Alexio "Diary Merah Muda"

Alexio "Diary Merah Muda"
Bab 22


__ADS_3

“Gue mau ngajak lo taruhan lagi.” Setelah menang balapan liar, Alexio mencegat rivalnya yang baru saja melewatinya. Setelah juara ke dua tentunya.


Jonathan mendengus...


“Tidak, bukankah sudah jelas gue yang menang kemaren?” jawabnya masa bodoh


“Hei, kemarin aku terjatuh, ada yang menabrakku dengan sengaja.” Ketus Alexio tak terima akan hasil balapan yang dinilainya curang.


Jonathan mengerenyitkan dahinya dalam.


Ditabrak katanya?


Sudah jelas dia jatuh sendiri, Jonathan saja kaget saat melihatnya dari kaca spion motornya.


“Woy Alexio. Jangan jadi pecundang. Itu bukan lo banget.” Cibir Jonathan terkekeh dengan wajah mengejek


“Maksud lo apaan? Pecundang? Lo maksudnya? Yang sengaja nyuruh orang buat nabrak gue?” balas Alexio, turun dari motor dan menghampiri Jonathan yang masih duduk di atas motor.


“Hah, gue tetap gak mau ngulang apapun lagi. Hasilnya udah jelas, gue yang menang, dan gue yang berhak deket sama Dira.” Jawab Jonathan angkuh.


“Sial!!!!” Alexio mencengkram kerah jaket Jonathan dengan satu tangannya.


Geram, tentu saja. Ia merasa kecolongan, ia dicurangi dan tidak ada yang membantunya.


Ia sudah bertanya dengan beberapa orang, namun semua menjawab sama, dirinya jatuh.


Cih. Semua bersekongkol.


“Gue tetap nantang lo. Kalo memang laki.” Tantang Alexio, membawa egoisme pria manapun dengan embel-embel LAKI.


Namun Jonathan tetap berusaha tenang. Ia tak mau meladeni, meski hasratnya untuk menghempas tangan Alexio begitu kuat.


Hanya dengusan sebagai jawaban Jonathan, membuat adegan berikutnya adalah....


Bugh


Bugh


Bugh


“Arghhhh.” Erang Jonathan saat wajahnya kembali jadi korban pendaratan bogem mentah milik Alexio.


“Sialan!!” decihnya meludah sembarangan


“Lo yang sialan. Pecundang.” Maki Alexio dengan deru nafas memburu.


“Alexio!!!” pekik Andi dan Barry bersamaan.


Semua mata mendadak mengalihkan pandangan saat sudah melihat adu jotos itu berlangsung cepat.


Dengan Alexio pelakunya.


Ya, walau memang bintang gulet ini selalu berdua.


“Lepas!!! Lepas!! Gue mau ngehajar pecundang sialan ini!!!” Alexio memberontak keras. Bahkan Barry, Andi dan dua orang pemuda lain yang memeganginya saja sempat kualahan.


“Sudah, sudah. Kenapa sih, berantem mulu.” Gerutu Andi menarik paksa Alexio menjauhi Jonathan.


“Lo itu baru sembuh. Udah mau berantem lagi, nyahok baru tahu rasa lo.” Sambung Barry sebal.


“Lepas!!!” Perintah Alexio.

__ADS_1


“Gue mau ngasih pelajaran ke pecundang itu.”


“Dia nabrak lo lagi tadi?” tanya Andi, biasanya kan pemicunya itu Alexio selalu disenggol Jonathan saat sudah mencapai garis finish.


“Gue mau ngulang lagi balapan waktu itu.” Jawab Alexio, membantah tanya Andi barusan.


“Ngulang balapan? Yang mana? Yang waktu lo jatoh?” terka Andi .


“Hmm, yang waktu gue ditabrak waktu itu.” Jelas Alexio


Barry membuang nafas, memijat dahinya lalu menoleh kepada Andi.


Sudah berulang kali dijelaskan bahwa Alexio jatoh sendiri.


Tidak ada drama ditabrak, karena yang balapan hanya dirinya dan Jonathan


Bahkan untuk memastikan, keduanya juga bertanya pada yang menonton. Sama, mereka menjawab sama.


“Lo, jatoh, Alexio.” Jawab Barry hati-hati.


Alexio mendelik tajam


“Lo pikir gue bohong? Huh?” Alexio tak terima, ia malah geram dengan Barry sekarang.


“Nah. Kalo lo pikir kita bohong, atau nuduh lo macem-macem.” Andi yang bersyukur ada penonton yang merekam aksi taruhan waktu itu. Meminta share file dan kini menunjukkannya kepada Alexio


“Lo lihat sendiri, itu lo waktu itu.” Sambung Andi, sembari matanyafokus memperhatikan reaksi Alexio sepanjang menonton video itu.


“Gak, ini editan pasti.” Lihatlah, Alexio menolak mengakui hal itu.


“Alexio.” Barry merangkul sahabatnya itu.


“Dih, lepas, paan sih meluk sembarangan.” Alexio memberontak yang segera dilepas Barry.


