Alexio "Diary Merah Muda"

Alexio "Diary Merah Muda"
Bab 72


__ADS_3

Hiro yang berang kembali bangkit, tujuannya sekarang menjadi jelas, membalas dengan lebih keras bilaperlu nyawa tak masalah ia libas sebagai pembalasan.


Meraih dua kayu sekaligus dan siap dihantam ke penyerangnya tadi, seringainya muncul manakala punggung Dira yang menatapnya. Tak apa, gadis sialan itu dulu targetnya.


“Rasakan!!!” pekiknya melambungkan kayu ke arah Dira. Tapi gegas Alexio memutar tubuh dan menerjang senjata itu agar tidak sampai mengenai Dira.


Brak!!!


Bukan hanya kayu itu saja yang tumbang, Hiro pun ikut terjerembab saking kerasnya tendangan Alexio.


Tak lama, kerumuman pria dewasa berpakaian hitam-hitam mengerubungi area itu. “Disiplinkan para bocah labil itu.” Titah Alexio yang masih menggendong Dira bak koala.


“Siap bos.” Sahut mereka berbarengan dan mulai mengepung kumpulan semut-semut labil yang masih sibuk baku hantam, termasuk Dome yang semangat sekali bertarung dengan 2 orang.


“Hentikan semua!!!!” Perintah tegas dari pria yang sepertinya adalah pimpinan pengawal tadi tak memupus pertikaian para bocah.


Dor!!!!!


Suara keras yang berasal dari pistol pun menyentak perhatian mereka, Alexio, mengacungkan senjata itu dengan moncong di arahkan ke atas, mengejutkan Dira juga pastinya.


“Sialan, mengagetkan saja.” Sungut Dira,


“Sorry baby. Mereka bocah tengil dan nakal.” Sahut Alexio tetap datar menatap Dira


Sementara Dome dan lawannya sudah diam, menghentikan aksi pukul-pukulan mereka dan melihat asal suara tadi terdengar.


“Dokter?” ucapnya melirik gadis yang ikut dengannya tadi masih bergelayut di tubuh seseorang. Ia jelas mengenali dari pakaian Dira.


“Kalian pulang, hentikan tawuran gila ini.” ujar pengawal tadi memberi perintah tegas untuk bocah tengil itu.


Semua diam, tidak ada yang merespon. “Jika kalian tidak mau mendengarkan, mari bertarung bersama kami sampai mampus.” Ancam pria itu melirik semua bawahannya yang paham lalu mengelilingi para bocah yang berjumlah 80 orang.


“Dokter!!!” Dome berlari menghampiri Dira yang kembali berdiri.


“Siapa kau!!” tanya Dome menatap penuh selidik pada pria dewasa yang ada di belakang Dira.


“Aku? Calon suaminya.” Jawab Alexio tenang, sementara Dira menyorot tajam pada Alexio, kapan mereka bertunangan dan lamaran, gila!


“Ayo kita pulang.” Alexio segera menggenggam tangan Dira untuk diajak meninggalkan tempat itu


“Dia pulang bersamaku.” Dome menarik cepat tangan Dira yang menganggur, hingga terjadi tarik menarik antara dua manusia berjenis kelamin laki-laki itu.


“Lepas.” Dira menyentak tangannya kasar, tak sadarkah mereka jika Dira yang tersiksa oleh tarik menarik itu.


“Aku pulang sendiri.” Lanjutnya menatap tajam Alexio dan Dome.

__ADS_1


“Tidak ada taksi di sini.” Ucap Dome dan Alexio berbarengan


“Ayo.!” Tak mau terbantah, Alexio menggenggam Dira erat.


Suara bising dan angin kencang menyita perhatian mereka lagi, sebuah helikopter sudah menukik turun. Membuat semua mata berkedip berulang.


“Ayo, jemputanku sudah datang.” Ajak Alexio


“Tapi mobilku disembunyikan mereka, Alexio” keluh Dira yang hanya didengar oleh Alexio


“Nanti aku ganti dengan yang baru.” Balas Alexio tak mau mempersulit


“No. Itu selain mobil limited edition, itu kado spesial dari papa.” Sambit Dira menolak


“Kau begitu mencintai mobilmu?” tanya Alexio yang diangguki Dira sebagai jawaban.


“Sebentar.” Ujar Alexio tanpa melepas tangan Dira, ia mendekati barisan bocah tengil yang masih berdiri di tempat.


“Siapa yang menyembunyikan mobil kesayangan wanitaku, aku beri waktu sampai 10 detik. Tidak menjawab, aku habisi kalian semua.” Dengan enteng, Alexio mengacungkan kembali pistolnya mengarah pada remaja tanggung di sana.


