Alexio "Diary Merah Muda"

Alexio "Diary Merah Muda"
Bab 26


__ADS_3

“Ski—skizofrenia?” baik Bisma maupun Linda sama-sama tergugu ketika mendengar diagnosa dokter untuk putera mereka, Alexio Bisma.


Merenung.....


“Itu analisa saya, bapak dan ibu. Melihat yang ditunjukan pasien, mengarah ke sana.” Jelas dokter Doni


“Tapi kemungkinan bukan juga bisa kan dokter? Bisa saja Alexio memang melihat sosok lain, bukankah, bukankah itu bisa saja karena indera keenam contohnya.” Bisma seolah bernegosiasi, meminta diagnosa selain yang disebut dokter Doni tadi.


Mendengar penjelasan Bisma. Dokter Doni menyatukan genggaman tangannya dan tersenyum. Menghargai hal itu.


“Dalam ilmu medis, ketika seseorang melihat hantu atau yang tidak nyata bisa dikatakan mereka berimajinasi, berhalusinasi, delusi, namun ada juga dalam ilmu psikologi dinamana parapsikologi yang percaya bahwa hantu itu ada. Karena dalam ilmu medis, ketika pasien melihat hal seperti itu hanya karena ada reaksi otak yang berhalusinasi dan sulit membedakan nyata dan tidak, serta kesalahan dalam penglihatannya.” Mulai dokter Doni menjelaskan.


“Namun untuk Alexio, putera anda tidak mengatakan itu hantu, tetapi teman. Ia merasa jika wujud itu ada, bahkan bisa ia ajak bicara, bersentuhan, mendengar, bukan?” ujar dokter Doni.


“Kasus yang menimpa Alexio itulah yang merujuk pada gejala Skizofrenia, bisa jadi itu bukan gejala awal dan justeru sudah berlarut dan parah.” Lanjut dokter Doni mulai serius.


“Penderita skizofrenia memiliki kesulitan dalam menyesuaikan pikirannya dengan realita yang ada, seperti Alexio. Ia menunjuk sosok hayalannya sebagai gadis berusia 11 tahun, namun yang ia tunjuk justru dirinya sendiri.” Terang dokter Doni


“Dan kebanyakan penderita skizofrenia menciptakan hal itu karena ada trauma atau depresi terhadap suatu hal. Dan apakah Alexio pernah memiliki pemicu itu?” tanya dokter Doni.


Bisma dan Linda terdiam, saling menatap satu sama lain.


“Mungkin kematian kembarannya dokter.” Jawab Bisma meragu. Karena hanya itu yang menjadi pemicu Alexio berubah.


“Alexio kembar?” tanya dokter Doni yang diangguki Bisma


“7 tahun yang lalu, mereka pernah kecelakaan dan kembaran Alexio, Alexia Bisma namanya harus meninggal karena daya tahan tubuhnya tidak sekuat Alexio, dan ketika Alexio bangun dari komanya, putera kami berubah menjadi dingin dan pendiam.” Bisma mengingat saat itu.


Mendadak Alexio berubah saat ia sudah bangun dari komanya.


“Apakah ada sesuatu yang tidak wajar terjadi pada kematian kembarannya, pak Bisma?” dokter Doni mencari sebab dengan informasi penting keluarga pasien.

__ADS_1


“Alexia saat itu tidak bisa bertahan karena komplikasi otak, jantung dan paru-parunya yang pecah akibat benturan keras saat kecelakaan, dok.” Jelas Bisma berusaha mengingat kembali


“Apakah Alexio tahu akan hal itu?” tanya dokter Doni mulai memburu


“Tidak, saat itu mereka mendapat tindakan, Alexia langsung koma sedangkan Alexio sadar tapi belum sepenuhnya bisa diajak komunikasi.” Jawab Bisma mengingat masa lampau.


FLASHBACK ON


“Alexio, Alexio.. apakah kamu bisa mendengar saya?” saat itu tim medis yang menangani Alexio yang membuka mata tidak mendapat respon dari bocah umur 11 tahun itu.


Luka di kepalanya sudah diperban, lecet pada tangan dan kakinya juga sudah diobati. Tidak ada hal yang serius dari dirinya, hanya saja, ia mendadak bisu dan linglung saat itu.


“Nak, Al.” Suara Linda, dalam keadaan mata berkaca-kaca, ibu dari anak kembar itu meringis saat melihat anaknya tidak merespon.


“Al, kamu kenapa, bisa jawab papa, nak?” kali ini Bisma yang ikut berbicara, siapa tahu puteranya akan meresponnya.


