
“Aku suka dengan caramu menyiksa tadi.” Puji Dome setelah mereka keluar dari ruang pengap tempat penyekapan Suprapto.
“Padahal tadi kau mengejekku menyeramkan.” Sarkas Dome mengungkit kalimat Alexio saat mereka masih di atas.
“Itu sebelum dia mengatakan soal Alexia.” Sahut Alexio dingin.
“Ohh karena itu.” Ucap Dome memaklumi asal emosi itu keluar.
Alur penyiksaan yang dilakukan sesuai rencana Dome adalah, mereka rutin memberikan penyiksaan, tapi tidak hanya menyiksa, mereka juga mengobati, setelah dirasa sembuh maka mereka akan menyiksa lagi, terus seperti itu.
Bahkan ketika mereka menggunakan benda tajam, yang bertujuan melukai, juga ada tim medis yang mereka fasilitasi mengobati luka itu.
Makanya Suprapto kerap menagih meminta mati ketimbang hidup dalam penyiksaan tak berujung seperti ini. ia tak menyangka jika Dome akan melakukan tindakan semengerikan ini padanya.
Bahkan, sesuai rencana Dome. Tubuh tua itu akan dicicil untuk disedekahkan pada biota laut, baik hiu, ubur-ubur, ikan nemo, lumba-lumba, bahkan jin penunggu lautan pun kalau mau memakan daging pria itu, maka Dome tak segan akan menyedekahkannya.
“Tolong, bunuh saja aku.” Mohon Suprapto. Tubuhnya sudah mulai dikikis oleh Dome dengan disaksikan Alexio, meski pria itu memilih enggan melihat langsung karena ia tak mau menjadi bagian psiko seperti Dome.
“Mati, cih enak saja.” Decih Dome menatap bagian lutut kanan dan kiri Suprapto yang sudah ditaruh di atas bangku bekas penjagalan Suprapto.
“Dokter, obati dia. pastikan dia sehat, ingat itu.” Titah Dome pada dokter keluarga mereka.
“Siap tuan.” Sahut dokter itu menuruti perintah anak bosnya.
“Kau itu harusnya memiliki manfaat diakhir hidupmu. Lihatlah, aku mendermakan tubuhmu pada hewan laut yang kelaparan.” Ucap Dome nyengir, memberi isyarat pada anak buahnya untuk mengangkat tubuh terpotong Suprapto agar dilempar ke tengah laut.
“Bunuh saja aku kau bocah sialan!!!!” ketika permohonannya ditolak mentah-mentah oleh Dome, Suprapto memilih makian sebagai gantinya pada Dome.
“Aihh berisik sekali sih kau ini. iya... iya, nanti lidahmu aku potong, tapi kapan-kapan ya.” begitu jawab Dome, padahal apa yang bahas, eh di balasnya malah hal berbeda.
“Bawa masuk dia, jangan sampai kalian ku jadikan sasaran juga.” Dome sudah kesal dengan Suprapto yang menggeliat dan umpatan dari mulutnya.
Tergesa-gesa, tentu saja anak buahnya membawa tubuh yang sudah tanpa kaki itu masuk ke tempat penyekapan, dan dokter mengiring di belakang mereka untuk mengobati Suprapto.
__ADS_1
“Ini, perlihatkan pada keluargamu. Bukankah rutinitas yang mengasyikkan di akhir bulan.” Dome menyerahkan ipad miliknya pada Alexio yang sibuk memainkan game di ponselnya.
“Hmm, iya, nanti aku kirimkan.” Balas Alexio.
“Terima kasih telah membantu keluargaku dalam membalas kejahatan pria itu.” Sambung Alexio, membuat Dome menoleh dan tertegun mendengar ucapan terima kasih tersebut.
“Kau... berterima kasih padaku?” ulang Dome merasa ia salah mendengar.
“Hmm iya, aku berterima kasih atas namaku dan keluargaku.” Alexio menegaskan lagi ucapannya.
“Wahhh, amazing sekali. Pria sombong sepertimu mau berterima kasih juga rupanya.” Tanpa ragu sama sekali, Dome memeluk tubuh tegap Alexio dan menepuknya keras.
“Ishh lepas, aku berterima kasih, tapi tidak dengan berpelukan.” Merasa risih, Alexio mengibaskan bekas sentuhan Dome di tubuhnya.
“Ayolah, kau pikir aku menyukai adegan barusan? Aku lebih memilih memeluk kekasihku ketimbang kau.” Cibir Dome merasa sebal dengan ucapan Alexio padanya.
