Alexio "Diary Merah Muda"

Alexio "Diary Merah Muda"
Bab 132


__ADS_3

“Apa maksudmu, cucuku.” Suprapto menahan ringisan di bagian tubuhnya yang terasa sakit. Menutupi rasa kaget akibat ucapan Alexio barusan.


“Sudahlah, sandiwara yang terkubur bertahun-tahun ini, harus diakhiri dengan kau sebagai tokoh brengseknya.” Tutur Alexio, membuang kata sopan untuk Suprapto.


“Al, jaga bicaramu!” hardik Bisma tak terima cara bicara puteranya begitu kurang ajar terhadap ayahnya.


“Pa, dia... dia bukan kakekku!!!” teriak Alexio, ia juga melempar tunjuknya pada Suprapto menegaskan ucapannya.


“Ma-maksudmu...” Bisma tergugu mendengar hal itu.


Linda, Geng Yakuza dan pimpinannya juga membeku akan ucapan Alexio yang tak masuk akal.


Alexio menyunggingkan senyum sinisnya pada Suprapto.


“Ayolah, tuan Suprapto yang terhormat, beri tahu mereka apa yang sebenarnya. Tidak perlu ditutupi lagi.” Ujar Alexio memberikan kesempatan pada Suprapto untuk menjelaskan hal itu pada semuanya


Tak ada tanggapan.


Menit berikutnya, Alexio mengeksekusi hal itu, dengan..


Dor!!!


Semua terkejut akan suara dentuman senjata api yang ditembakkan Alexio


“Argh!!!” Lolongan yang keluar dari mulut Suprapto-lah bukti korban sasaran peluru yang dilayangkan Alexio.


“Al!!!!” teriak Linda tak percaya perbuatan puteranya. Ia menutup mulutnya, ia tak mengenal Alexio saat ini.


Kejam, dingin dan tersirat dendam luar biasa di wajahnya.


“Baiklah, aku akan menjelaskannya jika kau tidak mau.” Ucap Alexio, ia memutar tubuhnya, menjauhi Suprapto.


Menuju di mana sosok sandera Suprapto masih duduk terpaku di tempatnya, Andriana. Kembaran ibunya, atau ini dipanggil bibi.


Alexio menurunkan tubuhnya, menopang salah satu kaki dengan lutut menyentuh lantai berdebu dan satunya lagi ia lipat. Menatap iba pada Andriana yang masih menunduk gemetar.


“Bibi.” Panggil Alexio lembut, menyentuh tangan lusuh yang sudah ringkih dan tak terurus saking ruangan dan perlakuan Suprapto kelewatan.


Bahkan ada beberapa luka atau lebam di bagian tubuh Andriana, membuat Alexio menggeram melihatnya.

__ADS_1


Andriana mengangkat wajahnya, tapi tidak merespon Alexio. ia hanya menatap lekat wajah pria muda yang juga menatapnya serupa.


Tiba-tiba, tangan Andriana terulur menyentuh wajah Alexio. Mengusap pelan, meraba lembut hingga tanpa sadar Alexio menutup mata merasakan ada kehangatan yang disalurkan dari sentuhan bibinya, layaknya kasih sayang seorang ibu.


“Bisma.” Lirih Andriana menyebut nama pria yang jadi suami kakaknya.


“Bis-Bisma.” Panggilnya lagi namun kembali pria di hadapannya ini tak menyahutinya.


“Bisma!!” Hingga Andriana menubrukkan tubuhnya pada Alexio dengan isak menganak sungai, dan Alexio hanya mampu membeku dengan hal itu.


Sementara Bisma maupun Linda juga tak bisa banyak melakukan apapun, keduanya berada dalam situasi membingungkan, sama-sama berstatus pasangan sah. Tapi di hadapkan dengan masa lalu dan saudara di saat bersamaan.


“Bibi, ini aku keponakanmu, anak dari Linda dan Bisma.” Ujar Alexio memberi tahu, ia harus menyadarkan Andriana pada kenyataan di mana dirinya masih terkurung dalam masa lalunya.


Ia harus tahu bahwa masa lalunya sudah tak menunggunya lagi, bukan untuknya lagi, bahkan sudah memiliki masa depan baru yakni putera yang masih direngkuhnya.


“Kau bukan Bisma? Tapi...” Andriana menjauhkan tubuhnya, menelengkan kepalanya ke kiri untuk menanyakan hal itu pada Alexio.


“Yang di sana, itu adalah ayahku, Bisma, pria masa lalumu, dan di sebelahnya adalah kembaranmu, Linda yang menjadi ibuku.” Jelas Alexio, menunjuk orang tuanya yang diam menatap canggung mereka.


Andriana menuruti pergerakan telunjuk Alexio kearah Bisma dan Linda, “Mereka....” ucap Andriana menyipitkan matanya.