Namun Alexio menggeleng.


“Urusan gue sama Jonathan belum kelar, gue mau adu balap lagi.” Seru Alexio, bersikukuh dengan omongannya.


“Sebenarnya buat apa sih balapan itu, ada taruhan kalian berdua?” tanya Andi heran, segitu kuatnya keinginan Alexio mengadu balap lagi.


Alexio diam.


“Taruhan apa lo?” desak Andi menuntut jawaban.


Alexio melengos, ia malu untuk mengucapkannya.


“Woy nyet, gue nanya.” Andi menepuk belakang kepala Alexio karena merasa dicueki.


“Ishhh. Gue taruhan Dira.” Jawabnya tanpa menatap dua sahabatnya.


Barry dan Andi melongo mendengar jawaban Alexio.


Apa kata tuh cowok?


Taruhan Dira?


Kok bisa?


“Gue gak suka dia sama Jonathan.” Jawab Alexio cepat, keburu mendapat tanya dari duo kunyuk itu.


“Hah? Kenapa?” serempak, itu ucapan yang keluar dari dua sahabat Alexio.

__ADS_1


Alexio menoleh...


“Ya, gue gak suka aja.” Jawabnya sebal.


“Ya tapi karena apa??” berbarengan lagi, bahkan Barry dan Andi pun saling bersitatap karena untuk kedua kalinya mereka berseru bersamaan.


“Ck.. Jonathan gak baek buat Dira.” Sahut Alexio. Wajahnya memerah tanpa tahu sebabnya apa. Untuk dua lucknut itu tak melihatnya.


“Lah, biarin ajalah. Ngapain pula jadi urusan lo.” Tutur Barry mengingatkan


“ya, selama ini juga lo kan selalu ngusir tuh cewek yang ngebet abis buat nempel kayak lintah.” Timpal Andi juga mengingatkan perbuatan Alexio pada Dira.


“Betul. Harusnya lo seneng sekarang kalo tuh cewek jadi ngejer cowok laen kan?” tambah Barry.


“Iya, betul banget. Jadi lo bisa tenang sekarang, gak diuber-uber lagi sama tuh cewek, kan, kan.” Sambung Andi


Membuat dada Alexio sontak berasa pengap, terasa panas, kepalanya pun juga mungkin terkena kepulan itu.


Menatap tajam Barry dan Andi.


“Kenapa? Apa yang kami omongin salah?” Tanya Andi menyipitkan matanya, membalas balik tatapan membunuh Alexio.


“Arghhh,. Kalian menyebalkan sekali sih.” Alexio melengos meninggalkan Barry dan Andi lalu berlalu bersama motor kesayangannya.


“Ya... ditinggal kita, Bar.” Lenguh Andi menatap kepergian Alexio begitu saja.


“Eh, kita buntuti doi yok.” Ajak Barry tanpa diduga.


“Buat?” tanya Andi bingung


“Memastikan lagi tingkah Alexio, sudah itu kita panggil om Bisma buat mastiin juga.” Jelas Barry yang diangguki oleh Andi.


Keduanya pun dengan hati-hati menyusul Alexio yang kepergiannya.... ke rumah lamanya.


Pos penjaga agak jauh dari rumah itu. Selama ini, menurut pemikiran security rumah itu menilai bahwa Alexio hanya datang untuk kangen saja. Tak terbesit ada dugaan aneh lainnya.


“Pak, Alexio ke dalem ya?” tanya Barry saat sudah tiba di depan gerbang rumah besar bergaya eropa itu.


“Iya den. Barusan aja. Kayaknya Den Alexio sering banget kemari.” Jawab Security.


“Kangen aja pak mungkin.” Sahut Barry menepis dugaan liar yang takutnya muncul di benak pria berumur 60 tahunan itu.


“Bisa jadi. Eh aden berdua kenalan den Alexio? mau masuk juga?” tanya security


“Kami sahabatnya Alexio, Barry dan Andi, boleh deh pak kalo dibukain gerbangnya., heheh.” Sahut Andi terkekeh.


Seketika gerbang besar itu dibuka setengah saja. Cukup untuk motor masuk.


Baik Andi dan Barry yang sudah memarkirkan motornya di halaman rumah itu, mengedarkan pandangannya ke semua sisi rumah.


Sunyi, dingin. Itulah gambaran rumah kosong itu.


tin...


sayup-sayup pendengaran mereka menangkap suara yang tak lain dari mobil milik ayah Alexio. Bisma. Setelah dihubungi, ayahnya Alexio bergegas kemari, tanpa menunggu konfimasi selanjutnya.


Kini, mereka berdua sudah menapaki lantai beranda teras depan. Bersiap menarik handel pintu.


Dan juga bersiap jika menemukan hal yang menyesakkan dada mereka kembali di dalam.....


Ceklek.

__ADS_1


Anak kunci sudah diputar, beriringan dengan handel pintu pelan ditarik....


“ALEXIO!!!!!!”


__ADS_2