
Alexio mengelus lembut tangan Dira yang sudah melingkari tubuh kekarnya. Seandainya ia tak menggunakan jaket kulit itu, bisa dipastikan ia akan tahu air mata Dira yang mengalir saat ini.
Sedih, itu yang dirasakan gadis itu, sesak, juga.
Apa sudah ada ditahap semengkhawatirkan ini Alexio?
‘Akan ku bunuh kau Xia. Akan ku lenyapkan kehadiranmu yang konyol dan tak masuk akal itu.’ Geramnya membatin.
Jika kata mengerikan itu bisa terucap meski hanya di kalbunya saja, itu tak lain karena perbuatan itu tak akan melanggar hukum, bukan?
Kan sosok yang akan ditumpasnya hanya hayalan alias ilusi yang diciptakan pemuda ini.
Xia.... sesuai nama geng motor yang dibuat Alexio sejak 3 tahun yang lalu.
Cukup lama keheningan di atas motor itu tercipta, hingga mereka sampai di suatu tempat.
Rumah megah itu yang menjadi tujuan Alexio tadi.
“Kita di mana?” tanya Dira belum tahu tempat apa ini.
“Rumah temen aku.” Jawab Alexio
“Yang menelpon kamu tadi?” Dira bertanya lagi dan diangguki Alexio.
Xia?
Alexio bergegas turun, tapi langkahnya berhenti mendadak.
“Kamu tunggu di sini aja ya.” titahnya
“Hah? Kenapa gak boleh ikut?” Dira memang tak penasaran tapi ia mau tahu ada apa di dalam sana.
“Di sini aja, gak lama kok, ok.” Alexio mengelus rambut Dira dan tersenyum.
“Alexio. Tapi mau ikut.” Dira mengeluarkan jurus rengekan gadis menggemaskan
Aihh tak getok kepalamu Dira. Hehehe
Alexio menatap Dira penuh harap, “Please, nurut ya.” ucapnya dan terpaksa Dira mengangguk walau kesal dan dorongan ke kepoannya mendera sempurna di dalam sana.
Alexio berlari menuju gerbang yang sudah dibuka oleh security di sana. Cukup berjarak dari posisi motornya saat ini.
Dira yang dasarnya memang tengil dan sedikit badung itu, turun, oke kalau ia tak boleh masuk, tapi bukan berarti ia tak boleh ke tempat security kan? Toh letaknya di luar rumah itu.
“Sore non.” Sapa security itu melihat kedatangan Dira ke pos penjagaannya.
“Sore pakde.”jawab Dira. Siapapun yang bergelar security dengan usia renta akan dipanggilnya pakde.
__ADS_1
“Temen den Alexio ya?” tanya pria tua itu yang dibalas Dira dengan senyumnya.
“Iya, oh ya, ini rumah siapa ya pak?” Dira harus tahu, persetan dengan larangan masuk tadi, pokoknya harus sedikit yang ia tahu dari rumah ini.
“Ini rumah keluarganya Aden Alexio, non.” Jawab pria itu yang membuat Dira tertegun seketika.
Rumah keluarganya? Bukannya rumah orang tua Alexio bukan di sini?
Menyadari kebingungan Dira, satpam itu kembali berujar, “Ini rumah keluarga den Alexio yang lama, 7 tahun yang lalu, non.” Ucapnya.
“Kenapa pindah pak?” makin penasaran sudah Dira sekarang begitu tahu ini bukan rumah Xia tapi rumah Alexio
Meragu, itulah yang tergambar dari raut wajah satpam itu. “Semenjak kematian non Alexia, mereka pindah, non.” Jawabnya pelan dan hati-hati.
“Oo, lalu rumah ini siapa yang nunggu? Gelap gini.” Tanya Dira lagi.
“Gak ada yang nunggu, pelayan hanya datang pagi sampai sore untuk membersihkan saja, kalau bapak berhubung penjaga keamanan jadi di sini.” Jawabnya panjang lebar.
“Alexio sering kemari pak?” lanjut Dira dengan semangat berghibahnya.
Kan dia tidak dilarang bertanya kan? Kalau Alexio tadi bilang mantap dan jangan ke pos penjagaan, Dira pasti tak akan menemui pakdenya ini.
“Lumayan sering sih non, semenjak 3 tahun yang lalu.” Jawabnya.
Dira berpikir keras, ada apa 3 tahun yang lalu?
Benar saja, untung dia cepat balik lagi, karena Alexio muncul tak lama itu.
“Udah?” tanya Dira menyambut Alexio yang baru berlari kecil menghampirinya.
“Iya, kita ke markas aku ya, aku ada urusan sama anak-anak bentar.” Ajak Alexio yang diangguki Dira.
Kembali menjalankan motor gede berwarna kuning, melesak memecah keramaian ibu kota yang tengah padat karena jam orang pulang bekerja.