Namun nihil.... Alexio tetap membisu. Matanya menatap kosong tepat ke langit-langit kamarnya.


Sesekali itu menyeringai, namun tetap pada posisi itu.... hingga beberapa hari kemudian, dirinya koma selama 3 bulan. Bahkan keadaannya cukup menguras energi orang tuanya karena keadaan Alexio semakin menurun.


FLASHBACK OFF


“Jadi seperti itu dokter.” Jelas Bisma selesai bercerita.


“Apakah ada hal lain yang membuat Alexio terpicu membuat wujud Xia?” tanya dokter Doni lagi. Ia harap kali ini menemukan clue penting.


Baik Linda dan Bisma sama-sama memandang kembali dan mengangguk pelan.


“Putera kami memiliki benda yang dimiliki kembarannya, dokter.” Linda yang kali ini menjawab.


“Benda kembarannya? Apa itu kalau boleh tahu , ibu?” tanya dokter Doni penuh harap.

__ADS_1


“Diary. Sebuah diary merah muda.” Sahut Linda


“Apakah selalu dibawa Alexio kemanapun?”


“Sepertinya dokter.”


“Baiklah, akan saya coba tanyakan nanti kepada Alexio langsung.” Ucap Dokter Doni.


“Dan satu lagi...” sambung dokter Doni, ia meraih bolpoint hitam di atas mejanya dan secarik kertas kecil.


“Ini resep untuk obat Alexio. Akan kita berikan bertahap untuk meredakan gejala delusi dan halusinasinya dulu. Obat Antipsikotik ini tidak langsung bekerja dan membuatnya sembuh, karena biasanya harus menunggu reaksi yang membutuhkan waktu hingga 12 minggu.” Terang dokter Doni sembari mengangsurkan kertas tadi kepada Bisma


“Lalu terapinya dokter?” tanya Linda penasaran


“Terapi untuk Alexio tetap dilakukan. Tapi bertahap ya, karena para penderita skizofrenia ini menolak bantahan kita yang mengatakan apa yang ia lihat itu halusinasi. Jadi, kalau kita mengatakan untuk terapi, sama saja kita menjerumuskannya lebih jauh lagi.” Jawab dokter Doni.


“Maksudnya, dok?” Linda belum paham


“Saat ini, apa yang Alexio lihat harus kita setujui, anggap sosok Xia yang ia ciptakan benar adanya. Buat dirinya nyaman dengan kita yang menganggapnya tetap normal. Tapi, selama itu juga kita tetap memberi terapi untuknya, cukup sulit bagi mereka yang tahap awal, jadi jika Alexio sudah di tahap parah maka akan lebih sulit lagi.” Jelas dokter Doni.


“Maka dari itu, pasien tetap akan wajib mengikuti terapi baik yang kelompok dan psikososial. Terapi kelompok akan membuat para penderita skizofrenia untuk duduk bersama sehingga mereka tidak merasa terisolasi. Sementara itu tujuan dari terapi psikososial agar pasien dapat beraktifitas sehari-hari seperti biasa, meskipun menderita skizofrenia.” Lanjut dokter Doni menerangkan.


Bisma dan Linda diam, fokus mendengarkan, meski degub jantung keduanya seakan berhenti dari tadi. Sejak mendengar diagnosa dokter akan keadaan puteranya, saat itu mereka sudah merasa jiwanya sudah hilang, Alexio rupanya tidak baik-baik saja, bahkan apa yang diderita puteranya bukan main-main.


Menciptakan sosok hayalan bukanlah normal, dan yang dihadapi Alexio belum bisa dibayangkan kemungkinannya ada di tingkat apa, awalkah?, sedangkah? Atau justru sudah ditahap parah?


“Apakah yang Alexio alami sudah ditingkat serius dokter?” tanya Bisma tegang, ia mengepalkan genggaman tangannya, takut jawaban dokter akan sesuai asumsinya.


Dokter tersenyum, berusaha membantu mengurai emosi keluarga pasien.


Sebagai psikiater, menjadi tugasnya pula untuk menenangkan keluarga pasien di saat anggota keluarga pasien sedang di tahap mengerikan sekalipun.

__ADS_1


“Kita akan tahu ada di tahap mana Alexio.” Jawab dokter Doni.


“Maka dari itu, mulai sekarang kita harus memusatkan perhatian penuh, buat Alexio mengalihkan sosok Alexia, karena dikhawatirkan, jika ia tergantung dengan sosok itu, maka sulit bagi kita mengembalikannya seperti sedia kala.” Pungkas dokter Doni menutup pembicaraan.


__ADS_2