Alexio "Diary Merah Muda"

Alexio "Diary Merah Muda"
Bab 104


__ADS_3

Masa kini....


“Bagaimana, informasi apa yang kau dapatkan, ayolah, kita ini mafia gabungan, tidak mungkin hal receh yang kalian dapatkan.” Dome mengomel layaknya emak-emak tak dapat uang belanja dari suami saja. Ia sudah menodong suruhannya sebelum laporan itu diberikan., bahkan kalimat pembuka saja masih menggantung di bibir mereka.


“Ini tuan.” Salah satu pimpinan suruhan itu menyerahkan ipad beserta amplop pada Dome.


“Ini isinya apa? Menarik tidak, aku malas kalau isinya tidak bagus sesuai harapanku, mengurangi energi jariku saja untuk hal sia-sia.” Tidak capek kayaknya itu bocah lewat masa puber itu untuk kembali cuap-cuap bak anak ayam kelaparan.


Jujur, jika bukan anak seorang Hiro Taoka, pimpinan dua mafia besar, sekaligus bos mereka, bisa jadi mulut Dome sudah diuleg oleh mereka lalu dijemur di terik matahari dan ditaburi garam di semua sisinya. Saking mereka menyimpan gemas dan kesal sekaligus atas komentar un-faedah yang meluncur lancar dari mulut bocah itu.


“Buka saja tuan.” Sahut pengawalnya tenang.


“Ck, aku tanya, menarik tidak.” Ngeyel kali anak Hiro itu, sok merasa paling sibuk dan sok itu cadangan energinya ada di level limited edition dan tidak boleh keluar untuk hal sia-sia.


“Sangat tuan. Sangat.” Penuh keyakinan, itu yang dituturkan oleh pengawalnya.


“Awas kalo tidak.” Ancam Dome, lalu jemarinya mengulir layar ipad dan membuka temali pengunci amplop di sisi kanannya.


Matanya sibuk hilir mudik, maju mundur, geser kanan lalu ke kiri, bentar lagi misah dah tuh mata. Fokus, keningnya berkerut dalam dan...


Brak!!!!


“Omo!!!! Ini melebihi ekspektasiku. Wah!!! Kemari, kemari kau.” Dome berteriak heboh seraya melambaikan tangannya pada pengawalnya tadi.


Menurut, kini pria gagah itu sudah berdiri di sisi anak bosnya,


Greb!


Teletubbies!!! Berpelukan.


“Bagus, bagus, aku suka pekerjaan kalian.” Dome menepuk punggung kekar dan keras milik pengawal itu sembari memuji kinerja mereka, namun bagi pengawal itu jauh dalam benak terdalamnya ia memaki tingkah tuannya ini.


‘Sialan anak Hiro ini! arhgggg.’ Pekiknya, menghela nafas berat namun diusahakan sepelan mungkin agar tidak membuat baper bocah ini.


“Bagus, nanti aku kasih bonus untuk semuanya.” Ucap Dome melepas pelukan.


“Dih, menjijikan sekali sih.” Dia yang memeluk, dia pula yang mengibaskan tangan membersihkan tubuhnya yang bersentuhan dengan pengawal tadi.

__ADS_1


“Lain kali jangan berpelukan.” Tengilnya memerintah.


“Sana pergilah, aku harus bertemu dokterku setelah ini.” usirnya pada 4 orang pengawal itu yang gegas diangguki mereka dengan umpatan di hati mereka semuanya.


5 menit kemudian, dokter Doni bersama Dira di belakangnya menyembul dari balik pintu. Mengunjungi pasien labil itu yang katanya hari ini membagikan lukisan gratis ke beberapa perawat di gedung psikiatri, dan tak perlu ditebak apa gambarnya. Gak jauh dari bagian intim perempuan tentunya. Tapi, karena kondisi bocah itu yang mengidap salah satu neurosis atau gejala kejiwaan akibat sebuah trauma mendalam, maka tidak bisa dibilang sebagai tindak asusila dari petugas medis yang merah padam ketika disodorkan karya luar biasa dari seorang Dome Taoka.


“Ehm.” Deham Dira mengiringi dokter Doni.


“Hai baby.” Lihatlah, tidak pandang situasi, bocah itu tetap percara diri memanggil Dira dengan sebutan itu.


“Kau hari ini melakukan bagi-bagi lukisan?” tanya Dira sembari memperhatikan catatan di genggaman dokter Doni.


“Hmm, kegiatan amal, gratis.” Cetus Dome terkekeh.


“Dih, amal gratis, untung gak digampar kau.” Sembur Dira mendengar ucapan santai Dome.


“Dira!” seru dokter Doni, agar perempuan itu tidak mengomel pada pasiennya.


“Ya dokter. Iya, maaf Dome.” Dira kadang lupa dengan kondisi Dome, jika saja di luar tentu sudah di deplaknya kepala Dome biar kembali ke setelan pabriknya sebelum sakit.


“Hmm,kapan ya.” Sok berpikir, menopang dagu, Dome melirik kearah Dira.


“Lakukanlah.” Ujar Dira menyarankan.


