dengan kesal.


“Kau kenapa broda.” Tanya Zero menangkap aura Alexio yang emosi


“Kenapa gadisku tidak pernah sepi diganggu.” Jawab Alexio menatap foto di mana Dira tengah berjalan bergandengan bersama Jonathan, musuh lamanya dari SMA, yang sialnya bertambah tampan di usia mereka yang hampir sama.


Zero yang penasaran pun mendekat untuk melihat ponsel Alexio yang masih terang, lalu netranya melihat gambar Dira bersama pria yang dia tidak kenal.


“Kau cemburu rupanya, hahahhaha.” Zero senang sekali mentertawakan sikap Alexio saat ini.


“Tidak, siapa bilang aku cemburu.” Elak Alexio tak mau mengakui jika itu disamakan dengan perasaan cemburu.

__ADS_1


“Sudahlah, kau cemburu. Lagian kalau memang cinta, ya kau ikat, pisahkan mana dendam dan mana perasaan yang kau miliki, Alex.” Zero sepertinya menasihati pria dewasa tanggung itu, bak bijak sekali cassanova yang tengah kabur ke Indonesia itu.


“Jangan sampai hanya karena kau masih memupuk dendammu pada ayah gadis itu, kau menyakitinya dan juga hatimu sendiri.” Pungkas Zero menepuk pundak Alexio yang diam mendengarkannya.


__ADS_2