
Andriana meletakkan ingatan akan sosok Suprapto sampai ke paling dalam, bahkan Linda dan Bisma saja terlupakan olehnya.
“Per-pergi, san-sana, tolong!!!” jeritnya, suara Andriana memenuhi ruangan yang luas dan sunyi. Hanya ada mereka berdua di dalam, sengaja Suprapto perintahkan semua anak buahnya berjaga di luar bangunan saja, mengawasi jika ada yang mencurigakan.
“Pergi!!!” Andriana menyadari ancaman bahaya yang dibawa Suprapto sehingga nalurinya otomatis menggerakkan tubuh mundur ke belakang.
Brak!
Punggungnya menabrak susunan kayu usang hingga menjatuhkan benda itu dan nyaris menimpanya.
“Tenang Andriana, kenapa kau begitu takut padaku, huh?” Suprapto sengaja menguji nyali Andriana yang sudah kadung mengecut saat menangkap bayang pria renta itu pertama kali.
“Tolong, tolong bebaskan aku, aku akan pergi sejauh mungkin.” Mengatupkan dua telapak tangannya di depan dada, Andriana memohon, ia bahkan menyembah agar niatnya untuk minta dilepaskan bisa menyentuh hati Suprapto.
“Ckckckck, kasian sekali hidupmu Andriana. Malang sekali kau mencintai puteraku tercinta, dan memiliki saudara seperti Linda.” Decak Suprapto mencibir nasib Andriana yang kacau.
“Lin-Linda?” beo Andriana menyebut sebuah nama
“Ya, kembaranmu, kakakmu yang menikah dengan kekasihmu sendiri, tidakkah itu lucu?” Suprapto tertawa keras setelah mengucapkan kalimat itu. Ia semakin mengejek Andriana yang jatuh dalam pengkhianatan saudaranya sendiri.
“Tidak, tidak mungkin.” Andriana menolak tuduhan Suprapto pada saudaranya, tidak mungkin Linda seperti itu.
“Tentu saja, bahkan dengan berani dan lancangnya kembaranmu kini juga menghancurkan bisnis besarku!!!” Suprapto maju dengan cepat, menjangkau dagu Andriana dengan kasar, dan pria itu ikut mencondongkan wajahnya hingga nafas bau tembakau itu menerpa wajah halus milik Andriana yang semakin terbelalak takut melihatnya.
“Dan kau adalah balasan yang setimpal bagi Linda atas kehancuran yang dia lakukan.” Ujar Suprapto menyeringai iblis, semakin gemetarlah tubuh Andriana dalam kuasa pria itu.
Di tempat lain....
“Papa.” Dome mengunjungi ayahnya yang saat itu berada di sebuah restauran bersama asistennya.
“Oh, Dome, apa, kemari, ayo makan malam bersama.” Ajak Hiro menunjuk salah satu kursi dengan dagunya.
“Hmm, aku hanya ingin bicara berdua saja.” Ujar Dome melirik orang kepercayaan ayahnya yang pasti mengerti, dan lihatlah, tanpa majikannya bicara ia sudah menarik diri dan pergi menjauh.
“Ada apa? Sepertinya penting.” Tanya Hiro, meletakkan pisau serta garpu dan membersihkan mulutnya dengan serbet.
__ADS_1
“Aku meminta bawahan papa untuk mencari info penting mengenai Suprapto dan diserahkan pada nyonya Linda, menantunya.” Jawab Dome melihat ekspresi ayahnya setelah mendengar penuturannya.
“Lalu?” Hiro menunggu kelanjutan atas jeda yang diberikan Dome
“Dan sepertinya nyonya Linda hendak menemui papa.” Lirih Dome menjawab
“Terus?” kembali Hiro menanti
“Aku ingin ikut dalam pertemuan itu, pa.” Itulah inti dari perbincangan ini, Hiro sudah menduga apa yang menjadi keinginan puteranya. Memang ia menyalahkan tindakan puteranya, namun sudah sepantasnya perbuatan Suprapto terkuak.
“Apa kau juga terlibat dalam hancurnya bisnis Suprapto kali ini, Dome?” Hiro menduga kalau-kalau Dome terlibat di dalamnya.
Tapi Dome menggeleng, “No, bukan aku pelakunya pa.” Jawab Dome menolak dugaan ayahnya.
“Baiklah kalau begitu. 20 menit dari sekarang, menantu Suprapto akan tiba di sini, kau makan dulu sembari menunggu.” Ujar Hiro yang diangguki Dome. Dan selama 20 menit menunggu, kedua ayah dan anak itu makan malam bersama dengan khidmat.
“Maaf jika saya terlambat.” Selesai makan dan menikmati hidangan penutup, suara Linda merangsek diantara mereka berdua.
