Alexio "Diary Merah Muda"

Alexio "Diary Merah Muda"
Bab 131


__ADS_3

Belum sampai tinju Dome menjangkau tubuh Suprapto, pemuda itu sudah dilumpuhkan oleh 3 orang anak buah Suprapto yang menghalangi dan memukul serta menumbangkan Dome hingga jatuh telentang di lantai berdebu.


“Tuan!!!” Pekik mafia Yakuza melihat Dome tergeletak.


Inisiatif mereka tentu saja bangun dan hendak membalas perlakuan musuh mereka. Namun...


Dor!!!!


Dor!!!


Suara tembakkan memekik nyaring memenuhi indra pendengaran makhluk hidup di sana.


“Arghhh.” Plus rintihan dari beberapa bibir yang mengaduh kesakitan.


“Cuih.” Suprapto meludah dengan wajah mengejek baik untuk Dome dan pengikut Yakuza yang kini bersimbah darah karena timah panas bersarang di pundak mereka.


“Sialan kau tua bangka gila!” teriak Dome memaki tanpa ampun. Memang dasarnya tidak sopan, bertambah tak beretika lagi saat melihat anak buahnya tak berdaya di sisinya.


“Arghhhh.” Mendengar Dome memakinya, Suprapto dengan tawa setannya menginjak salah satu anak buah Yakuza yang terluka hingga darah yang tadinya tak seberapa itu kini semakin mengucur mengalir di sela baju pria bertato itu.


“Lepaskan anak buahku, setan!!!” teriak Dome marah tapi Suprapto bak menuli, ia bergeser dan melakukan hal serupa pada anak buah Dome yang lainnya hingga 5 orang yang tadi terkena tembakkan diabsen dengan injakkan kaki Suprapto.


“Kau tak akan lepas dariku, Suprapto!” Kecam Dome mendendam.


“Oh ya? Sampai waktu itu tiba, pastikan jika nyawamu masih ada, dasar bocah.” Desis Suprapto membalas.


“Sialan.” Geram Dome yang menanti bala bantuan yang tak kunjung datang. Ia mengkhawatirkan anak buahnya, bukan hanya ia seorang.


“Ikat mereka dekat dengan wanita jalaang itu juga. Aku tak sabar menanti kedatangan para manusia sok pahlawan lainnya.” Titah Suprapto pada anak buahnya.


“Siap bos.” Jawab mereka, satu persatu menggeret tubuh tak berdaya gengster Yakuza dan mengikatnya dengan erat untuk memastikan tidak bisa bebas dengan mudah.


“Tidak sangka anak pimpinan Yakuza kita hajar, rasanya ingin aku dokumentasikan sebagai cerita anak cucuku nanti.” Salah satu anak buah Suprapto tergelak pelan sembari mengencangkan tali pengikat Dome.


“Sama, aku juga. Semoga saja kita diberi kesempatan menghabisi nyawanya juga.” Sahut rekannya, menatap Dome dengan seringai lapar.


“Cih. Jangan harap bisa melakukan hal itu padaku, dasar manusia rendahan.” Decih Dome, ia bahkan meludah kearah wajah salah satu dari mereka untuk menegaskan hal itu.


“Sialan!!” yang diludahi mengangkat tangan hendak memukul Dome, tapi seruan Suprapto menghentikannya.


“Hentikan! Lakukan apa yang aku perintahkan saja, jangan mencoba keluar dari apa yang aku bilang.” Ucap Suprapto tak suka.


“Si-siap bos.” Sahut mereka terlihat takut.


Hening, meski pun dalam bangunan dan luarnya banyak terisi manusia, namun tidak sama sekali mengisyaratkan keramaian, justru aroma menyeramkan dan kesan menegangkan bergejolak di setiap pikiran orang-orang di sana.


Seakan sudah tahu akan terjadi hal besar di sini.

__ADS_1


Satu jam menunggu....


“Bagaimana dengan puteraku tadi, apa mereka menuju kemari?” tanya Suprapto pada asistennya yang menjadi supirnya tadi.


“Tidak bos, mereka berlawanan arah dengan anda malahan.” Jawabnya


“Kemana mereka?” tanya Suprapto cukup heran, karena sampai setengah jalan mobil Bisma intens mengikutinya.


“Ke salah satu hotel bos. Dan anak buah kita masih memantau di sana.” Jawab anak buahnya dan diangguki Suprapto.


“Kenapa hening sekali ya.” Seorang anak buah Yakuza berceletuk pelan.


“Iya, aku merasa demikian.” Sahut temannya


“Ssttt bisa diam tidak sih. Berisik.” Sembur Dome terganggu akan ocehan anak buahnya.


