Alexio "Diary Merah Muda"

Alexio "Diary Merah Muda"
Bab 139


__ADS_3

“Dasar itu bocah, gak penting banget pertanyaannya.” Sungut Dira memasuki lobby rumah sakit, sementara Dome sudah pergi tak lama Dira melewati pintu lobby.


“Padahal sudah jelas jawabanku tu apa, malah nanyakkkk.” Tambahnya sebal sendiri, ngoceh sendiri.


“Eh Dira, kenapa nih?” salah seorang perawat yang berpapasan dengan Dira menyapa anak pemilik rumah sakit tempatnya kerja.


“Biasa, tuh pasien bocah ngajak tawuran lagi.” Jawab Dira


Semua pegawai rumah sakit sudah tahu perihal hubungan antara Dira dan Dome, meski alasannya juga mereka tahu, tapi tidak ada yang berani menjadikan hal itu gosip kosong.


Berbahayalah, terancam di depak!


“Tabok aja Dira.” Timpal perawat satunya yang menyenggol Dira dari sisi kiri.


“Udah ah, aku mau ketemu dokter Doni dulu ya guys. Bye cantik.” Dira menolak langkahnya menuju gedung psikiatri, tak mau berlama-lama membahas Dome di hadapan mereka.


Dira mengetuk pintu ruangan dokter Doni sebagai bentuk kesopanannya, walaupun ia bisa dengan kuasanya masuk begitu saja.


“Ya masuk!” seru dokter Doni dari dalam ruangan.


Ceklek


“Siang dokter.” Sapa Dira kala pintu sudah terbuka.


“Wah yang tidak lama lagi mau dinas resmi nih.” Dokter Doni menyambut Dir, pria beranak 2 itu segera berdiri dan menawarkan duduk di sofa yang tak jauh dari kursi kebesarannya tadi.


“Dokter bisa aja, doain ya dok, semoga ilmuku bener-bener bisa bermanfaat nanti.” Dira jadi malu mendengar ucapan selamat dokter Doni.


“Kau akan menjadi dokter yang hebat Dira, seperti papamu, yang memang mendedikasikan hidupnya membantu orang-orang.” Ujar Dokter Doni begitu bangga dengan sekelumit keluarga Ladh yang salah satu anaknya menjadi dokter.


“Aku tidak akan pernah bisa sebanding dengan papa, dokter. Beliau adalah dokter hebat, meski memiliki rumah sakit mewah, ia tetap loyal menjadi relawan di rumah sakit atau klinik.” Dira merasa tidak pantas jika disamakan dengan ayahnya.


“Maka dari itu, berjuanglah sesuai tujuan kita sebagai dokter, membantu khalayak umum, baik yang mampu maupun tidak mampu, baik di kota besar atau di tempat terpencil sekalipun.” Dira dengan seksama memperhatikan semua nasihat yang mengucur dari bibir dokter Doni.


Ia sebagai generasi muda harus menyerap banyak ilmu dari para seniornya, dan tidak boleh sombong sama sekali dalam hidup jika profesinya saja jelas untuk sosial.


Beberapa jam kemudian, Dira sudah selesai dengan urusannya di rumah sakit milik ayahnya. Tumpukkan buku serta map sudah berada dalam pelukannya untuk dibawa pulang ke rumah.


Melewati koridor rumah sakit yang tampak lengang, fokus langkah Dira terusik seketika. Langkahnya jangan dilupakan, sudah direm mendadak.


Alexio!


Ya, pria itu juga berpapasan dengannya setelah berbelok dari sudut kanannya.


Diam, atau lebih tepatnya canggung.


Alexio mau tak mau memajukan kakinya hingga kini jarak keduanya sudah terkikis cukup dekat.


“Hai.” Lambaian tangan Alexio mengawali percakapan keduanya.

__ADS_1


“Ha-hai juga.” Balas Dira ikut melambai tapi wajahnya sudah memerah tersipu.


Hanya satu kata saja, dan mereka kembali membisu.


Langkah kaki sudah terayun, namun kesunyian yang masih terjalin.


Satu menit


5 menit


10 menit


“Kau..” mereka serempak mengucapkan kata yang sama


“Kamu duluan.” Kembali kompak saling meminta duluan


Ihhh gemes


“Kau dulu.” Alexio mengulangi lagi sebelum keduluan Dira


“Hmmm, kamu habis terapi?” tanya Dira masih menahan gugupnya.


“Iya, aku kembali terapi.” Jawab Alexio singkat, senyumnya terkesan sangat kaku.


