Alexio "Diary Merah Muda"

Alexio "Diary Merah Muda"
Bab 91


__ADS_3

“Baiklah kalau kau tidak mau tinggal di sini, tapi setidaknya beritahu kakek hotel mana tempatmu menginap, jangan sampai kau tidak nyaman di sana, kakek akan memberimu fasilitas utama selama di sini.” Suprapto cukup kesulitan mengendalikan Alexio, tidak seperti Bisma yang bisa dengan mudah ia atur hidupnya. Mungkin Suprapto seolah bercermin saat melihat dirinya begitu mirip dengan sang cucu tercinta.


Alexio menggeleng, “Tidak perlu, aku ada uang sendiri dan nyaman dengan pilihanku.” Lagi-lagi Alexio dengan entengnya menolak permintaan kakeknya. Tanpa rasa bersalah atau tidak enak hati kerap menolak dari tadi, masa’ bodoh pikirnya.


“Apa kakek melakukan kesalahan padamu, Al?” Suprapto jelas menangkap hal aneh semenjak Alexio tiba. Biasanya pria itu akan segera merangkulnya, dan menerima semua fasilitas darinya, meskipun pribadi Alexio tidak seceria saat kecil dulu namun sikapnya tidaklah sedingin sekarang.


“Salah? Menurut kakek?” Alexio bukannya menjawab malah membalik dengan kalimat tanya yang diakhiri dengan dengusan nafasnya setelah mengucapkan itu.


Suprapto tampak berpikir keras mencari kesalahan apa yang membuatnya mendapati sikap dingin dari cucunya. Butuh waktu 1 menit ia akhirnya mendapatkan jawaban itu, “Apa karena kakek menjodohkanmu dengan salah satu putri pebisnis asal London itu, Al?” duga Suprapto saat ingat bahwa ia pernah memaksa Alexio menerima perjodohan dan membuat cucunya kabur ke Jepang beberapa bulan yang lalu, dan ia tahu ke mana cucunya itu pergi. Bahkan pergerakan Alexio hingga pengeluarannya saja ia tahu kemana saja arahnya.


Alexio menajamkan penglihatannya pada Suprapto mendengar jawaban barusan, “Lebih baik kakek mengingat lebih baik lagi, jika kakek merasa pernah melakukan kesalahan padaku.” Alexio tidak membenarkan atau juga menyalahkan jawaban kakeknya tadi, toh ia juga kesal dijodohkan dengan gadis gila yang mengejarnya sampai sekarang.


Ia hanya menjaga hatinya dari semua gangguan sampai ia siap menatanya saat semua sudah tepat waktunya.


“Kakek tidak akan menghalangi jika kau tidak menyukai perjodohan waktu itu, tapi jangan pernah kau berusaha menjalin hubungan dengan puteri dari pemilik Ladh Hospital itu, Al. Selamanya kakek tidak akan menyetujui.” Jelas Suprapto tegas.


“Ladh Hospital? Tidak kah itu lucu mendengarnya? Bukankah kakek menjalin kerjasama yang baik dengan dokter Ladh?” ujar Alexio bernada sindiran, merasa aneh dengan kekakuan kakeknya menolak puteri Ladh padahal saling mengenal.


“Kakek tidak setuju pokoknya, nanti kakek usahakan dengan pengusaha yang lain.” Tak gentar, Suprapto masih melancarkan usahanya, membuat Alexio merasa jengah seketika dengan sikap egois kakeknya.


“Harusnya tetap pertahankan satu cucu lagi kalau mau bersikap egois seperti ini. coba saja jika Alexia masih hidup.....” ucapan Alexio sengaja menggantung, ia ingin melihat ekspresi kakeknya saat mendengar nama yang sudah lama tidak menyambangi gendang telinga pria tua itu.

__ADS_1


Benar saja, ada gurat tak suka dari wajah keriput Suprapto mendengar nama cucu perempuannya yang direnggut paksa saat usia masih begitu belia.


‘Sialan!’ maki Alexio yang rupanya sulit mengantisipasi hal itu, gemuruh dadanya seolah membuktikan ia belum siap menerima sikap kakeknya yang tidak bersimpati pada kembarannya.


Hfffttt, ia menarik nafas dan menghelanya perlahan untuk menetralisir emosinya.