“Tapi bukan itu yang harus kita bahas dulu. Nanti akan ada waktunya sendiri.” Sambung Alexio tidak mau memperpanjang drama melankolis kisah orang tuanya.


“Dia.... kau mengenal pria tua yang ada di sana, bukan?” tanya Alexio menunjuk Suprapto yang juga menatap kearah mereka berdua.


“Suprapto.!” Andriana menggerama kala menyebut nama Suprapto. Tangannya mengepal keduanya. Sorot matanya tampak menyala dan penuh kebencian.


“Kau tahu apa yang disimpan rapat oleh pria itu, kan?” lagi, Alexio melempar tanya pada Andriana.


Andriana diam, matanya enggan meloloskan bayang Suprapto, mengunci kemana pun pergerakan pria itu.


“Alexio, hentikan ucapanmu itu. Asal kau tahu, wanita itu gila, pikiran tidak waras!!” Sergah Suprapto menolak maksud Alexio yang menyudutkannya kini.


“Diam kau!!!” Bentak Alexio mengejutkan Suprapto.


“Bibi, jelaskan pada semuanya, apa yang kau ketahui mengenai rahasia kelam itu.” Pinta Alexio pada Andriana.


“Tolong.” Kini sudah beralih menjadi memohon, binar mata Alexio menyiratkan hal itu.

__ADS_1


Dan Andriana menangkapnya.


“Apa yang mau kau ketahui?” tanya Andriana sebagai bentuk jawaban atas permintaan Alexio padanya.


“Semuanya, awal mula kekejian pria itu. Bukankah bibi adalah korban juga di sini.” Sahut Alexio, mendorong Andriana memenuhi jawabannya.


Andriana diam, tatapannya beralih pada Linda dan Bisma yang saling bertautan tangannya. Lalu melirik Alexio.


Ia tampak termenung sesaat, benar sepertinya jika masa lalunya sudah meninggalkannya, sudah terlalu lama ia terkurung dalam masa itu. Semua karena....


Karena pria bernama Suprapto itu.


“Iya.” Satu kata itu meluncur dari bibir Andriana. Dan semua mendengarnya.


“Aku tahu semua rahasia gila pria itu.” Sinis Andriana melihat Suprapto.


“Andriana.” Bisma menatap Andriana.


“Aku adalah salah satu anak adopsinya yang sialnya juga menjadi budak di ranjanngya.” Ekspresi menyedihkan menguar di wajah Andriana. Ia malu sekali rasanya.


Apalagi di hadapan Linda dan Bisma.


“Linda diadopsi pasangan Prancis yang hanya mengingingkan satu, dan aku diambil Suprapto. Awalnya dia ingin menjadikanku wanita malam di bisnis hitamnya, tapi gilanya aku malah jadi miliknya.” Lanjut Andriana.


“Hingga suatu hari, saat aku ke rumahnya pertama kali. Aku malah bertemu dengan puteranya, dia bernama Bisma dan aku merasakan debaran sebagai wanita pertama kalinya.” Cerita Andriana dan seulas senyum terbit seketika, saat menyebut nama Bisma.


“Ya Tuhan!” Linda tercengang mendengar penuturan Andriana yang begitu miris. Ia baru tahu kenyataan memilukan itu, bahkan Roni saja tidak tahu.


“Dan rupanya Bisma juga menaruh hati padaku, tanpa sepengetahuan Suprapto aku sering berkunjung karena di bawa Bisma ke rumah. Dan saat itulah aku tahu jika Suprapto menyimpan rahasia besar selama ini.” Cerita Andriana lagi.


Ia melihat Suprapto, lalu Bisma setelahnya.


“Di sana aku tahu jika Bisma ternyata bukan putera kandung Suprapto. Bahkan aku melakukan tes DNA untuk membuktikannya. Dan benar saja, itu adalah kegilaan yang kedua bagiku.” Ujar Andriana tertawa keras.


Bisma terkejut mendengarnya, sedangkan Suprapto hanya menggigit bibir.


“Rupanya, kekayaan yang diperoleh Suprapto adalah hasil mencuri dari temannya sendiri yang merupakan orang tua Bisma. Miris sekali, mempunya teman bajingan seperti dia.” Caci Andriana.


“Makanya, begitu aku tahu jika Suprapto bukanlah ayah Bisma. Maka tidak salah jika aku menjalin kasih dengan pria pujaanku. Tapi lagi-lagi.....”

__ADS_1


“Pria tua itu mengacaukan kebahagiaanku. Menyingkirkan orang yang ku harap bisa menyembuhkan luka akibat perbuatannya. Aku ingin membunuhnya!!!!!” pekik Andriana di akhir kalimat.


__ADS_2