“Maaf bos, biar tidak terasa sepi.” Ujar anak buahnya tadi.


Dome pun merasakan hal itu, mendadak aura di gedung ini terasa sunyi. Padahal tadi masih ada beberapa tawa yang tertangkap telinga dari anak buah Suprapto yang berjaga-jaga di luar bangunan. Tapi sekarang, mendadak hilang.


“Lihat keluar, kenapa aku merasa ada yang tidak beres.” Suprapto memberi perintah pada anak buahnya untuk melihat kondisi luar.


Ia pun turut merasakan hal serupa. Insting berupa ancaman.


“Siap bos.” Sahut anak buahnya melangkah keluar untuk memerika kondisi luar bangunan.


Suara pintu besar di dorong ke arah luar. Dan.....


“Aishh sial......” belum selesai ia melengkapi ucapannya, peluru sudah bersarang di kepala anak buah Suprapto hingga menjerumuskannya ke lantai.


“Musuh, berlindung!!!” sikap siaga diserukan asisten Suprapto, menjaga bos mereka agar tidak terkena serangan musuh.


Namun beberapa dari mereka melayangkan pandangan ke arah Dome, kesempatan membalas Yakuza yang mengancam keselamatan mereka.


Dor


Dor


Dor


Suara letusan senjata terdengar mengarah pada Dome, tapi sayangnya, peluru itu mengenai setiap punggung anak buah Yakuza yang sudah melingkari tubuh Dome.


“Hei,, kalian!!!” Dome kaget dengan aksi anak buahnya melindungi dirinya seperti itu.


Namanya sama saja dengan bunuh diri.


“Dome!!” itu Hiro yang memanggil. Dan di belakangnya ada Alexio berikut Bisma dan Linda mengikuti juga.

__ADS_1


“Aku baik-baik saja.” Balas Dome mengeraskan suaranya agar menjangkau telinga Hiro.


“Selamatkan puteraku dan sandera.” Perintah Hiro pada anak buahnya.


“Siap bos!” sahut mereka yang diberi misi kearah penyelamatan.


“Dan sisanya, kita serang Suprapto.” Hiro mengarahkan pelatuk senjatanya pada arah kerumunan anak buah Suprapto yang melindungi pria tua itu.


Bau amis darah sudah mulai tercium ke hidung mereka yang masih bernyawa.


“Andriana,” lirih Linda dalam dekapan Bisma.


“Al... hei kau mau kemana?” Bisma kalang kabut melihat Alexio malah berjalan cepat menuju keberadaan kakeknya.


Tidak peduli baku hantam maupun peluru yang melesak dari berbagai sudut bisa saja menghantam tubuhnya.


Karena kalah jumlah, jelas saja Suprapto and the geng harus pasrah tunduk dengan lawannya. Anak buahnya hanya tersisa 8 orang lagi, pun dengan tubuh sudah bersimbah darah dan lebam di beberapa titik wajah.


“Alexio!” Suprapto menangkap bayang cucunya menghampirinya.


“Bantu kakek, sini.” Panggil Suprapto berharap Alexio memenuhi permintaannya.


Dan Alexio memang benar mengarah ke Suprapto, tapi tidak untuk membantu pria itu dari ancaman Yakuza, tapi....


Dor


Dor


Dor


Tiga letusan senjata api mengenai lengan kiri, tangan kanan dan pundak kiri Suprapto. Pelakunya Alexio, cucunya.


“Alexio!!” Bisma, Linda... saling menjerit melihat aksi Alexio barusan yang berani atau lancang melakukan hal itu pada kakeknya sendiri.


“Al....” ucap Suprapto merasa sakit pada bagian yang dilukai Alexio.


“Kenapa? Sakit?” Desis Alexio mengejek sikap rapuh Suprapto.


“Tidak seberapa dengan yang kau lakukan pada wanita itu.” Tunjuk Alexio pada sosok Andriana yang memejamkan matanya.


“Pada mamaku.” Tambah Alexio


“Dan juga.....” berat sekali Alexio mau melanjutkan bagian terakhirnya. Ia memegang dadanya yang terasa sesak sekali.


“Dan juga... kembaranku, Alexia.” Terusnya menyebutkan Alexia.


“Aku mengingat semua,, aku mengingat semua apa yang kau lakukan pada kembaranku dulu!!!! Aku ingat semua!!!” jerit Alexio menghujam pandangan liarnya pada Suprapto dengan moncong senjatanya mengarah pada dahi pria tua itu.

__ADS_1


“Dan aku juga ingat kejadian terakhir sebelum kau membunuh saudariku, dan menghapus ingatanku.” Pungkas Alexio


__ADS_2