“Jika saja Alexia masih hidup, mungkin dia akan menjadi cucu yang manis dan akan selalu menuruti kemauan kakek.” Ucap Alexio yang kesulitan menatap gemuruh di dalam tubuhnya yang sulit diajak bekerja sama.


Lihatlah, sahutan Suprapto, ia malah menyunggingkan senyum sinis di sudut bibir tuanya.


“Jangan sebut orang yang sudah mati, Al.” Ujar Suprapto mengingatkan Alexio, walau nadanya lembut, tapi ada unsur menekan di dalamnya seolah menyatakan bahwa jangan membahas yang tidak ia suka.


“Dia cucu kakek, bukan orang lain.” Cibir Alexio menahan dirinya agar bisa tetap mengendalikan emosi yang semakin bertahap menuju puncak. Bukan dengan emosi membludak seperti ini cara membalas kakeknya, namun harus dengan cara yang membuat bukan hanya sekedar jatuh melainkan harus menyembah pada kerangka Alexia yang terkubur dalam di tanah selama sekian tahun. Menahan dingin dan tidak diharapkan hanya karena kesalahan yang dibuat oleh masa lalu orang dewasa.


“Alexia mungkin sudah mati kek, tapi jiwanya masih ada di dunia. Dan asal kakek tidak lupa, kami berbagi hal yang kini menetap dalam tubuhku.” Alexio menekan kata akhirnya, mencoba membuat Suprapto mengingat jasa besar dari cucu yang direnggut paksa hidupnya.


Suprapto tertangkap menyeringai sekilas lalu bangkit dari duduknya. Tampak tak selera membahas perihal Alexia. Ia memilih menghindar dan mencari aktifitas menarik lainnya, dan pilihannya adalah menceburkan diri ke kolam berwarna biru tosca karena menggunakan air garam di sana.


Tampak tubuh tua yang rajin terawat dengan olahraga itu masih terlihat bugar, kencang dan ototnya masih betah mengontrak di tubuh Suprapto.


Tak salah jika ia masih bertahan menjadi pimpinan geng besar yang berkecimpung dalam dunia bawah tanah. Keluarganya tidak ada satupun yang tahu jika ia melakukan banyak kejahatan karena tertutupi oleh kejayaannya dalam bisnis di luaran yang dilihat dari kacamata publik.

__ADS_1


“Kenapa bisa papaku yang berhati lembut itu memiliki seorang ayah yang kejam dan......” Alexio tidak bisa meneruskan kalimatnya, karena kata yang diimbuhkannya diakhir tidaklah bagus untuk digunakan bagi kakeknya.


Meski lidahnya gatal sekali memberi julukan kasar itu.


“Baiklah, aku akan membuat kakek juga merasakan neraka yang ditimpakan pada Alexia, adikku.” Gumam Alexio menatap sang kakek yang sibuk berenang sendiri.


Ia sudah mencatat di dalam diary Alexia yang masih kosong di belakangnya, beberapa nama yang masuk dalam barisan penyebab Alexia menderita dan meninggal. Berikut cara menghukum mereka pun sudah disiapkan oleh Alexio, walau ia ragu menggunakannya, karena dipastikan akan menyakiti banyak pihak.


.


.


.


“Ladh, apakah kau tahu jika salah satu pemuda yang pernah berobat di rumah sakitmu ini melakukan pengintaian pada keluargamu?” Hiro Taoka, pimpinan Yakuza alias ayah Dome tengah berbincang dengan Ladh di ruang kerja Ladh di kediamannya.


“Siapa?” Saking banyaknya pasien yang menyinggahi rumah sakit besarnya itu, tentu Ladh bingung siapa yang dimaksud rekannya ini.


“Aku lupa, siapa namanya ya. Tapi ia salah satu pasien di sana, kunjungan ke dokter yang sama dengan Dome, puteraku.” Jawab Hiro Taoko yang lupa akan nama Alexio.


Ladh mulai memikirkan satu nama yang dimaksud, tapi ia tidak bisa menemukan dengan baik. Apalagi menyangkut poli Neuropsikiatri, masih terlalu luas menurutnya.

__ADS_1


“Ayah pemuda itu pemilik perusahaan besar, dan juga salah satu keluarga Suprapto kalo tidak salah.” Hiro mulai mereka-reka ingatannya hingga dikalimat akhirnya, Ladh sudah bisa menebak siapa yang di maksud Hiro Taoka.


“Alexio Bisma?” Tebaknya.


__ADS_2