
Hari ini Dira sudah mulai aktif menjadi mahasiswi kedokteran di kampus Tribangsa. Biasa sederhana tidak membuat Dira minder memasuki kampus yang ramai mahasiswinya berpenampilan mewah, barang branded, make-up paripurna, dan kesan angkuh mereka seiring Dira melewati tiap jalanan koridor kampus.
Ia bisa saja seperti itu, tapi kebiasaannya yang enggan pamer menutup keinginan hal itu. Cukup dengan satu benda kecil mencerminkan dirinya anggun dan berkelas, tak perlu melengkapi seluruh tubuh dengan benda yang menjerit mahal.
“Hai, ketemu lagi.” Alan, pria yang tempo hari gencar mengejarnya sampai parkiran kampus sudah menyambutnya tepat di depan pintu ruang kelas yang akan dimasuki Dira.
“Minggir.” Balas Dira dan melewati tubuh atletis milik pria tampan itu begitu saja. Mengabaikan teriakan para gadis yang heboh dengan sosok pria itu. Senior mereka yang juga dijurusan yang sama.
“Gue belum tau nama lo.” Alan yang tak peduli mengambil duduk tepat di sebelah Dira, dan kini pria itu menopang kepalanya yang miring menatap Dira dengan salah satu tangannya.
Dira masa’ bodoh, mengeluarkan buku catatan, kotak pensil karakter spoengbob miliknya dan menyetel nada dering ponselnya dengan hening.
“Ya ampun, dingin banget jadi cewek.” Celetuk Alan yang tak gentar memancing respon Dira yang hanya membalas melalui tatapan mata tajamnya.
“Eh ada kak Alan.” Sapa mahasiswi yang melihat kehadiran ketua BEM kampus mereka.
“Hai juga.” Balas Alan sok ramah, lebih tepatnya sih menurut Dira, pria itu tebar pesona.
“Wahhh ada kak Alan.” Pekikan luar biasa merangsek masuk ke dalam telinga Dira yang risih dengan kehadiran para gadis akibat pria yang duduk di sampingnya. Dira tak bisa bergerak, karena ia berada di tengah sementara ujung kursi yang masih kosong 3 itu mentok dinding.
Mendengus kesal. “Minggiran gih, kamu mengganggu deh.” Ucap Dira risih. Ia memang terganggu dengan beberapa mahasiswi yang mengerubungi pria sok tampan itu.
“Kenapa memangnya, gue mau di sini. Sebelum lo jawab tanya gue, gak akan gue minggir.” Balas Alan tengil.
“Aku Dira, dah, sana pergi.” Usir Dira kesal. Bahkan mendorong tubuh pria itu kuat, hingga membuat banyak pasang mata menatapnya tak suka.
__ADS_1
“Ih sok kecantikan.” Sayup-sayup Dira mendengar sindiran dari mahasiswi.
“Aku gak sok kecantikan, tapi kalo menurut kalian begitu, terima kasih. Sana kamu.” Ucap Dira membalas dan melanjutkan mendorong tubuh Alan lebih keras lagi hingga nyaris tubuh pria itu terjengkang dari kursi.
“Oke oke, gue pergi. Bye honey.” Alan menebar gosip sempurna, mengerlingkan mata, memberi kecupan jarak jauh dan memberi panggilannya seperti itu dan membuat Dira sontak memberinya tatapan sangat tajam tapi tak berpengaruh dan justeru tawa yang keluar dari mulut pria itu.
“Ck, bukannya tenang ada aja yang ganggu.” Gumam Dira menatap satu persatu para mahasiswi yang sudah beralih duduk setelah idola mereka keluar dari dalam kelas.
Selama 2 jam mata kuliah berlangsung, dengan dosen yang memang tak berhenti mencuri pandang kearah Dira. Dosen muda kisaran usia 30 tahunan itu sepertinya juga terpesona dengan kehadiran mahasiswi baru di kelasnya. Walau Dira sadar, tapi ia tak kepedean.
Hatinya masih bertahan dengan nama yang sama, Alexio Bisma.
Dan pria yang disebut itu, kini tengah dikerubungi para gadis yang sudah terkena dampak pesonanya. Padahal, nama buruknya sebagai mahasiswa yang sering bertingkah itu sama sekali menghilangkan pesonanya. Ia kerap terlambat datang, membantah dosen, dan juga memicu perkelahian dengan beberapa mahasiswa. Dan dendam itu berlangsung sama arena balap tempat Alexio melampiaskan amarahnya jika yang belum puas mencari masalah dengannya ingin bertarung di sana.
