
Alexio melesat bersama salah satu koleksi mobil sport-nya, membelah jalanan malam Singapura sendirian.
Ia tak mau mengikuti jalur yang sama dengan Suprapto, tentunya untuk menghindari kecurigaan pria renta itu apabila melihat ada kendaraan yang intens membuntuti di belakangnya.
“Jangan terlalu dekat dengan mobil papa-mu. Aku tidak mau sampai rencana kita berantakan.” Ujar Linda mengingatkan Bisma akan hal penting itu. Ia tak semahir Alexio yang memilih jalan lain agar tidak mendapat resiko tersebut.
“Iya, sayang.” Sahut Bisma memberi jarak, toh mereka tahu di mana lokasi tempat kejadian tersebut.
“Kita lapor polisi untuk berjaga-jaga.” Saran Bisma pada istrinya.
“Lapor polisi katamu? Kau tidak lupa kan kita bekerja sama dengan siapa? Seorang pimpinan mafia besar, biarkan Hiro yang memegang kendali. Lagian jarak gedung kepolisian dengan bangunan itu dekat.” Tolak Linda dan direspon Bisma dengan sikap diamnya saja.
Isterinya terlalu mempercayai yang bernama Hiro itu, cemburu? Entah, mungkin kecewa karena wanita itu lebih bergantung pada pria lain ketimbang dirinya.
Sementara di mobil Suprapto....
“Apa ada yang mengikutiku?” tanyanya pada sopir yang merupakan orang kepercayaannya, alias tangan kanannya.
Pria yang sedang menyetir itu menyentuh benda yang menempel di telinga kanannya lalu mengatakan sesuatu dengan pelan.
“Ada tuan, mobil bawahan saya tepat di belakang mobil orang yang mengikuti kita. Mereka terpisah jarak dua mobil.” Jawab pria itu pada Suprapto.
“Sialan!” maki Suprapto memukul sandaran kursi di depannya.
“Dan itu adalah putera anda bersama istrinya, tuan.” Lanjut tangan kanannya melaporkan.
“Apa? Bisma? Tanya pada asisten rumah tangga, apakah cucuku juga tidak ada di rumah.” Buru Suprapto, kini ia sudah waspada akan keluarga terdekatnya itu.
“Baik tuan, akan saya tanyakan.” Pria itu melakukan panggilan, dengan suara pelan berbicara menanyakan apa yang diminta oleh bosnya tadi.
“Tidak ada tuan.” Jawab pria itu.
“Apa Alexio mengikuti juga di belakangku? Karena mereka terpisah kendaraan.” Tanya lagi Suprapto
“Hanya mobil tuan Bisma saja yang ada di belakang kita bos. Tuan muda Alexio sudah duluan pergi karena sempat bertengkar dengan orang tuanya.” Jawab pria itu.
“Kemana cucuku, apa kalian ikut mencarinya?” kembali Suprapto menanyai anak buahnya itu.
“Alexio ke salah satu club malam terkenal di Singapura, tuan. Dan masuk ke dalam salah satu ruang VVIP di sana.” Lapor pria itu dari informasi bawahannya.
__ADS_1
Suprapto menganggukkan kepalanya, “Pastikan dulu kemana arah mobil yang mengikuti kita, jika memang searah, maka kacaukan perjalanan mereka. Tidak peduli itu puteraku.” Ujar Suprapto terlihat dingin.
“Tapi tuan....” terlihat ragu dengan perintah tuannya barusan.
“Lakukan saja apa yang aku perintahkan.” Titah Suprapto tak mau dibantah.
“Baik tuan.”
Flashback.....
Alexio tahu ia tengah di rumah siapa, jika saja di mansion ini penuh CCTV dari yang terlihat dan tersembunyi, juga ada CCTV hidup dalam bentuk bawahan Suprapto.
Makanya saat ia terpicu Suprapto pergi dari kediamannya, ia bergegas pergi setelah memastikan bawahan kakeknya itu tak mencuri dengar pembicaraannya bersama orang tuanya.
Karena saat itu ia membahas rencana penyelamatan Andriana.
Dan ketika dirinya keluar dari mansion pun, tidak serta merta ia tak memperhatikan sekitar, ada beberapa anak buah kakeknya yang memantaunya.
Makanya Alexio memanfaatkan keberadaan sahabatnya yang tengah berada di club malam untuk membantunya...
