
“Omong kosong.” Ujar Alexio mendengus saat Dome mencoba meminta benda yang ia simpan rapi.
“Ayolah woy, jangan pelit, bukankah ini demi ibumu juga.” Kilah Dome beralasan, padahal secara tidak langsung juga demi keuntungan organisasi mereka, dengan hancurnya Suprapto maka keuntungan bisnis hitam mereka akan semakin banyak dan tumbang satu pesaing sekali pukul.
“Aku mau pulang jika kau masih tetap ingin di sini.” Alexio menarik tubuhnya berdiri bersamaan suara deret kayu beradu dengan lantai marmer.
“Aku belum selesai, aihh kau ini tuan rumah tidak sopan memang.” Umpat Dome menggerutu, padahal dia juga sebagai tamu arogan memaksa meminta barang pemilik rumah.
Tanpa menggubris omongan konyol Dome, Alexio berlalu begitu saja dari hadapan bocah itu. Ia tak takut meski Dome datang bersama dua mobil dan bisa dipastikan sebentar lagi akan keluar kumpulan pria bertato seram itu dari dalam sana.
“Hancurkan motor pria gila itu. Jangan biarkan dia pergi dari hadapanku.” Teriak Dome keras, membuat pintu mobil seketika terbuka dan keluar makhluk menyeramkan tadi yang berjumlah 10 orang.
“Ck.” Decak Alexio saat kakinya sudah menapaki undakan tangga teras.
Secepat itu kawanan anak buah Dome menghancurkan tunggangan Alexio, ada yang menendang, memukul dengan tongkat, batu, dan juga balok kayu. Dan hasilnya, tak butuh waktu lama bagi 10 orang itu membuat motor Alexio tidak bisa dikendarai lagi.
“Apa selanjutnya orangnya bos?” celetuk satu anak buah Dome melirik Alexio, roman-roman wajahnya terlihat seperti kelaparan hendak memakan orang.
“Untuk sekarang, itu dulu, cukup. Sana, syuhh.” Dome mengibaskan telapak tangannya mengusir kumpulan anak buahnya agar menjauh dan tidak mendengar pembicaraan mereka berdua.
“Dasar, pengecut.” Tekan Alexio pada kata terakhir pada Dome yang masih duduk mantap di posisi tadi.
“Ayolah, itulah gunanya kau jadi bos, dan itu pula tujuannya jadi mafia, Alexio. jangan berlagak polos.” Cibir Dome tertawa penuh sindiran.
“Terserah, aku mau pergi.” Tak ambil pusing dengan ceramah tak jelas Dome, Alexio masih bersikeras untuk hengkang dari hadapan bocah itu meski kendaraannya sudah tidak ada, entah, nanti ia pesan online saja.
“Woy, kau ini tidak takut juga rupanya.” Sentak Dome menahan langkah Alexio yang masih berjalan.
“Sialan. Cegat dia.” Dome kembali berteriak pada anak buahnya yang mendengar titah itu.
Semua bergegas menghampiri Alexio dan mengepung pemuda itu rapat.
__ADS_1
“Dasar pengecut. Ini yang namanya mafia kejam itu?” cibir Alexio menatap satu persatu kumpulan pagar bertato itu.
“Ayo lawan aku.” Alexio membalik telapak tangannya dan menggerakkan 4 jarinya dari kelingking sampai telunjuk sebagai isyarat ia menerima tantangan adu duel itu.
Duel atau keroyokan?
Tepatnya.
“Hajar bos?” masih saja mereka butuh konfirmasi dari Dome, tidak seperti biasanya hal itu terjadi. Karena mereka tentu akan langsung menghantam musuh majikannya saat titah pertama sudah dibunyikan.
“Ahhh kalian ini. memalukan ku saja.” Decak Dome yang dengan terpaksa mengangkat bokongnya untuk menuju kerumunan itu.
“Awas, minggir.” Sungutnya mengusir mereka agar memberi celah baginya bisa melihat Alexio yang sudah tak tampak dari balik tubuh kekar itu.
“Woy Alexio, kau tidak takut padaku?” tanya Dome pada Alexio yang menatapnya datar serta dingin.
“Apa yang bisa membuatku takut padamu? Para preman ini?” kekeh Alexio mencibir Dome beserta pasukan bertatonya.