‘Jadi, 3 tahun yang lalu, sementara kematian Alexia itu 7 tahun yang lalu. Ada jeda 4 tahun dari kebiasaan baru Alexio.’ Batin Dira mulai berspekulasi.
“Dira.” Alexio meremas tangan Dira karena gadis itu tak kunjung menjawab panggilannya yang sudah 3 kali itu.
“Eh, i-iya, ada apa Alexio.” Sahut Dira cukup terkejut dengan gerakan itu.
“Kamu kenapa? Kok diem aja?” tanyanya
“Ah, gak. Sorry ya,.” ucap Dira merasa tak enak.
“Kita makan dulu ya, sekalian bawain anak-anak makan. Nanti kamu gak nyaman kalo makan dekat mereka.” Sambung Alexio yang disetujui Dira segera.
Mereka berhenti di salah satu restaurant kecil yang menyajikan masakan rumahan. Pas sekali, Dira suka, ia bisa leluasa makan jika menunya seperti ini.
__ADS_1
“Kamu laper?” tanya Alexio saat melihat tumpukan hidangan sudah ada di atas meja.
“Hehe, aku suka khilafan kalo makannya menu rumahan. Jangan malu ya kalo makan sama aku.” Kekeh Dira masa bodo. Ia tak canggung dan enggan sok kecantikan makan di hadapan pemuda yang ia sukai
“Iya, kalo kurang tambah aja.” Sahut Alexio balas terkekeh.
Ia suka dengan cara Dira yang tidak bertingkah sok manis layaknya para gadis yang menjaga etika makan di hadapan pria.
Mereka makan dengan tenang,... tunggu, tenang?
Itu hanya di pikiran kita pada umumnya saja, tidak untuk Dira.
Kecantikan gadis itu tak mencerminkan cara makannya saat ini.
Tangannya penuh dengan remahan nasi dan kuah santan ikan yang ia pesan. Makan dengan lahap hingga beberapa tatapan para gadis berdecak melihatnya.
Semua itu karena cowok di hadapan Dira itu kelewat rupawan untuk diajak bersama gadis bar-bar dan tak berperi-kegadisan itu. Harusnya Dira menjunjung tinggi harkat, martabat dan kehormatan dan rasa gengsi wanita yang bertingkah cantik di hadapan pria seperti Alexio.
“Kenapa?” Dira yang merasa diperhatikan itu sontak mendongkan wajahnya, ia lihat Alexio menatapnya lekat dengan wajah mengulas senyum.
“Gak.” Jawabnya santai namun senyum itu tak lepas.
Dira mengedarkan matanya, benar saja, pantas tubuhnya berasa panas di semua sisi, rupanya banyak mata yang menembakkan tatapan tidak percaya serta menggelengkan kepala menilai dirinya. Dira menyadari, melihat tangannya, piring yang penuh nasi, jangan lupakan ia sudah nambah loh, maka tak heran jika ia merasa dicekam kaumnya akan tingkah makannya.
“Aihhh soal makan saja aku salah di mata mereka.” Cetus Dira
“Jangan pikirkan orang-orang.” Bela Alexio mengeluas tangan kiri Dira yang ada di atas meja.
Dira menatap perbuatan Alexio berikut tatapan sekitarnya yang masih mengintainya. Masa’ bodo sama kalian, yang penting Alexio gak ilfeel.
“Kalau kamu beneran gini,....” Alexio mencondongkan tubuhnya kearah Dira.
Mengusap sudut bibir gadis itu yang belepotan kuah santan ikan, lalu menarik jemarinya dan memasukkannya ke mulutnya.
“Hmm, enak. Manis.” Ujar Alexio, mengabaikan ekspresi pilon Dira yang tertegun lagi akan tindakan Alexio itu.
“Aku makin suka kalo kamu begini, Dira Kairan Ladh.” Pungkas Alexio menutup pembicaraannya.
Namun tidak untuk Dira, ucapan itu membuat organ dalamnya sudah tawuran di dalam sana, entah nasi yang di makan Dira bisa sampai ke lambung dengan benar atau tidak. Karena jika sampai berhenti di tenggorokan, maka Dira tak ubahnya beruk yang menyimpan makanan dong.
Hahahahahahhahaha.
Aku mencoba untuk...... Meraihmu untuk di sisiku, walau semua kegilaan itu masih menghantuiku,... (Alexio Bisma)
__ADS_1
Ketika semua rasa terbalas, aku justeru merasa sakit saat tahu kau tidak baik-baik saja. Hei kau Alexio Bisma, jangan harap bisa lari dariku,..... Aku akan menggenggam tanganmu, di saat terberat sekalipun,.. Mari hadapi semua bersamaku, sesakit apapun itu.... (Dira Kairan Ladh)