Alexio menoleh ketika Dome menyebutkan kata kekasih, yang artinya bermaksud mengarah pada wanita itu.... Dira.
“Kenapa kau menatapku seperti itu?” tanya Dome heran
Dome terkekeh mendengar jawaban yang bernada perintah itu, “Lepaskan katamu? Dia kekasihku, asal kau tahu.” Tolak Dome menggeleng dengan tawa masih menyisa.
“Kau pikir dia menyukaimu?” Tantang Alexio
“Terserah, aku tidak peduli, asal dia menerima pernyataan cintaku, itu sudah cukup.” Balas Dome tak peduli.
“Dasar tidak tahu malu memang.” Cibir Alexio menilai polah tingkah Dome yang kekanakkan,
“Kau pikir kau tidak begitu, sudahlah, kalian juga tidak ada apa-apa lagi.” Sindiran keras pun dilayangkan Dome untuk Alexio yang harusnya tidak ada bedanya dengan dirinya.
“Tidak ada apa-apanya? Kau pikir Dira bisa lari dariku? tidak akan bisa.” Tegas Alexio menjawab sindiran Dome.
“Yakin sekali kau.” Lagi-lagi Dome mencibir Alexio
__ADS_1
“Mau bukti? Sampai sekarang pun, Dira tidak akan bisa melupakanku.” Dengan yakin Alexio menjawab cibiran Dome padanya.
“Cih terserah kau saja. Yang pasti, dia kekasihku.” Dengan ngeyel, Dome tak mau menanggapi tantangan Alexio.
Dirinya saja meragu memang dengan perasaan Dira padanya, karena sudah terlihat jelas jika selama ini hanya cinta sebelah pihak yang tergambar di antara mereka berdua.
Hanya Dome yang bersemangat, sedangkan Dira? Tidak sama sekali.
Menyedihkan? Salahkan dirinya yang mau melanjutkan percintaan konyol ini.
“Aku harap kau tidak memaksakan kehendakmu pada Dira.... itu jika kau memang mencintainya.” Begitu ucapan terakhir yang diberikan Alexio sebelum ia pergi meninggalkan Dome.
“Sialan.” Umpat Dome meremas sandaran kursi yang didudukinya tadi.
“Aku mencintainya, tapi.... aku juga tidak mau melepasnya.” Gumam Dome memikirkan kalimat Alexio untuknya tadi.
Sementara Alexio yang sudah berada di dalam kamarnya....
Ia sama dengan Dome, merenung dalam kesunyian, meski ia diam, tapi matanya tetap terpatri pada bayang wanita manis di ponselnya. Dira Kairan Ladh.
Jujur, ia masih mencintai wanita yang pernah mengejarnya tanpa ampun di kala masih sama-sama SMA. Bahkan setelah ditolak berkali-kali pun, puteri dari dokter Ladh itu masih saja mengejarnya.
Meski kerap dipermalukan dengan penolakan Alexio di hadapan teman-teman SMA mereka.
Persaingan mendapatkan wanita itu juga tak mudah, harus melewati rivalnya, Jonathan, bersama mengikuti tawuran antar dua geng. Pun Alexio harus mengalahkan Jonathan melalui taruhan balapan liar demi mendapatkan Dira.
Tapi tanpa kata putus pun, Alexio meninggalkan Dira kembali. Dengan teganya membiarkan wanita itu mengatasi kerinduan seorang diri hanya untuk memuaskan balas dendam Alexio pada pria yang rupanya berada tak jauh darinya.
Suprapto.
Dan kini, setelah balas dendamnya terlampiaskan tak lama lagi. Bukankah sudah waktunya juga bagi Alexio kembali pada dunianya yang sesungguhnya, dunia yang memberi warna cerah bagi hidupnya.... dan dunia itu sayangnya kini bersama pria lain, walau rivalnya kali ini hanyalah berbentuk bocah semata.
“Dira.... bukankah sudah waktunya kembali pada wanita itu, Xia?” Alexio menoleh ke sudut tempat tidurnya, di mana di sana sesosok bocah cantik tengah membaca buku, tak menanggapi kalimat tanya Alexio barusan.
__ADS_1
“Ya, sudah waktunya memang aku kembali pada Dira. Duniaku ada padanya.” Ia menjawab sendiri kalimat tanya yang diberikan pada Xia.
“Dira.... tunggu aku. Dan aku harap, aku tidak terlambat membawamu ke pelukanku.” Pungkasnya