Alexio "Diary Merah Muda"

Alexio "Diary Merah Muda"
Bab 83


__ADS_3

“Hai honey.” Dome sudah mencegat Dira saat dirinya mencapai lobby rumah sakit.


“Kenapa pasien neuropskiatri berkeliaran sampai sini Dome?” Dira melengoskan nafasnya melihat Dome yang tidak pernah mantap di sekitaran gedung poli rawat inapnya.


“Di sana tidak ada yang menarik. Aku sengaja kemari menunggu kedatanganmu dokter Dira.” Jawab Dome terkekeh geli.


“Kau hanya tertarik dengan berkelahi saja Dome.” Dira menolak langkahnya meninggalkan Dome yang otomatis mengekor di belakangnya.


“Kembali ke kamarmu, nanti kami akan visitasi, Dome.” Titah Dira yang tak dijawab Dome.


“Kau dengar Dome?” Dira menoleh sekilas dan menangkap anggukan kepala pemuda itu yang juga mengulas senyum di sana.


“Heh, kau ini.” stok sabar Dira memang harus diupgrade ulang menghadapi pria tengil disekitarnya.


Lolos dari Alan, malah bertemu dengan Dome. Dan keduanya tidak ada yang beres. Walau wajah keduanya cukup diperhitungkan, tapi tidak bagi Dira, tak ada yang menarik.


Dira sudah siap membuka pintu ruangan dokter Doni, tapi yang mengikutinya masih berdiri di belakangnya.


“Kenapa masih mengikuti?” Dira mendelik pada Dome yang konsisten mengikuti.


“Sana balik.” Ia mengibaskan telapak tangan mengusir Dome segera.


“Aku akan menunggu di sini saja, dokter Dira.” Bantahnya nyengir.


“Ck. Dasar bocah bandel.” Sahut Dira lalu melenggang masuk ke dalam ruangan dokter Doni.


Ceklek


“Pagi dokter.” Sapa Dira yang dijawab dokter Doni serupa.


“Kenapa wajahmu tertekuk seperti itu Dira?” dokter Doni tersenyum menilai wajah Dira yang sudah dilipat 4 itu.


“Biasa dok. Hari yang melelahkan.” Jawab Dira malas, duduk di depan dokter Doni dan meraih berkas yang tertulis schedule narcoanalysis hari ini.


“Untuk nyonya Rahayu, dok?” tanya Dira antusias.


“Ya, kau mau ikut?” tawar dokter Doni yang diangguki Dira cepat.


“Mau.” Sahutnya.


“Ya, hitung-hitung untuk melakukkan pada Alexio nanti.” Jawab dokter Doni

__ADS_1


“Apa Alexio masih butuh hal itu, dok?” tanya Dira bingung


“Iya, meski dia sudah menjawab. Saya yakin masih ada rahasia yang belum kita ungkap dari Alexio.” jawab dokter Doni


“Kau tahu, berdasarkan laporan Bisma, Alexio kembali ke rumah lamanya. Walau tidak ada hal yang aneh seperti sebelumnya, tapi jelas saya melihat ada yang aneh dari gerak tubuh Alexio.” lanjut dokter Doni, meraih ipad miliknya dan menyerahkan pada Dira.


“Lihat baik-baik.” Sebuah video ditampilkan di layar gadget itu, dan Dira segera melihatnya.


Selama 2 menit Dira memperhatikan setiap gerak di layar ipad yang menampilkan Alexio di sana.


“Apa ada yang kau temui, Dira?” setelah yakin durasi video cukup untuk mencari hal yang aneh, dokter Doni segera melempar tanya pada Dira.


“Hmmm, apa ya dok, perasaan tidak ada yang aneh.” Jawab Dira


“Coba perhatikan baik-baik, Dira.” Ujar dokter Doni meminta Dira kembali memperhatikan baik-baik.


Mata Dira bolak-balik mengikuti pergerakan gambar, bahkan untuk meningkatkan fokusnya, ia memajukan wajah lebih dekat ke layar ipad itu.


Bibirnya mengerucut, menggelengkan kepala lalu menatap dokter Doni sembari menyengirkan wajahnya. “Gak dapet dokter.” Ungkapnya jujur, mungkin mata Dira harus dicuci biar tidak ngeblur kemana-mana penglihatannya.


“Sini.” Dokter Doni meminta ipad-nya yang segera diserahkan Dira.


“Perhatikan.” Dokter Doni memposisikan layar ipad di tengah-tengah yang mampu terjangkau penglihatannya dan Dira.