“Mereka itu bagian dari Yakuza, kami sudah seperti keluarga.” Lanjut Dome, aihhh kata-katanya menghangatkan hati semua anak buahnya. Untung mereka kumpulan bertato yang tak memiliki hati hello kitty, jika iya, sudah bisa dipastikan mereka akan berpelukan saat ini.
“Aku hanya menawarkan kerjasama denganmu, tidak untuk mengambil keuntungan sama sekali.” Sambungnya, penuh kebohongan, karena memang untuk membantu, tapi tentang tidak mengambil keuntungan? Setan sekali si Dome.
“Oh ya? bagaimana aku bisa mempercayai hal itu. Kalian, bukan orang yang aku kenal sama sekali.” Oke, Dome sudah bisa menarik Alexio keluar dari penolakan awalnya. Setidaknya ini sudah cukup menurutnya.
“Kami tidak terlibat kerjasama apapun dengan kakekmu itu. Musuhnya banyak saking curangnya setiap berbisnis.” Alasan Dome memperkukuh untuk menghancurkan Suprapto
“Begitukah? Dengan bisnis kakekku hancur, maka bisnis kalian bisa untung besar kan?” tebak Alexio menyeringai sinis
Dome mendesah pasrah, benar, iya memang benar, “Ya, kau benar soal itu. Tidak bisa ku tutupi. Salah satu keuntungan. Tapi sumpah bukan itu tujuanku.” Kembali anak Hiro itu menggombal, berdalih menjadi superhero sepenuhnya. Padahal bullshiiittttt!!!!
“Aku tahu tentang benda yang masih kau rahasiakan, yang bukan hanya sekedar menghancurkan bisnis legal kakekmu. Tapi juga kakekmu akan hancur bersama hal itu.” Ujar Dome menilai dampak besar yang akan ditimbulkan.
__ADS_1
Hening, Alexio menatap Dome lekat, tajam netranya menusuk dan seperti hendak membelah tubuh pewaris Yakuza.
“Awas, aku mau pergi.” Tanpa menjawab ucapan Dome, Alexio mendorong tubuh dua orang pengawal Dome yang menghalangi jalannya. Awalnya tubuh itu membatu tak bergerak sama sekali namun detik berikutnya sebuah tundukan dari dua kepala itu melonggarkan batas dan mempersilahkan Alexio lewat.
“Aku tunggu kabar darimu, Alexio.!!” jerit Dome, ia yakin Alexio akan menerima tawarannya.
“Apakah dia akan menerima tawaranmu bos?” tanya anak buah Dome di sebelah kiri.
“Aku yakin itu.” Jawab Dome, ia menyentuh wajah tampannya dengan bahagia.;
“Aku pikir tadi akan ada adegan action antara aku dengan Alexio, sayang sekali tidak ada. Padahal aku penasaran dengan cara bertarung mantan sialan Dira itu.” Ujar Dome menyayangkan, padahal kembali membual.
“Kau yakin bos penasaran? Bukan merasa beruntung?” celetuk salah anak buahnya lagi
“Aishh berisik kau. Ayo pulang.” Ajak Dome, bergegas meninggalkan markas Alexio berikut motor besar yang sudah hancur.
“Jangan lupa, kirimkan motor edisi terbatas ke hadapan Alexio. sebagai ganti sudah merusak benda kesayangannya.” Kata Dome saat sudah berada di dalam mobil.
“Siap bos.” Sahut mereka mengiyakan.
Alexio yang dilalui mereka hanya menatap mobil hitam itu menghilang dari pandangannya. Dasar si Dome, tidak sopan sama yang tua. Menawarkan saja tidak apalagi berpamitan.
Jadilah Alexio harus menunggu salah satu sahabatnya untuk menjemputnya di markas, karena driver online sedang ramai-ramainya penolakan di jam itu.
“Hei, ayo bro.” Andy menjemput Alexio menggunakan mobil sportnya.
“Mobil baru, hah?” puji Alexio melirik mobil berwarna hitam milik Andy
“Ayolah, ini hasil kerjaku menjadi babumu, Al. Sana kerja makanya kalau tidak mau perusahaanmu nanti aku balik nama menjadi milikku.” Cibir Andy kesal karena Alexio tidak pernah mau menampakkan diri di perusahaannya sendiri.
“Nanti, setelah semua urusan Alexia selesai, maka aku bisa menjalani hidup normal kembali, dan mulai mendekati wanitaku lagi.” Jawab Alexio memandang riuh jalan raya yang sudah padat merayap
__ADS_1