Alexio "Diary Merah Muda"

Alexio "Diary Merah Muda"
Bab 58


__ADS_3

Jika mereka tidak melihat langsung seberapa kerennya otak seorang Alexio, tentu mereka akan berpikiran sama dengan para julid-ers di luar sana.


Ahh karena bapaknya yang punya sekolah, tentu mudah bagi mereka memalsukan nilai atau memberi contekan pada Alexio agar dirinya bisa mengenyam pendidikan mulus dan lancar sampai selesai.


Tapi bagi siswa- siswa yang selama 3 tahun satu kelas atau pernah satu kelas dengannya akan memberikan jawaban yang sama bahwa Dia pantas mendapatkan posisi itu, berdiri di podium dengan gagahnya memegang plakat serta bunga besar itu.


Alexio tentu dipilih sebagai siswa berprestasi, sayang sekali tidak untuk gelar teladan karena kelakuan badungnya yang sudah penuh dalam catatan Yang Mulia Joko alias pak guru BP. Nyaris saja guru BP itu menurunkan letak kelas Alexio jika bukan karena prestasi pemuda itu tidak menjadi halangannya.


“Gue heran ya, badung, masuk telat, tapi itu otak kok gak karatan sih.” Celetuk siswa yang mengenakan jas hitam, dibarisan siswa.


“Entah, gue aja yang mantengin guru dari awal, tetep segini aja posisinya, hufft.” Jawab teman di sebelah kirinya.


“Mungkin di zaman dulu, Alexio ini adalah seorang pahlawan yang membebaskan negara dari penjajahan besar, makanya ia dapet reward berlimpah di kehidupannya sekarang.” Satu siswa lagi ikut menimpali sembari kepalanya terdongak, mengkhayal.


“Ketularan para anak-anak cewek lo, ya. sampe bisa mikir se-absurd itu.” Balas temannya menggelengkan kepala.


Sementara barisan pada siswi cantik-cantik dengan gaun dan dandanan terbaiknya.


“Ya ampun, mupeng banget sih liat Alexio di sana.” Ucap siswi bergaun hijau


“Iya, padahal biasa aja penampilannya tapi pesonanya tetap aja menghipnotis gue.” Sahut siswi bergaun biru.


“Kenakalannya justru menambah kesan seksi Alexio, ya gak?” timpal siswi bergaun merah.


“Apa lo bilang? Seksi? Mupeng? Mempesona?” ucap siswi yang bergaun hitam.


“Hmm.” Sahut mereka bertiga serempak namun menyadarkan ketiganya ketika mereka menoleh.


“Eh, Dira.” Ucap mereka bertiga


“Apa? Berani ngayalin gebetan gue?” Dira membeliakan matanya, namun itu tak menyeramkan sama sekali, justru menggemaskan dari arah pandangan Alexio yang tak sengaja menangkap momen itu dari atas podium.


‘Gadis itu.’ Batin Alexio mengulas senyum


Ucapan terima kasih dari Alexio mewakili semua kelas 12 telah berakhir, seiring itu pula isak dari Linda yang menonton dari kursi para wali tak bisa dibendung.


“Sayang.” Bisma mencoba menenangkan istrinya, menggenggam erat tangan rapuh itu.


“Pah.” Ucap Linda.


Bisma paham, setelah ini, mereka harus bersiap membawa Alexio ke rumah sakit, Dira akan diberi kendali penuh membuat hal itu terjadi. Mereka percaya jika gadis itu bisa diandalkan.


Alexio turun dari panggung dan berjalan melawan arah, ia justru mendatangi barisan para gadis yang sontak berteriak riuh. Terutama di barisan... Dira.


“Eh, kenapa?” ucap Dira ketika ia yang sibuk dengan ponsel dikejutkan dengan kedatangan tangan merangkulnya.


“Al?” katanya tak percaya, ia menoleh ke sekeliling dan mendapat banyak pasang mata melihatnya, ah bukan, melihat Alexio maksudnya.

__ADS_1


“Aku kangen, sama pacar aku.” Ia bahkan dengan tak malunya menaruh kepalanya di bahu Dira.


“Pa-pacar?” gugup Dira mendengar kata itu barusan.


“Hmm, kenapa? Gak mau.?” Alexio menggumam lirih dan hanya terdengar oleh Dira.


“Dihh sembarangan, mau lah, hihihi.” Kekehnya tengil.


“Hei, ini pacar gue, awas kalian lirik-lirik kayak tadi.” Dira dengan bangganya memproklamirkan Alexio di hadapan para siswi yang tadi memuja pemuda itu.


