Alexio "Diary Merah Muda"

Alexio "Diary Merah Muda"
Bab 45


__ADS_3

Keesokan harinya. Dengan langkah cepat, Dira melesak menuju kelas 12 A Unggulan. Kenapa Unggulan bukan A saja. Golden School memang terkenal dengan prestasi serta nama besar dan kemewahan fasilitas.


Kelas dimulai dari A unggulan yang berisi siswa paling berprestasi baik ekonomi atas sampai rendah. Lalu kelas A, B, C, D dan E. Meskipun mayoritas diisi siswa kalangan ekonomi atas, sekolah ini menyediakan kesempatan bagi yang kurang mampu dengan jaminan prestasi mereka.


“Eh Andi, Alexio dah dateng belum?” tanyanya saat sudah berhasil menapaki lantai kelas super itu.


Meski mulutnya ngoceh, tapi mata gadis itu liar ke penjuru kelas.


Tidak ada.


“Belum dateng.” Sahut Andi dari bangkunya.


Menilik jam, harusnya tak lama lagi bel berbunyi. Oke, mungkin cowok itu telat. Dan kali in Dira harus berlari kencang, karena beriringan ia lari bel masuk berbunyi nyaring.


Ini jamnya baginda ratu yang mengajar pertama untuk memberi kisi-kisi soal ujian!!!!


Alarm berbunyi nyaring diotak Dira, mengandalkan langkahnya yang menyerbu, ia berdoa semoga Yang Mulia ratu belum masuk ke kelasnya.


.


.


.


Bel istirahat.


Dira kembali menuju ke kelas Alexio, tak dijumpai Andi dan Barry, ah mungkin mereka dikantin. Ia segera bergegas ke sana.


Matanya mengedar ke sekeliling dan mendapati Andi dan Barry duduk di salah satu kursi kantin.


“Mana Alexio?” tanyanya saat sudah duduk di sebelah Andi.


Apa mungkin pemuda itu memesan makan? Toilet?


“Gak masuk kayaknya.” Jawab Andi.


“Hah? Gak masuk? Ada kabar?” 3 tanda tanya dijamak kan oleh Dira sekaligus.


“Gak ada kabar. Gue udah telpon tadi, tapi tetap gak aktif.” Sahut Andi yang menyendok bakso.


“Kemana ya itu orang.” Celetuk Dira heran.


Ia mencoba menelpon, tapi tetap yang menjawab panggilan adalah si tutut.


“Mau anter aku ke danau gak nanti?” tanya Dira, meminta bantuan pada dua sahabat Alexio.


“Danau? Tempat Alexio sering mangkal?” tanya Barry menyela


“Iya, aku udah pernah ke sana, tapi gak berani kalo sendiri.” Jelas Dira


“Ya udah, nanti kami temani.” Jawab Andi setuju


“Lo yakin Alexio di sana?” sambung Andi lagi bertanya.


“Coba dulu, aku hanya mau memastikan keberadaan Alexio di mana.” Ragu Dira.


“Kami cemas dengan keadaan Alexio sebenarnya, saat tahu dia kayak gitu, sesak banget. Apalagi tingkahnya kadang gak masuk akal kalo lagi kumpul.” Sambung Barry menyela.


“Maksudnya?” tanya Dira tak paham


“Alexio cenderung suka bercanda sekarang, kami jadi ngeri-ngeri sedep gitu.” Celetuk Barry.


“Ishh kirain apaan.” Sungut Dira merasa jawaban itu konyol.

__ADS_1


“Dia lebih sering ke bangunan samping markas itu. Lo tahu kan? Ada ruang rahasia di sana.” Ujar Barry lagi.


“Kalian tahu bentuknya gak.?” Tanya Dira kepo


“Gak, kami Cuma tahu kalau dibalik rumput itu ada jalan kayak labirin tapi sebatas itu. Alexio melarang kami melalui pintu itu.” Jelas Andi serius.


“Dan ruang yang pintu kuning di markas itu? Kalian tahu juga gak?” tanya Dira penasaran.


“Gak, Alexio ke sana kalo malem aja, tapi gak lama. Tapi,, baru-baru ini pernah ya hampir 1 jam dia di dalem.” Barry seperti ingat sesuatu.


“Ada apa sih di sana?” tanya Dira makin penasaran.


“Kami gak boleh mendekat, jadi kalo Alexio ke atas, kami cukup telpon aja.” Jelas Andi.


Dira menopang dagunya dengan kepala tangan menyentuh bibirnya. Berpikir keras.


“Apa mungkin itu ruangan yang berhubungan dengan Xia juga?” tanya Dira lagi.


“Gue gak tahu, tapi kalo rumah lamanya, jelas di sana ia ketemu Xia.” Jelas Andi.


“Karena waktu kami mergoki sama bokapnya, si Alexio makek baju anak cewek loh. Ketat banget di tubuhnya.” Timpal Barry sembari meringis iba.


Dira tertegun akan hal itu. Ia belum tahu soal itu. Belum tahu....


“Apa mungkin Xia itu kembarannya? Kan namanya Alexia kan?” ujar Dira bertanya lagi.