“Hmm, iya dok.” Sahut Dira mengangguk


“Arah pandang Alexio selalu ke kiri, dan lama, dari awal ia masuk selalu mencuri pandang ke seputaran itu saja. Padahal jika mau berjalan lurus, pandangan juga harus begitu, bukan?” Dokter Doni seolah mengantarkan pemahaman pada Dira yang harusnya bisa menangkap maksud itu.


“Iya sih.” Jawaban Dira yang mengiyakan namun terkesan ragu itu menyatakan bahwa ia belum paham.


“Ck, kamu belum paham sepertinya.” Seloroh dokter Doni tersenyum melihat puteri seniornya yang belum menangkap keanehan. Padahal sebagai seorang calon psikiater harus memiliki kepekaan dan sensitivitas untuk situasi apapun.


“Papa kamu bakalan ketawa kalau lihat anaknya melongo aja gini.” Kekeh dokter Doni, menggoda Dira.


“Iya dokter, jangan kasih tahu makanya.” Jawab Dira nyengir kuda


“Baiklah, lihat semua gerak Alexio. Ia tidak pernah melewatkan waktu lama untuk sudut sebelah kirinya. Bahkan beberapa kali ia menganggukan kepala seolah tengah mengobrol di sana.” Bagian yang dimaksud diperlihatkan pada Dira, yang benar saja semacam ada interaksi yang tengah dilakukan Alexio di sana.


“Jadi dok..... apa Xia muncul lagi?” Duga Dira yang diangguki dokter Doni.


“Tapi pemicunya apa kali ini.?” tanya Dira menahan dagu dengan kepalan tangan kanannya.

__ADS_1


“Itu tugas kamu mendekati Alexio lagi, Dira.” Jawab dokter Doni memberikan solusi.


.


.


.


Dira yang sudah berada di kamarnya kini menggenggam beberapa kertas hasil sobekan ayahnya dari diary milik mendiang Alexia. Ia berniat untuk mengembalikan kertas usang ini kepada Alexio, ia tidak bisa membayangkan pria itu pasti kecewa mengetahui bagian diary merah muda itu hilang. Meskipun, dari yang pernah Dira lihat sendiri, tidak ada kecurigaan sama sekali, ayahnya mahir menyobek kertas tanpa menyisakan bagian yang mencurigakan.


“Baiklah, besok aku balikin sobekan diary ini.” Ucapnya.


Sementara di tempat lain....


Tengah berlangsung ajang balap liar yang kembali dilakukan di jalan yang sama dan diwaktu yang sama, larut malam. Saat para dedemit mangkal.


Raungan knalpot dari motor besar mewarnai malam itu. Tidak ada kata sunyi karena baik teriakan heboh, dentingan suara botol serta derap langkah saling beradu satu sama lain.


Pun dengan aura yang kini saling mengintimidasi juga turut menjadi bagian itu.


Alexio, menatap sengit pada sosok yang tengah menarik gas motornya menuju dirinya. Bersama geng motornya yang dulu, dan kini bertambah besar serta memiliki nama yang cukup diperhitungkan itu membuat kesan angkuh seorang Alexio terlihat jelas.


Alan.... ia memacu pelan motornya mendekati Alexio yang sudah pasti menunggu kehadirannya sejak tadi.


“Gue pikir lo bakalan takut buat diajak maen ginian.” Cibir Alexio tersenyum miring.


“Oh.. oh ya?” Alan membalas dengan wajah sok polosnya namun mendengus sesekali.


“Sialan lo!!!” sambar salah satu anggota geng motor Alexio melihat betapa songongnya lawan Alexio malam ini.


“Memang nama gue Alan.” Balas Alan


“Bos, libasssss.” Seru mereka memberi semangat pada Alexio agar mengalahkan Alan.


“Gue gak bakal nyoba untuk kalah dari bocah kayak lo.” Kecam Alexio dengan wajah dingin dan seriusnya.


“Siapa juga yang mau menang karena dikasihani bro. Gue bukan lawan receh yang bisa lo intimidasi apalagi sama geng sontoloyo kayak mereka.” Kekeh Alan menyindir sekaligus.


“Wahhh, lo ngajak ribut ya.” merasa tersindir, beberapa anggota geng Alexio maju dengan membusungkan dada.


“Diam, ini masalah gue dan bocah ini.” tahan Alexio.

__ADS_1


“Taruhan apa kita, huh! Perasaan gue gak pernah ada ganggu lo deh.” Alan membuka suaranya, ia cukup heran ditantang tanpa tahu apa yang membuatnya terhubung dengan seorang Alexio.


“Jauhi Dira, itu taruhan kalo lo kalah malam ini.” Jawab Alexio menekan setiap kata


__ADS_2