“Hai Alexio.”seorang gadis dengan penampilan sempurna itu mengambil duduk tepat di sebelahnya.
“Sintia, lo tahu kan, gue gak bakalan pernah mau ngebales perasaan lo.” Ujar Alexio, suaranya pelan namun penuh penekanan di sana.
“Iya, gue tahu. Tapi jangan usir ya, karena gue nyamannya sama lo.” Pinta Sintia, sama-sama alumni SMA yang sama dengan Alexio, dan masih bertahan mengejar pria itu yang bertambah pesonanya seiring menjadi pria dewasa.
“Terserah.” Balas Alexio datar, matanya sejenak membeku di sudut lain, kehadiran gadis itu mencuri pandangannya. Dira, duduk setelah memesan makanan di kantin yang sama dengan Alexio kini berada.
Sintia mengikuti arah pandang pria itu, lalu mendengus kasar, masih dengan orang yang sama. Selalu gadis itu lagi. ‘Apa Alexio masih pacaran dengan cewek itu?’ Batin Sintia kesal, ia memang pernah tahu kalau dua orang itu berpacaran saat masih SMA, lalu kabar itu menguap seiring kepergian Dira ke Jepang sementara Alexio di Indonesia. Dari pengintaian Sintia, selama 4 tahun Dira mengenyam pendidikan di Jepang, tidak sama sekali pria ini pergi ke sana.
Bagaimana ia tahu? Karena mereka berada di kampus yang sama dan kini melanjutkan studi di kampus yang sama lagi. Atau lebih tepatnya, Sintia yang mengikuti kemanapun pria itu pergi.
__ADS_1
“Mantan?” Celetuk Sintia sengaja dan tidak memutus pandangan Alexio yang masih terkunci pada Dira.
“Hmm.” Sahut Alexio datar.
“Mau balikan?” Pancing Sintia, membuat Alexio sontak memutar kepalanya dan menghadap pada Sintia.
“Menurut lo? Gue pantang balik ke tempat yang sama.” Jawab Alexio dingin membuat Sintia nyaris jingkrak atas jawaban pria itu.
“Sumpah? Beneran? Bagus deh.” Respon Sintia sumringah.
“Lo sebegitu senengnya.” Ujar Alexio menilai reaksi Sintia
“Iya lah. Lo tahu kan gue cinta mati sama lo, makanya selagi bisa gue pepet, ya usaha lah.” Sahut Sintia santai. Bahkan kini kepalanya ia sandarkan di bahu kekar milik Alexio.
Ahhh senangnya. Begitu pikir Sintia, sementara itu, Dira melihat pemandangan yang menurutnya mesra itu lalu menghela nafas.
“Hmmm, dari semua cewek, kenapa mesti lampir itu sih tempat Alexio mampir.” Ucap Dira menggelengkan kepala. Cemburu? Sedikit.
Hubungannya tidak jelas dengan Alexio, putus? Memang ia pernah berucap tapi tidak ada respon dari pria itu, jika ia membalas kalimat putus Dira, tak mungkin Alexio mengirim beragam hadiah di setiap ulang tahunnya. Bahkan menghadiahkan mobil senilai miliyaran, dan beberapa barang branded yang tersimpan rapi di kamar Dira.
Ia tak mau ke-PEDE-an, kejadian di Jepang memang menyisakan kisah romantis keduanya. Bahkan hal intim pun nyaris terjadi jika saja Jonathan tidak datang kala itu. Tapi, setelah mendengar cerita Dira, kini hubungan keduanya menjadi abu-abu. Tapi Dira tak menampik rasanya masih kuat pada pria itu, meski beberapa kali ia mendapatkan kabar bahwa mantannya itu sering bersama gadis-gadis, dan bersama Sintia, salah satunya.
“Sekali badboy, tetap aja begitu.” Ucap Dira, memilih menyantap bakso yang kini sudah disendokkannya.
Mengabaikan gemuruh hebat di dadanya saat mengingat semalam, ia melihat dengan mata kepalanya sendiri, pria itu berciumann mesra dengan gadis lain di sebuah club malam, saat ia hendak menjemput Paul di sana.
__ADS_1
“Makin gede, makin runyam aja pergaulan anak Bisma itu.” Lanjutnya menggerutu.