“Oh tidak nyonya Bisma, kami memang sekalian makan malam.” Jawab Hiro Taoka menyambut kedatangan Linda diantara mereka.
“Oh iya.” Linda menyambut uluran tangan Dome lalu ikut duduk di salah satu kursi.
Linda sempat mencuri lirik pada Dome yang masih mantap duduk di sana, sementara ia ingin melakukan obrolan yang hanya melibatkan dirinya dan Hiro Taoka saja.
“Tenang, puteraku tahu mengenai masalahmu, tidak apa-apa ia tahu apa yang kau butuhkan sekarang.” Ujar Hiro
“Tapi...” Linda ragu akan jawaban Hiro
“Semua informasi yang anda dapatkan selama ini bersumber dari puteraku, dia yang mengirimkan pada asistenmu. Tentang Suprapto.” Tambah Hiro membuat Linda tercengang, bagaimana bisa.
“Kau?” Linda menatap Dome yang menyengir dengan canggung.
“Maaf nyonya jika lancang. Tujuan awalku adalah karena beberapa anak buah Suprapto mengintai kekasihku yang pernah menjalin hubungan dengan puteramu, maka dari itu aku perlu sedikit memberi pelajaran pada Suprapto melaluimu.” Seloroh Dome menjelaskan.
“Tapi kenapa melalui saya?” tanya Linda masih tak paham
__ADS_1
“Aku tahu masalah antara anda dengan mertua anda, bukankah anda memiliki dendam dengan keluarga suami anda karena perbuatan Suprapto pada kembaran anda, bukan?” tembak Dome semakin membuat Linda membuka mulutnya lebar-lebar.
“Dari mana kau tahu itu?” kembali Linda tak habis pikir dengan rahasia kelam yang begitu mudah didapat Dome
“Tidak sulit bagi mafia seperti kami Nyonya.” Timpal Hiro membanggakan kemampuan organisasi mereka.
“Lalu, apakah hancurnya bisnis Suprapto itu adalah ulahmu juga?” tuduh Linda sama persis seperti yang diucapkan Hiro tadi pada puteranya.
“Bukan, bukan aku pelakunya, kenapa semua menuduhku sih.” Sungut Dome tak terima
“Maaf, maaf, saya hanya menduga saja.” Ujar Linda merasa tidak enak melihat ekspresi Dome
“Ohh tak masalah nyonya, sudah sepantasnya anda menuduh demikian.” Dome mengibaskan dua telapak tangannya untuk permintaan maaf Linda yang tidak perlu diucapkan seharusnya.
“Jika bukan anda dan saya, lalu siapa yang melakukan perbuatan itu. Karena sekarang, Suprapto mengira jika saya yang melakukannya.” Ucap Linda bingung
“Saya juga tidak tahu, mungkin musuhnya yang lain.” Sahut Hiro
“Masalahnya, Suprapto menculik saudara kembar saya Andriana. Ia mengirimkan pesan kepada perawat yang menjaga kembaran saya.” Linda panik dan khawatir mengingat kondisi Andriana saat ini,.
“Apa?” Baik Hiro dan Dome sama-sama terpekik kaget.
“Iya, saya takut, Suprapto akan melakukan perbuatan yang buruk seperti dulu yang ia lakukan pada puteriku.” Jawab Linda semakin tak tenang.
“Maksud anda?” Hiro penasaran.
“Kematian puteriku melibatkan Suprapto. Saya meletakkan orang kepercayaan di sekitar Alexia selama saya pergi. Dan ada beberapa bukti yang mampu memenjarakan Suprapto, hanya saja saya tidak menemukan keberadaan benda itu.” Jawab Linda
“Bukannya menurut dokter Ladh puteri anda....” Hiro tak percaya akan penjelasan Linda
“Tidak, penculikan itu hanya upaya penutupan kasus sebenarnya di mana Alexia dipaksa mengaku dilecehkan guru privatnya. Tapi bukan itu jawabannya, karena puteriku meninggal akibat Suprapto, pria itu membenci Alexia yang begitu mirip dengan Andriana.” Jelas Linda merasa konyol dengan kebencian Suprapto.
“Aku ketahuan operasi saat anak-anakku dilahirkan, dan saat itu pula Suprapto mulai melakukan pembullyan verbal pada Alexia, namun karena Alexio mirip dengannya maka pengecualian.” Lanjut Linda
“Apakah Bisma yang terlibat di sini..” Duga Hiro
__ADS_1
“Bukan, Bisma tidak tahu apa-apa soal benda itu. Aku tidak tahu siapa yang menyebabkan nyawa Andriana terancam.” Linda membendung isaknya yang sudah menumpuk jika membayangkan kekejaman Suprapto pada kembarannya.