“Bantu gue, buat gue bisa keluar dari tempat ini tanpa ketahuan orang-orang brengsek suruhan kakek gue.” Ucap Alexio pada sahabatnya yang sedang memangku 2 orang wanita berpakaian seksi.
Tak sulit bagi Alexio meloloskan diri dari intaian anak buah Suprapto, menukar mobil milik sahabatnya dengan punyanya. Alexio meninggalkan club malam itu untuk menuju tempat Suprapto juga ke sana.
.
.
.
Sementara di bangunan tua milik Suprapto, baku hantam tak terelakkan pun terjadi. Sayang sekali, Dome harus pasrah saat dirinya dan anak buahnya terkepung oleh kawanan anak buah milik Suprapto.
“Sialan! Kalian sih berisik waktu sembunyi tadi.” Gerutu Dome menyalahkan anak buahnya. Padahal dia sendiri yang kasak-kusuk di tempat persembunyian, dia pula yang mengomel.
“Maaf bos.” Hanya itu ucapan anak buahnya, mengiyakan apa kata anak bosnya.
“Mana aku belum sempat kissing dengan kekasihku, ahhhh kalau sampai aku mati, maka aku akan menghantui kalian satu persatu.” Dome melirik tajam pada semua anak buahnya. Dendam kesumat terpatri jelas di wajahnya.
“Bos, jika anda mati, kami juga menyusul anda bos. Karena kita di tempat yang sama.” Celetuk salah satu anak buahnya.
__ADS_1
“Jadi, kalau satu jadi hantu, maka akan jadi hantu semua.” Sahut yang lainnya ikut menimpali.
“Arrrghh, kalian ini. sungguh-sungguh menyebalkan.” Sembur Dome, ia tak mau membenarkan yang dikatakan anak buahnya, tapi memang begitu kenyataannya
Mereka bisa jadi hantu berjamaah, dan misinya menjadi hantu pendendam batal.
“Ingat, jangan ada yang satu pun yang menggunakan senjata di sini. Itu akan berguna di saat terakhir. Paham!” Dome mengingatkan mereka bahwa amunisi itu jangan digunakan di saat mereka masih terkepung.
Apalagi mereka kalah jumlah
“Jadi bos? Kita hanya berkelahi saja?” tanya anak buahnya
“Itu gunanya kau memperbesar ototmu, setan. Ganti saja tatomu jadi gambar Shinchan jika kau masih menggerutu.” Sentak Dome sebal.
Brak!!!
Pintu dibuka keras membuat yang ada di dalam cukup terjengkit mendengarnya.
“Mengejutkan saja.” Umpat Dome melihat Suprapto memasuki ruangan besar tempat dirinya berada.
Suprapto diikuti oleh 10 orang anak buahnya, hawa dingin dan penuh intimidasi keluar dari tubuh pria itu. Pantas saja ia cukup ditakuti di dunia hitam dan bisnis legalnya. Ia memang memiliki aura tersebut.
Langkahnya tepat menuju kumpulan anggota Yakuza. Menatap lekat pada Dome, si tampan dan paling muda sendiri.
“Oooo, jadi ini puteranya Hiro Hitoka itu.” Ucapan Suprapto tak jelas apakah berbentuk pertanyaan atau justru pernyataan, namun ia seakan puas memakan habis Dome hanya dengan memandangi.
“Iya, kenapa memangnya, huh!” Jawab Dome, tetap saja bertingkah songong.
“Mau matimu, kau tetap saja bertingkah sombong. Padahal tak ubahnya bocah yang sedang menghadapi masa puber.” Cibir Suprapto menilai sikap tak sopan Dome.
Dome mengepalkan tangannya, agak tersinggung akan ucapan Suprapto.
“Dasar pria gila, sudah tua masih saja melakukan kejahatan.” Balas Dome tak mau kalah.
“Kau lupa siapa ayahmu, kakekmu, dan semua keluargamu, hah? Mereka sama-sama orang yang berkecimpung dalam dunia kejahatan juga bocah.” Kekeh Suprapto menyindir mafia Yakuza yang melakukan bisnis dunia hitam.
Sama sepertinya. Jadi harusnya Dome, diam saja.
“Tapi kami tidak menyiksa, membunuh, menculik dan memanfaatkan orang-orang seperti mu, kami melakukannya pada musuh kami, dasar kau pria iblis.!” Geram Dome berdiri dan mengangkat tinjunya mengarah pada Suprapto.
__ADS_1