“Haruskah? Aku mau, asal kau jadi pacarku, Dira.” Dome terkikik saat menyatakan syarat barusan. Tidak menyangka ia yang dikelilingi gadis muda, malah memilih wanita dewasa seperti Dira. Memang Dira tidak kurang apapun, hanya usia mereka terpaut begitu jauh. Dan itu pasti akan jadi timpang tindih antara dirinya dan Dira.


Dira menghela nafasnya, menoleh pada dokter Doni yang menahan tawa melihat sikap frustasi Dira.


“Dokter, apa tidak bisa kita bius langsung saja?” bisik Dira yang dijawab gelengan kepala oleh dokter Doni.


“Itu harus persetujuan pasien, Dira.” Jawab dokter Doni.


Gila memang, syarat gila yang diajukan anak mafia Jepang itu sungguh membuat frustasi seorang Dira. Ia butuh informasi Dome agar mereka bisa melakukan tindakan selanjutnya, karena tidak selamanya bocah itu akan menjadi pelukis handal khusus alat kelammin perempuan, kan?


“Kau jangan macam-macam Dome, tidak ada hubungannya sama sekali.” Komen Dira gemas.


“Ayolah, aku butuh dukungan orang terkasih jika fakta yang membuatku seperti ini terungkap.” Balas Dome dengan wajah memelas. Lagi-lagi Dira menghembuskan nafasnya.

__ADS_1


“Kau punya orang tua, teman, dan banyak gadis-gadis yang akan memberimu perhatian.” Timpal Dira beralasan.


Dome menggeleng, “No, aku butuh kau, dokter.” Seru Dome memohon.


“Itu urusanmu, Dira.” Sebelum Dira meminta bantuan, dokter Doni sudah lebih dulu menolak.


“Kau.” Dira mendekat, menepis debu yang sepertinya hanya jadi alasan dirinya menepuk pundak Dome.


“Aku ini wanita dewasa, kau itu ibarat adikku, Dome.” Dira memberikan penekanan perbedaan usia sebagai alasan menolak bocah itu, lagian ia masih menahan nama Alexio di sanubarinya.


“Cukup 3 bulan saja, cukup tiga bulan dokter. Jika rasaku hanya obsesi, dan kau tidak membalas perasaanku, maka kita berpisah saat itu. Sebaliknya juga.” Pinta Dome tak mundur selangkahpun.


Dira menatap kesungguhan bocah itu, ia bagai dejavu, bayang Jonathan kala memintanya menjadi kekasih dalam waktu satu bulan, dan putus dalam masa yang ditentukan, dan kini, bocah itu pula yang memintanya.


“Baiklah, aku harap kau tidak melewati batas.” Peringat Dira yang diangguki Dome dengan senyum penuh sumringah.


“Besok aku siap melakukan apapun maumu, dokter Doni.” Ucap Dome tanpa melepas tatapannya dari Dira yang sudah melengos melihat dokter Doni.


“Baiklah, akan saya jadwalkan dan persiapkan semuanya, Dome.” Sahut dokter Doni lalu menepuk pelan lengan Dira sebagai bentuk support untuk keputusan konyol itu.


Entah siapa yang menyebarkan, pastinya hanya ada 3D yang tahu, Dira, dokter Doni dan Dome. Namun seantero gedung psikiatri heboh akan kabar tersebut. Bahkan bisik-bisik gosip pun merebak sampai ke telinga Kairan Ladh dan Alexio.


“Apa-apaan ini, bagaimana mungkin puteriku... Ya Tuhan!!!!” erang Ladh mendengar kabar konyol mengenai puterinya yang menjalin hubungan dengan anak ketua mafia itu.


Pun Alexio, “Bawa bocah itu padaku, ia sepertinya sudah bosan hidup.” Perintahnya tajam, tangannya mengepal, taruhan bersama Alan tak digubris pria itu yang masih gencar mendekati Dira. Sepertinya harus ada baku hantam atau ancaman menggoyang perusahaan keluarga Alan baru jera. Dan bocah Jepang itu, kini harus menjadi lawan Alexio berikutnya, karena berani mengganggu wanitanya juga.


Padahal ia tengah sibuk hilir mudik memantau pergerakan Suprapto yang diketahui anak buah Alexio melakukan hal mencurigakan, dan mengenai keberadaan wanita bernama Inda juga masih abu-abu keberadaannya, dan kini ia terusik saat kecolongan jika Dira menjalin hubungan dengan pria lain yang ternyata masih bocah labil.


.


.


.


“Kirim paket ini pada Alexio, dan pastikan ia melihat isinya.” Linda dari dalam mobil, menyerahkan sebuah paket berupa amplop yang berisi informasi untuk puteranya. Entah kenapa ia melibatkan Alexio dalam permainannya.


“Harusnya kau tetap diam dan melupakan semuanya, Alexio. Kenapa kau harus ikut campur dalam masalah mama.” Ucap Linda sendu. Menatap pemandangan rerumputan yang menjulang tinggi, matanya sudah terasa perih, mengingat kekhawatirannya jika aksi balas dendamnya bisa menyakiti puteranya kali ini.

__ADS_1


__ADS_2