Andi menggeleng, “Bukan, kami pernah tanya, temennya itu Cuma bocah umur 11 tahun dan bukan kembarannya.” Jawab Andi


“Ya udah, ntar ikut kalian aja ya ke danau kalao begitu. Bye, gue ke kelas dulu.” Dira berpamitan dan kembali ke kelasnya.


Sepulang sekolah........


Sesuai yang direncanakan tadi, kini ketiganya menyusuri jalan menuju danau yang menjadi tempat untuk mencari Alexio.


“Udah di cari ke beberapa tempat?” tanya Dira saat ketiganya tak menemui jejak Alexio di sekeliling danau.


“Apa mungkin di rumah lama itu?” ujar Dira yang diangguki kedua sahabat Alexio dan segera beranjak kesana tanpa menunggu waktu lama.


Tapi lagi-lagi mereka tak mendapati keberadaan Alexio setelah security alias pakde-nya Dira menjawab, “Den Alexio gak kemari den, non. Udah 1 mingguan gak kesini.” Jawab security.


“Kemana ya tuh bocah.” Kata Barry gemas.


“Ke markas?” tanya Dira, kemungkinan.


“Gak mungkin. Kami dari sana kemaren.” Jawab Andi meragukan.


“Coba dulu, kita ke sana.” Paksa Dira akhirnya.


Dan kini mereka sudah tiba di markas geng Xia.


Sepi. Halaman itu tak ada satupun jejak keberadaan Alexio.


“Gak ada kan?” ujar Andi membenarkan dugaannya tadi.


“Gak, feeling aku dia di sini.” Bantah Dira, ia meyakini keberadaan pemuda itu.


“Darimana lo tahu., feeling aja itu.” Cibir Barry


“Eihh jangan meragukan feeling aku ya, frekuensi Alexio itu kejangkau sama aku.” Balas Dira menggeplak lengan Barry gemas.


“Gue tanya kalo gitu, di mana letak tuh bocah, huh?” Tantang Barry menyedekapkan kedua tangannya di dada.


Dira menoleh ke sekitar, langkahnya coba kearah samping tempat rumput tinggi itu berada.

__ADS_1


Diikuti oleh Barry dan Andi tentunya di belakang.


Tara!!!!!


“Tuh, motor Alexio kan?” teriak Dira ketika menemukan ada jejak pemuda itu meski motornya saja


“Huh? Kapan dia kemari, tapi di mana? Apa di dalem sini?” ujar Andi heran melihat kendaraan Alexio di dalam sana terparkir.


“Alexio!!!!” pekik Dira memanggil, berulang kali ia bersuara tapi nihil tak ada jawaban sama sekali.


“Kita ke dalem.” Ujar Dira melangkah ke dalam markas.


“Ehhh lo mau ke mana?” bertanya tapi mereka tetap mengikuti langkah Dira ke dalam.


Dira meyakini jika pemuda itu ada di .......


Tap


Tap


Tap


Tap


Langkahnya berhenti


“Eh lo jangan kemari, Dira.” Barry berhenti di anak tangga pertengahan bersama Andi tentunya, sementara Dira sudah sampai di atas.


Dira menggeleng.


“Gak, aku yakin Alexio di dalam sana.” Tunjuknya pada arah tempat ruangan berpintu kuning itu berada.


“No, jangan kesana, nanti Alexio marah.” Andi mengingatkan dengan raut cemas.


Menolak peringatan itu, Dira memantapkan langkahnya menyusuri lantai marmer berwarna biru.


Ceklek.


“Gak dikunci?” Dira tertegun manakala mendapati pintu kuning itu tak terkunci.


Menarik nafas sebanyak-banyaknya, menormalkan degub jantung yang bergejolak di dalam sana, menetralkan semua anggota tubuhnya yang mendadak tremor semua.


“Gue harus berani.” Ujarnya bermonolog.


Pelan pintu didorong Dira....


Kosong!!!


Mana pemuda itu?


Tatapannya terbelalak melihat pemandangan isi ruangan yang disetting sebagai kamar. Dominan warna biru, kuning, merah, semua benda dan gambar berbentuk bulat, aroma mint, mawar dan vanila kuat, sudut lain ada figura gadis yang mirip dengan Alexio, mungkin itu Alexia. Dan jangan lupakan,, ada lukisan besar dengan kepala tanpa wajah yang mengenakan pakaian biru, kuning dan merah apa itu Xia?,


Menutup pintu agar tidak memancing atensi orang akan ruang privasi Alexio ini.


Langkahnya menyusuri tiap sudut, hingga netranya tertuju pada pintu yang tidak tertutup rapat... kamar mandi? Walkin closet? Ruang rahasia?


Kepalang tanggung... Dira harus ke sana


Setibanya di depan pintu itu..... Dira melangkahkan kakinya pelan dan hati-hati...


Ini kamar mandi? Melihat semua susunannya mencerminkan kamar mandi.


“Alexio!!!!” pekiknya pelan ketika menangkap siluet pemuda itu...

__ADS_1


Alexio, tengah meringkuk di dalam bathup berwarna merah, masih mengenakan seragam sekolah.


Oh no!!!!!! Dengan cepat, Dira melesak menuju tubuh Alexio yang memejam dengan wajah basah oleh bulir air mata.


__ADS_2