
Sepanjang jalan, jika tadi Dira bengong dengan rumah misterius itu. Kini gadis itu cengengesan sendiri di atas motor. Berulang kali ia tak sadar memeluk erat tubuh itu ketika ia gemas sendiri dengan perlakuan Alexio di restauran.
Tak lama, mereka tiba di sebuah rumah baru lagi.
“Ini markas geng Xia.” Ujar Alexio saat Dira mengerutkan dahinya.
Xia? Sampai gengnya saja menggunakan nama gadis sialan itu.
Andai iblis, hantu, jin, demit atau sebangsa itu, Dira bisa panggil paranormal untuk mengusir sosok itu.
Tapi ini bentukkannya hanya imajinasi kosong saja. Namun nyata di mata Alexio, sehingga mengusirnya sangat sulit.
Dira mengalihkan netranya ke sekeliling bangunan, berlantai dua, halaman hanya dibentengi pohon palem kipas, hanya tanaman itu. Lalu netranya melirik hal yang unik, samping rumah, ada rumput tinggi yang dibentuk bak dinding yang begitu rapi.
Mantap di sana Dira memandang hingga tubuhnya membeku di posisi semula.
“Hei, ayo.” Ajak Alexio memutuskan tatapan Dira pada dinding rumput yang dilihatnya.
“Alexio, aku mau tanya.” Dira mendekati Alexio.
“Hmm, tanya apa.” Sahut Alexio meraih tangan Dira untuk ia gandeng.
“Itu, itu ada apa sih di dinding samping itu? Kayaknya ada pintu di sana?” rasa penasaran Dira enggan dipendam lama, jiwa keponya kan kuat.
Kalo jadi emak-emak nanti, bakalan betah kalo belanja di kang sayur. Buat gosip pastinya.
“Hmm, itu... ada rahasia di sana, tempat pesugihan.” Jawab Alexio tersenyum jahil
Plak
“Dihh, aku tanya serius.” Dira spontan mendeplak bahu pemuda itu saking gemasnya akan jawaban konyol tadi.
“Iya, nanti aku kasih tahu. Tapi tidak untuk saat ini, ya? please.” Jawab Alexio.
Dira perlu mencatat hal penting. Saat Alexio menggunakan kata PLEASE, artinya itu bersifat privasi, dan belum mau diberi tahu kepada Dira. Dan Dira yakin itu ada hubungannya dengan....
Aishhhh Xia-lun itu pasti di belakang semua ini lagi.
Gerutunya sendiri.
Dengan terpaksa, Dira harus mengalah lagi dengan sisi misterius yang dibawa oleh Alexio. Tak masalah jika misterius itu nyata, tapi jika berhubungan dengan Xia-lun lagi,...
Arghhhhhh Dira kesal kalo harus memilih rival dengan Xia-lun.
“Hai bro,.. eh ada Dira.” Sambut satu anggota geng Alexio di depan pintu. Mereka berpapasan dengan beberapa anggota yang hendak keluar.
“Mau kemana?” tanya Alexio melihat kepergian mereka.
“Mau cari makan.” Jawab mereka.
“Nih, gue udah beli. Bawa gih.” Alexio menyerahkan bungkusan yan g berisi menu makan malam untuk mereka. Cukup banyak, kalau kurang, bisa dipesan order lagi.
“Eihh maacih Alexio.” Ucap mereka segera mengambil bawaan itu dan masuk kembali.
Perhatian kecil itu menggelitik hati Dira, yang harus rela terpesona kembali dengan sosok Alexio yang ia pikir sulit berbagi seperti itu.
__ADS_1
“Kenapa?” Alexio menyadari Dira menatapnya sejak tadi.
“Aku terpesona deh sama kamu.” Kekeh Dira lalu bergegas masuk mendahului Alexio.
Merona sudah wajah si gadis tengil itu. Masih saja ia sempat-sempatnya menggoda pemuda itu. Ehh memuji, bukan menggoda, garis bawahi itu.
“Eh, ngapain lo ke sini?” Melihat kedatangan Dira, menyentak rasa bingung Barry yang baru muncul dari dapur, membawa stoples keripik kentang dan sebotol softdrink di pelukannya.
“Kenapa memangnya, dihhh.” Balas Dira ketus.
“Dia ikut gue.” Suara Alexio menengahi keduanya, memang Dira cukup ketus pada Barry karena sahabat Alexio itu kerap menggodanya di sekolah.
“Kok bisa, dia kan pacarnya Jonathan, dan geng sana bro.” Itu Andi yang muncul dari balik sofa, dengan tetap membawa stik PS di tangannya mendongak untuk ikut menyela.
Ia mendengar percakapan Dira dan Barry yang singkat tadi tapi masih menunggu kelanjutannya, eh keburu Alexio ikut nimbrung. Ya ngikut aja kepalang.
“Dia udah gak sama Jonathan, termasuk keluar dari geng tak bermutu itu.” Jawab Alexio, menggenggam jemari Dira begitu saja.
Andi dan Barry sama-sama mengedipkan mata melihat tindakan Alexio itu.
“Lo....” Andi dan Barry sama-sama henda mengucapkan kata kramat itu, tapi ragu.