“Sa-sampai jumpa lagi.” Dira yang melihat mobil Paul segera berlari kecil tanpa mendengar tanggapan Alexio.


“Ya Tuhan, kenapa aku gugup sekali.” Alexio menggaruk kepalanya sembari mengunci pandangan pada Dira yang masih berlari menuju mobil abangnya.


Bamp!


“Ya ampun, bisa pelan gak, rusak mobil abang.” Paul yang membalas pesan dari gadis incarannya kaget saat Dira membanting pintu keras.


“Cepetan jalan deh.” Balas Dira mengomel.


“Pasang dulu sabuknya nyonya.” Ujar Paul mengomentari kebiasaan Dira jika bersamanya selalu lupa memasang sabuk pengaman.


“Udah, buru.” Ucapan Dira sudah bernada perintah.


“Napa sih.” Sungut Paul, tapi ia segera paham ketika melihat keluar jendela mobil.


“Ohh pantes, ketemu mantan terindah ya.” goda Paul mencolek pipi Dira


Blush!!


Seketika merona pipi Dira akibat ucapan Paul yang ada benarnya.


“Abang!!!!” geram Dira mencubit lengan Paul yang tadi mencolek pipinya


“Sakit adowww.” Desis Paul melenguh kesakitan mendapat capitan Dira.

__ADS_1


“Mulut tuh jangan ngasal.” Sembur Dira memberi pelototan kepada Paul


“Dih, nyoba nyangkal terosss.” Cebik Paul secepat kilat menjauhkan tubuhnya saat jemari Dira sudah siap mencapitnya lagi.


“Buruan pulang.” Rengek Dira yang sudah jengah digoda, sudah tak tahu lagi semerah apa pipinya kini.


Ia melirik keluar jendela, masih berdiri mantap Alexio di posisi di mana mereka tadi berpisah. Dira memegang dadanya, tempat jantungnya bersemayam.


‘Ya Tuhan, kenapa jantungku main lompat tali sih di dalem.’ Batin Dira merasakan gejolak hentakkan jantungnya yang liar di dalam sana.


Sesampainya di kediaman keluarga Ladh...


“Dek, kamu itu kalo masih suka sama anak om Bisma, jangan ditahan-tahan, gas aja.” Oceh Paul mengiringi langkah Dira dari belakang.


“Diem mikirin cara ya?” tambah Paul yang sudah menyamakan langkahnya dengan adiknya.


“Hey, kok diem sih?” Tak tahan, Paul lagi-lagi bersuara melihat tak ada respon Dira untuk semua ucapannya.


“Abang tuh mulutnya di kunci deh, daritadi bahas anak orang terus.” Ujar Dira sebal.


“Kan abang kasih solusi buat kamu dek, eh salah, buat hati dan masa depan cerah kamu sayang.” Kekeh Paul tak henti mengikuti Dira yang sudah menaiki anak tangga.


“Hati, masa depan, urus sana cewek abang yang bertebaran di penjuru bumi.” Omel Dira gemas akan tingkah abangnya.


“Abang lagi dalam proses bertobat dek, menuju jalan yang lebih cerah.” Balas Paul santai.


“Heh, tobat? Lucu kali.” Sarkas Dira lalu tertawa


“Jangan alihin pembahasan kita, abang kan nyinggung kamu. Lagian, hubungan kamu sama anak mafia itu juga gak serius-serius amat.” Paul mengembalikan pembicaraan awal mereka mengenai Alexio dan Dira, adiknya.


“Dah ah, aku capek, mau luluran, rendaman cantik.” Ujar Dira tak menjawab ucapan abangnya


“Hei tung...”


Brak!


Paul menutup mulutnya ketika nyaris saja ia berciumann dengan pintu kamar Dira.


“Anak satu ini, anak siapa sih, nyebelin banget.” Gerutu Paul mengelus bibirnya yang hampir saja kejedot pintu.


“Hampir dower ini bibir.” Lanjutnya menolak langkah menuju arah kamarnya sendiri.


Di kamar Dira...


“Kenapa semua bahas tuh cowok sih.” Ujarnya merana


“Mana jantung gak bisa dikondisikan pas ketemu tadi.” Ucapnya lagi


“Haruskah aku mulai membahas hal ini dengan Dome? Karena bocah itu bukan cinta tapi hanya merasa nyaman padaku.”

__ADS_1


“Dan aku tak selamanya menyimpan rasa rindu ini, ketika melihatnya saja jantungku berteriak girang bertemu dengannya.” Tutup Dira


__ADS_2