Muka mereka mendadak pucat, sedangkan Dome tak mau menggubris meskipun ia tahu jawabannya apa.


Dor!!!


“Woy, kasih tahu cepat!!” teriak gadis yang tadi bertarung dengan Dira


Anggota geng Dome menoleh pada pimpinannya, meminta persetujuan dari remaja itu untuk menjawab tanya Alexio yang kejam sekali menurutnya.


“Aku hitung sampai 2 jika tak mau menjawab, maka bersiaplah dengan kuburan kalian. Tak ada yang tahu karena tempat ini tidak ada CCTV dan jauh dari jangkauan siapapun.” Ancam Alexio dingin.


“Satu....” ia mulai menghitung sembari menatap wajah ketakutan di hadapannya.


“Du...” senjata siap diacungkan namun tertahan manakala ada yang memotong ucapannya.


“Kami tahu.” Bocah yang sepertinya anak buah Dome mengacungkan telunjuk, ia mendekati Alexio.


“Kami tahu mobil dia.” menunjuk Dira dengan tatapannya


“Kau ikuti pengawalku. Ayo baby, kita pulang.” Ajak Alexio meninggalkan kerumunan bayi-bayi puber di sana, melewati Dome tentunya yang menatap Dira penuh tanda tanya.


“Dokter Dira.” Panggilnya menghentikan langkah Dira yang otomatis juga menarik tubuh Alexio untuk ikut berhenti.


“Ya, Dome.” Sahut Dira lembut


“Hati-hati.” Ucap Dome pasrah, untuk saat ini ia akan pasrah, ia akan membalas rasa malu ini pada pria yang menggandeng gadisnya.

__ADS_1


Woyy bocah lurusin dulu gambarmu baru ngejer si dokter.


Perlahan helikopter yang membawa Alexio dan Dira pun beranjak naik, meninggalkan area itu bersamaan para pengawal mereka yang juga bergegas menaiki mobil masing-masing.


“Aku mau melihat mobilku dulu , Alexio.” cetus Dira tak rela sebelum melihat keberadaan mobil kesayangannya itu.


“Hmm, ya sudah kalo begitu.” Dengan percaya diri pemuda itu membawa helikopter mengikuti mobil yang mengarah keberadaan mobil Dira. Karena bocah tadi dibawa untuk menunjukkan di mana mereka menyembunyikan mobil Dira.


Benar, tak butuh waktu lama, dasar Dome saja yang melelet tadi di perjalanan. Buktinya hanya 20 menit mereka tiba di markas Dome tadi.


Dira melirik dari atas, dengan Alexio yang fokus dan stabil mengendalikan kemudi helikopter, kemudian Mobil Porsche 718 berwarna miami blue terlihat, rupanya di sembunyikan di ruang bawah tanah yang ada di halaman. Pantas saja cepat sekali benda itu menghilang.


“Pintar juga mereka membuat markas.” Cibir Alexio.


“Sepertinya markasku perlu juga hal seperti itu. Atau gudang senjata juga?” lanjutnya monolog sendiri namun tetap menjadi perhatian Dira.


“Kau masih bersama geng-mu, Alexio?” tanya Dira penasaran. Sudah dewasa harusnya tobat itu orang kan, ngurus perusahaan raksasa keluarganya bila perlu.


“Hmm.” Sahut Alexio


“Kuliahmu?” tanya Dira


“Lancar, meski aku tak ke Jepang karena ditinggal oleh seseorang.” Kata-kata itu jelas menyindir Dira.


“Balap liar? Masih?” sambung Dira


“Masih.” Jawab Alexio santai


“Kau masih bocah yang nakal, Alexio. tak berubah.” Cibir Dira mengetahui pemuda di sampingnya ini tetap saja berlaku arogan.


“Jika aku tak melakukan hal itu, akan membosankan, kau pergi begitu saja, terlebih sama Jo sialan itu.” Balas Alexio


“Dan....” belum selesai Alexio berujar, sudah dipotong oleh Dira yang berteriak antusias


“Yessss mobilku ketemu.” Pekiknya senang


Alexio menatap tingkah menggemaskan Dira, “Kau begitu mencintai mobil itu, Dira?” lagi-lagi Alexio melayangkan pertanyaan itu yang dijawab Dira dengan dehaman dan anggukan.


“Tidak sia-sia aku menghadiahi mobil itu untukmu kalau begitu.”


...What!!!!!🐇🐇🐇🐇🐇🐇🐇🐇🍁


...


__ADS_1


__ADS_2