“Iya, gue dan Dira udah pacaran.” Jawab Alexio tahu akan pikiran kedua tuyul itu.
“Kok??!!!” serempak, Barry dan Andi lagi.
“Kenapa lo, huh!!!” itu Dira yang menjawab, dengan gaya ketus dan slengeannya, ikut menjawab.
“Alexio, lo yakin.” Ujar Andi mendapati jawaban Dira.
“Dihh, kalian ini kenapa sih, gak seneng banget. Awas aja pengaruhi Alexio.” Dira yang mengomentari kembali.
“Kamu ini.” Alexio mengacak-acak puncak kepala Dira dengan gemas.
“Kamu?” beo Andi dan Barry kompak
Sebelumnya, pemuda itu selalu menggunakan kata LO kepada Dira. Ok, dengan kata itu, berarti memang benar ada sesuatu di sini.
“Kenapa sih, panas di sini, aku ke sana deh.” Dira menghentakkan kakinya menuju Andi, lalu merebut stick games itu begitu saja.
“Sana gih, kalian kan mau rapat dewan kabinet.” Usir Dira pada Andi yang bengong ketika benda itu direbut oleh Dira.
“Andi,, sini.” Sebelum Andi memprotes, suara bass Alexio menghentikannya.
Alhasil, menggigit bibirnya pertanda kesal, Andi meninggalkan sofa kesayangannya setiap bermain game. Kursi malas berwarna kuning.
“Kok bisa-bisanya sih lo nerima itu cewek.” Seloroh Barry, ia sebenarnya tak terima karena lagi gencar mencari cara untuk mendekati Dira pastinya.
“Kenapa?” tanya Alexio mengerutkan dahinya.
“Ya, gak suka aja.” Jawab Barry menggaruk tengkuk belakangnya.
“Lo??” Alexio menatap penuh selidik pada Barry.
“Ya, ya, gue suka sama Dira, karena lo sering nolak dia, ya gue nyari cara buat ngejer dia lah. Orang manis gitu.” Jawab Barry terkekeh.
__ADS_1
“Manis? Awas lo macem-macem.” Delik Alexio tak suka.
“Nah loh. Hati-hati Bar, gak bisa nikung Alexio lo.” Celetuk Andi tertawa lepas. Ia berjalan cepat meninggalkan Barry yang seperti hendak menendangnya akibat ucapan tadi.
Pupus sudah lah, ia tak mau melawan Alexio, bisa bangkrut mendadak usaha kuliner dan perhotelan keluarganya yang juga diberikan suntikan ivenstasi oleh perusahaan ayah Alexio.
“Jadi, kita ke rumah sakit sekarang?” tanya Alexio saat semua anggota sudah berkumpul di ruang tamu yang luas itu..
“Iya, kita harus memastikan kedatangan ketujuh curut itu. Sesuai yang dijanjinkan tadi.” Ucap Andi
“Baiklah, tapi sebentar.” Alexio meraih ponselnya dan menekan layarnya.
“Hallo pa.” Panggilnya.
Ia menelpon Bisma, sang ayah.
“Alexio mau minta bantuan papa.” Ucap pemuda itu.
Alexio mengutarakan maksudnya yang diperdengarkan oleh semua anggota geng motornya.
“Alexio mau minta sesuatu yang berhubungan dengan 7 perusahaan yang bekerjasama dengan perusahaan papa.” Ujarnya.
Lalu kemudian, Alexio menganggukan kepalanya dan telpon pun dimatikan. Menatap semua anggota geng Xia yang sedari tadi memperhatikan dirinya.
“Gimana?” tanya Andi.
“Papa bakalan bantu apapun yang gue butuhin.” Jawab Alexio menjawab rasa lega semua orang di sana.
Ya jelaslah bakalan dituruti, Alexio sudah diproklamirkan bukan hanya sebagai penerus perusahaan Bisma tapi juga perusahaan kakek Alexio, J-Corp yang lebih besar dari milik Bisma dan sudah berskala gengsi internasional.
“Okelah kalo begitu, kita makan dulu baru ke rumah sakit.” Ucap Barry berdiri dan mengambil kotak berisi makan.
“Gue ke dalem dulu” kata Alexio yang diangguki semua.
Ia akan melihat Dira yang tadi sibuk bermain game PES itu. Namun setibanya di sana, ia tak menemukan gadis itu.
“Dira!!!” panggilnya namun tak ada jawaban.
Lagi-lagi ia memanggil Dira kearah toilet, namun tak ada sahutan. Hingga langkahnya menapak di anak tangga.
“Dira!!!”
“Iyaaa!!” sahut Dira
“Kamu ngapain di sana?” tanya Alexio melihat posisi Dira saat ini.
“Aku hanya berkeliling, tapi hanya tempat ini yang terkunci..” jawab Dira.
“Ada apa sih di sini?” Dira menunjuk daun pintu berwarna kuning di hadapannya saat ini...
Kamar yang berisi semua hal dan rahasia Alexio.........
“Please....” lagi-lagi, kata buat Xia-lun itu yang keluar.
Arrgggg, sini kau Xia-lun, lawan gue!!!!! Pekik Dira dalam otaknya.
__ADS_1