Mendengus, itulah jawaban ketiga gadis tadi, mungkin gadis-gadis yang lain juga akan begitu. Tidak serta merta menerima ucapan itu. Memangnya mereka tidak punya kesempatan mengagumi dan mendekati Alexio? big no!!! Masa bodo dengan gadis bar-bar itu, mereka mah anteng aja diancam oleh Dira.


“Hei, kenapa?” tanya Alexio melihat gadisnya menggeram begitu


“Hanya memberi peringatan pada para calon perebut pacar orang aja.” Jawab Dira santai


“Menggemaskan.” Kata Alexio hendak mengacak puncak kepala Dira namun gadis itu memundurkan kepalanya.


“Eihh berani nyenggol tatanan rambut aku? Aku cakar kamu di sini!” ucap Dira mendelikan matanya membuat Alexio kontan tertawa kecil.


“Aihh jangan ketawa.” Cegah Dira tak suka. Karena ia bisa melihat dengan sejelas-jelasnya bahwa banyak pasang mata yang menoleh merekam tawa pacarnya itu. Eh pacar? Aihhh Dira.


“Hhm iya-iya, aku diem.” Ucap Alexio menahan senyumnya melihat ke posesifan Dira padanya.


“Ayo, kita pergi dari sini. Keburu malem.” Alexio beranjak pergi namun ditolak Dira.


“Huffft. Okelah, tapi sudah nya kamu milik aku ya.” balas Alexio yang mendapat cengiran dari Dira karena gadis itu senang mendengar kata terakhir Alexio.


Miliknya? Oh God!!!!


Mereka melalui rangkaian acara dengan suasana hangat dan haru, banyak dari siswa-siswi yang mengucap kata perpisahan untuk menuju dunia mereka di luar sana. Mencari asa untuk mengejar cita-cita mereka.


“Halo.. hmm. Iya, iya.” Dira melirik ketika melihat Alexio serius menerima telpon.


“Siapa?” Tanya Dira berbisik pelan


“Xia.” Jawab Alexio ikut berbisik


Xia? Lagi.


“Hmm iya, tunggu, aku akan ke sana, dengerin jangan kemana-mana, paham!” tampak serius dan tegang, itulah gambaran ekspresi Alexio saat ini.


“Kenapa?” tanya Dira saat Alexio sudah mengakhiri panggilannya.


“Xia, anak itu membakar lukisannya lagi. Karena tidak menang perlombaan itu. Dasar.” Jawab Alexio sebal.


“Xia bisa melukis?” tanya Dira baru tahu,

__ADS_1


“Hmm, lukisannya bahkan indah.” Jawab Alexio


“Dan lukisannya yang sekarang tidak sesuai harapannya, ia kembali melukis lingkaran tak jelas itu. Dan membakarnya” Sahut Alexio


“Sekarang?” ulang Dira dan diangguki Alexio.


“Al. Ayo.” Dira mengajak Alexio untuk duduk di sudut ruangan yang terdapat bangku di sana.


“Duduk.” Dira menuntun Alexio duduk di sebelahnya.


“Al.” Panggil Dira.


“Hmm.” Sahut Alexio


“Xia di mana?” tanya gadis itu


“Di danau.” Jawab Alexio


“Dia cerita membakar lukisannya?” tanya Dira memastikan tapi jawaban Alexio di luar perkiraannya karena menggeleng.


“Kamu ada di sini kan? Tanya Dira yang diangguki pelan oleh Alexio.


“Kalau kamu di sini, bersamaku. Lalu bagaimana bisa kamu tahu apa yang terjadi dengan Xia?” lanjut Dira bertanya


“Kamu bahkan tahu jika dia membakar lukisan yang berbentuk lingkaran itu, Alexio.” sambungnya


“Tidakkah kamu begitu lancar mengetahui dengan pasti keadaan Xia yang tidak ada di hadapanmu?” mendengar ucapan Dira, Alexio terbungkam.


“Bukankah itu aneh, Alexio?” ucap Dira lagi lalu menggenggam tangannya.


“Sini, beri aku panggilan pada Xia sekarang.” Pinta Dira dan diangguki Alexio.


Alexio menekan panggilan dengan kontak bernama XIA, lalu menyerahkannya pada Dira.


“Nah.” Ucapnya menyerahkan ponselnya


Dira mengarahkan benda pipih dengan warna ciri khas Alexio ke telinganya. Ia menggigit bibir bagian dalam begitu keras hingga bisa dipastikan akan terluka.


Karena panggilan yang ia dengan saat ini memberi percakapan.....


Maaf nomor yang anda hubungi salah, silahkan cek nomor telepon yang anda hubungi.


“Bagaimana? Apa katanya?” Tanya Alexio.



__ADS_1


__ADS_2